Dear Pak Wong et al.,

Janji adalah hutang, saya pegang janji itu sampai kapanpun kecuali saya sudah wasalam. Saya juga ingin melihat Indonesia itu sejajar dengan negara-negara skandinavia, paling tidak masuk 10 besar dalam hal kebersihan atas korupsi. Korupsi hilang, inefisiensi pun akah hilang. Rakyat Indonesiapun akan sejahtera, karena duit yang ditilep oleh para koruptor bisa untuk membangun gedung sekolah, rumah sakit, jalan, menyantuni orang fakir, karena UUD 45 mengamanatkan itu.

Janji saya beberapa waktu yl adalah kalau Indonesia masuk jajaran negara bersih 10 besar, saya akan traktir Pak Wong untuk nginep di Baiyoke Tower selama 3 malem. Kalau saya dapat kerja dengan gaji yang lebih baik daripada yang saya terima sekarang ini, dimana pun itu, janji itu akan semakin baik lagi.

Pak Wong, saya sudah lemes bin give up dengan koruptabilitas bangsa kita ini. Saya sudah semangat karena ada KPK, eh gak taunya ketuanya juga doyan golf dan doyan caddy-nya lagi. Padahal golf bersama orang lain apalagi yang ada sangkut pautnya dengan perkara, bagi anggota KPK adalah haram ! menurut kode-etik yang dibuat KPK sendiri. Di Indonesia golf itu adalah sarana lobby tingkat tinggi, apabila jalan formal tidak bisa.

Saya ingin melihat ranking kebersihan Indonesia di atas singapore, sehingga negara ini gak nglunjak indonesia. Orang singapore semua tahu jargon 'better dot than riot' atau 'better dot than idiot' untuk membandingkan mereka dengan orang indonesia. Tapi melihat kecenderungan sekarang, kayaknya mimpi saya untuk nraktir Pak Wong baru akan terjadi 400 tahun lagi, semoga saya salah. Contoh yang kasat mata saja, ingin jadi anggota dpr/dprd/bupati/walikota/gubernur/presiden/pejabat adalah dalam rangka mencari penghasilan. Jadi tidak heran, banyak caleg yang gagal di pileg dan masuk rsj. Di amrik sana kan beda, kata dabye senior, jadi presiden di amrik itu adalah karir turun dalam hal finansial. Di amrik, dabye jr kaya dulu baru jadi presiden. Di RI, jadi presiden dulu baru kaya.

Contoh kecil saja, salah satu cawapres yang sudah dideklarasikan sudah mengeluarkan duit 300 milyar, apakah ini gratis untuk rakyat indonesia? saya sangat menyangsikan itu. Yang kemungkinan besar terjadi adalah, bagaimana ngembaliin duit itu beserta profitnya setelah dia menjabat dan bukan mikirin ekonomi kerakyatan yang menjadi thema kampanye dia!.

salam,
ariva
*yang pernah meninggalkan jabatan dan berbagai fasilitas yang enak demi tidak korupsi


----- Original Message ----- From: "Wong Foek Tjong" <[email protected]>
To: <[email protected]>
Sent: Saturday, May 16, 2009 12:58 PM
Subject: Re: [AIT-Indo] Efisiensi atau koruptabilitas?


Pak Ariva dan teman-teman,

Berbicara soal calon presiden-wakil presiden, siapa ya yang bisa lebih cepat menghilangkan inefisiensi atau koruptibilitas (ini istilah baru yang diperkenalkan oleh Pak Ariva) dan menjadikan Indonesia negara yang masuk sebagai negara sepuluh besar terbersih?

Saya tidak punya motivasi apa-apa dalam hal ini selain teringat janji Pak Ariva dalam e-mail terakhir untuk memberikan penginapan gratis di Baiyok Tower kalau Indonesia masuk dalam kategori itu, ingat kan Pak? Kapan ya saya bisa menagih janji Pak Ariva ini? Apa harus nunggu sampai "lebaran kucing" (ini juga istilah dari Pak Ariva :D)?

Kalau soal CN-235 yang ditukar ketan, lumayalan lah, supaya saya yang di Indonesia bisa beli "kaw niaw" berikut dengan sambel dan ayam gorengnya, nngak usah jauh-jauh pergi ke duck pond-nya AIT.

Salam,

F.T. Wong
(segera datang ke AIT untuk nagih janji Pak Ariva)

Quoting ariv <[email protected]> on 05/16/09:

All,

Sebentar lagi kita akan memilih presiden-wakil presiden baru. Ada 3 pasangan yang sudah mendeklarasikan diri sby-berbudi, jk-win, dan mega-pro. Silakan ditimbang dan dipilih yang terbaik. Tapi saya tidak akan berbicara masalah pilpres, namun ada kaitannya dengan kepemimpinan nasional, yakni: efisiensi ekonomi dan kemampuan untuk korupsi atau tidak korupsi (saya menyingkatnya dengan koruptabilitas).

Mari kita bandingkan Indonesia dan India. Dua negara yang komparabel karena sama-sama negara berkembang, rakyatnya banyak dan miskin. GDP per kapita kedua negara memang beda, kita unggul sedikit di atas India. Indonesia GDP (PPP) USD 3600, sementara India 2600. Ini diukur dari purchasing power parity-nya bukan real GDP. Kalau real GDP nilainya lebih kecil dari itu, kira-kira 1/2 atau 1/3-nya.

