All,

Sebentar lagi kita akan memilih presiden-wakil presiden baru. Ada 3 pasangan 
yang sudah mendeklarasikan diri sby-berbudi, jk-win, dan mega-pro. Silakan 
ditimbang dan dipilih yang terbaik. Tapi saya tidak akan berbicara masalah 
pilpres, namun ada kaitannya dengan kepemimpinan nasional, yakni: efisiensi 
ekonomi dan kemampuan untuk korupsi atau tidak korupsi (saya menyingkatnya 
dengan koruptabilitas).

Mari kita bandingkan Indonesia dan India. Dua negara yang komparabel karena 
sama-sama negara berkembang, rakyatnya banyak dan miskin. GDP per kapita kedua 
negara memang beda, kita unggul sedikit di atas India. Indonesia GDP (PPP) USD 
3600, sementara India 2600. Ini diukur dari purchasing power parity-nya bukan 
real GDP. Kalau real GDP nilainya lebih kecil dari itu, kira-kira 1/2 atau 
1/3-nya. 

Sekitar 4 bulan yang lalu India memproduksi mobil nasional, namanya Tata Nano, 
mesin buatan sendiri, karoseri jelas buatan dalam negeri sendiri, 
market-segment-nya rakyat, ukuran mesin 624cc, konsumsi bahan bakar (bensin) 
1liter untuk 20 km, kapasitas 4 orang, mesin di belakang, laju maks 80 km/jam, 
harga hanya USD 2500 USD saja (alias rp 25 jutaan).

Sekarang kita bandingkan dengan 'mobnas' kita. Beberapa hari lalu di pameran 
mobil Kemayoran dipamerkan 'mobnas' kita, ada 3: GEA produksi INKA Surabaya, 
Tawon produksi SGJ Rangkasbitung, atau Arina produksi UNNES Semarang, 
tiga-tiganya hampir sekelas. Ambil contoh GEA: mesin buatan INKA, karoseri 
jelas bisa dibuat INKA, segmen market nya rakyat dan juga, ukuran mesin 650 cc, 
konsumsi bahan bakar (bensin) 1 liter untuk 20-25 km, kapasitas 4 orang, mesin 
di depan, laju maks 85 km/jam, harga jual Rp 40-50 juta (kemungkinan 50 juta) 
alias USD 5000.

Kalau dua-duanya baik tata nano maupun gea tidak ada komponen impor, kenapa 
hanganya beda, mobnas indonesia 2x lebih mahal daripada mobnas india? 
Jawabannya adalah: efisiensi dan koruptabilitas. Di India ekonomi lebih 
efisien, tingkat korupsi juga sangat kecil. Tata nano diproduksi dan 
disertifikasi oleh yang berwenang tanpa perlu bayar. GEA diproduksi: ijin ini, 
ijin itu dari pemda kabupaten, pemda provinsi. Kemudian sertifikasi dari 
dephub: bayar ! Apakah biaya-biaya inefieinsi ini gratis dan ditanggung oleh 
produser mobil? tidak !, komponen biaya ini akan dibebankan kepada konsumen, 
akibatnya harga mobil 2x lebih mahal.

Ada yang seharga 25 juta rupiahan, yaitu Arina, tapi mesinnya 250cc, kapasitas 
2 orang+bagasi. Harga sama tapi fisik beda.

Contoh nyata lain inefisiensi dan koruptabilitas kita:
Harga Kijang innova dalam negeri 160-200 juta rp tergantung model. Ambil contoh 
kijang innova G.20 M/T 180 jutaan rp, tahukah anda bahwa mobil kijang ini 
diimport TAM ke Brunei dengan harga USD 15000 (rp 150 juta), memang beda, 
namanya bukan Kijang Innova seperti di Indonesia, tapi Toyota Innova (tanpa 
kijang), walaupun 100% sama. Konsumen dalam negeri di tipu oleh TAM, karena 
kalau dijual dengan harga 180 juta otr, gak laku di pasaran internasional. Ini 
inefisiensi ekonomi indonesia.

Contoh lain: Almarhum CN-235 buatan IPTN yang harga per unitnya USD 30 juta 
(harga international). Ada yang sekelas dengan dengan CN-235 ini yaitu HC-144 
Ocean Sentry buatan Canada, harganya USD 25 juta saja !, malah ada yang buatan 
Brazil harganya USD 23 juta saja, sama kelasnya. Ya jelas orang pilih yang 
lebih murah dan bukan buatan orang Indonesia. Inefisiensi lagi !.

Melihat jualan IPTN gak laku, Thailand sebagai sesama anggota Asean merasa 
kasihan, dan membeli CN-235, namun karena Thailand gak punya uang cash, maka 
ditukarlah dengan beras ketan ! Ini sungguh-sungguh terjadi.Teknologi indonesia 
dibarter dengan tradisi Thailand.

Eyang Soeharto juga merasa kasihan sama Habibie yang mainannya tidak laku. 
Diperintahkanlah KSAU (Pak Alm Ashadi Tjahjadi, kalau tidak salah) oleh eyang 
untuk membeli CN-235 melalui dana APBN, tapi harganya 32 juta USD, karena salah 
satu pangeran cendana yang menjadi broker dan ngambil untung 2 juta USD sambil 
ongkang-ongkang kaki. Koruptabilitasnya tinggi !

Ternyata inefisien dan korupsi itu merugikan berbagai aspek ditinjau dari 
berbagai aspek apa pun kecuali satu, koruptor itu sendiri (kalau gak ketangkep 
KPK). 

Mari menjadi orang yang efisien tapi tidak pelit, dan jangan korupsi atau jadi 
calon koruptor.

Selamat kepada yang baru lulus dan akan menjadi pemimpin (yang efisien dan 
tidak korup).

Salam
ariva   



_______________________________________________
Ait-indo mailing list
[email protected]
https://listserv.ait.ac.th/mailman/listinfo/ait-indo

Kirim email ke