Pak Ariva dan teman-teman,
Berbicara soal calon presiden-wakil presiden, siapa ya yang bisa lebih
cepat menghilangkan inefisiensi atau koruptibilitas (ini istilah baru
yang diperkenalkan oleh Pak Ariva) dan menjadikan Indonesia negara yang
masuk sebagai negara sepuluh besar terbersih?
Saya tidak punya motivasi apa-apa dalam hal ini selain teringat janji
Pak Ariva dalam e-mail terakhir untuk memberikan penginapan gratis di
Baiyok Tower kalau Indonesia masuk dalam kategori itu, ingat kan Pak?
Kapan ya saya bisa menagih janji Pak Ariva ini? Apa harus nunggu
sampai "lebaran kucing" (ini juga istilah dari Pak Ariva :D)?
Kalau soal CN-235 yang ditukar ketan, lumayalan lah, supaya saya yang
di Indonesia bisa beli "kaw niaw" berikut dengan sambel dan ayam
gorengnya, nngak usah jauh-jauh pergi ke duck pond-nya AIT.
Salam,
F.T. Wong
(segera datang ke AIT untuk nagih janji Pak Ariva)
Quoting ariv <[email protected]> on 05/16/09:
All,
Sebentar lagi kita akan memilih presiden-wakil presiden baru. Ada 3
pasangan yang sudah mendeklarasikan diri sby-berbudi, jk-win, dan
mega-pro. Silakan ditimbang dan dipilih yang terbaik. Tapi saya tidak
akan berbicara masalah pilpres, namun ada kaitannya dengan
kepemimpinan nasional, yakni: efisiensi ekonomi dan kemampuan untuk
korupsi atau tidak korupsi (saya menyingkatnya dengan koruptabilitas).
Mari kita bandingkan Indonesia dan India. Dua negara yang komparabel
karena sama-sama negara berkembang, rakyatnya banyak dan miskin. GDP
per kapita kedua negara memang beda, kita unggul sedikit di atas
India. Indonesia GDP (PPP) USD 3600, sementara India 2600. Ini diukur
dari purchasing power parity-nya bukan real GDP. Kalau real GDP
nilainya lebih kecil dari itu, kira-kira 1/2 atau 1/3-nya.
Sekitar 4 bulan yang lalu India memproduksi mobil nasional, namanya
Tata Nano, mesin buatan sendiri, karoseri jelas buatan dalam negeri
sendiri, market-segment-nya rakyat, ukuran mesin 624cc, konsumsi
bahan bakar (bensin) 1liter untuk 20 km, kapasitas 4 orang, mesin di
belakang, laju maks 80 km/jam, harga hanya USD 2500 USD saja (alias
rp 25 jutaan).
Sekarang kita bandingkan dengan 'mobnas' kita. Beberapa hari lalu di
pameran mobil Kemayoran dipamerkan 'mobnas' kita, ada 3: GEA produksi
INKA Surabaya, Tawon produksi SGJ Rangkasbitung, atau Arina produksi
UNNES Semarang, tiga-tiganya hampir sekelas. Ambil contoh GEA: mesin
buatan INKA, karoseri jelas bisa dibuat INKA, segmen market nya
rakyat dan juga, ukuran mesin 650 cc, konsumsi bahan bakar (bensin) 1
liter untuk 20-25 km, kapasitas 4 orang, mesin di depan, laju maks 85
km/jam, harga jual Rp 40-50 juta (kemungkinan 50 juta) alias USD 5000.
Kalau dua-duanya baik tata nano maupun gea tidak ada komponen impor,
kenapa hanganya beda, mobnas indonesia 2x lebih mahal daripada mobnas
india? Jawabannya adalah: efisiensi dan koruptabilitas. Di India
ekonomi lebih efisien, tingkat korupsi juga sangat kecil. Tata nano
diproduksi dan disertifikasi oleh yang berwenang tanpa perlu bayar.
GEA diproduksi: ijin ini, ijin itu dari pemda kabupaten, pemda
provinsi. Kemudian sertifikasi dari dephub: bayar ! Apakah
biaya-biaya inefieinsi ini gratis dan ditanggung oleh produser mobil?
tidak !, komponen biaya ini akan dibebankan kepada konsumen,
akibatnya harga mobil 2x lebih mahal.
Ada yang seharga 25 juta rupiahan, yaitu Arina, tapi mesinnya 250cc,
kapasitas 2 orang+bagasi. Harga sama tapi fisik beda.
Contoh nyata lain inefisiensi dan koruptabilitas kita:
Harga Kijang innova dalam negeri 160-200 juta rp tergantung model.
Ambil contoh kijang innova G.20 M/T 180 jutaan rp, tahukah anda bahwa
mobil kijang ini diimport TAM ke Brunei dengan harga USD 15000 (rp
150 juta), memang beda, namanya bukan Kijang Innova seperti di
Indonesia, tapi Toyota Innova (tanpa kijang), walaupun 100% sama.
Konsumen dalam negeri di tipu oleh TAM, karena kalau dijual dengan
harga 180 juta otr, gak laku di pasaran internasional. Ini
inefisiensi ekonomi indonesia.
Contoh lain: Almarhum CN-235 buatan IPTN yang harga per unitnya USD
30 juta (harga international). Ada yang sekelas dengan dengan CN-235
ini yaitu HC-144 Ocean Sentry buatan Canada, harganya USD 25 juta
saja !, malah ada yang buatan Brazil harganya USD 23 juta saja, sama
kelasnya. Ya jelas orang pilih yang lebih murah dan bukan buatan
orang Indonesia. Inefisiensi lagi !.
Melihat jualan IPTN gak laku, Thailand sebagai sesama anggota Asean
merasa kasihan, dan membeli CN-235, namun karena Thailand gak punya
uang cash, maka ditukarlah dengan beras ketan ! Ini sungguh-sungguh
terjadi.Teknologi indonesia dibarter dengan tradisi Thailand.
Eyang Soeharto juga merasa kasihan sama Habibie yang mainannya tidak
laku. Diperintahkanlah KSAU (Pak Alm Ashadi Tjahjadi, kalau tidak
salah) oleh eyang untuk membeli CN-235 melalui dana APBN, tapi
harganya 32 juta USD, karena salah satu pangeran cendana yang menjadi
broker dan ngambil untung 2 juta USD sambil ongkang-ongkang kaki.
Koruptabilitasnya tinggi !
Ternyata inefisien dan korupsi itu merugikan berbagai aspek ditinjau
dari berbagai aspek apa pun kecuali satu, koruptor itu sendiri (kalau
gak ketangkep KPK).
Mari menjadi orang yang efisien tapi tidak pelit, dan jangan korupsi
atau jadi calon koruptor.
Selamat kepada yang baru lulus dan akan menjadi pemimpin (yang
efisien dan tidak korup).
Salam
ariva
_______________________________________________
Ait-indo mailing list
[email protected]
https://listserv.ait.ac.th/mailman/listinfo/ait-indo