Bagus nih Bos Aga, ada lagi?

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On
Behalf Of aga madjid
Sent: Tuesday, October 06, 2009 4:51 PM
Subject: ~ aga ~ Seribu Indera

 

  

 

 


SERIBU INDERA


Eileen Rachman & Sylvina Savitri


EXPERD CONSULTANT


One-day Assessment Centre


Ditayangkan di Kompas, 12 September 09

 

Saya cukup surprise dengan paparan seorang pimpinan lembaga tinggi negara
yang ketika ditanyai mengenai kepemimpinan justru menekankan pentingnya
'rasa' dalam memimpin. Ya, selama ini, sadar tidak sadar, kita memang
terkadang mengabaikan dan mengesampingkan penajaman 'rasa' atau 'sensing'
dan memandang rendah kontribusi 'rasa' terhadap keberhasilan seseorang dalam
karir dan pekerjaan. Kita tahu, seseorang yang diproyeksikan untuk naik
jabatan, biasanya akan menerima pembekalan dan pelatihan intensif terkait
prosedur, manajemen,  analisa dan problem solving, namun umumnya hanya
sedkit menyentiuh 'rasa'. Padahal, bisa kita bayangkan betapa sulitnya
seseorang untuk bisa berhasil memimpin bila ia tidak ahli mengelola 'rasa'.
Bukankah kita lihat para anggota DPR pun terkadang dikritik karena
mengeluarkan kebijakan yang tidak tepat sasaran, mengeluarkan pernyataan
yang kurang sensitif dan diniliai kurang punya 'rasa' dalam melihat dan
menyikapi permasalahan yang ada?

 

Saya jadi terpikir, betapa ruginya, kalau rasa atau 'sensing' yang kita
fungsikan baru sebatas 'panca indera' saja: cium, dengar , kecap, lihat,
raba? Bagaimana dengan intuisi, firasat, simpati, empati, rasa percaya dan
tidak percaya, yang kesemuanya melibatkan 'rasa'? Bisakah ini semua kita
golongkan sebagai indera keenam? Bukankah 'rasa' ini, seperti halnya panca
indera kita, berfungsi sebagai antena atau radar, modal kita mengambil
tindakan? Tepat sekali bila dalam lembaga-lembaga yang berkegiatan 'putar
otak' intensif, senantiasa diingatkan untuk menggalakkan penggunaan perasaan
ini untuk 'mengelola manusia' dan berpikir kreatif. 

 

Menajamkan Kesadaran (Awareness)

Perlu kita ingat bahwa menginderai dan kemudian mengetahui, sangat berbeda
dengan menyadari (awareness). Sebagai contoh sederhana, semua orang tahu
bahwa ini adalah minggu kedua bulan September, tetapi belum tentu semua
orang menyadari bahwa akhir tahun tinggal 3 bulan lagi. Kita yang bisa
memanfaatkan panca indera tanpa upaya keras, ternyata sering lupa untuk
mengasahnya. Sementara, seseorang yang buta sejak lahir, masih bisa
me-'rasa'-kan warna-warninya dunia, tanpa membayangkannya. 

Kita lihat, justru orang-orang yang sukses, baik dalam kepemimpinan maupun
dalam berwirausaha mempunyai keahlian memelihara kesadaran-kesadaran ini.
Dari kesadaran seperti inilah orang bisa melakukan antisipasi, membuat
asumsi, memprediksi dan mengelola banyak kegiatan pikir lainnya yang tidak
bisa dikuasai melalui latihan saja, melainkan perlu diasah secara
individual. 

 

Mengapa Kita Sering Kebal?

Seorang ahli mengatakan bahwa kekebalan 'awareness' kita berasal dari
ketidakmampuan kita me-'rasa'-kan wanginya sekuntum mawar ketika kita
merabanya. Bahkan ahli tersebut mengatakan bahwa kemampuan me-'rasa'-kan itu
adalah kemampuan mengenal realitas yang sebenarnya. Kita bisa tidak
mengembangkan kemampuan me-'rasa' ini karena tidak menyadarinya. Seringkali
hal tersebut kita samakan dengan pengetahuan. Padahal, kemampuan merasa
('sensing') ini merupakan penajaman radar, sensor  atau antena untuk
mengoptimalkan daya tangkap yang jauh lebih kompleks daripada sekedar
menangkap perabaan, penglihatan, pendengaran dan penciuman. Kompleksitas
penangkapan ini banyak melibatkan penghayatan sosial, religius dan emosi
sehingga bisa menghasilkan penyimpulan yang kaya.

 

Lalu, mengapa individu sering tidak menajamkan bahkan secara tidak langsung
menumpulkannya? Banyak orang tidak mau tahu sampai akhirnya tidak 'ngeh'
bahwa dalam dirinya ada kemampuan itu.  Seorang teller bank,misalnya,
mempunyai prosedur standar yang harus dijalankan bila mencurigai seseorang.
Bila prosedur ini sudah dilakukan  ratusan kali, maka sebenarnya "sensing"
atau kita sering menyebutnya dengan feeling, harus lebih bekerja. Ia pun
mestinya mampu mencerap situasi dengan 'radar'-nya, sebelum  melakukan
cek-ricek dengan inderanya lagi. 

 

Nah, bila kita sadar bahwa kita dipersenjatai dengan 'awareness' seperti
ini, bukankah kita akan bisa lebih tajam 'melihat' apa yang selama ini
'tidak kita lihat'? Bukankah kita bisa menemukan hal-hal yang terlewat,
seperti mengenal potensi anak buah secara mendalam, meramalkan kesuksesan
anak buah, memilih anak buah yang bisa kita percaya atau menilai apakah
seorang pelanggan prospek atau tidak. Hanya dengan kesadaran ini jugalah
kita bisa menciptakan  dan kemudian menikmati suasana saling menghargai,
saling percaya dan kerjasama. 

 


Berdansa dalam Penghayatan


Siapa yang tidak pernah mendengar ungkapan maxim: "Think with your head, not
with your heart"? Hal ini, lalu telak-telak dibantah oleh para ahli
neurologi yang meyakini betapa kompleksnya penginderaan  dan  betapa
hebatnya hasil dari timbal balik kerja otak, daya pikir, rasa dan indera.
Lihat saja bahwa orang yang dihadapkan pada situasi yang sama, bisa
mempunyai konteks dan ketajaman penghayatan yang berbeda dengan orang
lainnya. Ternyata, kita dibekali dengan seribu indera yang bisa diaktifkan
untuk berkolaborasi satu dengan lainnya. Mungkin inilah sebabnya banyak
ungkapan lintas-indera yang digunakan untuk pemahaman dan penangkapan
mendalam tetang sesuatu hal, misalnya: "having a nose for the job..."  atau
"Breathe through your feet". 

 

Tampaknya inilah gunanya jendela-jendela luas untuk menikmati cakrawala yang
jauh dan indah untuk para eksekutif, agar senantiasa meng-elevasi
'senses'-nya, sehingga ia punya daya untuk menggerakkan korporasi dan
membuat suasana interaksi yang kian kondusif. Kita pelajari bahwa pencerapan
dan 'awareness' manusia ternyata jauh dan dalam. Tidak hanya fungsional,
tapi juga mendesain. Tidak cuma sekadar tanya-jawab tetapi juga berceritera.
Tidak saja fokus, tetapi juga ber-simfoni. Tidak saja logika, tetapi juga
empati. Tidak saja keseriusan tetapi juga 'bermain'. Bukan hanya akumulasi
tetapi juga 'meaning'. Di sinilah letak misteri ditumbuhkannya 'sense of
self", "sense of direction", "sense of action", sense of organizing"," sense
of moral direction", "sense of environment" , sense of belonging". Dan, wah,
masih banyak sekali, bahkan tidak berbatas.

 

 

EXPERD CONSULTANT

Adding value to business results

Plaza Pondok Indah 3 Blok C/2

Jl. Tb. Simatupang Jakarta 12310

Telp. 021-7590 6448

Fax.  021-7590 6442

http://www.experd.com <http://www.experd.com/>  


 





--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
thanks for joinning this group.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke