Orang Indonesia Tidak Disiplin Menabung

Description: http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/08/11/1326195p.jpg

 
<http://female.kompas.com/read/2011/03/03/08324998/Orang.Indonesia.Tidak.Dis
iplin.Menabung> SHUTTERSTOCK

Meski kesadaran orang meningkat dalam merencanakan keuangan, pada prakteknya
hanya 47 persen yang mematuhi anggaran bulanan yang dibuatnya.

Kamis, 3/3/2011 | 08:32 WIB

KOMPAS.com - Riset menunjukkan, semakin banyak orang menyadari pentingnya
perencanaan keuangan dan cara mengelola uang yang baik dan benar.
Kemandirian finansial menjadi tujuan banyak orang, terutama mereka yang
berusia matang dan memiliki penghasilan rata-rata Rp 10 juta per bulan, baik
laki-laki maupun perempuan. Edukasi mengenai tata kelola keuangan personal
rupanya berdampak positif bagi mereka yang memiliki fasilitas keuangan
seperti kartu kredit dan rekening di bank. Pemahaman mengenai cara mengelola
dan merencanakan keuangan ini membuat 89 persen orang Indonesia merasa lebih
optimistis menghadapi masa depan dengan kemandirian finansialnya.

Citigroup Asia Pasific merilis hasil riset yang dilakukannya pada 2010
melalui wawancara online kepada 500 responden di seluruh Indonesia. Hasilnya
terlihat bahwa nilai financial quotient untuk Indonesia adalah 57 dari 100
poin. Nilai ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, 52. Financial
quotient adalah istilah yang digunakan Citigroup untuk menunjukkan kesadaran
akan kondisi keuangan dan kemampuan seseorang dalam memahami pentingnya
perencanaan keuangan, dan mengimplementasikan tata kelola keuangan dengan
baik. Melalui riset ini, Citigroup menunjukkan bahwa banyak orang Indonesia
yang peduli mengenai perencanaan keuangan.

Riset ini juga menyebutkan, sebagian besar orang Indonesia dengan
penghasilan rata-rata Rp 10 juta per bulan merasa optimistis dengan masa
depan finansialnya. Lebih dari 60 persen responden juga mengaku membayar
penuh tagihan kartu kredit secara reguler. Meskipun begitu, dengan
penghasilan tersebut, hanya 67 persen responden yang terbiasa menabung
secara rutin.

"Sedangkan 24 persennya berusaha menabung saat memungkinkan, saat bonus
akhir tahun, atau saat menerima tunjangan hari raya. Artinya, orang dengan
penghasilan Rp 10 juta pun masih banyak yang belum berdisiplin dengan
kebiasaan menabung meski mereka menyadari perencanaan keuangan itu penting,"
papar Hotman Simbolon, Vice President Customer Care Center Head Citibank,
dalam kegiatan Citibank Journalist Class di Jakarta, Rabu (2/3/2011) lalu.

Meski kesadaran orang Indonesia meningkat dalam merencanakan keuangan, pada
praktiknya hanya 47 persen responden yang mengakui mematuhi anggaran bulanan
yang dibuatnya. Sementara, kata Hotman, 38 persen orang sudah membuat
anggaran tetapi masih berusaha mengaplikasikannya.

Kesadaran yang tak dibarengi implementasi nyata ini membuat banyak orang
akhirnya tidak mampu secara finansial dalam memasuki masa pensiun. Survei
yang menyasar kalangan melek teknologi ini menunjukkan data, hanya 34 persen
orang yang yakin berapa dana pensiun yang dibutuhkannya beberapa tahun
mendatang. Sejumlah 31 persen tidak mengetahui kebutuhan dana pensiun; hanya
13 persen telah memiliki rencana pensiun; dan 22 persen belum memulai
rencana apa pun.

"Padahal, perencanaan dana pensiun perlu dimulai sejak saat ini, dalam
jangka panjang, bukan pada saat tujuh tahun menjelang waktu pensiun tiba,"
ujar Hotman. 

Selain minimnya kedisplinan menabung, ketidaksiapan menghadapi masa pensiun,
survei ini juga menunjukkan satu dari lima orang Indonesia tak memiliki
cukup tabungan jika ternyata harus kehilangan pekerjaan. Artinya, jelas
Hotman, 20 persen responden mengaku hanya bisa menafkahi hidupnya selama
tiga bulan jika harus mengalami pemutusan hubungan kerja. Sementara 80
persen yang lainnya mengaku tabungan yang dimilikinya hanya bisa membuatnya
bertahan dalam 2,5 bulan atau 70 hari saja.

Pemahaman mengenai pentingnya perencanaan keuangan nyatanya tak dibarengi
pengetahuan mengenai asuransi dan investasi. Kondisi inilah yang membuat
orang Indonesia belum mampu mandiri secara finansial. Dari 500 responden, 54
persen merasa sudah terlindungi asuransi dan 24 persen tidak memiliki
asuransi sama sekali. Kebanyakan dari responden bahkan tak mengetahui
pilihan investasi yang tepat untuk mengembangkan nilai uang yang
dimilikinya. Jika diberikan uang sebesar enam bulan gaji, hanya 45 persen
responden yang mengaku tahu cara berinvestasi yang tepat untuk dirinya.

Tak mengherankan jika kemudian banyak ditemukan orang Indonesia yang
khawatir dengan masa depannya. Karena pada umumnya, banyak orang yang belum
mandiri secara finansial lantaran tak membangun kebiasaan dan berdisiplin
menyisihkan uang dari penghasilan untuk berbagai anggaran dalam
mempersiapkan masa depan.

"Membuat anggaran menjadi solusi finansial yang perlu dilakukan. Dengan
budgeting, Anda bisa mengontrol keuangan, menghindarkan Anda dari masalah
finansial, menjadi konsumen yang lebih cerdas, mampu merancang dan meraih
tujuan finansial, dan memiliki masa depan yang lebih baik," tutur Hotman.

Melakukan budgeting juga akan memudahkan Anda untuk menabung, berinvestasi,
dan berbagi penghasilan melalui zakat sebagai bentuk fungsi sosial sebagai
individu.

 

 

Warm Regards,

 

 

Zigo AlCapone

 

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

<<image001.jpg>>

Kirim email ke