Sandy Buchori
Tue, 17 Apr 2007 19:29:26 -0700
assalamu'alaykum warahamtullah wabarakatuh! Ana ingin sedikit memberikan tambahan dan saran dari tulisan akh.Taufan. Afwan bukan maksud ana untuk mengajak berdebat tapi ana ingin membukan pikiran dan pintu diskusi.
Akhy fillah...
Memang benar ketika berdiskusi dalam masalah keshahihan hadits-hadits dari
sebuah buku kumpulan do'a dan dzikir harus dibarengi dengan ilmu yang kuat.
Tidak boleh asal sembarangan berucap dan langsung serta-merta
menyalahkan/melemahkan kualitas dari salah satu kumpulan do'a yang tidak biasa
kita gunakan.
Semisal dalam memandang Al-Ma'surat sebuah karya besar dari Tokoh Islam Hasan
Al-Bana, bila kita sebagai orang yang tidak menggunakannya dengan beberapa
alasan tertentu tidak boleh dengan tanpa ilmu menyudutkan atau melemahkan
kualitas kitab ini. Bilang bahwa buku ini tidak berkualitas karena ada hadits
dhaif tanpa dukungan suatu dalil/bukti. Begitupula Anda yang sering mengamalkan
do'a-do'a dari kitab ini tidak boleh fanatik bila datang kabar dari seorang
ulama yang mentahqiq(meneliti) hadits ini.
Karena begitulah yang dilakukan oleh Para Imam Empat Mazhab (Abu Hanifah,
Syafi'i, Malik, Ahmad bin Hambal) yang menjadi teladan kita, salah satu
diantara mereka adalah "Yang sesuai dengan sunnah Nabi adalah madzhabku, dan
yang tidak maka campakkanlah itu jauh-jauh"
Saran ana ketika kita membeli atau menggunakan suatu buku kumpulan Do'a-Do'a
sebaiknya kita melihat isi dari buku itu. Apakah buku itu sudah ada tahqiq-nya
atau minimal di dalam buku itu dikemukakan sumber pengambilannya (apakah dari
Al-Quran atau dari Al-Hadits) berdasarkan penafsirannya (maksudnya apakah benar
do'a itu betul-betul dianjurkan untuk diamalkan pada waktu itu
(pagi/sore/malam) dan dengan tata cara seperti itu (mis :baca 3x).
Jadi mulailah sedari sekarang kita mulai kritis dalam memilah-memilih buku-buku
islam terutama buku-buku yang berisi suatu amalan untuk dikerjakan. Keshahihan
atau kualitas dalil yang diambil oleh buku itu harus bisa dipertanggung
jawabkan.
Catatan buat Al-Ma'tsurat :
1. Apakah dalam sebuah penerbitan buku kecil Al-Ma'tsurat ini sudah ada catatan
kaki tentang tahqiq (penelitian) atau dalil pengambilan hukum amalan dari
do'a-do'a di dalam buku itu?
Contoh seperti do'a terakhir disana ada do'a Rabithah yang terkenal, apakah
do'a itu ada contoh dari Nabi dan para sahabat? Kita ingat akan kaidah
"Seandainya Amalan itu baik, maka Nabi beserta Para Sahabat telah
mencontohkannya".
Kita gak salah memohon kepada Allah dengan gaya bahasa sendiri, misal saja
minta dipermudah ketika menghadapi ujian dengan lafal "Ya Allah, saya memohon
dipermudah ketika ujian....." Itu boleh. Namun do'a itu hanya dipergunakan bagi
kita pribadi saja tidak harus dibiasakan dan direkomendasikan ke orang-orang.
Karena ketika kita ingin merekomendasikannya butuh sebuah dalil.
Dan seutama-utamanya do'a adalah do'a yang diajarkan dari Al-Quran dan
Hadits-Hadits yang shahih.
2. Ana akui kitab-kitab besar karangan ulama besar terdahulu seperti Kitab
Al-Adzkar karya Imam Nawawi tidak luput terjatuh dalam pengambilan
hadits-hadits yang dhaif. Hal itu dimungkinkan karena keterbatasan informasi
status hadits dari para ulama itu pada masanya. Mereka telah berusaha
semaksimal mungkin untuk memasukkan hadits-hadits shahih dari buku doa mereka
menurut informasi status hadits yang mereka terima.
Jadi bagi kita yang hidup di zaman sekarang, merujuk kepada Ulama yang telah
mengupdate informasi tentang kualitas suatu hadits yang tentunya dengan
keutamaan ilmu mereka, seperti Muhaddits abad ini Syaikh Muhammad Nashiruddin
Al-Albani dan lainnya yang telah teruji keahliannya di bidang ilmu hadits.
Nah sekarang kita meninjau buku Al-Ma'tsurat tersebut, afwan bukannya ana
mendeskriditkan penulisnya. Siapakah Hasan Al-Bana? Apakah dia seorang Ulama
dalam bidang hadits? Kita telah kita ketahui bahwa dari sejarah yang ada
mengatakan bahwa beliau adalah Tokoh Besar pergerakan Islam dan bukan seorang
yang mengabdikan hidupnya untuk meneliti kualitas hadits (muhadditsin).
Nah tadi kita telah ketahui bahwa ulama besar yang juga ahli dalam bidang
hadits seperti Imam Nawawi dan Ibnu Taimiyah saja bisa tak luput dari
kesalahan. Apalagi Hasan Al-Bana?
Kita lihat Al-Ma'tsurat karya besar beliau tersebut tidak dicantumkan
sumber-sumber yang jelas pengambilan do'a-do'a tersebut. Nah ini membuat
syubhat kepada ummat bukan???
Marilah kita cukup adil untuk menimbang permasalahan ini!!!!
3. Bila saudara-saudaraku di Ikhwanul Muslimin masih ingin mengamalkan kitab
Al-Ma'tsurat, silahkan saja! Namun, harus dipilah-pilih mana do'a-do'a yang
sesuai dengan sunnah Rasul dan mana yang tidak. Jelas, ini harus diinformasikan
kepada teman-teman antum, terutama yang masih awam terhadap masalah ini.
Sebarkanlah/terbitkanlah buku tahqiq(revisi) Al-Ma'tsurat bila ada dan tarik
kitab-kitab Al-Ma'tsurat yang sekarang beredar di masyarakat yang didalamnya
tidak ada keterangan yang jelas tentang kebenaran sumber pengambilan
do'a-do'anya.
Karena tentu kita tidak ingin ummat mengamalkan sesuatu yang masih syubhat kan?
Bila antum mencintai saudara-saudara antum di Ikhwanul Muslimin berikanlah
pelajaran yang berharga ttg masalah ini.
Kalo itu terasa sulit bagi antum, yah mulailah melunakkan hati untuk
menggunakan buku-buku do'a yang lain dimana buku tersebut lebih jelas sumber
pengambilan dalil do'a-do'anya. Ana rekomendasikan :
1. Kitab Tahqiq Al-Adzkar karya ....(afwan lupa)
2. Hisnul Muslim
Setelah itu rekomendasikanlah ke teman-teman antum semuanya.
Sekian saja masukan serta saran ana bagi antum semua terutama akh.Fauzan. Ana
mohon ampun kepada Allah asal kebodohan ana dalam penulisan posting di milis
kali ini. Ana juga memohon maaf kepada antum bila ada kata-kata yang tidak
berkenan. Silahkan disini kita membukan pintu diskusi bukan sebuah perdebatan
yang tak jelas ujung pangkanya.
Jazakumullah Khairan Katsiran!
tauFan_S <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
AlhamduliLLAAHi wash Shalatu was Salamu `ala RasuliLLAAHi
wa `ala `alihi,
Ikhwah wa akhwat fiLLAAH,
Semoga ALLAH SWT senantiasa mengumpulkan kita semua setiap waktu
dalam manisnya ibadah, lisan yang basah dengan dzikruLLAAH, tubuh
yang penat & letih dalam memperjuangkan ummat & membela agama ALLAH,
hati yang ikhlas dan jauh dari hasad & ghill, aamiin ya RABB
Dan segala puji bagi ALLAH jua, yang dengan nikmat-NYA telah
menunjukkan kepada dakwah ini sebagian hasil dari perjuangan para
mujahid-NYA, dakwah ini sedikit demi sedikit telah mulai mewarnai
kehidupan berpolitik & bernegara, sekalipun masih belajar & walaupun
dengan tertatih-tatih & terjungkal disana-sini, ia telah mulai
menampakkan berbagai hasil positifnya bagi para penanamnya,
liyu'jibuz-zurra'a liyaghizha bihimul kuffar, yang tidak akan
diingkari kecuali oleh orang-orang yang menzhalimi dirinya sendiri
Sekalipun dihujani berbagai kritik & bahkan juga tuduhan, baik secara
langsung maupun melalui media massa, tetapi mereka yang berada di
dalam sistem dapat melihat adanya perkembangan arus kebaikan &
perbaikan yang signifikan dengan masuknya para da'i dalam sistem
tersebut, lambat tapi pasti kebatilan mulai tergeser & al-haqq mulai
menunjukkan pengaruhnya, waLLAAHu musta'an
Ikhwah wa akhwat fiddin,
Beberapa hari yang lalu, ada beberapa ikhwah yang mengirim email
maupun SMS ke ana, meminta menjelaskan tentang "Dzikir Al-Ma'tsurat"
yang ditulis oleh Imam Al-Banna -rahimahuLLAAH- yang katanya banyak
disebut sebagai kumpulan dzikir yang dha'if & maudhu', oleh sebagian
saudara kita fiddiin
Ana teringat beberapa waktu yang lalu, saat berkesempatan mengunjungi
Islamic Development Bank (IDB) Jeddah bersama beberapa asztidz, saat
kami berada di Jeddah, kami bertemu dengan ikhwah disana, dan diminta
memberikan taujih. Setelah selesai menyampaikan taujih, nampak ada
seorang ulama Jeddah (yang menurut ikhwah disana tidak suka dengan
harakah & hizb), ia bertanya demikian: Mengapa Al-Ikhwan mengamalkan
doa Al-Ma'tsurat yang merupakan kumpulan hadits-hadits dha'if?
Saat itu saya tidak berkesempatan menjawabnya, karena telah dijawab
oleh beberapa ikhwah yang lain, namun nampaknya beliau -
hafizhahuLLAAH- merasa tidak puas. Maka saat ramah-tamah, saya
mendekatinya & terjadi dialog sbb:
Saya: Apakah antum sudah membaca kitab-kitab kumpulan doa & dzikir
yang ditulis oleh para ulama kita Salafus Shalih?
Beliau: Sudah, bini'matiLLAAH
Saya: Apakah antum bisa menunjukkan kepada saya, satu saja dari kitab
kumpulan doa mereka itu yang tidak berisi hadits-hadits dha'if?
Beliau: Maksud ustadz?
Saya: Saya memohon jika bisa ditunjukkan kepada saya, ada 1 saja
kitab kumpulan doa/dzikir yang ditulis ulama salaf yang bersih dari
hadits-hadits dha'if.
Beliau: Wah, ana belum pernah tuh mencek semuanya..
Demikianlah potongan diskusi kami dengan beliau -semoga ALLAH SWT
mengampuni saya & beliau-, yang kesemuanya ini menunjukkan substansi
masalah yang sebenarnya, yaitu telah beredarnya berbagai isu & fitnah
seperti malam yang gelap gulita diantara para aktifis Islam, tanpa
didasari sikap husnuzhan & rihabatus-shudur
Seandainya kita semua berpijak pada prinsip husnuzhan & rihabatush-
shudur kepada sesama aktifis & da'i Islam, maka kita bisa membagi
pekerjaan dakwah ini untuk menggarap berbegai segmen berdasarkan
karakteristik khusus (khashais) & spesialisasi (takhassusiyat) dari
masing-masing gerakan Islam, dan tidak perlu disibukkan untuk
membantah tuduhan-tuduhan yang dilontarkan oleh sesama saudara
sendiri, yang malah amat sangat membantu & menguntungkan para musuh-
musuh Islam untuk memecah-belah ummat, wabiLLAAHi nasta'in..
Kembali ke permasalahan Al-Ma'tsurat, maka ketahuilah wahai ikhwah wa
akhwat fiLLAAH a'anakumuLLAAH jami'an, bahwa kalau seorang yang alim,
maka mereka akan tahu bahwa tidak ada satupun kitab yang ditulis
ulama salafus-shalih yang khusus berisi kumpulan doa & dzikir yang
tidak berisi hadits-hadits dha'if, sekedar untuk menyebutkan contoh,
sampai kita Al-Adab Al-Mufrad karangan Kibarul Muhaddits (Tokoh
Terbesar para Ahli Hadits) yaitu Imam Abi AbdLLAAH Muhammad bin
Isma'il bin Ibrahim bin Bardizbah Al-Bukhari (Imam Bukhari) juga
banyak mengandung hadits-hadits dha'if
Demikian pula kitab Al-Amalul Yaumi wa Laylah (baik yang ditulis oleh
Imam An-Nasa'i, maupun oleh Imam Ibnu Sunni), kitab Al-Adzkar
karangan Imam An-Nawawi, dan bahkan kitab Al-Kalimut Thayyib yang
dikarang oleh salah seorang pelopor mujaddid pembersihan bid'ah &
khurafat, yaitu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahuLLAAH- (yang
telah di-syarah/diberi penjelasan oleh muridnya Imam Ibnul Qayyim
dalam kitabnya Al-Wabilus Shayyib) juga bertaburan hadits-hadits
dha'if
Lalu mengapa dengan banyaknya hadits-hadits dha'if dalam tulisan para
ulama tersebut lisan mereka diam & tidak menyebarkan fitnah,
sementara terhadap Al-Ma'tsurat (yang kalaupun ada hadits dha'ifnya,
maka tidaklah sebanyak dalam kitab Al-Kalimut Thayyib-nya Syaikhul
Islam) lisan mereka mencaci-maki kepada penulisnya, yang telah
mempersembahkan hidupnya untuk Islam & disaksikan oleh banyak orang,
kemudian lisan mereka sibuk menyebarkan aib & menggunjingkannya?!
Hanya salah satu dari 2 alasan, apakah karena mereka tidak berilmu,
ataukah karena ghill (kedengkian) yang telah bersarang di dalam hati
mereka, dan apapun dari kedua sebab itu adalah sangat menyedihkan dan
merupakan sebuah kerugian besar..
Ikhwah wa akhwat fiddiin rahimakumuLLAAH,
Jika kita benar-benar berusaha memahami ilmu hadits, maka akan kita
ketahui pendapat para muhaddits tidaklah sama, tash-hih maupun
tadh'if juga dapat saja berbeda antara seorang muhaddits dengan
muhaddits yang lain, maka berpegang kepada pendapat seseorang seperti
Syaikh Al-Albani -rahimahuLLAAH- misalnya dalam perbedaan pendapatnya
dengan Syaikh Syakir dalam men-shahih-kan & men-dha'if-kan adalah
dibolehkan, namun jika menyatakan pasti Syaikh Albani-lah yang benar,
maka hal tersebut perlu ditinjau dalam beberapa sisi.
Pertama, apakah yang berkata adalah seorang ahli hadits, sehingga
pendapatnya bisa diterima atau yang bicara hanya seorang thalabul-
ilmi? Kedua, kalaupun dia seorang ahli hadits maka apakah
penelitiannya diterima semua peneliti hadits atau berbeda dengan
penelitian orang lainnya? Ketiga, kalaupun ada beberapa peneliti
menyatakan hal yang sama, maka apakah orang-orang menerima keadilan
mereka itu atau merasa tidak ithmi'nan karena dianggap mewakili &
memiliki "sikap keberagamaan yang tertentu", dst.
Saya pribadi pernah menemui hal seperti di atas, saat di sebuah web
milik saudara kita dikatakan bahwa hadits Piagam Madinah tidak
shahih, mu'dhal, dst. Sebagai orang yang ber-husnuzhan pada
saudaranya maka saya ber-istighfar karena saya telah berpegang kepada
hadits-hadits tersebut (lih. Tulisan saya di millist & Web ini
tentang: Koalisi Politik dalam Islam), sayapun ingin merujuknya,
namun iseng saya membuka beberapa tulisan di web berkenaan tentang
hadits Piagam Madinah tersebut, lalu kemudian saya menemukan bantahan
terhadap hal tsb dari sebuah tulisan Syaikh Akram Dhiyauddin Al-Umary
yang meneliti masalah tersebut & menemukan bahwa hadits-hadits
tersebut walaupun secara tekstual dha'if namun sebenarnya ada di-
isyaratkan dalam shahih Al-Bukhari.
Demikianlah ikhwah wa akhwat fiLLAAH rahimakumuLLAAH, maka terus-
terang masalahnya tidak sesederhana yang dikira oleh sebagian orang,
dan tentang Al-Ma'tsurat maka sudah banyak orang yang berusaha men-
tahqiq hadits-hadits-nya, seperti Syaikh Ridhwan Muhammad Ridhwan,
Syaikh DR AbduLLAAH Azzam, Syaikh Prof DR Abdul Halim Abu Syuqqah,
dll. Maka kalaupun ingin dilakukan diskusi dalam masalah ini, maka
tidak boleh dengan hujatan, tuduhan, dsb; karena para peneliti
tersebut adalah orang yang berkafa'ah di bidangnya sebagai muhaddits.
Karena itu, tidaklah semua itu tuduhan, cercaan & fitnah itu
disebarkan, kecuali makin menunjukkan sedikitnya ilmu & rendahnya
akhlaq seseorang.
Maka di akhir tulisan ini ana ingin menyampaikan kepada antum semua
bahwa kita (AL-IKHWAN) tidak menyukai mengamalkan hadits-hadits yang
dha'if apalagi maudhu', kita selalu berusaha berpegang kepada yang
shahih semampu kita, hal ini bisa dilihat oleh orang-orang yang
inshaf (adil) pada buku-buku tulisan para ulama kita, jikapun ditemui
adanya hadits dha'if maka itu bukanlah karena disengaja, melainkan
kekhilafan belaka, bedakan dengan saudara kita dari sebagian kaum
Sufi atau lainnya, yang memang secara sengaja mengumpulkan kitab dari
hadits-hadits dha'if, seperti dalam kitab Durratun Nashihin,
Fadha'ilul A'mal, dsb
Rabbanaghfirlanaa wa li ikhwaninalladzina sabaquna bil iman, wala
taj'al fi qulubina ghillan lilladzina amanu
---------------------------------
Real people. Real questions. Real answers. Share what you know.