Pandangan yang menarik, Mas Radit :)
Kalau kita memakai pembagian milenium klasik yang sekarang dianggap 'nyleneh' dan dinamakan 'New Age' maka penyembahan dewa Matahari itu terletak pada masa Taurus, yaitu mulai 4000-2000 SM. Pemimpinnya memakai topi berbentuk khusus, entah dari kepala binatang atau tanduk binatang. Perang antar kelompok banyak terjadi memperebutkan kekuasaan atas makanan atau teritori. Hukum rimba dimana mana dan mencptakan ketakutan-ketakutan. Masa berikutnya adalah masa Aries, yaitu 2000-0 SM. Manusia mengharapkan pemimpin, yang bisa menjawab masalah2 ketakutan, kekhawatiran, kebencian, kekerasan. Pada penghujung milenia, Jesus Kristus muncul menawarkan solusi. Setelah itu adalah masa Pisces, yaitu 0-2000 M. Manusia berada dalam masa religius. Gereja berkiprah. Agama agama besar monotheistis bermunculan menjadi alternatif bagi Polytheisme. Manusia seperti menemukan CERMIN untuk melihat diri sendiri, Kemanusiaannya. Ia memahami diri dengan melihat Cermin itu. "Tuhan yang abstrak" yang anda katakan, analog dengan bayangan dalam Cermin itu. Ketika melihat bayangan di cermin, manusia MESTINYA melihat dirinya. Tetapi sering kali tidak. Yang terlihat adalah bayang2 tak jelas, tapi seperti manusia (anthropomorfistis), sebagai sosok yang bisa marah dan bergembira, menghadiahi dan menghukum. Maka dalam ketidak jelasannya, ia menamakannya dengan pelbagai nama ilahi yang berbeda beda dan bervariasi diantara bangsa2. Jadi memang tahapannya kini sudah lebih "advance", untuk merubah persepsi dari kongkrit sekali seperti Matahari, Kerbau, Patung, menjadi abstrak sekali seperti "Tuhan". Nah sekarang ini muncul masa Aquarius, yaitu 2000-4000 M. Manusia menyadari dan bisa mengambil jarak dengan Cermin itu. Kalau tadinya bagaikan "ikan yang melihat segalanya kecuali air", pada masa Aquarius ia menjadi "manusia yang melihat dan mengontrol air". Manusia makin pintar menggosok Cerminnya dan makin NYATA terlihat bahwa bayangan di cermin itu bukan KERBAU (Taurus), DOMBA (Aries) ataupun IKAN (Institusi2 keagamaan), melainkan MANUSIA (Aquarius, si Tukang Air). Segera setelah sadar itu, dengan bergegas Cermin ia tinggalkan. Segera setelah tahu, INTI dari institusi2 (agama2) itu adalah KEMANUSIAAN, maka KESADARAN muncul bahwa perlunya untuk langsung menemukan DIRI yang menjadi pokok permasalahan spiritual sejak RIBUAN TAHUN SILAM. Saat itu nanti, jangan dikatakan Atheisme memenangkan lomba pencarian kebenaran, lebih baik dikatakan, Atheisme dan Theisme bertemu dalam dataran yang lebih tinggi melihat cakrawala tanpa hantu2 dan tanpa dihantui tuhan2. Atheisme memandang kemanusiaannya tanpa Cermin dan Theisme memandang kemanusiaannya dengan Cermin yang bening kacanya, pada hakekatnya SAMA, yaitu sama-sama mendapati Kemanusiaan yang jadi pokok persoalan ribuan tahun itu. Yang penting Cermin itu BENING. Silakan kemukakan bila ada opini yang menyanggah :) Ferry Wardiman --- In [email protected], "mediacare" <mediac...@...> wrote: > > Ra, Dewa Matahari. > > Menurutku logis juga bangsa-bangsa di masa lalu berterima kasih kepada Matahari melalui Ra. Sinar Matahari adalah sumber segala kehidupan di Bumi, bukan memberi manfaat kepada makhluk hidup saja. > > Redup atau memanasnya Matahari juga akan berpengaruh besar terhadap Bumi. Kehidupan dan kehancuran Bumi amat tergantung pada kondisi Matahari. > > Lalu kenapa manusia malah menyembah Tuhan yang abstrak dan malu serta enggan menampakkan diri? > > > Tuhan monotheis pertama adalah Ra dengan bulatan disc (ataukah UFO > di atas kepalanya?) > > Disc itu diberi nama Aten. > > http://en.wikipedia.org/wiki/Akhenaten > > http://en.wikipedia.org/wiki/Ra > > http://en.wikipedia.org/wiki/Aten > > > Facebook: > Radityo Djadjoeri >
