-

السلام عليكم ورحمته الله وبركا تها
 semoga bermanfaat
wass....zainal
HARI ASYURA (10 MUHARRAM) ANTARA SUNNAH DAN BID’AH

Sejarah dan Keutamaan Puasa Asyura’ 

Sesungguhnya hari ‘syura (tanggal 10 Muharam) meski merupakan hari 
bersejarah, dan diagungkan, namun orang tidak boleh berbuat bid’ah 
padanya. Adapun yang dituntunkan syari’at kepada kita pada hari ini 
hanyalah berpuasa, dengan dijaga jangan sampai bertasyabuh dengan orang 
Yahudi. 
أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ يَوْمُ عَاشُوْرَاءَ 
تَصُوْمُهُ قُرَيْشٌ فِي اْلجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى 
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُوْمُهُ فَلَمَّا قَدِمَ اْلمَدِيْنَةَ صَامَهُ 
وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ 
“Orang-orang Quraisy biasa berpuasa pada hari ‘asyura’ di maha jahiliyah, 
Rasulullah SAW pun melakukannya pada masa masa jahiliah. Tatkala beliau 
tiba di Madinah beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan (umatnya) 
untuk berpuasa.” (HR. Bukhari) 

“Nabi SAW tiba di Madinah, kemudian beliau melihat orang-orang Yahudi 
berpuasa pada hari ‘asyura’. Beliau bertanya, “Apa ini?” Mereka menjawab: 
“Sebuah hari yang baik, ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan Bani 
Israil dari musuh mereka, maka Musa berpuasa pada hari itu sebagai wujud 
syukur”. Maka beliau SAW bersabda, “Aku lebih berhak terhadap Musa 
daripada kalian (Yahudi), maka hari itu, Nabipun berpuasa dan mendorong 
umatnya untuk berpuasa.” (HR. Bukhari) 

Dua hadist ini menunjukkan bahwa suku Quraisy berpuasa pada hari Asyura di 
masa jahiliyah, dan sebelum hijrahpun Nabi SAW telah melakukannya. 
Kemudian sewaktu tiba di Madinah, beliau menemukan orang-orang Yahudi 
berpuasa pada hari itu, maka Nabipun berpuasa dan mendorong umatnya untuk 
berpuasa. 

“Ia adalah hari mendaratnya kapal Nabi Nuh di atas gunung “Judi” lalu Nuh 
berpuasa pada hari itu sebagai wujud syukur.” (HRS. Bukhari) 

Abu Musa berkata, “Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi 
dan mereka menjadikannya sebagai hari raya, maka Rasulullah bersabda, 
“Puasalah kalian pada hari itu.” (HSR. Bukhari) 

Rasulullah SAW ditanya tentang puasa di hari ‘Asyura’, maka beliau 
menjawab, “Puasa itu bisa menghapuskan (dosa-dosa kecil) pada tahun 
kemarin.” (HSR. Muslim). 

Cara Berpuasa Di Hari Asyura’ 

A. Berpuasa selama tiga hari tanggal 9, 10 dan 11 Muharram. 

Berdasarkan hadits Ibnu Abbas RA yang diriwayatkan yang diriwayatkan oleh 
Imam Ahmad dengan lafazh sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim 
dalam al Huda dan al-Majd Ibnu Taimiyah dalam al-Muntaqa 2/2, “Selisihilah 
orang Yahudi dan berpuasalah sehari sebelum dan sehari setelahnya.” 

Dan pada riwayat ath-Thahawi menurut penuturan pengarang al-Urf 
asy-Syadzi, “Puasalah pada hari Asyura dan berpuasalah sehari sebelum atau 
sesudahnya dan janganlah kalian menyerupai orang Yahudi.” 

Namun didalam sanadnya ada rawi yang diperbincangkan. Ibnul Qayyim berkata 
(Zaadul Ma’ad 2/76), “Ini adalah derajat yang paling sempurna”. Syeikh 
Abdul Haq ad-Dahlawi mengatakan” “Inilah yang paling utama.” 

Ibnu Hajar di dalam Fathul Baari 4/246 juga mengisyaratkan keutamaan cara 
ini. Dan termasuk yang memiliki pendapat puasa tiga hari tersebut (9, 10, 
11 Muharram) adalah asy-Syaukani (Nailul Authar 4/245) dan Syeikh Muhammad 
Yusuf al-Banury dalam Ma’arifus Sunan 5/434. 

Namun mayoritas ulama’ yang memilih cara seperti ini adalah dimaksudkan 
untuk lebih hati-hati . Ibnul Qudamah di dalam al-Mughni 3/174 menukil 
pendapat Imam Ahmad yang memilih cara seperti ini (selama tiga hari) pada 
saat timbul kerancuan dalam menentukan awal bulan. 

