Cuma nambahin Kena Sweeping di Thailand
Posted on August 23rd, 2011 *By **Ariyanto** Jalan utama Mae Sai Green Bus membawa saya keluar dari Chiang Mai Arcade Bus Station dengan tujuan ke Chiang Rai. Bus yang bagus, nyaman dengan kaca rendah, sehingga pemandangan di luar terekam sempurna. Menghajar wilayah utara Thailand yang berbatasan dengan Myanmar adalah misi saya. Bus cakep ini akan membawa saya ke Mae Sai, wilayah akhir sebelum mengakses kota kecil miskin dan kumuh yang berada di ujung selatan Myanmar, yaitu Tachileik. Bus pun melaju di jalan bebas hambatan yang bagus, halus dengan pemandangan kanan kiri hutan atau perbukitan, serta permukiman penduduk. Saya sengaja berangkat agak pagi, biar bisa puas melakukan tur sehari di Myanmar. Semua serba lancar sampai kemudian dinginnya AC bus memaksa saya ke toilet di bus. Untung toiletnya bagus dan tidak bau. Bus belum masuk ke Mae Sai, saat saya memulai ritual buang air kecil. Pintu toilet pun saya tutup. Belum juga tetes terakhir, gedoran berulang di pintu membuat saya kaget. Dengan belum membetulkan ulang celana secara sempurna, saya bergegas membuka pintu. Dalam benak saya, mungkin pagi ini ada yang makan cabe terlalu banyak sehingga seperti kalap ingin menggunakan toilet. Perkiraan saya keliru. Di depan saya berdiri laki-laki berseragam hijau, dengan senjata entah jenis apa di tangan kanannya, dan topi ala tentara Jepang namun tanpa penutup telinga. Ekspresi wajahnya datar saja. Dia adalah tentara! “*Chang wesuh kra be wos** **wus w**es*!” serentetan kalimat meluncur dengan nada tinggi dari tentara itu tanpa saya tahu artinya. Saya cuma bengong saja menatapnya. Belum juga beberapa detik bengong, dia kembali membentak. Mungkin dia pikir saya orang setempat. “*I’m speaking English. I’m Indonesian, Si**r,*” ujar saya dengan lantang dan intonasi jelas. Seketika dia berhenti membentak. Lalu jarinya memberi kode untuk saya mengikutinya, beranjak dari toilet yang berada di bagian belakang bus. Saya baru sadar, bus ternyata berhenti di pinggir jalan. Di luar, tampak belasan tentara, dua di antaranya telah berada di dalam bus saya. Saya mendekati kursi, menatap harap pada teman saya yang orang Thailand untuk mengambil alih situasi. Menyadari situasi, teman saya pun langsung berdiri berbicara dengan tentara yang memepet saya. “*Okay**! P**assport! P* *assport*!” perintahnya begitu kelar berbicara dengan teman saya. Buru-buru saya ambil paspor dan menyerahkan ke tentara itu. Tiga kali dia memandang ke saya dan mencocokkan wajah saya dengan foto di paspor. Beberapa saat kemudian, dia menyerahkan paspor dan berkata sesuatu ke teman saya, sebelum akhirnya pergi, turun dari bus seperti tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Pffh….saya lega bukan alang kepalang. Tetapi, sejujurnya saya tidak tahu situasi apa yang sedang saya hadapi. Saya cuma tidak ingin terlalu lama berurusan dengan tentara, di mana pun saya traveling. Gila apa?! Saat bus melaju meninggalkan pemeriksaan tentara itu, teman saya bercerita bahwa apa yang baru saja terjadi adalah pemeriksaan tentara yang *sweeping*imigran gelap dari Myanmar. Bagi penduduk Thailand, tidak akan menjadi masalah, hanya akan dicek identitasnya. Tentara itu curiga kepada saya karena pada saat pemeriksaan saya berada di toilet, wilayah yang sangat mungkin digunakan imigran gelap untuk bersembunyi. “Tambah runyam karena kamu tidak bisa menjawab pertanyaan mereka,” ujar teman saya. “Bagi mereka, wajahmu tak berbeda dengan wajah orang Thailand atau Myanmar. Wajar kalau mereka curiga.” Imigran gelap dari Myanmar memang menjadi persoalan serius bagi pemerintah Thailand. Organisasi kemanusiaan memperkirakan ada lebih dari 2 juta imigran gelap Myanmar di Thailand yang selalu diburu polisi. Situasi politik yang tidak stabil di wilayah selatan Myanmar juga membuat semakin banyak pelarian warga Myanmar ke Thailand. Ini seperti sebuah “Impian Thailand”, melintas ke negeri gajah putih demi hidup yang lebih nyaman, meninggalkan kemiskinan dan konflik bersenjata yang mendera warga di wilayah Selatan Myanmar. Sorenya, puas dengan tur satu hari di Tachileik, saya pun kembali ke Chiang Mai. Lagi-lagi saya bertemu para tentara di sejumlah titik. Mereka memeriksa dengan seksama setiap penumpang. Saya tidak mau berbicara banyak, langsung saja menyodorkan paspor ketika salah satu dari tentara mendekat. Malang bagi seorang gadis yang duduk di kursi depan saya. Dia tidak mampu menunjukkan identitas dan dibentak-bentak. Gadis yang pernampilan sangat sederhana itu tampak panik. Suara bersahutan antara si gadis dan tentara yang tak saya pahami berakhir pada diturunkannya gadis itu dari bus diikuti si tentara. Duh, saya berasa ikut syuting film perang! Sepanjang perjalanan itu pula saya selalu membayangkan, kira-kira apa yang terjadi dengan gadis yang diturunkan dari bus itu ya? 2011/10/28 Deasy Rajagukguk <[email protected]> > ini yg buku ke-3 ya jeng ? gue baru beli kemaren... > > > 2011/10/28 mei soerjadi <[email protected]> > >> >> >> The Naked Traveler <http://naked-traveler.com/> >> >> <http://fusion.google.com/add?source=atgs&feedurl=http://feeds.feedburner.com/naked-traveler> >> The >> ladyboys<http://feedproxy.google.com/%7Er/naked-traveler/%7E3/ggpJZ71QopA/?utm_source=feedburner&utm_medium=email> >> Posted: 27 Oct 2011 07:17 AM PDT >> harga khusus ladyboy >> *Peringatan*: hanya boleh dibaca untuk yang berusia 21 tahun ke atas! >> Satu hal lagi yang saya salut dari Thailand, mereka tidak malu-malu >> mengakui negaranya memiliki wisata bersama waria, selain “wisata syahwat” >> lainnya yang tidak usah lagi diceritakan di sini. Dalam bahasa Thailand, >> waria disebut *khatoey*. Dalam bahasa Inggris ala Thailand diterjemahkan >> sebagai *ladyboy* atau *shemale*. Namun tidak semua *khatoey* sudah >> menjalani operasi ganti kelamin. Ya, tulisan ini tentang pria yang menjadi >> wanita, bukan sebaliknya. >> Sampai sekarang saya masih terkagum-kagum akan keterbukaan masyarakat >> Thailand. Di restoran yang menyajikan makan ala prasmanan memberikan tiga >> jenis harga, yaitu harga *boy*, *girl, *dan *ladyboy* dengan harga di >> antara *boy* dan *girl*. Saya juga pernah melihat beberapa toilet umum >> yang terdapat tiga jenis toilet: ada toilet cowok, toilet cewek, dan toilet >> “gender ketiga” alias waria. Konon di sebagian Sekolah Dasar di Thailand >> pun, toiletnya sudah terbagi tiga! FYI, toilet untuk *ladyboy* bentuknya >> ya seperti wanita yang berbilik, bukan urinal. Terbayang dulu waktu saya >> masih kecil, “banci” adalah kata hinaan yang kasar. Kebalikannya, di >> Thailand anak kecil pun sudah menyadari konsep banci, bahkan ada yang sudah >> merasa masuk ke kategori banci. >> Setiap ke Thailand, saya selalu “kepo” dengan kehidupan waria di sana. Kok >> bisa ya mereka transgender dan mengoperasi alat kelamin sendiri. *Well*, >> di Indonesia juga ada, tapi Thailand adalah negara dengan operasi ganti >> kelamin paling banyak di dunia (dan negara kedua adalah… Iran!). Sampailah >> saya berkenalan seorang *ladyboy* yang tidak mau disebutkan namanya. >> Karena orangnya asik dan jago berbahasa Inggris, saya ngobrol banyak untuk >> mencari tahu tentang kehidupan mereka. Ternyata harga operasi di Thailand >> pun “terjangkau”, sekitar Rp 20 juta untuk merubah alat kelamin pria menjadi >> wanita. >> Masyarakat Thailand memiliki tingkat yang paling tinggi dalam penerimaan >> terhadap kaum waria dibanding masyarakat di negara lain. Sebagai negara >> dengan mayoritas pemeluk agama Buddha, toleransi adalah salah satu nilai >> penting yang dianut. Menjadi waria tidak disalahkan karena dianggap *bad >> karma* dari kehidupan reinkarnasi sebelumnya. Waria itu merasa *woman’s >> soul trapped in man’s body*, jadi lebih kompleks dari sekedar *homosexual >> * atau penyuka sejenis. Sudah banyak selebritas Thailand yang >> *kathoey,*bahkan ada yang berprofesi sebagai pramugari. >> Jadi bagaimana mengoperasi kelamin pria menjadi wanita? Ini ngeri banget >> ternyata! Penis itu tidak dipotong seluruhnya, melainkan hanya isi dalamnya >> saja dan disisakan kulit luarnya. Kulit yang berbentuk kepompong kosong itu >> dimasukkan ke dalam sehingga membentuk vagina. Kulit itu bagaikan telinga >> yang ditindik. Bila tidak dipasangi anting, lubangnya akan menutup. Maka >> untuk membuat vagina buatan itu tetap “terbuka”, disumpel lah dengan tampon. >> Selama 6 bulan pertama, tampon tidak boleh dicopot. Awalnya tampon berukuran >> besar sebesar gulungan tissue toilet, makin lama makin kecil. Eww! >> Setelah operasi, belum selesai sampai di situ saja. Seumur hidupnya harus >> minum hormon estrogen agar menjadi lebih wanita, minimal tidak tumbuh bulu, >> kumis, dan jambang. Untuk menyempurnakannya menjadi wanita, tentu harus >> dibarengi dengan operasi payudara dengan menyumpal silikon, operasi >> pengecilan jakun, dan operasi wajah mulai dari hidung, dahi, sampai rahang. >> Waduh! >> Makanya waria di sana harus memilih “menjadi wanita cantik” atau “menjadi >> wanita saja”. Kalau mau cantik tentu operasinya lebih gila-gilaan, juga >> perlu perawatan seperti disuntik supaya kulitnya putih. Yang cantik-cantik >> begini biasanya bekerja di dunia hiburan, terutama kabaret waria. Bahkan >> setiap tahun ada pemilihan semacam kontes ratu kecantikan bagi waria yang >> selalu diburu para waria senegara. Waria yang cantik saking cantiknya jadi >> seperti boneka Barbie dengan bodi kurus dan dada besar. Sedangkan waria yang >> ingin jadi wanita saja biasanya tidak heboh. Asal sudah berpayudara dan >> tidak berbulu, mereka sudah puas. >> Saya pernah foto bareng pemain kabaret waria di Pattaya. Mereka memakai >> gaun cantik dengan belahan dada rendah. Saking hebohnya bergerak, mereka >> tidak sadar saat terjadi “sunrise” alias putingnya mencelat ke luar! Yah, >> maklumlah payudara palsu bikin sensitivitas berkurang (atau ingin pamer?). >> Teman saya itu juga menunjukkan seorang “waria yang menjadi wanita saja” >> yang berprofesi sebagai pemandu wisata. Bodinya agak gemuk tapi berpinggang, >> persis seperti ibu-ibu. Dari mukanya sih saya tahu kalau dia waria, tapi >> lucunya, rombongan bule yang dipandunya tidak tahu sama sekali. Maklumlah, >> orang bule memang agak kesulitan menebak usia dan gender orang Asia karena >> kita semua sama-sama bertubuh kecil. Saya pun sering mendengar cerita bule >> yang “terjebak” dengan waria Asia karena awalnya dia tidak tahu. >> Eh balik lagi ke soal operasi. Setelah jadi, bentuknya bagaimana? “Persis >> seperti punya wanita beneran. Lengkap dengan lipatan, *clitoris*, dan >> lubang buang air kecil juga. Hanya saja warnanya tidak wajar karena terlalu >> pink,” katanya cuek. “Kecuali melahirkan, fungsinya sama. Tapi memang kalau >> berhubungan seks harus pakai *gel* karena vagina buatan tidak memproduksi >> cairan itu. Perbedaan lain, baunya tidak sedap sebab tidak ada fungsi >> pembersih alami. Harus rajin dibersihkan karena ujung lubangnya kan buntu.” >> EWWW!! >> Benar-benar butuh perjuangan seumur hidup kalau berniat operasi ganti >> kelamin! Sungguh saya tidak bisa membayangkan sakitnya kayak apa. Pemain >> bola pria aja pas tendangan bebas, lawannya berdiri dengan menutupi alat >> kelamin dengan kedua tangan. Artinya mereka melindungi itunya yang sakit >> banget kalo kena tendang bola. Nah ini? Dipotong! Saya pernah operasi cabut >> kuku jempol kaki aja rasanya seperti tertimpa brangkas besi, apalagi itu? >> Yang kasihannya, meski mereka sudah dioperasi kelamin dari pria jadi >> wanita, namun hukum di Thailand melarang mengganti gender di kartu >> identitas. Jadi bayangkan di KTP atau paspor *ladyboy*… muka boleh cewek >> cantik berambut panjang, tapi mereka tetap ditulis “Mr.” alias “Mister”! >> Alasannya untuk keamanan negara, untuk memudahkan penyidikan terhadap >> tindakan kriminalitas. Tapi yang lebih kasihan lagi, kalau waria masuk >> penjara, mereka tetap masuk ke dalam penjara khusus pria! >> *Catatan*: Kemungkinan besar tulisan ini tidak diterbitkan jadi buku TNT >> [image: >> :)] >> <https://feedads.g.doubleclick.net/%7Ea/zUN2ggkMHeV4QSbJ7dBVgeYUeVc/I1NloE58X-j1L2FQ4XP4Y80eNwU/0/pa> >> **<https://feedads.g.doubleclick.net/%7Ea/zUN2ggkMHeV4QSbJ7dBVgeYUeVc/I1NloE58X-j1L2FQ4XP4Y80eNwU/1/pa> >> You are subscribed to email updates from The Naked >> Traveler<http://naked-traveler.com/> >> To stop receiving these emails, you may unsubscribe >> now<http://feedburner.google.com/fb/a/mailunsubscribe?k=zUN2ggkMHeV4QSbJ7dBVgeYUeVc> >> . Email delivery powered by Google Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago >> IL USA 60610 >> **** >> >> -- >> you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups. >> to post emails, just send to : >> [email protected] >> to join this group, send blank email to : >> [email protected] >> to quit from this group, just send email to : >> [email protected] >> please visit to www.facebook.com/aga.madjid, >> add my Yahoo Messenger at [email protected] or >> add my twitter @aga_madjid >> thanks for joinning this group. >> > > > > -- > Thanks, > Deasy Rajagukguk > > -- > you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups. > to post emails, just send to : > [email protected] > to join this group, send blank email to : > [email protected] > to quit from this group, just send email to : > [email protected] > please visit to www.facebook.com/aga.madjid, > add my Yahoo Messenger at [email protected] or > add my twitter @aga_madjid > thanks for joinning this group. > -- you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups. to post emails, just send to : [email protected] to join this group, send blank email to : [email protected] to quit from this group, just send email to : [email protected] please visit to www.facebook.com/aga.madjid, add my Yahoo Messenger at [email protected] or add my twitter @aga_madjid thanks for joinning this group.
