Afrika panas dan orangnya hitam?

Posted on August 17th, 2011

Tarian salah satu suku di Namibia

Banyak yang salah anggapan tentang Afrika. Maklum, selain kita tidak merasa
“dekat”, benua Afrika juga bukan destinasi favorit kita untuk jalan-jalan.
Mayoritas yang sudah pernah ke Afrika pun biasanya ke bagian utara, seperti
Mesir dan Moroko. Tak heran banyak orang menganggap “Afrika itu panas” dan
“Orang Afrika itu hitam semua”. Saya bukanlah ahli sosiologi, geografi,
maupun antropologi, apalagi rasis, tapi saya mencoba *sharing *berdasarkan
pengalaman saya jalan-jalan ke Afrika supaya kita nggak salah dan bikin
orang tersinggung.

Begitu saya berencana ke Afrika, tepatnya ke negara Namibia dan South
Africa, nyaris semua orang bilang, “Ih, ngapain ke sana? Pasti puanas
banget!”. Ketika saya jawab, “Kan di sana lagi *winter*”. Dan semua tidak
percaya, “Emang ada *winter* di Afrika?”

Penjelasannya gini: coba deh buka peta dunia. Tau kan garis khatulistiwa (*
equator*) yang berada memanjang di tengah? Untuk gampangnya, negara-negara
yang terlintasi garis khatulistiwa itu pasti bersuhu hangat atau cuacanya
tropis sepanjang tahun. Semakin menjauh dari garis itu maka negara tersebut
semakin dingin, apalagi dekat dengan Kutub. *Winter* atau musim dingin
terjadi kebalikan antara negara-negara di atas garis dan di bawah garis
khatulistiwa. Bila *winter *terjadi di Eropa pada bulan November-Februari,
maka di Australia (kecuali di Utara) justru sedang *summer* (musim panas).
Begitu juga sebaliknya, bila di Australia sedang *winter* pada bulan
Juni-Agustus, maka di Eropa sedang *summer*. Pengecualian di negara-negara
yang berada di dekat gurun, seperti  di Timur Tengah, berarti suhunya panas.
Saat *summer* di sana bisa mencapai 50°C, tapi jangan salah, saat
*winter*bisa drop ke belasan derajat Celcius. Begitulah negara-negara
yang jauh dari
khatulistiwa itu ciri khasnya memiliki perbedaan suhu yang tajam, baik
antara *summer-winter*, maupun siang-malam.

Nah sekarang lihat peta Namibia dan Afrika Selatan, mereka ada di bawah
banget garis khatulistiwa, sejajar dengan Australia selatan. Makanya pada
bulan Juni-Agustus, justru di sana sedang *winter*. Sebagai gambaran, suhu
Windhoek – ibu kota Namibia, pada bulan Juli 2011 lalu malah mencapai 2°C
atau lebih dingin daripada kulkas! Brrr! Di Cape Town, South Afrika, yang
berjarak 2 jam terbang dari Windhoek, suhu terendahnya saat itu 6°C, padahal
letaknya lebih selatan. Untuk kasus ini, suhu salah satunya tergantung dari
ketinggian daratan yang dihitung dari permukaan laut. Intinya, sebelum
traveling, silakan cek cuaca setempat deh biar nggak salah kostum.

Anggapan yang salah kedua adalah semua orang Afrika itu hitam. Padahal tidak
semua orang Afrika itu berkulit hitam gelap bak oli. Tau artis Hollywood
bernama Charlize Theron? Meski bule berambut pirang tapi dia orang asli
South Africa. Nah lho! Orang selatan Afrika (dulu Namibia sempat bersatu
dengan Afrika Selatan) pada dasarnya terbagi 4 jenis, yaitu *white*, *
colored*, *Asian* dan *black*. Begitulah mereka mengkategorikan manusia
berdasarkan warna kulit, apalagi sejak adanya politik *apartheid*.
Penjelasan di bawah ini berlaku untuk orang selatan Afrika, bukan orang item
(*African-American*) yang Anda lihat di film Hollywood.

*White* itu ya bule atau berkulit putih. Charlize Theron adalah salah
satunya. Daerah selatan Afrika dulu dijajah oleh bangsa Eropa, antara lain
Belanda, Jerman, dan Inggris. Sampai saat ini setelah beranak pinak, mereka
masih tinggal di sana meski jumlahnya minoritas. Mereka pun berbahasa
Africaans. Kalau diperhatikan, bahasa Africaans sebenarnya berasal dari
bahasa Belanda kuno dan diucapkan dengan dialek berbeda dengan tempo lebih
cepat.

*Colored* itu adalah warna kulit coklat muda. Yang masuk ke kategori ini
adalah orang-orang yang sudah kawin campur dengan ras lain, seperti item
dengan bule, item dengan kuning (Asia), atau item dengan coklat. Ribet ya?
Jadi ceritanya, zaman dahulu South Afrika itu dijajah oleh Belanda. Si Londo
ini mengimpor budak dari negara-negara jajahannya, termasuk Indonesia. Nah,
dari situlah terjadi kawin campur. Orang *colored* ini kalau di kita ya
bentuknya kayak orang indo atau blasteran aja, jadi mayan lah ganteng dan
cantik.

*Black* alias orang item di selatan Afrika merupakan penduduk aslinya yang
terbagi dengan suku-suku. Jadi antar orang item di Afrika, meski senegara,
tidak sama bahasanya. Sebagian besar orang item di selatan Afrika berasal
suku Khoisan (*bushmen*) yang memiliki kulit coklat tua, tulang pipi tinggi,
dan mata kecil – yang berbeda dengan sebagian besar orang item di benua
Afrika. Meskipun disebut *black*, tapi aslinya warna kulit mereka coklat,
bukan hitam. Beneran!

Nah, kalau orang Afrika yang item banget itu asalnya dari wilayah Afrika
Barat, seperti Nigeria dan Ghana. Dibanding mereka, orang item asal selatan
Afrika malah jadi kelihatan “putih”. Sebagai perbandingan, warna kulit orang
Papua (yang sering kita sebut hitam) itu ternyata secoklat orang item di
selatan Afrika dan tidak ada apa-apanya dibanding itemnya orang Afrika
Barat. Sementara itu, warna kulit orang Afrika Utara juga berwarna coklat
karena dekat dengan Eropa dan Timur Tengah. Dulunya mungkin ada kawin campur
antarbenua sehingga warna kulit mereka beda. Kesamaan seluruh orang item
Afrika menurut saya adalah rambutnya yang kriwil.

Saat di selatan Afrika, saya sering banget disapa, “*Ni hao*!” – sapaan
“helo” dalam bahasa Cina. Awalnya saya selalu jawab, “*I’m not Chinese, I’m
Indonesian*”, tapi lama-lama kok ya capek. Rupanya bagi mereka, semua orang
Asia pasti dianggap orang Cina. Ketidaktahuan mereka itulah membuat saya
maklum, karena dulu saya pikir semua orang Afrika itu berkulit hitam legam
sehingga yang terlihat cuma giginya saja – itupun kalau buka mulut.


2011/10/28 presiden rdk <[email protected]>

> Cuma nambahin
>
> Kena Sweeping di Thailand
>
> Posted on August 23rd, 2011
>
> *By **Ariyanto**
>
> Jalan utama Mae Sai
>
> Green Bus membawa saya keluar dari Chiang Mai Arcade Bus Station dengan
> tujuan ke Chiang Rai. Bus yang bagus, nyaman dengan kaca rendah, sehingga
> pemandangan di luar terekam sempurna. Menghajar wilayah utara Thailand yang
> berbatasan dengan Myanmar adalah misi saya. Bus cakep ini akan membawa saya
> ke Mae Sai, wilayah akhir sebelum mengakses kota kecil miskin dan kumuh yang
> berada di ujung selatan Myanmar, yaitu Tachileik. Bus pun melaju di jalan
> bebas hambatan yang bagus, halus dengan pemandangan kanan kiri hutan atau
> perbukitan, serta permukiman penduduk. Saya sengaja berangkat agak pagi,
> biar bisa puas melakukan tur sehari di Myanmar.
>
> Semua serba lancar sampai kemudian dinginnya AC bus memaksa saya ke toilet
> di bus. Untung toiletnya bagus dan tidak bau. Bus belum masuk ke Mae Sai,
> saat saya memulai ritual buang air kecil. Pintu toilet pun saya tutup. Belum
> juga tetes terakhir, gedoran berulang di pintu membuat saya kaget. Dengan
> belum membetulkan ulang celana secara sempurna, saya bergegas membuka pintu.
> Dalam benak saya, mungkin pagi ini ada yang makan cabe terlalu banyak
> sehingga seperti kalap ingin menggunakan toilet. Perkiraan saya keliru. Di
> depan saya berdiri laki-laki berseragam hijau, dengan senjata entah jenis
> apa di tangan kanannya, dan topi ala tentara Jepang namun tanpa penutup
> telinga. Ekspresi wajahnya datar saja. Dia adalah tentara!
>
> “*Chang wesuh kra be wos** **wus w**es*!” serentetan kalimat meluncur
> dengan nada tinggi dari tentara itu tanpa saya tahu artinya. Saya cuma
> bengong saja menatapnya. Belum juga beberapa detik bengong, dia kembali
> membentak. Mungkin dia pikir saya orang setempat. “*I’m speaking English.
> I’m Indonesian, Si**r,*” ujar saya dengan lantang dan intonasi jelas.
> Seketika dia berhenti membentak. Lalu jarinya memberi kode untuk saya
> mengikutinya, beranjak dari toilet yang berada di bagian belakang bus. Saya
> baru sadar, bus ternyata berhenti di pinggir jalan. Di luar, tampak belasan
> tentara, dua di antaranya telah berada di dalam bus saya.
>
> Saya mendekati kursi, menatap harap pada teman saya yang orang Thailand
> untuk mengambil alih situasi. Menyadari situasi, teman saya pun langsung
> berdiri berbicara dengan tentara yang memepet saya. “*Okay**! P**assport!
> P**assport*!” perintahnya begitu kelar berbicara dengan teman saya.
> Buru-buru saya ambil paspor dan menyerahkan ke tentara itu. Tiga kali dia
> memandang ke saya dan mencocokkan wajah saya dengan foto di paspor. Beberapa
> saat kemudian, dia menyerahkan paspor dan berkata sesuatu ke teman saya,
> sebelum akhirnya pergi, turun dari bus seperti tidak pernah terjadi apa-apa
> sebelumnya. Pffh….saya lega bukan alang kepalang. Tetapi, sejujurnya saya
> tidak tahu situasi apa yang sedang saya hadapi. Saya cuma tidak ingin
> terlalu lama berurusan dengan tentara, di mana pun saya traveling. Gila
> apa?!
>
> Saat bus melaju meninggalkan pemeriksaan tentara itu, teman saya bercerita
> bahwa apa yang baru saja terjadi adalah pemeriksaan tentara yang *sweeping
> * imigran gelap dari Myanmar. Bagi penduduk Thailand, tidak akan menjadi
> masalah, hanya akan dicek identitasnya. Tentara itu curiga kepada saya
> karena pada saat pemeriksaan saya berada di toilet, wilayah yang sangat