B. Berpuasa pada tanggal 9 dan 10 

Mayoritas hadits menunjukkan cara ini: 

Rasulullah SAW berpuasa pada hari Asyura’ dan memerintahkan berpuasa. Para 
shahabat berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya hari itu diagungkan oleh 
orang Yahudi”. Maka beliau SAW bersabda, “Di tahun depan Insya allah kita 
akan berpuasa pada tanggal 9”, tetapi sebelum datang tahun depan 
Rasulullah SAW telah wafat.” (HR. Muslim) 

Dalam riwayat lain, “Jika aku masih (hidup) pada tahun depan sungguh aku 
akan puasa pada hari kesembilan.” (HR. Muslim) 

Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata (Fathul Baari 4/245): “Keinginan beliau untuk 
berpuasa pada tanggal sembilan mengandung kemungkinan bahwa beliau tidak 
hanya berpuasa pada tanggal sembilan saja, namun juga ditambahkan pada 
hari kesepuluh. Kemungkinan untuk hati-hati dan mungkin juga untuk 
menyelisihi orang Yahudi dan Nashara, kemungkinan kedua inilah yang lebih 
kuat, yang itu ditunjukkan oleh sebagian riwayat Muslim”. 

Dari ‘Atha’, dia mendengar Ibnu Abbas berkata: “Selisihlah Yahudi, 
berpuasalah pada tanggal sembilan dan sepuluh”. (Abdurrazaq 4/287) 

C. Berpuasa dua hari yaitu tanggal sembilan dan sepuluh atau sepuluh dan 
sebelas. 

“Berpuasalah pada hari ‘Asyura dan selisihilah orang Yahudi, puasalah 
sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.” (Hadist Dhaif Riwayat Ahmad). 

Hadits marfu’ ini tidak shahih karena tiga illat (cacat): 
-Ibnu Abi Laila, lemah, karena hafalannya buruk. 
-Dawud bin Ali bin Abdullah bin Abbas, bukan hujjah 
-Perawi sanad hadits tersebut secara mauquf lebih tsiqah dan lebih hafal 
daripada perawi jalan sanad marfu’ 

Jadi hadits di atas shahih secara mauquf sebagaimana dalam as-Sunan 
al-Matsurah karya as-Syafi’I no. 335 dan Ibnu Jarir ath-Thabari dalam 
Tahzibul Atsar 1/218. 

Ibnu Rajab berkata (Lathaiful Ma’arif, hal: 49): “Dalam sebagian riwayat 
disebutkan “atau sesudahnya” maka kata “atau:” disini mungkin merupakan 
keraguan dari perawi atau memang menunjukkan kebolehan …”. 

Al-Hafidz berkata (Fathul Baari 4/245-246): “Dan ini adalah akhir perkara 
Rasulullah SAW, dahulu beliau SAW suka menyocoki Ahli Kitab dalam hal yang 
tidak ada perintah, lebih-lebih bila hal itu menyelisihi orang-orang 
musyrik. Maka setelah Fathu Makkah dan Islam menjadi termasyhur, beliau 
suka menyelisihi Ahli Kitab sebagaimana dalam hadits shahih. Maka ini 
(masalah puasa Asyura’) termasuk dalam hal itu. Maka pertama kali beliau 
mencocoki Ahli kitab dan berkata: “Kami lebih berhak atas Musa dari pada 
kalian (Yahudi)”, kemudian beliau menyukai menyelisihi Ahli kitab, maka 
beliau menambahi sehari sebelum atau sesudahnya untuk menyelisihi Ahli 
kitab. 

Ar-Rafi’i berkata (at-Talhish al-Habir 2/213): “Berdasarkan ini, 
seandainya tidak berpuasa pada tanggal sembilan maka dianjurkan untuk 
berpuasa pada tanggal sebelas”. 

D. Berpuasa pada tanggal sepuluh saja 

Al-Hafidz berkata (Fathul Bari 4/246): “Puasa Asyura mempunyai tiga 
tingkatan, yang terendah berpuasa sehari saja, tingkatan di atasnya 
ditambah puasa tanggal sembilan dan tingkatan berikutnya ditambah puasa 
sembilan dan sebelas. Wallahu a’lam. 

Bid’ah-Bid’ah Di Hari Asyura 

1. Shalat dan dzikir-dzikir khusus, shalat ini disebut dengan sholat 
Asyura. 

2. Mandi, bercelak, memakai minyak rambut dan mewarnai kuku (menyemir 
rambut).” 

3. Membuat makanan khusus/istimewa, yang tidak seperti biasanya (seperti 
membuat bubur syura yang terdapat di daerah Sumatera Barat). 

4. Membakar kemenyan. 
5. Bersusah-susah dalam kehausan dan menampakkan kesusahan. 

6. Do’a awal dan akhir tahun yang dibaca pada malam akhir tahun dan awal 
tahun (sebagaimana termaktub dalam Majmu’ Syarif). 

7. Menentukan berinfaq dan memberi makan orang-orang miskin. 

8. Memberikan uang belanja yang lebih kepada keluarga. 

As-Subki berkata (Ad-Din al-Khalish 8/417): “Adapun pernyataan sebagian 
orang menganjurkan setelah mandi hari ini 10 Muharram untuk ziarah kepada 
orang ‘alim, menengok orang sakit, mengusap kepala anak yatim, memotong 
kuku, membaca al-Fathihah seribu kali dan bersilaturrahim maka tidak ada 
dalil yang menunjukkan keutamaan amal-amal itu dikerjakan pada hari itu. 
Yang benar amalan-amalan ini diperintahkan oleh syari’at di setiap saat, 
adapun mengkhususkan di hari ini (10 Muharram) maka hukumnya bid’ah”. 

Ibnu Rajab berkata (Lathaiful Ma’arif hal. 53): “Hadits anjuran memberikan 
uang belanja lebih dari hari-hari biasa, diriwayatkan dari banyak jalan 
namun tidak ada satupun yang shahih. Di antara ulama’ yang mengatakan 
demikian adalah Muhammad bin Abdullah bin al-Hakam. Al-Uqaili berkata: 
“(Hadits itu) tidak dikenal”. Adapun mengadakan ma’tam (kumpulan orang 
dalam kesusahan, semacam haul) sebagaimana dilakukan oleh Rafidhah dalam 
rangka mengenang kematian Husain bin Ali RA maka itu adalah perbuatan 
orang-orang tersesat di dunia sedangkan ia menyangka telah berbuat 
kebaikan. Allah dan RasulNya tidak pernah memerintahkan mengadakan ma’tam 
pada hari lahir atau wafat para nabi maka bagaimanakah dengan 
manusia/orang selain mereka.” 

Pada saat menerangkan kaidah-kaidah untuk mengenal hadits palsu, al-Hafidz 
Ibnu Qayyim (al-Manar al-Munif hal. 113 secara ringkas) berkata: 
“Hadits-hadits tentang bercelak pada hari Asyura’, berhias, 
bersenang-senang/berpesta, dan sholat di hari ini dan fadhilah-fadhilah 
lain tidak ada satupun yang shahih, tidak satupun keterangan yang kuat 
dari Nabi SAW selain hadits-hadits puasa. Adapun selainya adalah bathil 
seperti: 

“Barangsiapa memberi kelonggaran pada keluarganya pada hari Asyura, 
niscaya Allah akan memberikan kelonggaran kepadanya sepanjang tahun.” 

Imam Ahmad berkata: “Hadits ini tidak sah/bathil.” Adapun hadits-hadits 
bercelak, memakai minyak rambut dan memakai wangi-wangian, itu dibuat-buat 
oleh para tukang dusta. Kemudian golongan lain membalas dengan menjadikan 
hari Asyura sebagai hari kesedihan dan kesusahan. Dua golongan ini adalah 
ahli bid’ah yang menyimpang dari as-Sunnah. Sedangkan Ahlu Sunnah 
melaksanakan puasa pada hari itu yang diperintahkan Rasul SAW dan menjauhi 
bid’ah-bid’ah yang diperintahkan oleh syaithan. 

Adapun Sholat Asyura maka haditsnya bathil. As-Suyuthi dalam al-Laili 2/29 
berkata: “Maudlu’ (hadits palsu)”. Ucapan beliau ini dinukil Asy-Syaukani 
dalam al-Fawaid al-Majmu’ah hal. 47. Hal senada juga diucapkan ileh 
Al-‘Iraqi dalam Tanzihus Syari’ah 2/89 dan Ibnul Jauzi dalam al-Maudlu’ah 
2/122. 

Ibnu Rajab berkata (Latha’iful Ma’arif): “Setiap riwayat yang menerangkan 
keutamaan bercelak, berpacar/kiteks dan mandi pada hari Asyura adalah 
maudlu’ (palsu) tidak shah. Contohnya hadits yang dikatakan dari Abu 
Hurairah SAW 

“Barangsiapa mandi dan bersuci pada hari Asyura maka tidak akan sakit di 
tahun itu kecuali sakit yang menyebabkan kematian.” 

Hadits ini adalah buatan para pembunuh Husain.” 
Adapun hadits: 

“Barangsiapa bercelak dengan batu ismid di hari Asyura maka matanya tidak 
akan pernah sakit selamanya.” 

Maka Ulama’ seperti Ibnu Rajab, az-Zarkasyi dan as-Sakhawi menilainya 
sebagai hadits maudlu’ (palsu). 

Hadits ini diriwayatkan Ibnul Jauzi dalam Maudlu’at 2/204, Baihaqi dalam 
Syu’abul Iman 7/379, dan Fadhalil Auqat no. 246 dan al-Hakim sebagaimana 
dinukil as-Suyuthi dalam al-Lali 2/111. Al-Hakim berkata: “Bercelak di 
hari Asyura tidak ada satupun atsar/hadits dari Nabi SAW Dan hal ini 
adalah bid’ah yang dibuat oleh para pembunuh Husain. 

Demikianlah sedikit pembahasan tentang hari ‘Asyura. Semoga kita bisa 
mengamalkan sunnah tentang hari ‘Asyura ini dan meninggalkan 
bid’ah-bid’ahnya. Amin- Wallahu waliyyat-Taufiq. 

(sumber: majalah as-Sunnah, edisi 03/V/1421=2001, ) 
 

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke