KH. Mukhtar Syafa'at, Banyuwangi – Jawa Timur


[image: mukhtar syafaat.bmp]



Salah satu ulama terkemuka di Banyuwangi ini terkenal dengan sikap dan
perilaku yang menjadi panutan umat. Dialah KH Mukhtar Syafa'at, pendiri
sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Darussalam, Blokagung, Jajag,
Banyuwangi.



Suatu waktu, Kyai Dimyati (putra KH Ibrahim) mengalami jadzab (“nyleneh”).
Ia mengusir Syafa’at dan kedua sahabatnya yang bernama Mawardi dan Keling.
Ketiganya adalah santri yang dibencinya. Saat Kyai Syafa’at sedang mengajar,
Kyai Dimyati (Syarif) melemparinya dengan maksud agar Syafa’at meninggalkan
pondok. Akhirnya Syafa’at meningalkan Pondok Pesantren Jalen Genteng yang
diikuti oleh salah satu santri yang bernama Muhyidin, santri asal Pacitan ke
kediaman kakak perempuannya Uminatun yang terletak di Blokagung.


Perjuangan beliau dimulai dari musholla milik kakaknya. Mula-mula beliau
mengajarkan Al Qur’an dan beberapa kitab dasar kepada para pemuda masyarakat
sekitar, dan diikuti oleh para santri yang dulu pernah belajar di Pondok
Pesantren Jalen. Beberapa bulan berikutnya musholla tersebut tidak dapat
lagi menampung para santri yang ingin belajar kepadanya.


Melihat kondisi yang demikian, Kyai Syafa’at merasa prihatin sehingga
berkeinginan untuk pindah ke luar daerah Blokagung. Namun oleh Kyai Sholehan
dilarang dan bahkan kemudian dinikahkan dengan seorang gadis bernama Siti
Maryam, putri dari bapak Karto Diwiryo Badul Hadi.


Setelah menikah, beliau pindah ke rumah mertuanya. Di tempat yang baru ini
juga sudah ada mushollanya dengan ukuran 7 x 7 meter. Dalam kurun waktu satu
tahun, jumlah santri yang belajar bertambah banyak sehingga musholla ini
juga tidak cukup untuk menampung santri. Kemudian muncullah ide untuk
mendirikan sebuah masjid yang lebih besar untuk keperluan sholat dan
belajar. Beliau memerintahkan para santri untuk mengumpulkan bahan bangunan
untuk keperluan pendirian masjid. Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 15
Januari 1951. Dalam perkembangan selanjutnya tanggal inilah yang dijadikan
sebagai peringatan berdirinya Pondok Pesantren Darussalam Blokagung. Dalam
mendirikan pondok pesantren ini beliau dibantu oleh temanya Kyai Muhyidin
dan Kyai Mualim.


Itulah sekilas latar belakang KH Muktar Syafa'at Abdul Ghafur seorang ulama
dan guru panutan umat. Ia lahir di dusun Sumontoro, Desa Ploso Lor, Kec
Ploso Wetan, Kediri, 6 Maret 1919. Ia adalah putra keempat dari pasangan
suami-isteri KH Abdul Ghafur dan Nyai Sangkep. Kalau dilihat dari silsilah
keturunan, KH Mukhtar Syafa’at merupakan salah seorang keturunan pejuang dan
ulama, dari silsilah ayahnya, KH Mukhtar Syafa’at putra dari Syafa’at bin
Kyai Sobar Iman bin Sultan Diponegoro III (keturunan prajurit Pangeran
Diponegoro) dan garis ibu, yaitu Nyai Sangkep binti Kyai Abdurrohman bin
Kyai Abdullah (keturunan prajurit Untung Suropati).


Sejak usia kanak-kanak (4 tahun), Syafa’at telah menunjukkan sikap dan
perilaku cinta terhadap ilmu pengetahuan dan berkemauan keras mendalami
agama Islam. Setiap sore hari, ia tekun mengaji ke mushola terdekat yang
saat itu diasuh oleh Ustadz H. Ghofur. Dari sinilah ia mulai belajar membaca
Al-Qur’an. Pada tahun 1925 (usia 6 tahun), Syafa’at kemudian mengaji ke Kyai
Hasan Abdi selama 3 tahun di desa Blokagung, Tegalsari, Banyuwangi.


Selepas dikhitan pada tahun 1928, ia kemudian melanjutkan ke Pondok
Pesantren Tebuireng, Jombang yang saat itu diasuh oleh KH. Hasjim Asy’ari.
Di pesantren ini, ia seperti umumnya santri-santri lain mendalami ilmu-ilmu
agama Islam seperti Ilmu Nahwu, Shorof, Fiqih, Tafsir Al-Qur’an dan Akhlaq
Tasawuf.


Setelah 6 tahun menimba ilmu di Pondok Tebuireng, pada tahun 1936 ia diminta
pulang oleh ayahnya agar saudaranya yang lain secara bergantian dapat
mengenyam pendidikan pesantren. Permintaan tersebut ditampiknya secara
halus, karena ia ingin mendalami dan menguasai ilmu-ilmu pesantren. Atas
saran salah satu kakaknya, yakni Uminatun (Hj. Fatimah) pada tahun 1937 ia
akhirnya meneruskan studi ke Pondok Pesantren Minhajut Thulab, Sumber Beras,
Muncar, Banyuwangi yang diasuh KH. Abdul Manan.


Selama menjadi santri di ponpes Minhajut Thulab, Syafa’at sering jatuh
sakit. Setelah satu tahun, ia akhirnya pindah lagi ke Ponpes Tasmirit
Tholabah yang diasuh oleh KH Ibrahim. Di pondok ini selain belajar, ia juga
dipercaya oleh KH Ibrahim untuk mengajar ke santri lain. Di Pondok ini juga,
Syafa’at mulai mengkaji ilmu-ilmu tasawuf, seperti belajar kitab Ihya
Ulumiddin karya Syeikh Imam Al-Ghozali.


Pemahaman ini tidak sebatas pelajaran teori saja, namun juga ia praktekan
secara langsung seperti saat mandi, shalat fardhu, dan berhubungan dengan
lain jenis. Saat mandi, ia tidak pernah menanggalkan seluruh pakaiannya, dan
tidak pernah melihat auratnya. Selain itu, selama di Ponpes Tasmirit
Tholabah ia senantiasa shalat berjamaah di masjid. Padahal, ia termasuk
kriteria “santri kasab”, yaitu santri yang mondok sambil bekerja kepada
masyarakat sekitar.


Selama masih menuntut ilmu dan merasa belum waktunya menikah, Mukhtar
Syafa’at senantiasa memelihara diri dan menjaga jarak dengan hubungan lain
jenis. Suatu hari, ia oleh teman-teman santri dijodoh-jodohkan dengan
seorang gadis masyarakat sekitar Pondok Tasmirit Tholabah. Apa reaksinya? Ia
justru bersikap dan berperilaku layaknya orang gila dengan cara memakai
pakaian yang tidak wajar. Dengan demikian, gadis yang dijodoh-jodohkan
tersebut beranggapan bahwa Syafa’at adalah benar-benar gila, dan praktis
keberatan bila dijodohkan.


Pengembaraan Kyai Syafaat dalam menuntut ilmu adalah perjalanan panjang yang
menuntut perjuangan, ketabahan hati dan pengorbanan. Ia seringkali dalam
situasi dan kondisi yang memprihatinkan. Salah seorang sahabatnya ketika
belajar di Ponpes Tasmirit Tholabah, KH Mu’allim Syarkowi menuturkan
keadaannya, ”KH Syafa’at (Alm.) ketika belajar di Pondok Tasmirit Tholabah,
Jalan Genteng Banyuwangi, sangatlah menderita. Ia sering jatuh sakit,
terutama penyakit kudis (gudik). Disamping itu, ia tidak mendapat kiriman
dari orang tuanya sehingga harus belajar sambil bekerja. Apabila musim tanam
dan musim panen tiba, kami harus mendatangi petani untuk bekerja. Pagi-pagi
benar kami harus sudah berangkat dan menjelang Dzuhur kami baru pulang.
Sedangkan malam hari kami gunakan untuk belajar mengaji.”


Walaupun dalam kondisi yang memprihatinkan, Kyai Syafa’at tetap bersikeras
untuk mendalami ilmu-ilmu agama Islam. Semasa masa pendudukan Jepang antara
tahun 1942-1945, ia juga turut berperan aktif dalam bela negara dan merebut
kemerdekaan RI. Oleh teman-teman seperjuangan, ia diangkat sebagai juru
fatwa dan sumber ide dalam penyerangan. Setiap akan melangkah, mereka
meminta pertimbangan dahulu kepada Syafa’at.


Pada jaman pendudukan Jepang, Syafa’at tidak luput dari gerakan Dai Nippon
Jepang yang bernama Hako Kotai, yaitu gerakan pemerasan terhadap harta, jiwa
dan harta bangsa Indonesia demi kemenangan Perang Asia Timur Raya. dalam
gerakan ini, Syafa’at diwajibkan mengikuti kerja paksa selama 7 hari di
Tumpang Pitu (pesisir laut pantai selatan teluk Grajagan dan Lampon). Ia
dipekerjakan sebagai penggali parit perlindungan tentara Jepang.


Saat Belanda mendarat di pelabuhan Meneng, Sukowati, Banyuwangi Syafa’at
tidak tinggal diam. Ia bergabung dalam Barisan Keamanan Rakyat yang dipimpin
Kapten Sudarmin. Syafa’at juga turut aktif melakukan penyerbuan ke kamp-kamp
tentara Belanda saat perang gerilya dengan bergabung dalam Font Kayangan
Alas Purwo dan Sukamande kecamatan Pesangaran yang dipimpin Kyai Muhammad
dan Kyai Musaddad.


Lepas dari alam penjajahan Jepang dan Belanda, tepatnya pada tahun 1949 ia
mulai merintis berdirinya Pesantren Darussalam. Setelah melalui perjuangan
yang berat, pesantren Darussalam akhirnya berkembang dari waktu ke waktu dan
jumlah santrinya pun semakin bertambah banyak. Ini tak lepas dari sosok
pendiri dan pengasuh pesantren KH Syafa’at yang menjadi sosok teladan
sekaligus panutan umat.


Ia juga kerap dimintai pertolongan untuk melakukan pengobatan masyarakat.
Dengan cara menulis lafadz ya’lamuuna, selepas itu pada huruf ‘Ain
ditancapkan paku sambil dipukul palu. Sesekali KH Syafa’at menanyai pasien,
apakah masih sakit atau tidak. Kalau masih sakit, dipukul lagi dan jika
makin parah maka pada huruf Mim juga akan ditancapkan paku dan dipukul lagi
sebagaimana huruf ‘Ain. Konon, pengobatan tradisional ini banyak melegakan
pasien. Selain itu, ia juga sering dimintai untuk mengobati dan menangkal
gangguan santet dan sejenisnya. Sehingga rumahnya kerap dikunjungi para tamu
dari berbagai daerah. “Kalau kalian mengetahui ada tamu, maka beri tahu
saya. Kalau saya tidak ada atau bepergian, silahkan tamu tersebut singgah ke
rumah barang sejenak dan hormatilah mereka dengan baik. Kemudian, pintu
rumah jangan ditutup sebelum jam 22.00,” demikian pesan KH. Syafa’at kepada
keluarga dan para santri.


KH Syafaat juga dikenal sebagai pribadi yang penuh kesedehanaan, qana'ah,
teguh menjaga muru’ah (harga diri) dan luhur budinya. Ia tidak pernah merasa
rendah di hadapan orang-orang yang kaya, apalagi sampai merendahkan diri
pada mereka dan ia tidak malas beribadah karena kefakirannya. Bahkan jika
disedekahi harta, ia tidak mau menerima. Sekalipun diterima itu pun hanya
sebatas yang diperlukan saja, tidak tamak untuk mengumpulkannya.


Bahkan Kyai Sya’aat dikenal punya semangat memberi dan memuaskan setiap
orang yang datang kepadanya. Pernah suatu saat Kyai Syafa’at akan berangkat
Haji, terlebih dahulu ia berziarah ke makam Sunan Ampel di Surabaya. Lepas
dari komplek makam, ia bertemu dengan ratusan pengemis dan ia memberikan
shodaqah kepada para pengemis di sekitar makam sampai uangnya habis. Bahkan
karena sebagian pengemis itu tidak kebagian, ia kemudian menyuruh salah satu
santrinya untuk mencarikan hutangan sejumlah empat juta rupiah kepada
Masyhuri di Surabaya untuk disedekahkan kepada para pengemis yang tidak
kebagian.


Tidak hanya itu, sering uang bisyaroh selepas mengisi pengajian di banyak
tempat di berikan langsung kepada orang-orang yang tidak dikenalnya, tanpa
menghitung jumlah uang yang diterimanya. Selain dermawan akan harta dan
ilmu, KH Syafa’at dikenal seorang ulama yang wira’i (menjaga kehormatan).


Suatu ketika Kyai bepergian dengan ditemani oleh salah satu sopir, H
Mudhofar, sampai di Karangdoro mobilnya rusak (mogok). Akhirnya mobil
dibenahi dan oleh H. Mudhofar diambilkan batu bata untuk mengganjal mobil,
di salah satu perumahan penduduk. Setelah selesai, mobil berjalan dan KH
Syafa’at bertanya, ”Batu bata itu milik siapa? Kalau punya orang,
kembalikan!” Akhirnya mobil berhenti dan batu bata tersebut oleh H. Mudhofar
dikembalikan ke tempatnya semula.


Selain aktif dalam kegiatan kemasyarakatan, KH. Syafa’at juga aktif dalam
Jami’ah Keagamaan Nahdlatul Ulama. Tercatat, ia pernah menjadi pengurus dari
tingkat ranting sampai cabang. Jabatan terakhirnya adalah sebagai salah satu
Musytasyar wilayah Banyuwangi, Jawa Timur.


KH Syafa'at pada hari Jumat malam, 1 Februari 1991 (17 Rajab 1411 H) dengan
meninggalkan 14 anak (10 putra, 4 putri) dari perkawinannya dengan Nyai Siti
Maryam dan 7 anak (4 putra, 3 putri) dari perkawinannya dengan Nyai Hj
Musyarofah. Jenazah setelah disemayamkan di rumah duka dan dishalati oleh
mu’aziyin sampai 17 kali kemudian dimakamkan komplek makam keluarga, sekitar
100 meter arah utara dari Pesantren Darussalam, Blokagung, Banyuwangi.



Dari berbagai sumber


-- 
yasir wa la tu’asir

<<clip_image002.jpg>>

Kirim email ke