> mungkin digunakan imigran gelap untuk bersembunyi. “Tambah runyam karena
> kamu tidak bisa menjawab pertanyaan mereka,” ujar teman saya. “Bagi mereka,
> wajahmu tak berbeda dengan wajah orang Thailand atau Myanmar. Wajar kalau
> mereka curiga.”
>
> Imigran gelap dari Myanmar memang menjadi persoalan serius bagi pemerintah
> Thailand. Organisasi kemanusiaan memperkirakan ada lebih dari 2 juta imigran
> gelap Myanmar di Thailand yang selalu diburu polisi. Situasi politik yang
> tidak stabil di wilayah selatan Myanmar juga membuat semakin banyak pelarian
> warga Myanmar ke Thailand.  Ini seperti sebuah “Impian Thailand”, melintas
> ke negeri gajah putih demi hidup yang lebih nyaman, meninggalkan kemiskinan
> dan konflik bersenjata yang mendera warga di wilayah Selatan Myanmar.
>
> Sorenya, puas dengan tur satu hari di Tachileik, saya pun kembali ke Chiang
> Mai. Lagi-lagi saya bertemu para tentara di sejumlah titik. Mereka memeriksa
> dengan seksama setiap penumpang. Saya tidak mau berbicara banyak, langsung
> saja menyodorkan paspor ketika salah satu dari tentara mendekat. Malang bagi
> seorang gadis yang duduk di kursi depan saya. Dia tidak mampu menunjukkan
> identitas dan dibentak-bentak. Gadis yang pernampilan sangat sederhana itu
> tampak panik. Suara bersahutan antara si gadis dan tentara yang tak saya
> pahami berakhir pada diturunkannya gadis itu dari bus diikuti si tentara.
> Duh, saya berasa ikut syuting film perang! Sepanjang perjalanan itu pula
> saya selalu membayangkan, kira-kira apa yang terjadi dengan gadis yang
> diturunkan dari bus itu ya?
>
>
> 2011/10/28 Deasy Rajagukguk <[email protected]>
>
>> ini yg buku ke-3 ya jeng ? gue baru beli kemaren...
>>
>>
>> 2011/10/28 mei soerjadi <[email protected]>
>>
>>>
>>>
>>>        The Naked Traveler <http://naked-traveler.com/>
>>>
>>> <http://fusion.google.com/add?source=atgs&feedurl=http://feeds.feedburner.com/naked-traveler>
>>>    The 
>>> ladyboys<http://feedproxy.google.com/%7Er/naked-traveler/%7E3/ggpJZ71QopA/?utm_source=feedburner&utm_medium=email>
>>> Posted: 27 Oct 2011 07:17 AM PDT
>>>  harga khusus ladyboy
>>> *Peringatan*: hanya boleh dibaca untuk yang berusia 21 tahun ke atas!
>>> Satu hal lagi yang saya salut dari Thailand, mereka tidak malu-malu
>>> mengakui negaranya memiliki wisata bersama waria, selain “wisata syahwat”
>>> lainnya yang tidak usah lagi diceritakan di sini. Dalam bahasa Thailand,
>>> waria disebut *khatoey*. Dalam bahasa Inggris ala Thailand diterjemahkan
>>> sebagai *ladyboy* atau *shemale*. Namun tidak semua *khatoey* sudah
>>> menjalani operasi ganti kelamin. Ya, tulisan ini tentang pria yang menjadi
>>> wanita, bukan sebaliknya.
>>> Sampai sekarang saya masih terkagum-kagum akan keterbukaan masyarakat
>>> Thailand. Di restoran yang menyajikan makan ala prasmanan memberikan tiga
>>> jenis harga, yaitu harga *boy*, *girl, *dan *ladyboy* dengan harga di
>>> antara *boy* dan *girl*. Saya juga pernah melihat beberapa toilet umum
>>> yang terdapat tiga jenis toilet: ada toilet cowok, toilet cewek, dan toilet
>>> “gender ketiga” alias waria. Konon di sebagian Sekolah Dasar di Thailand
>>> pun, toiletnya sudah terbagi tiga! FYI, toilet untuk *ladyboy* bentuknya
>>> ya seperti wanita yang berbilik, bukan urinal. Terbayang dulu waktu saya
>>> masih kecil, “banci” adalah kata hinaan yang kasar. Kebalikannya, di
>>> Thailand anak kecil pun sudah menyadari konsep banci, bahkan ada yang sudah
>>> merasa masuk ke kategori banci.
>>> Setiap ke Thailand, saya selalu “kepo” dengan kehidupan waria di sana.
>>> Kok bisa ya mereka transgender dan mengoperasi alat kelamin sendiri. *
>>> Well*, di Indonesia juga ada, tapi Thailand adalah negara dengan operasi
>>> ganti kelamin paling banyak di dunia (dan negara kedua adalah… Iran!).
>>> Sampailah saya berkenalan seorang *ladyboy* yang tidak mau disebutkan
>>> namanya. Karena orangnya asik dan jago berbahasa Inggris, saya ngobrol
>>> banyak untuk mencari tahu tentang kehidupan mereka. Ternyata harga operasi
>>> di Thailand pun “terjangkau”, sekitar Rp 20 juta untuk merubah alat kelamin
>>> pria menjadi wanita.
>>> Masyarakat Thailand memiliki tingkat yang paling tinggi dalam penerimaan
>>> terhadap kaum waria dibanding masyarakat di negara lain. Sebagai negara
>>> dengan mayoritas pemeluk agama Buddha, toleransi adalah salah satu nilai
>>> penting yang dianut. Menjadi waria tidak disalahkan karena dianggap *bad
>>> karma* dari kehidupan reinkarnasi sebelumnya. Waria itu merasa *woman’s
>>> soul trapped in man’s body*, jadi lebih kompleks dari sekedar *
>>> homosexual* atau penyuka sejenis. Sudah banyak selebritas Thailand yang
>>> *kathoey,* bahkan ada yang berprofesi sebagai pramugari.
>>> Jadi bagaimana mengoperasi kelamin pria menjadi wanita? Ini ngeri banget
>>> ternyata! Penis itu tidak dipotong seluruhnya, melainkan hanya isi dalamnya
>>> saja dan disisakan kulit luarnya. Kulit yang berbentuk kepompong kosong itu
>>> dimasukkan ke dalam sehingga membentuk vagina. Kulit itu bagaikan telinga
>>> yang ditindik. Bila tidak dipasangi anting, lubangnya akan menutup. Maka
>>> untuk membuat vagina buatan itu tetap “terbuka”, disumpel lah dengan tampon.
>>> Selama 6 bulan pertama, tampon tidak boleh dicopot. Awalnya tampon berukuran
>>> besar sebesar gulungan tissue toilet, makin lama makin kecil. Eww!
>>> Setelah operasi, belum selesai sampai di situ saja. Seumur hidupnya harus
>>> minum hormon estrogen agar menjadi lebih wanita, minimal tidak tumbuh bulu,
>>> kumis, dan jambang. Untuk menyempurnakannya menjadi wanita, tentu harus
>>> dibarengi dengan operasi payudara dengan menyumpal silikon, operasi
>>> pengecilan jakun, dan operasi wajah mulai dari hidung, dahi, sampai rahang.
>>> Waduh!
>>> Makanya waria di sana harus memilih “menjadi wanita cantik” atau “menjadi
>>> wanita saja”. Kalau mau cantik tentu operasinya lebih gila-gilaan, juga
>>> perlu perawatan seperti disuntik supaya kulitnya putih. Yang cantik-cantik
>>> begini biasanya bekerja di dunia hiburan, terutama kabaret waria. Bahkan
>>> setiap tahun ada pemilihan semacam kontes ratu kecantikan bagi waria yang
>>> selalu diburu para waria senegara. Waria yang cantik saking cantiknya jadi
>>> seperti boneka Barbie dengan bodi kurus dan dada besar. Sedangkan waria yang
>>> ingin jadi wanita saja biasanya tidak heboh. Asal sudah berpayudara dan
>>> tidak berbulu, mereka sudah puas.
>>> Saya pernah foto bareng pemain kabaret waria di Pattaya. Mereka memakai
>>> gaun cantik dengan belahan dada rendah. Saking hebohnya bergerak, mereka
>>> tidak sadar saat terjadi “sunrise” alias putingnya mencelat ke luar! Yah,
>>> maklumlah payudara palsu bikin sensitivitas berkurang (atau ingin pamer?).
>>> Teman saya itu juga menunjukkan seorang “waria yang menjadi wanita saja”
>>> yang berprofesi sebagai pemandu wisata. Bodinya agak gemuk tapi berpinggang,
>>> persis seperti ibu-ibu. Dari mukanya sih saya tahu kalau dia waria, tapi
