KH. ISHOMUDDIN HADZIK

Gus Ishom Mengenalkan Kembali Karya-karya KH HAsyim Asy'ari



[image: ishom.jpg]



Muhammad Ishomuddin Hadzik atau yang biasa di panggil Gus Ishom merupakan
cucu Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari dari pasangan Chodidjah
Hasyim–Muhammad Hadzik Mahbub. Lahir di Kediri, 18 Juli 1965 M dan
selanjutnya sejak kecil akrab dipanggil Gus Ishom.


Sejak kecil, Ishom telah diperkenalkan kepada kehidupan pesantren yang sarat
dengan pendidikan agama. Pada usia yang tergolong anak-anak, Ishom telah
menunjukkan ketertarikan kepada ilmu-ilmu agama. Pada usia 7 tahun, setiap
bulan Ramadhan, Ishom kecil selalu melakukan tarawih dimasjid Pondok
Pesantren Tebuireng dan selalu berada dibelakang imam.


Di luar bulan Ramadhan, Ishom kecil juga shalat maghrib berjamaah dimasjid
Pondok Pesantren Tebuireng dan selalu berada dibelakang imam. Pada saat itu,
shalat jamaah sering dipimpin oleh KH. Muhammad Idris Kamali, menantu
Hadratus SSyeikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari. Setiap selesai berdoa’ tak
lupa kyai Idris demikian panggilan sehari-hari, selalu meniup kening Ishom
kecil sambil diiringi dengan doa barakah.


Pada waktu bersekolah di SDN Cukir I, sosok Ishom kecil telah menonjol di
antara teman-temannya. Dari segi pelajaran, nilai yang didapat selalu diatas
teman-temannya. Pada saat memasuki bangku sekolah lanjutan, Ishom yang telah
beranjak remaja, memilih pagi hari untuk bersekolah di Madrasah Tsanawiyah
Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng dan siang harinya di SMP A. Wahid Hasyim.


Setelah lulus Madrasah Tsanawiyah Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng, Ishom
memutuskan untuk menuntut ilmu agama di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Di
bawah bimbingan langsung KH. Mahrus Aly, Gus Ishom yang telah beranjak
remaja semakin mendapat bekal ilmu agama dan kitab kuning semaikin banyak.


Ketertarikannya kepada kitab kuning ditambah riyadhah yang kuat, membuatnya
semakin lancar dalam menuntut ilmu. Otak yang cerdas, pikiran yang cemerlang
menjadikannya mudah dalam memahami tentang suatu hal. Gus Ishom menghabiskan
waktu 11 tahun menimba ilmu di pondok pesantrten Lirboyo Kediri, termasuk
ketika menjadi santri kilat Ramadhan diberbagai pesantren lainnya.


Tahun 1991, Gus Ishom pulang kembali ke Tebuireng untuk mengamalkan apa yang
telah dipelajari selama nyantri di Pondok Pesantren Liboyo Kediri serta
pesantren lainnya. Sikap rendah hati, alim, tidak neko-neko membuat Gus
Ishom banyak mendapat simpati masyarakat sekitar walaupun baru pulang dari
pondok pesantren.


Kealimannya dalam hal kitab kuning, membuat Gus Ishom bersentuhan langsung
dengan karya sang kakek Hadratus Syeikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari.
Beberapa kitab karya Hadratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari diterbitkan
dan dibacanya pada bulan Ramadhan di Masjid Pondok Pesantren Tebuireng
Jombang yang diikuti oleh ribuan peserta sehingga kitab-kitab karya Hadratus
Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari dikenal oleh masyarakat luas.


Selain telah menerbitkan sebagian kitab karya kakeknya, Gus Ishom juga
menulis beberapa kitab yaitu:

1.     Audhohul Bayan Fi Ma Yata’allq Bi Wadhoifir Ramadhan.

2.     Miftahul Falah Fi Ahaditsin Nikah.

3.     Irsyadul Mukminin.


Tidak hanya dalam urusan ilmu agama, gus Ishom cukup memahami tentang
masalah sosial, budaya serta politik. Cukup sering tulisannya menghiasi
berbagai halaman media massa semisal harian Surya, Jawa Pos, Republika dan
lain-lain. Pengalaman menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
Kabupaten Jombang, merupakan bukti ketajamannya di dunia kiprah politiknya.


Selain menulis kitab dan beberapa artikel di media massa, Gus Ishom juga
merupakan seorang muballigh yang handal. Lisan yang fasih, bahasa yang lugas
serta ilmu yang tinggi, membuat setiap ceramah yang disampaikan olehnya
selalu menarik untuk disimak. Tidak banyak orang bisa menulis kitab,
artikel, cerpen dan berpidato. Gus Ishom merupakan sosok serba bisa yang
diharapkan menjadi kader NU yang mumpuni.


Pada akhir tahun 2002, ketika bulan ramadhan gus Ishom mengalami sakit pada
bagian betis yang diduga oleh dokter sebagai gejala asam urat akut. Berbagai
pengobatan dilakukan, akan tetapi tidak membawa hasil. Akhirnya ketika sakit
yang semakin parah, gus Ishom dirujuk ke Surabaya dan disanalah diketahui
bahwa gus Ishom menderita kanker yang tergolong langka dan telah mencapai
stadium III. Pengobatan melalui kemoterapi dan berbagai upaya alternatif
telah dilakukan. Akan tetapi Sang Maha Kuasa, Allah Robbul ‘Alamiin memiliki
kehendak lain.


Seperti terkena hallintar, pandangan mata ini berkaca-kaca, seakan tak
percaya, tatkla mendengar  wafatnya KH Ishomuddin Hadizq (Gus Ishom). Hari
sabtu, 26 Juli 2003, tepat pukul 06.30 WIB, beliau dipanggil ke pangkuan
Sang Ilahi. Sosok kiai muda yang begitu anggun mempesona. Seorang “darah
biru” keturunan Kiai Moh Hasyim Asy’ari (pendiri dan Ra’is Akbar NU) dari
putrinya Hj Khodijah.


Gus Ishom yang lahir pada 18 Juli 1965 (genap berusia 37) adalah salah satu
dari cucu KH Hasyim yang mewarisi kewibawaaan, keilmuan, kedewasaan,
kematangan, kesabaran, keanggunan, dan keajaiban Sang Kakek. Gaya bicaranya
yang “khas”, penuh humor, perilaku yang tawadlu’, ikhlas, penuh senyum
(mencerminkan kedalaman spritual dan kekuatan pribadinya), selalu dinantikan
para santri, lebih-lebih saat Ramadlan tiba. Seluruh halaman Pondok
Pesantren Tebuireng Jombang dijubeli oleh ribuan santri, baik yang berada di
Pondok Pesantren Tebuireng sendiri ataupun pondok sekitarnya, Seblak, Pacul
Gowang, Khuffadz, Mu’allimat-Darul Falah Cukir, dan lain-lain. Semuanya
ingin mendengarkan wejangan-wejangan Gus Ishom,menyimak, merenungkan,
menghayati dan mengamalkannya.



*Disarikan dari berbagai sumber*

-- 
yasir wa la tu’asir

<<clip_image001.jpg>>

Kirim email ke