Perang
Dada saya serasa sesak menyaksikan media-media massa ekektronik dan cetak di Indonesia yang dengan gencar memberitakan betapa "jahatnya" Malaysia akhir-akhir ini. Headline-hedline harian di Indonesia dengan gagah berani mengusung slogan-slogan perang melawan Malaysia. Seolah masa-masa ini tak ada kata yang lebih indah dinyanyikan selain berperang melawan Malaysia. Negara jiran itu tiba-tiba saja menjadi ikon penjahat, penjajah, imperialis, serakah dan stereoptipe-stereotipe negatif lainnya yang ditumpahkan di wajahnya. Berbagai persiapan menyambut "pengganyangan" Malaysia pun dilakukan. Para militer dengan bangga membidikkan senjatanya ke arah perairan Malaysia. Pasukan katak sudah berenang ke medan peperangan. Bahkan para pemilik ilmu kanuragan dari kalangan sipil telah memulai latihan bela diri pencak silat, tenaga dalam dll. Tak peduli area konflik sebenarnya adalah perairan, bukan daratan. Para pemuda yang mempunyai rasa nasionalisme yang tinggi segera mendaftar menjadi sukarelawan menyerang Malaysia, sambil membakar bendera negara Melayu tsb. Para pecandu kode-kode gila komputer dengan bangga menjadi hacker (tepatnya cracker) situs-situs resmi Malaysia. Merobah (defacing) halaman muka situs tsb dengan kata-kata menantang perang. Beberapa surat kabar memprovokasi pembaca, bahwa Pulau Ambalat diinvasi (padahal yang disengketakan adalah lautan / perairan, bukan kepulauan). Beberapa cendekiawan bahkan menghubung-hubungkan kejahatan Malaysia terhadap para TKI ilegal yang bekerja di sana. Lengkap sudah atribut Malaysia sebagai bangsa yang harus diperangi. Mengalahkan pamor terkutuknya negara amerika. Sebelum kita ikut melakukan aktivitas membela tanah air, ada baiknya kita melihat konflik ini dalam perspektif yang lebih luas. Perairan Ambalat adalah lautan yang diklaim oleh Malaysia, sebagai konsekuensi logis dari pada penguasaan Sipadan dan Ligitan. Ibarat efek domino. Mau tak mau, karena Sipadan dan Ligitan dimenangkan oleh Malaysia, maka perairan Ambalat pun jatuh ke tangan mereka. Itu adalah fakta hukum. Malaysia adalah negara hasil "didikan" Inggris, bukan jajahan. Rakyatnya lebih terbuka dan menguasai hukum dibanding tetangganya, yang benar-benar dijajah oleh Belanda. Tidak heran kalau penduduk Malaysia terlihat lebih terdidik dan bijaksana dalam segala hal. Mereka lebih pandai bagaimana mengelola alam, memelihara lingkungan. Bagi yang pernah berkunjung ke Malaysia pastilah bisa merasakan perbedaan besar, antara Malaysia dan Indonesia. Rata-rata yang pernah hidup di Malaysia pasti merasa berat untuk meninggalkan Malaysia. Entah karena faktor ekonomi dan lainnya. Sementara kita yang di Indonesia, dititipi oleh Tuhan belasan ribu pulau yang subur dan makmur, tidak satu pun yang kita kelola dengan benar (Bahkan ada ribuan pulau yang karena tak diurus, tidak punya nama panggilan). Ketika Irian Barat (Papua) dengan semangat revolusi direbut dari tangan Belanda, berapa banyak nyawa anak bangsa ini yang melayang? Berapa modal materi yang kita keluarkan? Ketika Irian Barat telah berhasil direbut, apakah pulau yang besarnya 5 kali pulau Jawa itu berhasil "menghidupi" rakyat Indonesia, atau minimal rakyat Papua? Kekayaan alam yang melimpah, malah diexploitasi pihak asing. Ketika Freeport beroperasi, berapa persen yang rakyat Papua dapat? Nil persen. Emas, minyak, pohon semua duitnya lari ke asing. Jakarta hanya dapat komisi. Sementara rakyat Papua hanya dapat hadiah hiburan; KOTEKA! Ratusan ribu kubik batang kayu ditebang dari hutan Papua untuk diselundupkan ke negara asing. Siapa yang dapat duitnya? Oknum militer, pejabat, dan penanam saham asing. Rakyat Papua? Dapat hadiah hiburan; Koteka lagi. Kenapa bisa begitu? Karena para petinggi bangsa ini bermental MALING. Rakyat hanya dianggap babi liar. Ketika rakyat melaju di jalan raya berlobang, becek, berdebu, tak ada seorang pejabat setempat yang berkenan hatinya menambal itu jalan. Tapi ketika yang mulia dipertuan agong bapak sri maha rahaja presiden atau wakilnya mau lewat, tiba-tiba jalan jadi mulus. Padahal sebelumnya ratusan tahun "babi-babi liar" tersiksa oleh jalan rusak itu. Ketika Exxon Mobil dibuka dan beroperasi, apakah rakyat setempat dapat untung? Alih - alih untung, rakyat sekitar yang protes malah ditembak mati. Pelakunya hilang tak tersentuh hukum. Ketika teluk Buyat tercemar, siapa yang telah dengan senang hati memberi lisensi perusahaan amerika membuka tambang emas di sana? Pemerintah. Apa yang didapat masyarakat sekitar, ketika dari dalam tanah mereka digali berton-ton harta karun? Penyakit benjol-benjol, gatal-gatal, kejang-kejang. Tak secuil emas pun yang diberikan kepada mereka sebagai kompensasi. Dan banyak lagi kasus-kasus pemerkosaan alam oleh generasi "terdidik" bangsa ini, yang menjadi pemimpin. Kawanku� bangsa Indonesia musti banyak belajar bagaimana mereka berperilaku sebagai manusia beradab. Manusia beradab tidak akan mau mengorbankan derajatnya hanya untuk menebangi pohon, membunuh binatang, menangkapi burung yang tak berdosa. Manusia beradab tak akan rela memakan daging saudaranya sendiri, merampok emas di pekarangan saudaranya sendiri. Alam adalah guru, apa jadinya kalau guru ditebang, dibabat, dibunuh, ditembaki. Rakyat beradab punya hukum, bahwa di negara manapun kita berada, harus punya visa kerja kalau ingin bekerja. Tidak bisa begitu saja tinggal di suatu negara tanpa ijin bekerja, atau ilegal. Rakyat beradab tidak akan bersikap vandalis atau anarkis, membakar bendera negara orang seenak sendiri. Pejabat beradab tak akan memberikan lisensi begitu saja pada pengusaha asing untuk membabat hutan. Manusia beradab musti bijaksana, bahwa ada perbedaan yang besar antara lautan dan daratan. Manusia beradab punya akal, bahwa setinggi apa pun ilmu bela diri kita, pencak silat kita, tenaga dalam kita, kungfu kita, masih kalah cepat dengan laju sebutir peluru dari sebuah pistol. Intinya, janganlah terpancing oleh kasus-kasus perebutan lahan, yang pada akhirnya tidak akan menghasilkan apa-apa bagi kita. Karena masih banyak lahan, masih banyak pulau, masih luas lautan yang perlu kita tata dengan benar bagaimana mengexplorasinya untuk rakyat. Dan semua itu hanya dapat terealisir kalau kita menjadi bangsa beradab. Pada saat ini, mungkin kita masih berada dalam taraf kebalikan kata beradab, biadab. Orang biadab hanya tahu kata "kompromi" dalam mempertahankan opininya: perang!, ganyang!, sikat!, bakar!, mmakan! Dan sinonim-sinonim lainnya. Orang beradab akan selalu menang melawan si biadab. Dan kalau kita masih biadab, maka jangankan Sipadan-Ligitan, jangankan perairan Ambalat� pulau Jawa sekalipun kalau diklaim oleh Malaysia atau Singapura, biarlah diatur oleh mereka. Karena kita sendiri toh tak tahu, bagaimana hanya sekedar memasang kancing baju sendiri. wassalam ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.' http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/1dTolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> ------------------------------------------------ ADIL-Net will remain a Free Forum until further notice. Disclaimer: The opinions and views posted are not necessarily that of the list owner's or ADIL's -------------------------------------------------- Send a blank e-mail to: [EMAIL PROTECTED] - to subscribe to the list [EMAIL PROTECTED] - to unsubscribe from the list [EMAIL PROTECTED] - to switch your subscription to normal [EMAIL PROTECTED] - to switch your subscription to digest ADIL Homepage: http://members.easyspace.com/reformasi/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ADIL-Net/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