>>> lucunya, rombongan bule yang dipandunya tidak tahu sama sekali. Maklumlah,
>>> orang bule memang agak kesulitan menebak usia dan gender orang Asia karena
>>> kita semua sama-sama bertubuh kecil. Saya pun sering mendengar cerita bule
>>> yang “terjebak” dengan waria Asia karena awalnya dia tidak tahu.
>>> Eh balik lagi ke soal operasi. Setelah jadi, bentuknya bagaimana? “Persis
>>> seperti punya wanita beneran. Lengkap dengan lipatan, *clitoris*, dan
>>> lubang buang air kecil juga. Hanya saja warnanya tidak wajar karena terlalu
>>> pink,” katanya cuek. “Kecuali melahirkan, fungsinya sama. Tapi memang kalau
>>> berhubungan seks harus pakai *gel* karena vagina buatan tidak
>>> memproduksi cairan itu. Perbedaan lain, baunya tidak sedap sebab tidak ada
>>> fungsi pembersih alami. Harus rajin dibersihkan karena ujung lubangnya kan
>>> buntu.” EWWW!!
>>> Benar-benar butuh perjuangan seumur hidup kalau berniat operasi ganti
>>> kelamin! Sungguh saya tidak bisa membayangkan sakitnya kayak apa. Pemain
>>> bola pria aja pas tendangan bebas, lawannya berdiri dengan menutupi alat
>>> kelamin dengan kedua tangan. Artinya mereka melindungi itunya yang sakit
>>> banget kalo kena tendang bola. Nah ini? Dipotong! Saya pernah operasi cabut
>>> kuku jempol kaki aja rasanya seperti tertimpa brangkas besi, apalagi itu?
>>> Yang kasihannya, meski mereka sudah dioperasi kelamin dari pria jadi
>>> wanita, namun hukum di Thailand melarang mengganti gender di kartu
>>> identitas. Jadi bayangkan di KTP atau paspor *ladyboy*… muka boleh cewek
>>> cantik berambut panjang, tapi mereka tetap ditulis “Mr.” alias “Mister”!
>>> Alasannya untuk keamanan negara, untuk memudahkan penyidikan terhadap
>>> tindakan kriminalitas. Tapi yang lebih kasihan lagi, kalau waria masuk
>>> penjara, mereka tetap masuk ke dalam penjara khusus pria!
>>> *Catatan*: Kemungkinan besar tulisan ini tidak diterbitkan jadi buku TNT
>>> [image: :)]
>>> <https://feedads.g.doubleclick.net/%7Ea/zUN2ggkMHeV4QSbJ7dBVgeYUeVc/I1NloE58X-j1L2FQ4XP4Y80eNwU/0/pa>
>>> **<https://feedads.g.doubleclick.net/%7Ea/zUN2ggkMHeV4QSbJ7dBVgeYUeVc/I1NloE58X-j1L2FQ4XP4Y80eNwU/1/pa>
>>>   You are subscribed to email updates from The Naked 
>>> Traveler<http://naked-traveler.com/>
>>> To stop receiving these emails, you may unsubscribe 
>>> now<http://feedburner.google.com/fb/a/mailunsubscribe?k=zUN2ggkMHeV4QSbJ7dBVgeYUeVc>
>>> . Email delivery powered by Google Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago
>>> IL USA 60610
>>> ****
>>>
>>> --
>>> you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
>>> to post emails, just send to :
>>> [email protected]
>>> to join this group, send blank email to :
>>> [email protected]
>>> to quit from this group, just send email to :
>>> [email protected]
>>> please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
>>> add my Yahoo Messenger at [email protected] or
>>> add my twitter @aga_madjid
>>> thanks for joinning this group.
>>>
>>
>>
>>
>> --
>> Thanks,
>> Deasy Rajagukguk
>>
>>  --
>> you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
>> to post emails, just send to :
>> [email protected]
>> to join this group, send blank email to :
>> [email protected]
>> to quit from this group, just send email to :
>> [email protected]
>> please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
>> add my Yahoo Messenger at [email protected] or
>> add my twitter @aga_madjid
>> thanks for joinning this group.
>>
>
>

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke