-

السلام عليكم ورحمته الله وبركا تها
 semoga bermanfaat
wass....zainal
Memimpin dengan Rendah Hati 
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengingatkan, pemimpin adalah 
pelayan umatnya. Itulah sikap pemimpin dalam Islam. 
Bukan minta dilayani

Oleh: Hanif Hannan

Setelah diumumkan pengangkatannya menjadi Khalifah, Umar bin Abdul Aziz 
menyendiri di rumahnya. Tak ada orang yang menemui, beliau pun tak mau 
keluar menemui seorang.

Dalam kesendirian itu, beliau menghabiskan waktu dengan bertafakkur, 
berdzikir, dan berdoa. Pengangkatannya sebagai khalifah tidak disambutnya 
dengan pesta, tetapi justru dengan cucuran air mata.

Tiga hari kemudian beliau keluar. Para pengawal menyambutnya, hendak 
memberi hormat. Umar malah mencegahnya. "Kalian jangan memulai salam 
kepadaku, bahkan salam itu kewajiban saya kepada kalian." 

Itulah perintah pertama Khalifah kepada pengawal-pengawalnya.

Umar menuju ke sebuah ruangan. Para pembesar dan tokoh telah menunggunya. 
Hadirin terdiam dan serentak bangkit berdiri memberi hormat. Apa kata 
beliau?

"Wahai sekalian manusia, jika kalian berdiri, saya pun berdiri. Jika 
kalian duduk, saya pun duduk. Manusia itu sebenarnya hanya berhak berdiri 
di hadapan Rabbul-'Alamin." Itulah yang dikatakan pertama kali kepada 
rakyatnya.

Buka Hati

Sikap pemimpin dalam Islam, sejatinya memang harus demikian. Sebagaimana 
kata Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, pemimpin adalah pelayan 
umatnya.

Sabda Nabi itu sungguh istimewa, sebab seorang pemimpin biasanya seperti 
seorang raja. Dan sebagai Khalifah, Umar bin Abdul Aziz mewarisi budaya 
yang demikian itu; hidup dalam gelimang kemewahan dan kekuasaan.

Ternyata Umar tidak serta merta meneruskan budaya yang sebenarnya 
menguntungkannya secara pribadi itu. Beliau tak mau dihormati berlebihan 
dan hidup dalam kemewahan. Ia memilih sikap rendah hati dan sederhana.

Sebagai pemimpin besar, bersikap rendah hati, sederhana, dan melayani 
tentu tidak mudah. Apalagi bila kesempatan bermewah-mewah itu memang 
terbuka di depan mata, siapa tak tergiur?

Di negeri kita ini, kedudukan dan jabatan malah jadi rebutan. Bahkan 
banyak yang mati-matian berkorban apa saja, dengan segala cara, untuk 
mendapatkannya. Setelah berhasil meraihnya, pertama kali yang dilakukan 
adalah pesta kemenangan. Kemudian segeralah digunakan aji mumpung. Sim 
salabim, jadilah OKB (Orang Kaya Baru). Gaya hidup dan pergaulannya 
berbeda dengan sebelumnya. Seolah menikmati kemewahan itulah memang 
impiannya.

Mari kita membuka hati ini. Dengan berbagai upaya dan gaya hidup mewah 
itu, apa sih sesungguhnya dicari? Dengan mobil mewah, rumah megah, pakaian 
serba mahal, apa sebenarnya yang dirindukan lubuk hati? Mungkin terdetak 
dorongan hidup terhormat dan dimuliakan.

Tentu mencapai hidup seperti itu suatu yang normal saja. Malah aneh kalau 
ada orang bercita-cita hidup hina dan direndahkan. Tetapi benarkah 
kemuliaan dan kehormatan dapat dicapai dengan hidup berbungkus kemewahan? 
Coba sebutkan nama-nama orang yang menggetarkan hati karena kemuliaan dan 
kehormatannya. Cermati satu per satu. Benarkah hati Anda terkesan karena 
kemewahan mereka?

Mari kita bercermin kepada Umar. Kita tenangkan hati dan jernihkan pikiran 
sejenak. Andai beliau memilih cara hidup mewah dan bermain kekuasaan 
sebagaimana raja-raja yang lain, akankah memiliki nama harum seperti saat 
ini?

Mungkin saja kemewahan singgasana bisa menjadi topeng kemuliaan di muka 
rakyat. Tetapi berapa lama “kemuliaan†seperti itu bisa bertahan?

Lihatlah para pejabat yang menyalahgunakan kekuasaan untuk kesombongan dan 
kemewahan. Bagaimana akhir kehidupan mereka? Masa tua tidak hidup damai, 
malah gundah gulana karena dijerat hukum. Terbukti bahwa kemuliaan yang 
dibungkus materi hanyalah semu dan tipuan belaka.

Sungguh Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak menyukai orang-orang sombong. "Dan 
janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan 
janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah 
tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan 
sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu." [QS: Luqman: 
18-19]

Misi Mulia

Ya, memang tidak mudah untuk selalu rendah hati dan memilih hidup 
melayani. Apalagi kalau terjebak pada dorongan biologis dan egoisme 
semata. Maunya justru dilayani.

Ketika sedang memegang kekuasaan, yang dipikirkan adalah apa yang dapat 
diambil dengan posisi ini, bukan kebaikan apa yang dapat diberikan pada 
orang lain. Melayani dirasakan sebagai suatu kehinaan, seolah yang harus 
melakukan adalah orang-orang rendahan. Padahal melayani inilah misi mulia 
yang sebenarnya diamanahkan Allah kepada hamba-Nya yang terpilih; 
Rasulullah dan orang-orang yang mengikuti jejaknya.

"Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi 
semesta alam." (Al-Anbiyaa': 107). Dengan berbagi rahmat, tersebarlah 
belas kasih dan kedamaian dalam kehidupan.

Dalam bekerja, seorang pemimpin akan senantiasa berpikir bagaimana 
karyawannya sejahtera. Karyawan pun berpikir bagaimana bisa memberikan 
layanan terbaik melalui pekerjaannya.

Sebagai pemimpin keluarga, seorang ayah yang mengasihi keluarganya akan 
mengantar pada suasana sakinah. Anak-anaknya pun termotivasi untuk 
meneladani dan berbakti kepada kedua orangtuanya.

Setiap orang yang melayani dengan ikhlas berarti telah berpartisipasi 
menebar rahmat ke seluruh alam. Itulah tugas terhormat seorang pemimpin. 
Dan setiap kita pada hakikatnya adalah pemimpin, begitu sabda Rasulullah.

Bila setiap orang berpikir minta dilayani, yang terjadi justru krisis. 
Pemimpin minta dilayani stafnya. Majikan memeras para karyawan. Petugas 
mempersulit rakyat. Orientasinya bukan rahmatan lil ‘alamin, tetapi 
keuntungan pribadi.

Kekayaan alam yang mestinya untuk kesejahteraan rakyat, malah dikuras 
untuk bermewah-mewah diri dan kroninya. Hutan digunduli sehingga banjir 
dan longsor di sana-sini. Rakyatlah yang jadi korban.

Melihat perilaku pemimpin yang seperti itu, rakyat pun ikut-ikutan mencari 
keuntungan sendiri. Sudah kaya dan berkecukupan, namun belum bersyukur dan 
malah berebut bantuan yang mestinya untuk fakir miskin. Sungguh cara hidup 
yang tidak akan berujung kepada kemuliaan, tetapi justru kehinaan. Dan 
inilah yang banyak disaksikan di sekeliling kita sekarang.

"Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan 
kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) 
tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah 
sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami 
hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya." [QS: Al-Israa': 16]

Agar mampu rahmatan lil 'alamin, kita perlu mentransformasi diri. Pusat 
diri yang sebelumnya egoisme dan hawa nafsu, harus diganti dengan 
kebeningan nurani.

Sumber Inspirasi

Bayangkan kalau ada orang yang rendah hati, menghormati sesama, dan suka 
melayani. Tidakkah hati Anda menyukai dan terkesan dengan keikhlasannya?

Orang yang demikian itu akan membahagiakan hati sesama. Kalau dia seorang 
bapak, keluarganya akan menghormatinya dengan tulus. Kalau seorang ibu, 
anak-anaknya tentu akan senantiasa merindukan. Kalau seorang pemimpin, 
tentu akan menginspirasi hati sekalian rakyatnya.

Umar bin Abdul Aziz telah membuktikan keberkahan rendah hati. Meski hanya 
menjabat dua tahun, terjadi perubahan besar. Akhlak rakyatnya yang 
sebelumnya buruk seketika berubah menjadi baik.

Umat akan terinspirasi pemimpin yang rendah hati dan teramat jujur itu. 
Yang menjadi pembicaraan heboh saat itu di berbagai sudut kota, warung, 
sampai pinggiran ladang di desa adalah masalah iman dan amal shalih. 
Mungkin seheboh dunia ini ketika dihipnotis oleh perhelatan Piala Dunia 
yang belum lama berakhir.

Masyarakat giat bekerja dan sejahtera. Kemakmuran mencapai puncaknya. 
Rakyat berdaya ekonominya dan mereka berlomba menunaikan zakat. Fakir 
miskin terentaskan sehingga sangat sulit mencari orang yang menerima 
zakat. Memberi dan memberi, itu yang menjadi paradigma mereka. Bukan 
meminta dan meminta.

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertakwa, 
pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi." 
[QS: Al-A'raaf: 96]

Alam dan binatang pun digambarkan turut berbahagia. Para gembala yang 
biasanya takut kambingnya terancam dimakan oleh serigala, saat itu kedua 
binatang ini seolah berteman saja. Pintu keberkahan dibuka Allah bila 
manusia telah menunaikan tugas sebagai khalifah.

Atas prestasi gemilang itu, tidak mengherankan jika beliau digolongkan 
sebagai Khulafa'u Ar-Rasyidin kelima setelah Abu Bakar, Umar, Utsman, dan 
Ali.
 

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke