Facebook: Radityo Djadjoeri
YM: radityo_dj
Twitter: @mediacare
4sq: http://foursquare.com/user/mediacare

  ----- Original Message ----- 
  From: Dedek Hendry 
  To: aiyep all ; pcmi bengkulu ; smunda bengkulu ; media care ; fkkm ; 
jurnalisme ; lingkungan 
  Sent: Thursday, September 02, 2010 7:47 PM
  Subject: [mediacare] Ditemukan Spesies Baru Asli Bengkulu


    
        Ditemukan Spesies Baru Asli Bengkulu 


        Harian Radar Bengkulu, 3 September 2010


        RADAR BENGKULU - Guru Besar Fakultas Pertanian Unib Prof. Dr. Teddy 
Suparno, MS telah menemukan spesies asli (indigenous) Bengkulu yang diberi nama 
Kumbang Maghrib Leucopholis zollantans Suparno. Spesies ini ditemukan dari 
hasil melakukan pengamatan secara intensif untuk menemukan penyebab buah mangga 
sulit berbuah. 
        Teddy mengatakan, penemuan dimotivasi oleh "vonis" Pemprov dan 
masyarakat bahwa Bengkulu tidak cocok untuk ditanam tanaman mangga. Sebab, 
setiap kali berbunga selalu gugur dan tidak menjadi buah. Lalu, dia pun 
mengembangkan mangga varietas baru yang kemudian diberinya nama mangga 
Bengkulen. "Baru berumur dua tahun sudah berbuah mulus sekali dan anehnya 
tanaman terus berbuah sepanjang tahun tergantung kesehatan tanaman," papar 
Teddy. 
        Berhasil membuktikan mangga Bengkulen, dia pun terdorong melakukan 
pengamatan intensif. Lalu, terkuaklah bahwa bunga dikatakan gugur karena curah 
hujan ternyata habis dimakan Kumbang Maghrib. "Pada tahun 1999 saya dapat dana 
penelitian dari Menristek melaluli Riset Unggulan Terpadu (RUT) VIII. Hasilnya, 
tanaman mangga yang berbunga dan kemudian diamankan dari Kumbang Maghrib, hama 
pemakan bunga dapat menghasilkan buah 100 persen," ujar Teddy. 
        Kemudian, dia pun melakukan pelacakan di pustaka Museum Multi 
Internasional dan Publikasi hasil penelitian Internasional via internet untuk 
mengetahui nama ilmiah Kumbang Maghrib. Hasilnya, Kumbang Maghrib dapat 
dikonfirmasi termasuk Genus Leucopholis Blanch dan sekaligus merevisi nama 
genus Adoretus. "Tetapi di tingkat spesies tidak ditemukan spesies yang 
memiliki karakteritik morfologik, ekologik dan fisiologik (makanan) mirip 
dengan Kumbang Maghrib," kata Teddy. 
        Banyak spesies yang termasuk Genus Leucopholis yang dibandingkannya. 
Yakni, L. irrorata Chevrolat 1841 (Nama lain L. pollinosa Burmeistra dan L. 
simillina Blanchard), L. ferulenta Burm., Leucopholis rorida Fabr. (=Melolontha 
rorida Weber 1801), L. staudiurneri, L. rorida Fabricius 1801, L. plagiata 
Blanchard 1850, L. pinguis Burmeister 1855, L. emarginata Burmeiter 1855, L. 
rufa Brenske 1892 dan L. tristis Brenske 1892.
        Lalu, L. crassa Brenske 1892, L. tristicula Brenske 1896 dan L. pinguis 
Burmeister 1855, L. plagiata Blanchard 1850, L. rorida Fabricius 1801, L. rufa 
Brenske, 1892, L. tristicula Brenske, 1896, L. tristis Brenske, 1892, L. 
lepidophora, L. coneophora dan L. burmeisterri, L. diffinis, L. fontainei, L. 
lateralis, L. mirabilis  dan L. stigma. "Dari spesies-spesies tersebut, yang 
mempunyai ciri-ciri morfologis mirip dengan kumbang Maghrib adalah L. irrorata 
dan L. Rorida," terangnya. 
        Distribusi Leucopholis irrorata, meliputi Indonesia, Sri Langka, 
Filipina, India, Madagaskar, Canada dan USA. Uretnya paling umum menyerang akar 
di kebun tebu dan kumbangnya memakan daun-daun muda dari tanaman apokat, 
kelapa, chashew termasuk mangga.  Kumbang jantan berukuran panjang 25 mm dan 
lebar 14 mm, dan yang betinanya berukuran panjang 30 mm dan lebar 16 mm. 
        Elitra berwarna dasar hitam yang ditutupi sisik-sisik warna putih. 
Sedang Leucopholis rorida terdapat di Jawa, Sumatera dan Malaysia. Di Jawa 
dikenal dengan nama 'lonte' dan kumbangnya berwarna coklat gelap berukuran 
panjang 20-27 mm,. Di Jawa Timur sangat merusak tanaman ketela dan kopi.
        Kumbang maghrib termasuk Genus Leucopholis Blanchard 1845, Famili 
Scarabaeidae dan ordo Coleoptera (C. Linnaeus, 1758).  Spesies asli Bengkulu 
ini terdapat di dataran rendah daerah pantai pada ketinggian 0 - 200 m dpl. 
Kumbang dewasa bersifat monofag, yaitu hanya memakan bunga mangga dan dapat 
dijumpai sepanjang tahun. "Hujan di Bengkulu dapat dijumpai sepanjang tahun, 
biasanya bulan terkering pada bulan Juni dan Juli yang curah hujannya kurang 
dari 17 mm.  Pada kondisi curah hujan kurang 17 mm tersebut tidak dijumpai 
kumbang terbang," ulasnya. 
        Kumbang maghrib sangat merusak bunga mangga pada semua varitas tanaman 
mangga Mangifera indica kecuali bembem dan kweni Bengkulu, Sumatera. Bunga 
mangga adalah bunga majemuk. Setelah mekar, dimakan oleh Kumbang Maghrib dewasa 
mulai dari putik, mahkota bunga, kelopak sampai ke tangkai-tangkai bunga 
sehingga tinggal ibu tangkainya saja. Pentil di bawah ukuran 1,0 cm juga ke 
bawah juga dimakan. Uret-uretnya memakan akar tumbuhan semak liar. 
        "Pada awal penemuannya, saya beri nama kumbang maghrib karena kumbang 
itu terbang menuju bunga mangga pada saat adzan maghrib. Panjang tubuh antara 
30 - 33 cm dan lebarnya antara 17-19 mm. Warna dasar  tubuh yang meliputi 
kepala, thoraks dan abdomen serta elitra adalah coklat hitam. Bagian permukaan 
dorsalnya ditutupi oleh sisik-sisik coklat. Antenanya terdiri dari tujuh ruas 
dan ruas ke 4-7 memanjang memyerupai kipas," jelas Teddy. 
        Sayap depan yang keras dinamakan elitra. Pada elitra Kumbang Maghrib 
terdapat 10 spot berwarna kuning yang tersusun membetuk huruf S (baca dari 
anterior ke posterior) sehingga pada sepasang elitranya ada setangkup huruf S. 
Sedang ke arah margin atau tepi luar ada 17 spot bewarna kuning tidak teratur 
membentuk huruf T (dibaca tepi dari samping). Spot-spot kuning itu berdiameter 
0,5 mm. 
        Adanya spot-spot berwarna kuning cerah berderet membentuk huruf S 
setangkup (simetris bilateral) dan huruf T tersebut merupakan kharakteristik 
morfologik yang membedakan Leucopholis zollantansi dengan spesies lainnya dalam 
genus Leucopholis. "Nama spesies zollantans berarti hama bunga mangga yang 
rakus, yang mendatangi pohon manga saat adzan maghrib, memakan bunganya hingga 
kenyang dan setelah kenyang antara pukul 21.00 hingga 22.00 kembali lagi ke 
tempat perindukannya (semak-semak) tanpa diketahui oleh yang punya pohon 
mangga. Nama lengkap ilmiahnya adalah Leucopholis zollantans Suparno 2010," 
ujar Teddy. 
        Penemuan di atas mengingatkan kita kepada dua orang berkebangsaan 
Inggris yang bernama Stamford Raffles dan Dr. Joseph Arnold pada tahun 1818 
yang menemukan tumbuhan yang hidup parastik pada tumbuhan liana Tetrasigma sp. 
di dasar hutan di Desa Pulau Lebar, Manna, Bengkulu Selatan dan hingga kini 
tercatat bunganya terbesar di dunia. Kemudian pada tahun 1821 oleh Robert Brown 
diberi nama Rafflesia arnoldii R. Br.A. (gol/red)


        Kunjungi Radar Bengkulu di http://www.facebook.com/pages/Radar-Beng
        kulu/10150117053600591 



  

Kirim email ke