Tulisan ini juga disajikan dalam website http://umarsaid.free.fr
yang sampai sekarang sudah dikunjungi  615 500  kali



= ==  = = = =





Memperingati Hari Lahir Bung Karno 6 Juni



Bangsa Indonesia patut bangga

mempunyai Bung Karno



« In a thousand years, there will only be one Sukarno »



Hari kelahiran Bung Karno pada tanggal 6 Juni 1901 sudah berlalu.  Kita bisa
duga bahwa tidak sedikit orang  ingat kepada hari yang bersejarah bagi
bangsa kita itu, dan karenanya mengadakan kegiatan  dengan berbagai cara.
Terutama bagi kalangan rakyat yang sedang berjuang untuk perubahan besar dan
melawan segala kekuatan reaksioner di tingkat nasional maupun internasional,
ingat kepada sosok revolusioner Bung Karno adalah soal wajar, benar dan,
bahkan, sudah selayaknya.



Sebab, kelahiran Bung Karno pada tanggal 6 Juni 1901 di Surabaya, sebagai
anak seorang guru, ternyata kemudian merupakan anugerah besar yang
bersejarah bagi bangsa Indonesia. Rakyat Indonesia patut sekali bangga dan
kagum serta hormat kepada satu-satunya pemimpin yang seagung itu. Sejak muda
remajanya, ketika masih berumur belasan tahun, ia sudah belajar tentang
perjuangan untuk rakyat dari pemimpin besar Sarekat Islam, HOS
Tjokroaminoto. Dalam umur sekitar 25 tahun ia sudah sering menulis
artikel-artikel penting untuk majalah dan suratkabat, antara lain tulisan
besar yang berjudul « Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme ».



Kemudian dalam kegiatannya waktu di Bandung ia mendirikan PNI  dan ditangkap
dan dipenjarakan oleh pemerintahan kolonial Belanda karena dianggap
berbahaya. Waktu itulah ia mengucapkan pleidooinya  yang terkenal «
Indonesia menggugat » di depan pengadilan kolonial. Sesudah itu Bung Karno
dibuang ke pengasingan  di Endeh  (Flores) sejak 1933 sebelum dipindah ke
pengasingan di Bengkulu  antara tahun 1938-1942.



Sampai tahun 1945 Bung Karno bekerja keras bersama teman-teman
seperjuangannya – selama pendudukan tentera Jepang -- untuk mempersiapkan
kemerdekaan Indonesia.

Dan sejak tahun 1945 itulah Bung Karno muncul sebagai tokoh perjuangan
bangsa yang lebih besar lagi dengan mencetuskan gagasannya yang cemerlang
dan bersejarah, yaitu Pancasila, dan juga membacakan proklamasi (bersama
Bung Hatta) kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.



Bung Karno paling menonjol di antara para perintis kemerdekaan



Dipilihnya Bung Karno sebagai presiden pertama Republik Indonesia adalah
suatu hal yang wajar, dan juga seharusnya ! Sebab dari perjuangannya sejak
muda di tahun 20-an sampai ia diasingkan ke Flores dan Bengkulu ia sudah
dikenal sebagai pemimpin yang paling terkemuka dalam gerakan untuk melawan
penjajahan Belanda dan memperjuangkan kemerdekaan bangsa. Karena itu, tidak
ada pilihan lain, Bung Karno –lah yang dipandang oleh banyak kalangan yang
paling pantas dan paling berhak untuk mengemban tugas kepemimpinan bangsa.



Sejarah sudah membuktikan bahwa Bung Karno-lah tokoh yang paling besar
kewibawaannya dan paling kuat pengaruhya di antara para perintis kemerdekaan
di seluruh Indonesia, yang terdiri dari banyak macam aliran politik,
golongan, suku dan agama. Kewibawaan dan pengaruh yang besar ini adalah
hasil dari perjuangan Bung Karno yang dengan gigih membanting tulang selama
kurang lebih 25 tahun sebelum proklamasi 1945.



Dan setelah menjabat sebagai presiden sejak 1945 pun Bung Karno masih terus
melanjutkan tekadnya untuk mengabdikan diri sepenuh jiwa raganya  kepada
rakyat dalam situasi yang tidak mudah sebagai akibat dari perjuangan dalam
revolusi untuk kemerdekaan dan perjuangan bangsa melawan nekolim (ingat,
antara lain : DI-TII, « aksi polisionil Belanda » ke-I dan ke-II, RMS,
garakan tiga Selatan, PRRI, Permesta).



 Bahkan, dalam situasi yang sulit ini Bung Karno berhasil dengan gemilang
telah membawa negara dan bangsa Indonesia ke gelanggang internasional dengan
nama harum dan kehormatan yang tinggi, dengan diselenggarakannya Konferensi
Bandung tahun 1955, dan berbagai kegiatan untuk melawan imperialisme
(terutama AS). Justru di bidang internasional inilah  sumbangan Bung Karno
yang paling besar untuk mengangkat nama rakyat Indonesia tinggi-tinggi di
mata dunia.



Bung Karno berjasa menjunjung tinggi nama Indonesia


Bung Karno dengan visinya yang tajam mengenai imperialisme dan kolonialisme
telah menjadi tokoh penting , bahkan bintang utama, dalam gerakan non-blok
(bersama Tito), dan menjadi sumber inspirasi perjuangan bagi rakyat-rakyat
di Asia-Afrika. Nama Bung Karno dan Indonesia mempunyai kumandang besar
dalam banyak pertemuan atau kegiatan yang diadakan oleh AAPSO (Asian African
People’s Solidarity di Kairo), Asian African Jurists Conferenece di Conakry,
Asian-African Writers Conference di Colombo, Afro-Asian Journalists
Association atau PWAA di Jakarta.



Bung Karno juga terkenal dengan gagasannya untuk menyelenggarakan GANEFO
(Games of the New Emerging Forces)  dan KIAPMA (Konferensi Internasional
Anti Pangkalan Militer Asing) di Jakarta. Semua kegiatan yang dilakukan
dengan, atau bersama-sama, atau lewat berbagai organisasi itu adalah pada
pokoknya untuk memupuk solidaritas antara rakyat di berbagai benua dalam
menentang imperialisme.



Itulah sebabnya nama Bung Karno pernah dalam jangka lama menjulang tinggi
dalam pandangan banyak rakyat yang berjuang di bebagai negeri. Bung Karno
menjadi tokoh yang dihormati dan dicintai oleh banyak kalangan progresif di
dunia, sebagai pemimpin bangsa yang mengemban politik atau visi
revolusioner. Nama Bung Karno disejajarkan dengan nama-nama besar berbagai
tokoh dunia seperti Tito dari Yugoslavia, Nasser dari Mesir, Kwame Nkrumah
dari Ghana, Nehru dari India, Ho Chi Minh dari Vietnan, Mao Tse Tung dan
Chou En Lai dari Tiongkok. Tidak adalah pemimpin Indonesia lainnya yang
berhak mempunyai kehormatan untuk disejajarkan dengan tokoh-tokoh besar dari
berbagai negara itu.



Di skala nasionalpun , Bung Karno sebagai presiden RI meneruskan perjuangan
revolusionernya yang sudah dilakukannya sejak muda. Sesudah memimpin
perjuangan besar melawan pembrontakan PRR-Permesta yang didukung AS, ia
mengadakan serentetan tindakan dan politik yang penting untuk mendorong
revolusi bangsa lebih bergelora. Antara lain dikembalikannya UUD 45 dalam
tahun 1959, dicetuskannya berbagai gagasan besar atau ajaran-ajaran
revolusionernya, yaitu Manifesto Politik, Berdikari, Deklarasi Ekonomi
(Dekon), NASAKOM, Trisakti, yang menjadi panutan banyak orang dalam
melanjutkan revolusi di bawah pimpinan Bung Karno.



Kata revolusi sebanyak 203 kali dalam satu pidato !!!!!



Semua gagasan besar atau ajaran-ajaran revolusioner yang dicetuskan Bung
Karno baik sebelum kemerdekaan Indonesia maupun sesudah menjadi presiden RI
datang dari pemikirannya yang pada pokoknya adalah kiri atau revolusioner,
yang sekaligus mengandung nasionalisme, Islamisme dan marxisme. Semua orang
yang betul-betul mau berjuang demi membela kepentingan rakyat melawan segala
macam penindasan dan ketidakadilan akan menemukan jiwa revolusioner atau
semangat kiri yang dikandung dalam tulisan-tulisan dalam buku « Dibawah
Bendera Revolusi » dan « Revolusi Belum Selesai ».



Kerevolusioneran pandangan Bung Karno mengenai berbagai masalah besar bangsa
adalah satu hal yang tidak bisa diungguli oleh kebanyakan pemimpin atau
tokoh Indonesia lainnya. Ia menggunakan setiap kesempatan bicara di depan
umum untuk mengangkat tentang pentingnya bagi bangsa untuk meneruskan
revolusi yang belum selesai. Boleh dikatakan bahwa Bung Karno adalah
pemimpin rakyat yang betul-betul gandrung kepada revolusi, yang selalu
menginginkan perubahan-perubahan besar demi kepentingan kesejahteraan bangsa
dan negara.



Sebagai salah satu contoh betapa besar idaman Bung Karno tentang revolusi
yang perlu dijalankan terus menerus  oleh bangsa Indonesia adalah pidatonya
untuk merayakan 17 Agustus 1964, yaitu satu tahun sebelum terjadinya
peristiwa G30S. Setiap orang yang berminat dapat membacanya dalam buku «
Dibawah Bendera Revolusi » jilid II dari halaman 559 sampai 598.  Dalam
hanya satu pidatonya ini saja Bung Karno menyebut kata-kata revolusi atau
revolusioner sebanyak 203 kali !!!!! (tanda seru lima kali). Demikian itulah
begitu besar kegandrungan Bung Karno kepada revolusi.  (Karena sangat
menariknya betapa besar gagasan Bung Karno tentang revolusi bagi bangsa
Indonesia, akan diusahakan adanya tulisan tersendiri sebagai bahan kajian
bersama).



Dari itu semua nyatalah bahwa Bung Karno adalah pemimpin rakyat yang sejak
muda sekali berhaluan kiri atau revolusioner. Itulah sebabnya maka
gagasan-gagasannya atau  tulisan atau pidato-pidatonya  mengandung ciri-ciri
kiri, progresif, atau revolusioner. Itulah juga sebabnya ia mengatakan bahwa
Pancasila adalah kiri dan juga bahwa revolusi bangsa Indonesia adalah
revolusi kiri.



Bung Karno dicoba dibunuh 7 kali



Karena itu Bung Karno berusaha dengan sekeras-kerasnya untuk menyatukan diri
dengan perjuangan golongan kiri atau golongan revolusioner baik dalam skala
nasional maupun skala internasional melawan segala kekuatan reaksioner di
dalam negeri maupun imperialisme. Dan karena itu pulalah maka Bung Karno
mendapat dukungan atau simpati dari semua golongan yang kiri, progresif,
atau revolusioner, termasuk golongan PKI. Tidak ada satu pun pemimpin
nasional lainnya yang mendapat dukungan atau simpati dari begitu banyak
golongan progresif di Indonesia – maupun di luarnegeri  --  seperti Bung
Karno, dalam melawan nekolim.



Karena sejak muda Bung Karno sudah mengambil posisi yang demikian jelas
bertentangan dengan kepentingan golongan reaksioner di dalam negeri dan
bermusuhan dengan imperialisme di luar negeri, maka ia menjadi musuh
bebuyutan mereka. Kehadiran Bung Karno sebagai pemimpin bangsa Indonesia
sama sekali tidak menguntungkan golongan reaksioner dalam negeri maupun
luarnegeri.



Seperti yang bisa diamati oleh para peminat sejarah Indonesia, sejak
proklamasi 17 Agustus 45 sampai digulingkannya Bung Karno oleh Suharto
bersama jenderal-jenderal pendukungnya (yang mendapat dukungan imperialisme
AS) sudah berkali-kali diusahakan hilangnya dari kepemimpinan bangsa dan
negara Indonesia, dengan berbagai macam cara, tetapi selalu gagal. Bung
Karno telah dicoba dibunuh 7 kali selama menjadi presiden. Ini menunjukkan
betapa besar bahaya yang dilihat oleh kalangan reaksioner  -- baik yang ada
di dalam negeri maupun yang di luar negeri – pada diri Bung Karno. Karena
itu, tidak bisa lain, Bung Karno harus disingkirkan, bagaimana pun juga !



Bangsa kita patut bangga mempunyai Bung Karno


Dengan terjadinya peristiwa G30S maka dapatlah bagi kekuatan reaksioner di
dalam negeri (dengan sebagian pimpinan Angkatan Darat sebagai
tulang-punggungnya) dan di luar negeri untuk menjadikannya sebagai dalih
untuk menggulingkan Bung Karno, dengan lebih dulu menghacurkan PKI secara
besar-besaran dengan cara-cara yang luar biasa biadabnya.



Pengkhianatan pimpinan Angkatan Darat (yang dikepalai oleh jenderal Suharto)
terhadap Bung Karno adalah bukan saja insubordinasi terhadap panglima
tertinggi ABRI, melainkan juga pengkhianatan terhadap negara dan revolusi
rakyat Indonesia. Penggulingan Bung Karno secara khianat oleh Suharto
merupakan juga perusakan terhadap Pancasila, karena Pancasila adalah gagasan
Bung Karno. Dan karena Pancasila adalah dasar-dasar negara Republik
Indonesia, maka disingkirkannya Bung Karno oleh pimpinan Angkatan Darat
(waktu itu) dari kepemimpinan bangsa dan negara pada hakekatnya merupakan
perusakan Republik Indonesia.



Dan, kerusakan Republik Indonesia  yang melanda sangat parah di  berbagai
bidang politik, ekonomi, sosial , kebudayaan dan moral, seperti yang kita
saksikan dewasa ini adalah akibat dari dirusaknya -- secara besar-besaran --
segala usaha Bung Karno dalam mengajak bangsa Indonesia melanjutkan revolusi
yang belum selesai untuk membangun bersama-sama masyarakat dan makmur.



Kiranya, bangsa Indonesia – beserta anak cucu di kemudian hari -- bisa
merasa banggga pernah mempunyai putera yang begitu besar sumbangannya dalam
perjuangan untuk kemerdekaan bangsa dan juga sebagai presiden, kepala negara
dan pemimpin besar revolusi, yang bernama Sukarno. Karena nama Sukarno tidak
bisa dipisahkan dari Pancasila, maka selama bangsa dan negara kita
memakainya sebagai dasar-dasar negara, maka nama Sukarno akan tetap satu dan
senyawa dengan Pancasila.



Dalam seribu tahun akan hanya ada seorang Soekarno


Kini, sesudah dibenam atau disekap selama hampir setengah abad oleh rejim
militer Orde Baru, nama Bung Karno mulai sedikit-sedikit serta
perlahan-lahan berkumandang kembali. Sebagian dari orang-orang atau kalangan
yang pernah memusuhinya atau menghinanya sudah mulai berubah pandangan.
Salah satu di antara banyak contohnya adalah yang ditulis oleh Subadio
Sastrosatomo, tokoh penting atau   « dedengkot » PSI,  partai yang pernah
beroposisi keras dan dalam jangka lama sekali terhadap Bung Karno



Ia telah menerbitkan satu brosur yang berjudul « Soekarno adalah Indonesia,
Indonesia adalah Soekarno » yang isinya berisi pengakuan tentang besarnya
arti perjuangan dan jasa-jasa Bung Karno bagi bangsa Indonesia  Isi brosur
ini mempunyai arti yang dalam dan jauh. (Keterangan : brosur ini diterbitkan
oleh Pusat Dokumentasi Politik « Guntur 49 » Jakarta)



Dalam rangka memperingati hari lahir Bung Karno 6 Juni 1901, maka terasa
sebagai ungkapan yang kuat sekali  -- dan besar artinya  -- apa yang ditulis
oleh Jusuf  Ronodipuro, mantan Dubes RI di Argentina dalam New York Times
tanggal 4 Juni 2002, yang antara lain berbunyi : « In a thousand years,
there will only be one Sukarno.”  -- Dalam seribu tahun  akan hanya ada
seorang Soekarno (kutipan dari Eddie Suroyo Sastro, Washngton DC , 6 Juni
2004)



Mengingat itu semua, maka sudah selayaknyalah  bahwa untuk selanjutnya
bangsa kita  -- terutama generasi mudanya -- mengingat dan mempelajari
sejarah perjuangan serta berbagai ajaran-ajaran revolusioner Bung Karno
sebanyak mungkin dan juga sedalam-dalamnya. Bung Karno adalah guru besar
bangsa, baik di masa lalu, maupun untuk masa depan, untuk memperjuangkan dan
membangun masyarakat adil dan makmur.



Paris, 8 Juni  2010



A. Umar Said


Kirim email ke