Sekitar 4 bulan yang lalu India memproduksi mobil nasional, namanya Tata Nano, mesin buatan sendiri, karoseri jelas buatan dalam negeri sendiri, market-segment-nya rakyat, ukuran mesin 624cc, konsumsi bahan bakar (bensin) 1liter untuk 20 km, kapasitas 4 orang, mesin di belakang, laju maks 80 km/jam, harga hanya USD 2500 USD saja (alias rp 25 jutaan).

Sekarang kita bandingkan dengan 'mobnas' kita. Beberapa hari lalu di pameran mobil Kemayoran dipamerkan 'mobnas' kita, ada 3: GEA produksi INKA Surabaya, Tawon produksi SGJ Rangkasbitung, atau Arina produksi UNNES Semarang, tiga-tiganya hampir sekelas. Ambil contoh GEA: mesin buatan INKA, karoseri jelas bisa dibuat INKA, segmen market nya rakyat dan juga, ukuran mesin 650 cc, konsumsi bahan bakar (bensin) 1 liter untuk 20-25 km, kapasitas 4 orang, mesin di depan, laju maks 85 km/jam, harga jual Rp 40-50 juta (kemungkinan 50 juta) alias USD 5000.

Kalau dua-duanya baik tata nano maupun gea tidak ada komponen impor, kenapa hanganya beda, mobnas indonesia 2x lebih mahal daripada mobnas india? Jawabannya adalah: efisiensi dan koruptabilitas. Di India ekonomi lebih efisien, tingkat korupsi juga sangat kecil. Tata nano diproduksi dan disertifikasi oleh yang berwenang tanpa perlu bayar. GEA diproduksi: ijin ini, ijin itu dari pemda kabupaten, pemda provinsi. Kemudian sertifikasi dari dephub: bayar ! Apakah biaya-biaya inefieinsi ini gratis dan ditanggung oleh produser mobil? tidak !, komponen biaya ini akan dibebankan kepada konsumen, akibatnya harga mobil 2x lebih mahal.

Ada yang seharga 25 juta rupiahan, yaitu Arina, tapi mesinnya 250cc, kapasitas 2 orang+bagasi. Harga sama tapi fisik beda.

Contoh nyata lain inefisiensi dan koruptabilitas kita:
Harga Kijang innova dalam negeri 160-200 juta rp tergantung model. Ambil contoh kijang innova G.20 M/T 180 jutaan rp, tahukah anda bahwa mobil kijang ini diimport TAM ke Brunei dengan harga USD 15000 (rp 150 juta), memang beda, namanya bukan Kijang Innova seperti di Indonesia, tapi Toyota Innova (tanpa kijang), walaupun 100% sama. Konsumen dalam negeri di tipu oleh TAM, karena kalau dijual dengan harga 180 juta otr, gak laku di pasaran internasional. Ini inefisiensi ekonomi indonesia.

Contoh lain: Almarhum CN-235 buatan IPTN yang harga per unitnya USD 30 juta (harga international). Ada yang sekelas dengan dengan CN-235 ini yaitu HC-144 Ocean Sentry buatan Canada, harganya USD 25 juta saja !, malah ada yang buatan Brazil harganya USD 23 juta saja, sama kelasnya. Ya jelas orang pilih yang lebih murah dan bukan buatan orang Indonesia. Inefisiensi lagi !.

Melihat jualan IPTN gak laku, Thailand sebagai sesama anggota Asean merasa kasihan, dan membeli CN-235, namun karena Thailand gak punya uang cash, maka ditukarlah dengan beras ketan ! Ini sungguh-sungguh terjadi.Teknologi indonesia dibarter dengan tradisi Thailand.

Eyang Soeharto juga merasa kasihan sama Habibie yang mainannya tidak laku. Diperintahkanlah KSAU (Pak Alm Ashadi Tjahjadi, kalau tidak salah) oleh eyang untuk membeli CN-235 melalui dana APBN, tapi harganya 32 juta USD, karena salah satu pangeran cendana yang menjadi broker dan ngambil untung 2 juta USD sambil ongkang-ongkang kaki. Koruptabilitasnya tinggi !

Ternyata inefisien dan korupsi itu merugikan berbagai aspek ditinjau dari berbagai aspek apa pun kecuali satu, koruptor itu sendiri (kalau gak ketangkep KPK).

Mari menjadi orang yang efisien tapi tidak pelit, dan jangan korupsi atau jadi calon koruptor.

Selamat kepada yang baru lulus dan akan menjadi pemimpin (yang efisien dan tidak korup).

Salam
ariva


_______________________________________________
Ait-indo mailing list
[email protected]
https://listserv.ait.ac.th/mailman/listinfo/ait-indo

__________ NOD32 4080 (20090515) Information __________

This message was checked by NOD32 antivirus system.
http://www.eset.com



_______________________________________________
Ait-indo mailing list
[email protected]
https://listserv.ait.ac.th/mailman/listinfo/ait-indo

Kirim email ke