Keren nih "TNT" topic ini,,,,,,,
On 10/28/2011 01:06 PM, presiden rdk wrote:
Cuma nambahin
Kena Sweeping di Thailand
Posted on August 23rd, 2011
*By **Ariyanto**
Jalan utama Mae Sai
Green Bus membawa saya keluar dari Chiang Mai Arcade Bus Station
dengan tujuan ke Chiang Rai. Bus yang bagus, nyaman dengan kaca
rendah, sehingga pemandangan di luar terekam sempurna. Menghajar
wilayah utara Thailand yang berbatasan dengan Myanmar adalah misi
saya. Bus cakep ini akan membawa saya ke Mae Sai, wilayah akhir
sebelum mengakses kota kecil miskin dan kumuh yang berada di ujung
selatan Myanmar, yaitu Tachileik. Bus pun melaju di jalan bebas
hambatan yang bagus, halus dengan pemandangan kanan kiri hutan atau
perbukitan, serta permukiman penduduk. Saya sengaja berangkat agak
pagi, biar bisa puas melakukan tur sehari di Myanmar.
Semua serba lancar sampai kemudian dinginnya AC bus memaksa saya ke
toilet di bus. Untung toiletnya bagus dan tidak bau. Bus belum masuk
ke Mae Sai, saat saya memulai ritual buang air kecil. Pintu toilet pun
saya tutup. Belum juga tetes terakhir, gedoran berulang di pintu
membuat saya kaget. Dengan belum membetulkan ulang celana secara
sempurna, saya bergegas membuka pintu. Dalam benak saya, mungkin pagi
ini ada yang makan cabe terlalu banyak sehingga seperti kalap ingin
menggunakan toilet. Perkiraan saya keliru. Di depan saya berdiri
laki-laki berseragam hijau, dengan senjata entah jenis apa di tangan
kanannya, dan topi ala tentara Jepang namun tanpa penutup telinga.
Ekspresi wajahnya datar saja. Dia adalah tentara!
“/Chang wesuh kra be wos// //wus w//es/!” serentetan kalimat meluncur
dengan nada tinggi dari tentara itu tanpa saya tahu artinya. Saya cuma
bengong saja menatapnya. Belum juga beberapa detik bengong, dia
kembali membentak. Mungkin dia pikir saya orang setempat. “/I’m
speaking English. I’m Indonesian, Si//r,/” ujar saya dengan lantang
dan intonasi jelas. Seketika dia berhenti membentak. Lalu jarinya
memberi kode untuk saya mengikutinya, beranjak dari toilet yang berada
di bagian belakang bus. Saya baru sadar, bus ternyata berhenti di
pinggir jalan. Di luar, tampak belasan tentara, dua di antaranya telah
berada di dalam bus saya.
Saya mendekati kursi, menatap harap pada teman saya yang orang
Thailand untuk mengambil alih situasi. Menyadari situasi, teman saya
pun langsung berdiri berbicara dengan tentara yang memepet saya.
“/Okay//! P//assport! P//assport/!” perintahnya begitu kelar berbicara
dengan teman saya. Buru-buru saya ambil paspor dan menyerahkan ke
tentara itu. Tiga kali dia memandang ke saya dan mencocokkan wajah
saya dengan foto di paspor. Beberapa saat kemudian, dia menyerahkan
paspor dan berkata sesuatu ke teman saya, sebelum akhirnya pergi,
turun dari bus seperti tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.
Pffh….saya lega bukan alang kepalang. Tetapi, sejujurnya saya tidak
tahu situasi apa yang sedang saya hadapi. Saya cuma tidak ingin
terlalu lama berurusan dengan tentara, di mana pun saya traveling.
Gila apa?!
Saat bus melaju meninggalkan pemeriksaan tentara itu, teman saya
bercerita bahwa apa yang baru saja terjadi adalah pemeriksaan tentara
yang /sweeping/ imigran gelap dari Myanmar. Bagi penduduk Thailand,
tidak akan menjadi masalah, hanya akan dicek identitasnya. Tentara itu
curiga kepada saya karena pada saat pemeriksaan saya berada di toilet,
wilayah yang sangat mungkin digunakan imigran gelap untuk bersembunyi.
“Tambah runyam karena kamu tidak bisa menjawab pertanyaan mereka,”
ujar teman saya. “Bagi mereka, wajahmu tak berbeda dengan wajah orang
Thailand atau Myanmar. Wajar kalau mereka curiga.”
Imigran gelap dari Myanmar memang menjadi persoalan serius bagi
pemerintah Thailand. Organisasi kemanusiaan memperkirakan ada lebih
dari 2 juta imigran gelap Myanmar di Thailand yang selalu diburu
polisi. Situasi politik yang tidak stabil di wilayah selatan Myanmar
juga membuat semakin banyak pelarian warga Myanmar ke Thailand. Ini
seperti sebuah “Impian Thailand”, melintas ke negeri gajah putih demi
hidup yang lebih nyaman, meninggalkan kemiskinan dan konflik
bersenjata yang mendera warga di wilayah Selatan Myanmar.
Sorenya, puas dengan tur satu hari di Tachileik, saya pun kembali ke
Chiang Mai. Lagi-lagi saya bertemu para tentara di sejumlah titik.
Mereka memeriksa dengan seksama setiap penumpang. Saya tidak mau
berbicara banyak, langsung saja menyodorkan paspor ketika salah satu
dari tentara mendekat. Malang bagi seorang gadis yang duduk di kursi
depan saya. Dia tidak mampu menunjukkan identitas dan dibentak-bentak.
Gadis yang pernampilan sangat sederhana itu tampak panik. Suara
bersahutan antara si gadis dan tentara yang tak saya pahami berakhir
pada diturunkannya gadis itu dari bus diikuti si tentara. Duh, saya
berasa ikut syuting film perang! Sepanjang perjalanan itu pula saya
selalu membayangkan, kira-kira apa yang terjadi dengan gadis yang
diturunkan dari bus itu ya?
2011/10/28 Deasy Rajagukguk <[email protected]
<mailto:[email protected]>>
ini yg buku ke-3 ya jeng ? gue baru beli kemaren...
2011/10/28 mei soerjadi <[email protected]
<mailto:[email protected]>>
The Naked Traveler <http://naked-traveler.com/>
<http://fusion.google.com/add?source=atgs&feedurl=http://feeds.feedburner.com/naked-traveler>
The ladyboys
<http://feedproxy.google.com/%7Er/naked-traveler/%7E3/ggpJZ71QopA/?utm_source=feedburner&utm_medium=email>
Posted: 27 Oct 2011 07:17 AM PDT
harga khusus ladyboy
*Peringatan*: hanya boleh dibaca untuk yang berusia 21 tahun
ke atas!
Satu hal lagi yang saya salut dari Thailand, mereka tidak
malu-malu mengakui negaranya memiliki wisata bersama waria,
selain “wisata syahwat” lainnya yang tidak usah lagi
diceritakan di sini. Dalam bahasa Thailand, waria disebut
/khatoey/. Dalam bahasa Inggris ala Thailand diterjemahkan
sebagai /ladyboy/ atau /shemale/. Namun tidak semua /khatoey/
sudah menjalani operasi ganti kelamin. Ya, tulisan ini tentang
pria yang menjadi wanita, bukan sebaliknya.
Sampai sekarang saya masih terkagum-kagum akan keterbukaan
masyarakat Thailand. Di restoran yang menyajikan makan ala
prasmanan memberikan tiga jenis harga, yaitu harga /boy/,
/girl, /dan /ladyboy/ dengan harga di antara /boy/ dan /girl/.
Saya juga pernah melihat beberapa toilet umum yang terdapat
tiga jenis toilet: ada toilet cowok, toilet cewek, dan toilet
“gender ketiga” alias waria. Konon di sebagian Sekolah Dasar
di Thailand pun, toiletnya sudah terbagi tiga! FYI, toilet
untuk /ladyboy/ bentuknya ya seperti wanita yang berbilik,
bukan urinal. Terbayang dulu waktu saya masih kecil, “banci”
adalah kata hinaan yang kasar. Kebalikannya, di Thailand anak
kecil pun sudah menyadari konsep banci, bahkan ada yang sudah
merasa masuk ke kategori banci.
Setiap ke Thailand, saya selalu “kepo” dengan kehidupan waria
di sana. Kok bisa ya mereka transgender dan mengoperasi alat
kelamin sendiri. /Well/, di Indonesia juga ada, tapi Thailand
adalah negara dengan operasi ganti kelamin paling banyak di
dunia (dan negara kedua adalah… Iran!). Sampailah saya
berkenalan seorang /ladyboy/ yang tidak mau disebutkan
namanya. Karena orangnya asik dan jago berbahasa Inggris, saya
ngobrol banyak untuk mencari tahu tentang kehidupan mereka.
Ternyata harga operasi di Thailand pun “terjangkau”, sekitar
Rp 20 juta untuk merubah alat kelamin pria menjadi wanita.
Masyarakat Thailand memiliki tingkat yang paling tinggi dalam
penerimaan terhadap kaum waria dibanding masyarakat di negara
lain. Sebagai negara dengan mayoritas pemeluk agama Buddha,
toleransi adalah salah satu nilai penting yang dianut. Menjadi
waria tidak disalahkan karena dianggap /bad karma/ dari
kehidupan reinkarnasi sebelumnya. Waria itu merasa /woman’s
soul trapped in man’s body/, jadi lebih kompleks dari sekedar
/homosexual/ atau penyuka sejenis. Sudah banyak selebritas
Thailand yang /kathoey,/ bahkan ada yang berprofesi sebagai
pramugari.
Jadi bagaimana mengoperasi kelamin pria menjadi wanita? Ini
ngeri banget ternyata! Penis itu tidak dipotong seluruhnya,
melainkan hanya isi dalamnya saja dan disisakan kulit luarnya.
Kulit yang berbentuk kepompong kosong itu dimasukkan ke dalam
sehingga membentuk vagina. Kulit itu bagaikan telinga yang
ditindik. Bila tidak dipasangi anting, lubangnya akan menutup.
Maka untuk membuat vagina buatan itu tetap “terbuka”, disumpel
lah dengan tampon. Selama 6 bulan pertama, tampon tidak boleh
dicopot. Awalnya tampon berukuran besar sebesar gulungan
tissue toilet, makin lama makin kecil. Eww!
Setelah operasi, belum selesai sampai di situ saja. Seumur
hidupnya harus minum hormon estrogen agar menjadi lebih
wanita, minimal tidak tumbuh bulu, kumis, dan jambang. Untuk
menyempurnakannya menjadi wanita, tentu harus dibarengi dengan
operasi payudara dengan menyumpal silikon, operasi pengecilan
jakun, dan operasi wajah mulai dari hidung, dahi, sampai
rahang. Waduh!
Makanya waria di sana harus memilih “menjadi wanita cantik”
atau “menjadi wanita saja”. Kalau mau cantik tentu operasinya
lebih gila-gilaan, juga perlu perawatan seperti disuntik
supaya kulitnya putih. Yang cantik-cantik begini biasanya
bekerja di dunia hiburan, terutama kabaret waria. Bahkan
setiap tahun ada pemilihan semacam kontes ratu kecantikan bagi
waria yang selalu diburu para waria senegara. Waria yang
cantik saking cantiknya jadi seperti boneka Barbie dengan bodi
kurus dan dada besar. Sedangkan waria yang ingin jadi wanita
saja biasanya tidak heboh. Asal sudah berpayudara dan tidak
berbulu, mereka sudah puas.
Saya pernah foto bareng pemain kabaret waria di Pattaya.
Mereka memakai gaun cantik dengan belahan dada rendah. Saking
hebohnya bergerak, mereka tidak sadar saat terjadi “sunrise”
alias putingnya mencelat ke luar! Yah, maklumlah payudara
palsu bikin sensitivitas berkurang (atau ingin pamer?). Teman
saya itu juga menunjukkan seorang “waria yang menjadi wanita
saja” yang berprofesi sebagai pemandu wisata. Bodinya agak
gemuk tapi berpinggang, persis seperti ibu-ibu. Dari mukanya
sih saya tahu kalau dia waria, tapi lucunya, rombongan bule
yang dipandunya tidak tahu sama sekali. Maklumlah, orang bule
memang agak kesulitan menebak usia dan gender orang Asia
karena kita semua sama-sama bertubuh kecil. Saya pun sering
mendengar cerita bule yang “terjebak” dengan waria Asia karena
awalnya dia tidak tahu.
Eh balik lagi ke soal operasi. Setelah jadi, bentuknya
bagaimana? “Persis seperti punya wanita beneran. Lengkap
dengan lipatan, /clitoris/, dan lubang buang air kecil juga.
Hanya saja warnanya tidak wajar karena terlalu pink,” katanya
cuek. “Kecuali melahirkan, fungsinya sama. Tapi memang kalau
berhubungan seks harus pakai /gel/ karena vagina buatan tidak
memproduksi cairan itu. Perbedaan lain, baunya tidak sedap
sebab tidak ada fungsi pembersih alami. Harus rajin
dibersihkan karena ujung lubangnya kan buntu.” EWWW!!
Benar-benar butuh perjuangan seumur hidup kalau berniat
operasi ganti kelamin! Sungguh saya tidak bisa membayangkan
sakitnya kayak apa. Pemain bola pria aja pas tendangan bebas,
lawannya berdiri dengan menutupi alat kelamin dengan kedua
tangan. Artinya mereka melindungi itunya yang sakit banget
kalo kena tendang bola. Nah ini? Dipotong! Saya pernah operasi
cabut kuku jempol kaki aja rasanya seperti tertimpa brangkas
besi, apalagi itu?
Yang kasihannya, meski mereka sudah dioperasi kelamin dari
pria jadi wanita, namun hukum di Thailand melarang mengganti
gender di kartu identitas. Jadi bayangkan di KTP atau paspor
/ladyboy/… muka boleh cewek cantik berambut panjang, tapi
mereka tetap ditulis “Mr.” alias “Mister”! Alasannya untuk
keamanan negara, untuk memudahkan penyidikan terhadap tindakan
kriminalitas. Tapi yang lebih kasihan lagi, kalau waria masuk
penjara, mereka tetap masuk ke dalam penjara khusus pria!
*Catatan*: Kemungkinan besar tulisan ini tidak diterbitkan
jadi buku TNT :)
<https://feedads.g.doubleclick.net/%7Ea/zUN2ggkMHeV4QSbJ7dBVgeYUeVc/I1NloE58X-j1L2FQ4XP4Y80eNwU/0/pa>
<https://feedads.g.doubleclick.net/%7Ea/zUN2ggkMHeV4QSbJ7dBVgeYUeVc/I1NloE58X-j1L2FQ4XP4Y80eNwU/1/pa>
You are subscribed to email updates from The Naked Traveler
<http://naked-traveler.com/>
To stop receiving these emails, you may unsubscribe now
<http://feedburner.google.com/fb/a/mailunsubscribe?k=zUN2ggkMHeV4QSbJ7dBVgeYUeVc>.
Email delivery powered by Google
Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610
--
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected] <mailto:[email protected]>
to join this group, send blank email to :
[email protected]
<mailto:aga-madjid%[email protected]>
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
<mailto:aga-madjid%[email protected]>
please visit to www.facebook.com/aga.madjid
<http://www.facebook.com/aga.madjid>,
add my Yahoo Messenger at [email protected]
<mailto:[email protected]> or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.
--
Thanks,
Deasy Rajagukguk
--
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected] <mailto:[email protected]>
to join this group, send blank email to :
[email protected]
<mailto:aga-madjid%[email protected]>
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
<mailto:aga-madjid%[email protected]>
please visit to www.facebook.com/aga.madjid
<http://www.facebook.com/aga.madjid>,
add my Yahoo Messenger at [email protected]
<mailto:[email protected]> or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.
--
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.
--
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.