Tenang aja, ntar kalo ada gue posting ... Powered by Telkomsel BlackBerry®
-----Original Message----- From: "Irwan" <[email protected]> Date: Wed, 7 Oct 2009 08:58:30 To: <[email protected]> Subject: ~ aga ~ Re: Seribu Indera Thanks Bos, bagus buat refresh pikiran nih :) Kalo ada lagi, jangan sungkan2 tuk kirim yach hehehe.... -----Original Message----- From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of aga madjid Sent: Tuesday, October 06, 2009 6:16 PM To: [email protected] Subject: ~ aga ~ Re: Seribu Indera udah banyak yang sudah gue kirim ya .... On 10/6/09, Irwan <[email protected]> wrote: > Bagus nih Bos Aga, ada lagi? > > > > From: [email protected] [mailto:[email protected]] On > Behalf Of aga madjid > Sent: Tuesday, October 06, 2009 4:51 PM > Subject: ~ aga ~ Seribu Indera > > > > > > > > > > > SERIBU INDERA > > > Eileen Rachman & Sylvina Savitri > > > EXPERD CONSULTANT > > > One-day Assessment Centre > > > Ditayangkan di Kompas, 12 September 09 > > > > Saya cukup surprise dengan paparan seorang pimpinan lembaga tinggi negara > yang ketika ditanyai mengenai kepemimpinan justru menekankan pentingnya > 'rasa' dalam memimpin. Ya, selama ini, sadar tidak sadar, kita memang > terkadang mengabaikan dan mengesampingkan penajaman 'rasa' atau 'sensing' > dan memandang rendah kontribusi 'rasa' terhadap keberhasilan seseorang dalam > karir dan pekerjaan. Kita tahu, seseorang yang diproyeksikan untuk naik > jabatan, biasanya akan menerima pembekalan dan pelatihan intensif terkait > prosedur, manajemen, analisa dan problem solving, namun umumnya hanya > sedkit menyentiuh 'rasa'. Padahal, bisa kita bayangkan betapa sulitnya > seseorang untuk bisa berhasil memimpin bila ia tidak ahli mengelola 'rasa'. > Bukankah kita lihat para anggota DPR pun terkadang dikritik karena > mengeluarkan kebijakan yang tidak tepat sasaran, mengeluarkan pernyataan > yang kurang sensitif dan diniliai kurang punya 'rasa' dalam melihat dan > menyikapi permasalahan yang ada? > > > > Saya jadi terpikir, betapa ruginya, kalau rasa atau 'sensing' yang kita > fungsikan baru sebatas 'panca indera' saja: cium, dengar , kecap, lihat, > raba? Bagaimana dengan intuisi, firasat, simpati, empati, rasa percaya dan > tidak percaya, yang kesemuanya melibatkan 'rasa'? Bisakah ini semua kita > golongkan sebagai indera keenam? Bukankah 'rasa' ini, seperti halnya panca > indera kita, berfungsi sebagai antena atau radar, modal kita mengambil > tindakan? Tepat sekali bila dalam lembaga-lembaga yang berkegiatan 'putar > otak' intensif, senantiasa diingatkan untuk menggalakkan penggunaan perasaan > ini untuk 'mengelola manusia' dan berpikir kreatif. > > > > Menajamkan Kesadaran (Awareness) > > Perlu kita ingat bahwa menginderai dan kemudian mengetahui, sangat berbeda > dengan menyadari (awareness). Sebagai contoh sederhana, semua orang tahu > bahwa ini adalah minggu kedua bulan September, tetapi belum tentu semua > orang menyadari bahwa akhir tahun tinggal 3 bulan lagi. Kita yang bisa > memanfaatkan panca indera tanpa upaya keras, ternyata sering lupa untuk > mengasahnya. Sementara, seseorang yang buta sejak lahir, masih bisa > me-'rasa'-kan warna-warninya dunia, tanpa membayangkannya. > > Kita lihat, justru orang-orang yang sukses, baik dalam kepemimpinan maupun > dalam berwirausaha mempunyai keahlian memelihara kesadaran-kesadaran ini. > Dari kesadaran seperti inilah orang bisa melakukan antisipasi, membuat > asumsi, memprediksi dan mengelola banyak kegiatan pikir lainnya yang tidak > bisa dikuasai melalui latihan saja, melainkan perlu diasah secara > individual. > > > > Mengapa Kita Sering Kebal? > > Seorang ahli mengatakan bahwa kekebalan 'awareness' kita berasal dari > ketidakmampuan kita me-'rasa'-kan wanginya sekuntum mawar ketika kita > merabanya. Bahkan ahli tersebut mengatakan bahwa kemampuan me-'rasa'-kan itu > adalah kemampuan mengenal realitas yang sebenarnya. Kita bisa tidak > mengembangkan kemampuan me-'rasa' ini karena tidak menyadarinya. Seringkali > hal tersebut kita samakan dengan pengetahuan. Padahal, kemampuan merasa > ('sensing') ini merupakan penajaman radar, sensor atau antena untuk > mengoptimalkan daya tangkap yang jauh lebih kompleks daripada sekedar > menangkap perabaan, penglihatan, pendengaran dan penciuman. Kompleksitas > penangkapan ini banyak melibatkan penghayatan sosial, religius dan emosi > sehingga bisa menghasilkan penyimpulan yang kaya. > > > > Lalu, mengapa individu sering tidak menajamkan bahkan secara tidak langsung > menumpulkannya? Banyak orang tidak mau tahu sampai akhirnya tidak 'ngeh' > bahwa dalam dirinya ada kemampuan itu. Seorang teller bank,misalnya, > mempunyai prosedur standar yang harus dijalankan bila mencurigai seseorang. > Bila prosedur ini sudah dilakukan ratusan kali, maka sebenarnya "sensing" > atau kita sering menyebutnya dengan feeling, harus lebih bekerja. Ia pun > mestinya mampu mencerap situasi dengan 'radar'-nya, sebelum melakukan > cek-ricek dengan inderanya lagi. > > > > Nah, bila kita sadar bahwa kita dipersenjatai dengan 'awareness' seperti > ini, bukankah kita akan bisa lebih tajam 'melihat' apa yang selama ini > 'tidak kita lihat'? Bukankah kita bisa menemukan hal-hal yang terlewat, > seperti mengenal potensi anak buah secara mendalam, meramalkan kesuksesan > anak buah, memilih anak buah yang bisa kita percaya atau menilai apakah > seorang pelanggan prospek atau tidak. Hanya dengan kesadaran ini jugalah > kita bisa menciptakan dan kemudian menikmati suasana saling menghargai, > saling percaya dan kerjasama. > > > > > Berdansa dalam Penghayatan > > > Siapa yang tidak pernah mendengar ungkapan maxim: "Think with your head, not > with your heart"? Hal ini, lalu telak-telak dibantah oleh para ahli > neurologi yang meyakini betapa kompleksnya penginderaan dan betapa > hebatnya hasil dari timbal balik kerja otak, daya pikir, rasa dan indera. > Lihat saja bahwa orang yang dihadapkan pada situasi yang sama, bisa > mempunyai konteks dan ketajaman penghayatan yang berbeda dengan orang > lainnya. Ternyata, kita dibekali dengan seribu indera yang bisa diaktifkan > untuk berkolaborasi satu dengan lainnya. Mungkin inilah sebabnya banyak > ungkapan lintas-indera yang digunakan untuk pemahaman dan penangkapan > mendalam tetang sesuatu hal, misalnya: "having a nose for the job..." atau > "Breathe through your feet". > > > > Tampaknya inilah gunanya jendela-jendela luas untuk menikmati cakrawala yang > jauh dan indah untuk para eksekutif, agar senantiasa meng-elevasi > 'senses'-nya, sehingga ia punya daya untuk menggerakkan korporasi dan > membuat suasana interaksi yang kian kondusif. Kita pelajari bahwa pencerapan > dan 'awareness' manusia ternyata jauh dan dalam. Tidak hanya fungsional, > tapi juga mendesain. Tidak cuma sekadar tanya-jawab tetapi juga berceritera. > Tidak saja fokus, tetapi juga ber-simfoni. Tidak saja logika, tetapi juga > empati. Tidak saja keseriusan tetapi juga 'bermain'. Bukan hanya akumulasi > tetapi juga 'meaning'. Di sinilah letak misteri ditumbuhkannya 'sense of > self", "sense of direction", "sense of action", sense of organizing"," sense > of moral direction", "sense of environment" , sense of belonging". Dan, wah, > masih banyak sekali, bahkan tidak berbatas. > > > > > > EXPERD CONSULTANT > > Adding value to business results > > Plaza Pondok Indah 3 Blok C/2 > > Jl. Tb. Simatupang Jakarta 12310 > > Telp. 021-7590 6448 > > Fax. 021-7590 6442 > > http://www.experd.com <http://www.experd.com/> > > > > > > > > > > > --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups. to post emails, just send to : [email protected] to join this group, send blank email to : [email protected] to quit from this group, just send email to : [email protected] if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected] thanks for joinning this group. -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
