Congrats, mabrook!

The question is: Would she have succeeded so brilliantly had she not
worn 'jilbab'?

I'm pretty sure that with or without the jilbab this young lady would
have attained the very same succes she did.

Gabriella

--- In zamanku@yahoogroups.com, Lusy Anita <looshy...@...> wrote:
>
> 19/05/2009 15:26 wib - Daerah Aktual
> Umur 17 Tahun 11 Bulan Raih Sarjana Kedokteran UGM
> http://www.suaramerdeka.com/
> 19 Mei 2009
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Lulusan termuda UGM, Riana Helmi, ketika mengucapkan sumpah wisudawan
bersama dengan lulusan yang lainnya. (Foto Bambang Un)
> Yogyakarta, CyberNews. Saat Rektor UGM Prof Ir Sudjarwadi MEng PhD
menyebutkan namanya dan memintanya untuk berdiri, sontak seluruh para
wisudawan dan orang tua mencari sosok orang yang dimaksud. Maklum,
badannya yang relatif kecil dibanding rekan-rekannya, walau sudah
berdiri sekalipun di kursi paling depan, seluruh pengunjung tetap
penasaran melihat sosok wajahnya.
>
> Adalah Riana Helmi, salah satu wisudawan yang disebutkan rektor di
acara wisuda sarjana dan diploma 3 periode III di gedung Grha Sabha
Pramana, Selasa (19/5). Di umur 17 tahun 11 bulan, Riana berhasil lulus
sebagai sarjana kedokteran.
>
> Diakui anak pertama dari pasangan Helmi dan Rofiah itu, dirinya masuk
ke UGM umur 14 tahun pada 1 sepetember 2005 dan lulus pada 25 februari
2009 dengan IPK 3,67. Sehingga jika dihitung Riana lulus dalam waktu 3
tahun, enam bulan.
>
> Ditemui disela-sela acara wisudawan di gedung GSP UGM, dengan ditemani
kedua orang tua dan salah satu adik kandungnya, Riana mengaku senang
setelah lulus dan disebutkan rektor sebagai wisudawan termuda. ''Ya,
alhamdulillah,'' jawab perempuan kelahiran Banda Aceh, 22 Maret 1991 itu
singkat.
>
> Riana mengaku dirinya tidak banyak menghadapi banyak kendala dalam
menyesuaikan diri saat kuliah di Fakultas Kedokteran. Bahkan dirinya
banyak mengerjakan tugas layak seperti mahasiswa lainnya.
>
> ''Kesulitan sih ada, ya semua bisa diatasi, kalau di kedokreran
tugasnya banyak,'' katanya yang mengaku masuk UGM lewat jalur program
PBS tahun 2005.
>
> Seperti pengakuan dari ayahnya, Helmi, selama duduk di bangku sekolah
SMP dan SMA, anaknya mengikuti program akselerasi. Namun sebelumnya
masuk bangku sekolah dasar pada umur 4 tahun.
>
> ''Sejak umur 3 tahun, Riana sudah bisa membaca, saat itu kita disuruh
belikan buku-buku untuk belajar, meski kita ngantuk sekalipun, kita
dipaksa untuk mengajarinya,'' katanya.
>
> Salah satu sifat Riana sejak kecil diakui Helmi adalah tidak suka
boneka, sehingga waktu bermainnya adalah dengan belajar. ''Setelah
sekolah, maunya mainnya juga belajar, dan takut sama boneka, jadi nggak
pernah main boneka, kalau lihat boneka dimana-mana ia langsung
menjerit,'' kata Helmi yang berprofesi sebagai dosen perwira Polri di
Suka Bumi, Jawa Barat.
>
> Selain itu, lanjutnya, Riana sejak kecil mengaggap sekolah sebagai
tempat bermain. Sehingga ketika di antar ke sekolah dan belajar, ia
betul-betul menikmati roses belajar dalam suasana gembira.
>
> ''Sekolah dianggap bermain, setiap pergi sekolah ia selalu gembira,
saat turun dari motor, ia langsung berlari gembira, senang saat sekolah,
dan selalu datang lebih pagi,'' jelasnya.
>
> Meski sudah lulus dalam usia muda, Riana memiliki keinginan untuk
melanjutkan sekolahnya dan bercita-cita untuk menjadi dokter spesialis
kandungan. Semoga berhasil, ya Riana!
> (Bambang Unjianto /CN05)
>

Kirim email ke