Salam kenal juga Pak Amir. Saya juga amati memang tidak begitu banyak forum di Internet yg membahas jamur, termasuk jamur kuping. Padahal kebutuhan jamur masih sangat banyak. Sepertinya ada missing link antara petani & customer. Saya bersama rekan memiliki usaha budidaya jamur kuping merah di Semarang. Saat ini masih skala kecil karena juga masih digunakan untuk penelitian sederhana selain untuk dipasarkan. Ke depan memang akan dikembangkan dengan target pencapaian kelas Super. Selama ini hasil mayoritas masih di tingkat kelas A1/A2 diikuti B dan sisanya yg sedikit C. Saya sudah cek ke para pembudidaya jamur kuping lain yg lebih senior, mereka bilang hasil kami termasuk kualitas tinggi. Menurut saya, lebih menguntungkan memasarkan dalam bentuk kering. Pertama, karena bisa disimpan sehingga peluang mendapat pembeli potensial lebih besar. Kedua, harga lebih tinggi. Ketiga, kelas kualitas bisa diketahui sebab angka randemen sudah diperoleh sehingga mudah menetapkan harga yg pantas. ---- Salam, Desianto F. W.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^ I N F O LAYANAN 24 JAM SMS AGROMANIA Ingin menjual atau mencari komoditi Agrobisnis (pertanian, perikanan, perkebunan, peternakan, pertamanan, kehutanan, agroindustri) dengan cepat dan tanpa resiko? Gunakan layanan 24 jam SMS Agromania. Kirim permintaan atau penawaran Anda ke : 0 8 1 1 1 8 5 9 2 9. Jangan lupa, cantumkan spec komoditi serta data dan alamat Anda (tanpa ini TIDAK akan kami layani). [AGROMANIA - online sejak 1 Agustus 2000] MILIS: http://groups.yahoo.com/group/agromania ^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^ ----- Original Message ----- Subject: RE: [agromania] Tentang Standar Kelas Kualitas Jamur Kuping Kering Date: Fri, 28 Sep 2007 20:48:50 From: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Pak Destianto, Memang saya perhatikan di milis ini masalah Jamur tidak terlalu berkembang. Apa ada milis yang lebih khusus mengenai jamur? Saya baru mulai budidaya jamur kuping (tempatnya di Yogyakarta ), masih dalam skala kecil. Kalau boleh tanya, Pak Destianto ini bergerak di bidang apa? Menurut pengalaman/pengamatan (kalau ada) Pak Destianto, pemasaran jamur kuping yang efektif dan lebih menguntungkan, dilakukan saat masih basah atau kering? Salam kenal. Amir From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Des-FW Sent: Friday, September 28, 2007 9:51 PM To: [email protected] Subject: [agromania] Tentang Standar Kelas Kualitas Jamur Kuping Kering Rekan Agromania semua, Setelah menunggu beberapa minggu, ternyata tidak ada satu tanggapan / saran / usulan yang masuk mengenai pertanyaan saya tentang standarisasi kelas kualitas jamur kuping kering. Untuk itu, perkenankan saya mengajukan usulan standar kualitas yang saya buat. Mohon masukan dan saran-sarannya. ============ ========= ========= ========= ===== STANDAR KELAS KUALITAS JAMUR KUPING KERING 1. Latar Belakang Belum adanya standar kualitas baku jamur kuping kering yang dipasarkan di Indonesia. Hal ini menyebabkan harga beli dari petani / pembudidaya menjadi rendah sementara pembeli merasa harga yang mereka bayarkan kepada broker / pengepul terlalu mahal dibandingkan kualitasnya. Belum adanya standar ini juga membuat patokan harga menjadi tidak stabil. 2. Tujuan Dengan adanya standar yang baku , diharapkan ada suatu aturan yang jelas dalam proses perdagangan jamur kuping kering. Petani / pembudidaya akan memiliki pegangan yang jelas untuk memenuhi standar yang ada serta tidak dirugikan karena harga beli yang kurang wajar, pedagang / pengepul / broker akan mudah menentukan harga beli dan harga jual, dan pembeli akan memperoleh jaminan bahwa harga yang dibayarkannya sepadan dengan kualitas yang diperoleh. 3. Parameter Standar Selama beberapa tahun berkecimpung di dalam budidaya jamur kuping, penulis mendapatkan suatu kesimpulan yang umum mengenai tingkat kualitas jamur kuping. Yang pertama adalah ukuran kelopak jamur kuping berbanding lurus dengan kualitasnya. Semakin besar ukuran kelopaknya, semakin bagus kualitasnya. Yang kedua, randemen atau perbandingan berat antara berat kering dengan berat segarnya. Semakin kecil perbandingannya, semakin bagus kualitasnya. Sementara parameter lain seperti warna dan ketebalan kelopak tidak begitu berpengaruh terhadap kualitas sebab bisa dikatakan secara otomatis mengikuti ukuran kelopaknya. Dalam arti, jamur yang kelopaknya besar biasanya berwarna gelap dan lebih tebal, demikian juga sebaliknya. Untuk itu, sebagai patokan agar tidak terjadi kerancuan, ukuran kelopak yang diukur adalah ukuran tiap-tiap kelopak yang ada di dalam satu kuntum jamur kuping. Jadi bukan ukuran kuntum secara keseluruhan. Sedangkan data randemen bisa diperoleh dari hasil penimbangan panen segar dibagi dengan hasil panen yang telah dikeringkan pada suatu periode tertentu. Ukuran kelopak yang dijadikan patokan pengukuran adalah ukuran kelopak segar / basah. Hal ini dikarenakan, ukuran kering tidak bisa menggambarkan kualitas sebenarnya mengingat penyusutan ukuran ini sangat erat kaitannya dengan tingkat randemen. Artinya, jamur kuping dengan kelopak segar ukuran A dengan randemen yang kecil maka ukuran keringnya akan lebih besar daripada jamur kuping dengan ukuran kelopak segar yang sama dengan A tetapi memiliki randemen besar. 4. Pembagian Kelas Kualitas Berdasarkan Ukuran Kelopak Penulis membuat 4 (empat) kelompok kelas dengan ukuran kelopak segar / basah sebagai acuannya. Kelas-kelas tersebut adalah sebagai berikut: - Kelas C: jamur kuping dengan ukuran kelopak segar antara 8 - 11 cm - Kelas B: jamur kuping dengan ukuran kelopak segar antara 12 - 15 cm - Kelas A: jamur kuping dengan ukuran kelopak segar antara 16 - 21 cm - Kelas Super: jamur kuping dengan ukuran kelopak segar di atas 21 cm 5. Pembagian Kelas Kualitas Berdasarkan Randemen Penulis membagi menjadi 2 (dua) kelas, antara lain: - Kelas 1: jamur kuping mempunyai randemen 1 : 3-3,9; artinya, 1 (satu) kilogram berat kering diperoleh dari 3-3,9 kilogram berat segar / basah - Kelas 2: jamur kuping mempunyai randemen 1 : 4-5; artinya, 1 (satu) kilogram berat kering diperoleh dari 4-5 kilogram berat segar / basah Perbandingan yang lebih besar tidak dijadikan parameter sebab bisa dipastikan kualitasnya sudah tidak memenuhi syarat. 6. Penetapan Kelas Kualitas Penulis membagi kelas kualitas jamur kuping menjadi 7 kelompok, yaitu: - Kelas Super 1: jamur kuping dengan diameter kelopak segar di atas 21 cm dan randemen 1 : 3-3,9 - Kelas Super 2: jamur kuping dengan diameter kelopak segar di atas 21 cm dan randemen 1 : 4-5 - Kelas A1: jamur kuping dengan diameter kelopak antara 16 - 21 cm dan randemen 1 : 3-3,9 - Kelas A2: jamur kuping dengan diameter kelopak antara 16 - 21 cm dan randemen 1 : 4-5 - Kelas B1: jamur kuping dengan diameter kelopak antara 12 - 15 cm dan randemen 1 : 3-3,9 - Kelas B2: jamur kuping dengan diameter kelopak antara 12 - 15 cm dan randemen 1 : 4-5 - Kelas C: jamur kuping dengan diameter kelopak antara 8 - 11 cm dengan randemen baik 1 : 3-3,9 maupun 1 : 4-5 Kelas C tidak dibagi lagi dengan ukuran randemen sebab kelas C ditetapkan sebagai kelas yang paling rendah / dasar sehingga menjadi acuan kelas-kelas di atasnya. Jika dibagi lagi menurut randemen, dikhawatirkan harga dasar yang stabil justru tidak tercapai. 7. Kesimpulan Jamur kuping dengan kualitas Kelas C diharapkan menjadi acuan dasar dalam budidaya dan perdagangan jamur kuping. Oleh karena itu, harga yang dikenakan pada jamur kuping Kelas C per satu satuan berat menjadi harga dasar bagi jamur kuping dengan kelas-kelas kualitas di atasnya. Artinya, jamur kuping Kelas B2 berhak memperoleh harga yang lebih tinggi daripada Kelas C, Kelas B1 memperoleh harga sedikit lebih tinggi daripada Kelas B2, Kelas A2 memperoleh harga lebih tinggi daripada Kelas B1, dan seterusnya sampai Kelas Super 1 yang berhak memperoleh harga tertinggi. Diharapkan, dengan adanya pembagian semacam ini, semua pihak yang terlibat akan memiliki aturan yang jelas. Tidak ada yang merasa dirugikan atau diuntungkan terlalu banyak. Persaingan kualitas dan harga yang tidak wajar juga diharapkan bisa dihilangkan. 8. Penutup Demikianlah apa yang bisa disampaikan penulis. Semoga bisa bermanfaat. Namun semuanya berpulang kembali kepada semua pihak yang terlibat. Sebaik apapun standar atau aturan, namun jika tanpa disertai itikad baik dan kejujuran para pelakunya, tidaklah berguna. Terima kasih. Semarang , 28 September 2007 Desianto Fajar Wibisono A&A Farm, Semarang

