itu hanya sedikit kutipan ko mas. semoga bermanfaat. 2009/9/7 Bona, Mirza Rotua <[email protected]>
> > Thanks ya... Ada softcopy nya ga??? Hheheehe. > > Regards, > bona > > -----Original Message----- > From: [email protected] [mailto:[email protected]] On > Behalf Of ined_mail > Sent: 07 September 2009 8:15 > To: [email protected] > Subject: ~ aga ~ Tawasul dan ziarah kubur > > berikut potongan potongan dari beberapa hadist: > > Berziarah pada Hari Nahar (Idul Adha) > Abu Zubair berkata dari Aisyah dan Ibnu Abbas r.a., "Nabi mengakhirkan > ziarah hingga malam hari."[70] Disebutkan dari Abu Hassan dari Ibnu Abbas > r.a. bahwa Nabi ziarah ke Baitullah pada hari-hari Mina.[71] > Ibnu Umar r.a. mengatakan bahwa ia berthawaf sekali thawafan, lalu tidur > siang di Mekah. Kemudian mendatangi Mina, yakni pada hari nahar. Dan > di-rafa'-kan dalam suatu riwayat.[72] > > [70] Di-maushul-kan oleh Abu Dawud dan lainnya, dan Abu Zubair ini adalah > mudallis 'suka menyamarkan' dan dia meriwayatkannya secara mu'an'an > 'menggunakan lafal' an'. Silakan periksa Dha'if Abi Dawud 342. > [71] Di-maushul-kan oleh Thabrani dengan sanad yang sahih, dan hadits ini > mempunyai syahid (saksi pendukung) dengan sanad yang sahih dari Thawus yang > diriwayatkan secara mursal. > [72] Di-maushul-kan oleh Ibnu Khuzaimah dan ismaili dengan sanad yang sahih > dari Ibnu Umar. > > > Lakukanlah ziarah dengan jarang-jarang agar lebih menambah kemesraan. (HR. > Ibnu Hibban) > > > Tidak dibenarkan ziarah (kunjungan) ke masjid-masjid kecuali pada ketiga > masjid, yaitu masjidil Haram (Mekah), masjidil Aqsha (Baitul Maqdis), dan > masjidku ini (Madinah). (HR. Bukhari dan Muslim) > > > > > ---------------------------------------------------------------------------------------------------------- > kalo ini artikel lengkapnya tentang ziarah, > > > > Silsilah Hadits-Hadits Dla'if Pilihan-6 [ Ziarah Kubur Ortu Setiap Jum'at, > Berpahala?] (Karya Syaikh al-Albani) > Rabu, 26 April 06 > > PENDAHULUAN > > Kajian kali ini menyoroti masalah yang sering dilakukan banyak orang dan > menganggapnya sebagai bentuk ibadah yang harus melakukan, yaitu berziarah > kubur setiap hari Jum’at. > Apakah perbuatan ini ada landasannya? Apakah hadits yang berkenaan dengan > itu dapat dipertanggungjawabkan keshahihannya. > > HADITS PERTAMA: > > > > مَنْ زَارَ قَبْرَ أَبَوَيْهِ أَوْ أَحَدِهِمَا فيِ كُلَّ جُمُعَةٍ؛ غُفِرَ > لَهُ وَكُتِبَ بِرًّا > > > > “Barangsiapa yang menziarahi kuburan kedua ibu bapaknya atau salah satu > dari keduanya setiap hari Jum’at, niscaya akan diampuni baginya dan dicatat > sebagai bakti (kepada keduanya).” > > Kualitas Hadits: MAWDHU’ (PALSU) > > Syaikh al-Albani mengatakan, hadits ini dikeluarkan oleh ath-Thabarani di > dalam kitabnya ‘al-Jami’ ash-Shaghir’ (hal.199) dan di dalam ‘al-Jami’ > al-Ausath’ (I:84). Al-Ashbihani juga menukil darinya di dalam kitabnya > ‘at-Targhib’ (II:228), dari jalur Muhammad bin an-Nu’man bin Abdurrahman, > dari Yahya bin al-‘Ala’ al-Bajali, dari Abdul Karim, Abi Umayyah, dari > Mujahid, dari Abu Hurairah secara Marfu’. > > ‘Illat (Penyakit) hadits ini terletak pada periwayatnya yang bernama > Muhammad bin an-Nu’man dan Yahya bin al-‘Ala’ al-Bajali. Imam adz-Dzahabi di > dalam kitabnya ‘Miiizaan al-I’tidaal’ berkata, “Ia (Muhammad bin an-Nu’man) > adalah periwayat yang Majhul (anonim), Demikian yang dinyatakan al-‘Uqaili > sedangkan Yahya adalah periwayat yang ditinggalkan (Matruk).” > > Para ulama sepakat menyatakan bahwa Yahya adalah periwayat yang Dla’if, > bahkan oleh al-Waki’ dan Imam Ahmad dinyatakan sebagai pembohong. Imam Ahmad > mengatakan, “Ia seorang pembohong, suka memalsukan hadits.” Hal senada juga > dikatakan oleh Ibn ‘Adi > > ‘Illat lainnya -menurut Syaikh al-Albani- adalah Idhthiraab (inkonsistensi > dalam periwayatannya). > > Ibnu Abi Hatim pernah menanyakan perihal hadits Mudhtharib ini kepada > ayahnya (Abu Hatim), yaitu hadits yang diriwayatkan Abu Musa Muhammad bin > al-Mutsanna, dari Muhammad bin an-Nu’man, Abi an-Nu’man al-Bahili, dari > Yahya bin al-‘Ala’, dari pamannya, Khalid bin ‘Amir, dari Abu Hurairah, dari > Nabi SAW mengenai seorang laki-laki yang mendurhakai kedua orang tuanya atau > salah satu dari keduanya, lalu keduanya meninggal dunia, lantas ia (orang > tersebut, sang anak-red) datang ke kuburannya setiap malam. Abu Hatim > mengatakan, “Sanad hadits ini Mudhtharib, matan (teks)nya sangat Munkar, > sepertinya ia hadits MAWDHU’.” > > > > HADITS KEDUA: > > > > مَنْ زَارَ قَبْرَ وَالِدَيْهِ كُلَّ جُمُعَةٍ، فَقَرَأَ عِنْدَهُمَا أَوْ > عِنْدَهُ (يس)؛ غُفِرَ لَهُ بِعَدَدِ كُلِّ آيَةٍ أَوْ حَرْفٍ > > > > “Barangsiapa yang menziarahi kuburan kedua orangtuanya setiap hari Jum’at, > lalu membaca (surat Yaasiin) di sisi keduanya (di sisinya), niscaya diampuni > baginya sebanyak bilangan setiap ayat atau huruf (yang dibacanya-red)” > > Kualitas Hadits: MAWDHU’ (PALSU) > > Syaikh al-Albani mengatakan, hadits ini diriwayatkan oleh Ibn ‘Ady (I:286), > Abu Nu’aim di dalam Akhbaar Ashbihaan (II:344-345), Abdul Ghani al-Maqdisi > di dalam as-Sunan (II:91) dari jalur Abu Mas’ud, Yazid bin Khalid (ia > berkata), telah menceritakan kepada kami ‘Amr bin Ziyad (yang berkata), > telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sulaim ath-Tha’ifi, dari Hisyam bin > ‘Urwah, dari ayahnya (‘Urwah), dari ‘Aisyah, dari Abu Bakar ash-Shiddiq > secara marfu’. > > Sebagian ahli hadits menulis -menurut saya (al-Albani), ia adalah Ibn > al-Muhibb atau adz-Dzahabi- di atas anotasi lembaran ‘Sunan al-Maqdisi’, > bunyinya: “Ini adalah hadits yang tidak Tsabit (Valid).” > > ‘Illat (penyakit) hadits ini terletak pada periwayatnya yang bernama ‘Amr > bin Ziyad. Ia dituduh suka mencuri hadits dari para periwayat yang Tsiqat > (terpercaya) dan memalsukan hadits. Di antara ulama yang menyatakan demikian > adalah Ibn ‘Ady dan ad-Daruquthni. > > Imam as-Suyuthi mengatakan bahwa hadits ini memiliki pendukung (syahid) > sehingga ia hanya dikatakan ‘Dha’if’ saja, bukan Mawdhu’ (palsu) tetapi > Syaikh al-Albani menolak anggapan itu karena yang dijadikan ‘Syahid’ oleh > as-Suyuthi itu adalah hadits pertama di atas (dalam kajian ini) yang juga > adalah hadits MAWDHU’ sehingga tidak layak menjadi Syahid. Ada dua alasan: > Pertama, karena secara makna keduanya berbeda, kecuali dalam makna ‘ziarah’ > secara mutlak. Kedua, seperti yang disebutkan al-Munawi di dalam syarahnya > terhadap a-Jami’ ash-Shaghir bahwa Ibn al-Jawzi telah menilai hadits itu > Mawdhu’ namun oleh as-Suyuthi dinyatakan ada Syahidnya tetapi pendapat ini > adalah tidak tepat karena menurut Ahli hadits, adanya beberapa syahid tidak > berpengaruh pada hadits yang kualitasnya Mawdhu’, bahkan hadits Dha’if dan > semisalnya sekali pun. > > Syaikh al-Albani mengatakan, “Hadits ini menunjukkan dianjurkannya membaca > al-Qur’an di sisi kuburan tetapi kenyataannya di dalam sunnah yang benar > tidak terdapat dalil yang menguatkan hal itu bahkan (sunnah yang benar) > menunjukkan bahwa yang disyari’atkan ketika berziarah kubur hanyalah memberi > salam kepada Ahli kubur dan mengingat akhirat. Itu saja.! Dan seperti inilah > amalan para ulama Salaf ash-Shalih. > > Jadi, membaca al-Qur’an di sisi kuburan itu adalah Bid’ah Makruuhah. > Demikian seperti yang dinyatakan sejumlah ulama terdahulu seperti Abu > Hanifah, Imam Malik dan imam Ahmad dalam sebuah riwayat sebagaimana yang > dimuat dalam kitab Syarh al-Ihya’ karya az-Zabidi (II:285). Di dalam bukunya > ini, az-Zabidi mengatakan, “karena tidak ada as-Sunnah yang menyatakan > seperti itu…” Selanjutnya az-Zabidi menyebutkan pendapat ulama yang lain, > yang menyatakan tidak makruh seraya berargumentasi dengan riwayat yang > dinisbatkan pada Ibn ‘Umar bahwa ia mewasiatkan agar dibacakan di atas > kuburannya ketika akan dikuburkan pembukaan surat al-Baqarah dan penutupnya. > > Tetapi Syaikh al-Albani mengomentari dengan mengatakan, “Atsar ini tidak > sahih dinisbatkan kepadanya (Ibn ‘Umar). Kalau pun shahih, maka hanya > menunjukkan pembacaannya ketika akan dikuburkan, bukan secara mutlak seperti > yang nampak. Karena itu, wahai saudaraku, sesama Muslim! Berpeganglah dengan > as-Sunnah, hindarilah bid’ah sekali pun dipandang baik oleh banyak orang > sebab setiap bid’ah adalah kesesatan sebagaimana dalam sabda Nabi SAW.” > > (SUMBER: Silsilah al-Ahaadiits adh-Dha’iifah Wal Mawdhuu’ah karya Syaikh > al-Albani, Jld.I, no.49 dan 50, dengan sedikit diringkas) > > > > > > > 2009/9/4 Bona, Mirza Rotua <[email protected]> > > > Dear all, > > Ada yang punya artikel atau info mengenai tawasul atau ziarah > kubur??? kalo ada mau donk di share. > > thanks & regards, > Bona > > > > > > > -- > Dari Ibnu Mas'ud Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi > wa Sallam bersabda: "Barangsiapa menunjukkan (seseorang) kepada kebaikannya, > ia memperoleh pahala seperti pahala orang yang melakukannya." Riwayat > Muslim. > > Sinceramente, > "ined_mail > by: > DENY TRI SURYODINOTO > email : deny[dot]dino[at]gmail[dot]com > > > > > > > -- Dari Ibnu Mas'ud Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Barangsiapa menunjukkan (seseorang) kepada kebaikannya, ia memperoleh pahala seperti pahala orang yang melakukannya." Riwayat Muslim. Sinceramente, "ined_mail by: DENY TRI SURYODINOTO email : deny[dot]dino[at]gmail[dot]com --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups. to post emails, just send to : [email protected] to join this group, send blank email to : [email protected] to quit from this group, just send email to : [email protected] if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected] thanks for joinning this group. -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
