> "mediacare" <mediac...@...> wrote:
> Ra, Dewa Matahari.
> Menurutku logis juga bangsa-bangsa di
> masa lalu berterima kasih kepada
> Matahari melalui Ra. Sinar Matahari
> adalah sumber segala kehidupan di Bumi,
> bukan memberi manfaat kepada makhluk
> hidup saja. Lalu kenapa manusia malah
> menyembah Tuhan yang abstrak dan malu
> serta enggan menampakkan diri?
> 

Dulu pernah saya tulis panjang lebar bahwa Islam menyembah dewa matahari bukan 
dewa bulan.

Dewa Ra oleh orang arab di pronounce sebagai "Rhah".  Dewa Rhah inilah dewa 
matahari yang sebenarnya, dan karena di Indonesiakan maka menjadi dewa Ra.

Menghormati atau mensucikan kata benda secara gramatik dalam bahasa Arab 
ditambahkan prefix Al- Juga dalam gramatik Arab penambahan prefix Al- ini 
berfungsi sebagai artikel seperti dalam gramatik bahasa Inggris.

Demikianlah, dewa matahari itu disebutnya Al-Rhah yang kemudian dieja kedalam 
ejaan roman ditulis sebagai Al-lah atau Allah.

Lalu darimana datangnya dewa bulan yang banyak di-sebut2 dalam agama Islam, 
ternyata masuknya dewa bulan ini bukan dari agama Islam tetapi berasal dari 
agama Hindu.

Dewa bulan memang disembah di Kabah, dan semasa hidup nabi Muhammad oleh sang 
nabi melarang umatnya untuk menyembah dewa bulan karena Islam sejatinya 
menyembah dewa Matahari yaitu Allah.

Inilah yang menjadi kaitan kenapa dizaman nabi Muhammad bershalat itu 
diwajibkan menghadap ke Jerusalem dan barulah setelah nabi Muhammad wafat oleh 
Abu Bakar kiblatnya diubah ke Kabah.  Di Jerusalem banyak simbol2 dewa matahari 
sedangkan kabah merupakan simbol dewa bulan.

Hal inilah yang menjadi pertentangan antara pengikut nabi Muhammad semasa 
hidupnya, mungkin setelah wafatnya nabi Muhammad maka pengikut yang menyembah 
dewa bulan inilah yang akhirnya menang dan menyimbulkan agama Islam dengan 
simbol bulan sabit.  Artinya, simbol bulan sabit muncul setelah wafatnya nabi 
Muhammad.

Ny. Muslim binti Muskitawati.






Kirim email ke