Perdana Menteri Benjamin Netanyahu hari Jumat mengesampingkan
permintaan maaf Israel atas penyerangan pasukan komando yang mematikan
terhadap sebuah kapal bantuan Turki tujuan Jalur Gaza pada Mei yang
menewaskan sembilan aktivis Turki.

"Israel tidak bisa meminta maaf karena pasukannya membela diri untuk
menghindari penghukuman mati oleh kerumunan orang," kata Netanyahu
dalam wawancara yang disiarkan di televisi.

"Kami menyesalkan jatuhnya korban" kata Netanyahu.

Pasukan komando Israel menyerbu kapal-kapal dalam armada bantuan yang
menuju Jalur Gaza pada 31 Mei. Sembilan aktivis Turki pro-Palestina
tewas dalam serangan di salah satu kapal itu.

Hubungan Israel-Turki terperosok ke tingkat terendah sejak kedua
negara itu mencapai kemitraan strategis pada 1990-an akibat insiden
tersebut.

Turki memanggil duta besarnya dari Tel Aviv dan membatalkan tiga
rencana latihan militer setelah penyerbuan itu. Turki juga dua kali
menolak permohonan pesawat militer Israel menggunakan wilayah
udaranya.

Pernyataan Netanyahu itu disampaikan dua hari setelah Menteri
Perdagangan Benjamin Ben Eliezer dan Menteri Luar Negeri Turki
mengadakan pertemuan rahasia di Brussel untuk berusaha meredakan
ketegangan akibat serangan mematikan itu.

Netanyahu memuji perundingan tersebut.

"Pertemuan ini penting. Turki dan Israel perlu melakukan
pertemuan-pertemuan semacam itu untuk mencegah memburuknya hubungan,"
katanya.

Kekerasan parah dalam penyerbuan menjelang fajar Senin (31/5) oleh
pasukan Israel terjadi di kapal Turki, Mavi Marmara, yang memimpin
armada kapal bantuan menuju Gaza.

Israel berkilah bahwa penumpang-penumpang kapal itu menyerang pasukan,
namun penyelenggara armada kapal itu menyatakan bahwa pasukan Israel
mulai melepaskan tembakan begitu mereka mendarat.

Setelah serangan itu, Mesir, yang mencapai perdamaian dengan Israel
pada 1979, membuka perbatasan Rafah-nya untuk mengizinkan konvoi
bantuan memasuki wilayah Gaza -- kalangan luas melihatnya sebagai
upaya untuk menangkal kecaman-kecaman atas peranan Mesir dalam blokade
itu.

Kairo, yang berkoordinasi dengan Israel, hanya mengizinkan
penyeberangan terbatas di perbatasannya sejak Hamas menguasai Gaza
pada 2007.

Di bawah tekanan-tekanan yang meningkat, Israel kemudian meluncurkan
penyelidikan bersama dua pengamat internasional atas serangan itu.
Sekretaris Jendral PBB Ban Ki-moon mendorong penyelidikan terpisah PBB
dengan keikutsertaan Israel dan Turki.

Israel juga mengendurkan blokade terhadap Gaza dengan mengizinkan
sebagian besar barang sipil masuk ke wilayah pesisir tersebut.

Jalur Gaza, kawasan pesisir yang padat penduduk, diblokade oleh Israel
dan Mesir setelah Hamas berkuasa hampir tiga tahun lalu.

Kelompok Hamas menguasai Jalur Gaza pada Juni tahun 2007 setelah
mengalahkan pasukan Fatah yang setia pada Presiden Palestina Mahmoud
Abbas dalam pertempuran mematikan selama beberapa hari.

Sejak itu wilayah pesisir miskin tersebut dibloklade oleh Israel.
Palestina pun menjadi dua wilayah kesatuan terpisah -- Jalur Gaza yang
dikuasai Hamas dan Tepi Barat yang berada di bawah pemerintahan Abbas.

Uni Eropa, Israel dan AS memasukkan Hamas ke dalam daftar organisasi teroris.

Kirim email ke