> Gali Kata
> Alkitab


> Rubrik 
> ini menyediakan artikel yang berisi makna
> suatu kata dalam Alkitab yang diteliti dengan menggali akar
> kata dalam bahasa
> Ibrani Kuno. Artikel yang dimuat di rubrik ini merupakan
> pengembangan dari
> artikel pendek dalam "Pelayanan via SMS" yang
> disebarkan setiap hari
> Rabu dengan rubrik "Gali Kata Alkitab" dari
> telepon selular
> nomor  085294397157 atas nama Hery
> Setyo
> Adi. Sedangkan rubrik “Gali Kata Alkitab” –yang
> disebarkan melalui e-mail ini
> -- mempostingkan satu artikel seminggu sekali setiap hari
> Kamis. Artikel yang
> sama disebarkan juga melalui http://herysa.blogs.friendster.com/gali_kata.
> Harap artikel-artikel ini menjadi berkat bagi kita semua.
> Tuhan Yesus
> memberkati.
> 
>  
> 
> 
> Pelayanan
> via
> E-mail 
> 
> Edisi 67:
> Kamis,18 Juni 2009
> 
> Suara
> Tuhan
> 
> Kata “suara”
> berpadanan dengan kata Ibrani qol
> (dibentuk dari huruf-huruf konsonan dan vokal Ibrani:
> Qof-Holem waw-Lamed).
> Makna awal kata tersebut berarti “memanggil dengan suara
> yang  lantang atau keras.” Di
> kemudian hari,
> beragam makna dikenakan untuk kata tersebut seperti: suara,
> bunyi, guruh,
> pengumuman, kabar, dan sebagainya.
> 
> Apa makna kata qol
> ditinjau dari piktograf Ibrani kuno?
> Huruf Ibrani modern merupakan perkembangan dari piktograf
> Ibrani kuno. Piktograf
> adalah tulisan dalam bentuk gambar yang melambangkan suatu
> benda, tindakan, dan
> konsep abstrak, yang pada masa itu benar-benar dikenali
> masyarakatnya.
> 
> Kata qol berasal
> dari akar-kata induk QL (Qof-Lamed). Huruf
> Qof merupakan
> gambar matahari di ufuk barat atau timur dan berarti
> “kumpulan sinar.”
> Sedangkan huruf Lamed adalah gambar tongkat gembala.  Gabungan dua gambar 
> tersebut berarti
> “berkumpul ke tongkat.”
> 
> Untuk mengerti makna
> di atas, kita harus mengetahui budaya dan cara hidup orang
> Ibrani kuno.
> Pekerjaan mereka antara lain sebagai penggembala-peternak.
> Ketika seorang
> gembala memanggil domba-dombanya, mereka akan datang
> kepadanya dengan cepat.
> Tongkat gembala adalah alat kekuasaannya. Dengan tongkatnya
> itu, sang gembala
> mengumpulkan binatang gembalaannya dan selanjutnya
> mengarahkan, mendisiplin,
> dan melindungi mereka.
> 
> Dengan demikian
> frase “suara Tuhan” berarti “berkumpul ke tongkat
> Tuhan”, yang mana Tuhan
> diakui sebagai Sang Gembala.
> 
> Yehuda Menolak
> Suara Tuhan
> 
> Sebab itu, katakanlah kepada mereka:
> Inilah bangsa yang tidak mau
> mendengarkan suara TUHAN, Allah mereka, dan yang tidak mau
> menerima
> penghajaran! Ketulusan mereka sudah lenyap, sudah hapus
> dari mulut mereka"
> (Yeremia 7:28).
> 
> Nabi Yeremia memulai pelayanan pada
> zaman Raja Yosia dan
> terus berlanjut ke zaman Raja Yoahaz, Yoyakim, Yoyakin, dan
> Zadekia. Bahkan,
> sesudah Yehuda jatuh ke dalam penawanan Babel, Yeremia
> masih melayani
> orang-orang yang tidak turut dalam pembuangan. 
> 
> Raja Yosia menjadi raja yang
> berkenan dalam pandangan
> Tuhan, sedangkan keempat raja sesudahnya tidak mau
> mendengar suara Tuhan.
> Ketaatan bangsa Yehuda kepada Tuhan sangat tergantung
> kepada ketaatan raja
> mereka kepada Tuhan. Karena itu tatkala keempat raja
> sesudah Yosia tidak mau
> tunduk dan mendengar suara Tuhan, kelakuan rakyat Yehuda
> pun seperti itu.
> 
> Dalam ayat 28 di atas dengan jelas
> tertulis bahwa bangsa
> Yehuda tidak mau mendengar suara Tuhan. Itu berarti, sesuai
> pengertian dari
> tinjauan tulisan Ibrani kuno, bahwa mereka tidak mau
> “berkumpul ke tongkat”
> Tuhan, gembala mereka. Itu berarti pula, bahwa mereka
> tercerai berai dan jauh
> dari Tuhan. Resiko logis dari penolakan mereka tersebut
> dinyatakan dengan jelas
> dalam ayat 29, bahwa “TUHAN telah menolak dan membuang
> bangsa yang kena
> murka-Nya.” Kata “menolak” dan “membuang”
> menggambarkan keadaan bangsa itu yang
> dijauhkan dari Tuhan, yang menolak “berkumpul ke
> tongkat” Tuhan.
> 
> Resiko lain dari penolakan Yehuda
> adalah mereka akan
> menjadi mayat-mayat, seperti yang digambarkan dalam ayat
> 31-33. Penggambaran
> ini cocok dengan salah satu fungsi tongkat di tangan
> gembala, yakni sebagai
> pelindung binatang gembalaan terhadap serbuan binatang
> buas. Jika mereka
> menolak “berkumpul ke tongkat” Tuhan, maka mereka
> menolak perlindungan Tuhan.
> Dewa-dewa yang mereka sembah (ayat 30) tidak memiliki kuasa
> sedikitpun untuk
> melindungi mereka. 
> 
> Implikasi
> 
> Tuhan mau kita “berkumpul ke
> tongkat” Nya, supaya kita
> terlindung olehNya. 
> 
> Di antara kenalan saya adalah
> seorang pendeta pria. Sesuai
> tugasnya, ia memiliki banyak kesempatan untuk memberitakan
> suara Tuhan. Ia
> sudah beristri dan mempunyai beberapa anak yang terlibat
> dalam pelayanan.
> Secara diam-diam, ia menjalin hubungan asmara dengan
> seorang wanita, anggota
> jemaatnya. Pada akhirnya hubungan itu diketahui banyak
> orang. Majelis gereja
> memperingatkannya, agar menjauhi wanita itu. Tapi, rupanya,
> hamba Tuhan ini
> tidak memutuskan hubungannya. 
> 
> Memang, setiap hari Minggu, bahkan
> hari-hari yang lain,
> hamba Tuhan itu memberitakan suara Tuhan. Khotbah tentang
> kekudusan hidup pasti
> pernah disampaikannya. Tapi, ia sendiri tidak mau mendengar
> suara Tuhan itu.
> Akhirnya, ia jatuh dalam dosa seks. Ia tidak terlindung
> oleh Tuhan, sebab ia
> tidak mau “berkumpul ke tongkat” Nya.
> 
> Tuhan mau kita “berkumpul ke
> tongkat” Nya, supaya kita
> terlindung olehNya, yaitu dengan mendengar
> suaraNya.
> 
> (Artikel
> ini ditulis oleh Hery Setyo Adi,
> yang menggunakan rujukan dari berbagai
> sumber)
> 
> 


      

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
or add me in Yahoo Messenger at [email protected]
thanks for joinning this group.

Kirim email ke