|
RINGKASAN
SIFAT SHALAT NABI SHALLALAHU 'ALAIHI
WA SALLAM
Oleh
Syaikh Muhammad Nashiruddin
Al-Albaani
Bagian Kedua dari
Empat Tulisan [2/4]
Perhatian :
Tulisan ini hanya ringkasan, bagi
pembaca yang ingin mengetahui dalil-dalilnya dipersilahkan merujuk buku aslinya
yaitu : "Sifat Shalat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam",
Penulis Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaani
3. NIAT
[28]. Bagi yang akan shalat
harus meniatkan shalat yang akan dilaksanakannya serta menentukan niat dengan
hatinya, seperti fardhu zhuhur dan ashar, atau sunnat zhuhur dan ashar. Niat ini
merupakan syarat atau rukun shalat. Adapun melafazhkan niat dengan lisan maka
ini merupakan bid'ah, menyalahi sunnah, dan tidak ada seorangpun yang
menfatwakan hal itu di antara para ulama yang dotokohkan oleh orang-orang yang
suka taqlid (fanatik buta).
4.
TAKBIR
[29]. Kemudian memulai shalat
dengan membaca. "Allahu Akbar" (Artinya : Allah Maha Besar). Takbir ini
merupakan rukun, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam.
[30]. Tidak boleh mengeraskan
suara saat takbir disemua shalat, kecuali jika menjadi imam.
[31]. Boleh bagi muadzin
menyampaikan (memperdengarkan) takbir imam kepada jama'ah jika keadaan
menghendaki, seperti jika imam sakit, suaranya lemah atau karena banyaknya orang
yang shalat.
[32]. Ma'mum tidak boleh takbir
kecuali jika imam telah selesai takbir.
MENGANGKAT KEDUA TANGAN
DAN CARA-CARANYA.
[33]. Mengangkat kedua
tangan, boleh bersamaan dengan takbir, atau sebelumnya, bahkan boleh sesudah
takbir. Kesemuanya ini ada landasannya yang sah dalam sunah Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam.
[34]. Mengangkat tangan dengan
jari-jari terbuka.
[35]. Mensejajarkan kedua
telapak tangan dengan pundak/bahu, sewaktu-waktu mengangkat lebih tinggi lagi
sampai sejajar dengan ujung telinga. [2]
MELETAKKAN KEDUA TANGAN DAN
CARA-CARANYA
[36]. Kemudian meletakkan tangan
kanan diatas tangan kiri sesudah takbir, ini merupakan sunnah (ajaran) para
nabi-nabi Alaihimus Shallatu was sallam dan diperintahkan oleh Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam kepada para sahabat beliau, sehingga tidak boleh
menjulurkannya.
[37]. Meletakkan tangan kanan
diatas punggung tangan kiri dan diatas pergelangan dan lengan.
[38]. Kadang-kadang
menggenggam tangan kiri dengan tangan kanan.
[3]
TEMPAT MELETAKKAN
TANGAN
[39]. Keduanya diletakkan
diatas dada saja. Laki-laki dan perempuan dalam hal tersebut sama. [4].
[40]. Tidak meletakkan tangan
kanan diatas pinggang.
KHUSU' DAN MELIHAT KE TEMPAT
SUJUD
[41]. Hendaklah berlaku khusu' dalam
shalat dan menjauhi segala sesuatu yang dapat melalaikan dari khusu' seperti
perhiasan dan lukisan, janganlah shalat saat berhadapan dengan hidangan yang
menarik, demikian juga saat menahan berak dan kencing.
[42]. Memandang ke tempat sujud
saat berdiri.
[43]. Tidak menoleh kekanan dan
kekiri, karena menoleh adalah curian yang dilakukan oleh syaitan dari shalat
seorang hamba.
[44]. Tidak boleh mengarahkan
pandangan ke langit (ke atas).
DO'A ISTIFTAAH
(PEMBUKAAN)
[45]. Kemudian membuka bacaan
dengan sebagian do'a-do'a yang sah dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang
jumlahnya banyak, yang masyhur diantaranya ialah :
"Subhaanaka Allahumma wa bihamdika,
wa tabaarakasmuka, wa ta'alaa jadduka, walaa ilaha ghaiyruka".
Perintah ber-istiftah telah sah
dari Nabi, maka sepatutnya diperhatikan untuk diamalkan. [5]
5. QIRAAH
(BACAAN)
[46]. Kemudian wajib berlindung
kepada Allah Ta'ala, dan bagi yang meninggalkannya mendapat dosa.
[47]. Termasuk sunnah jika
sewaktu-waktu membaca.
"A'udzu billahi minasy
syaiythaanirrajiim, min hamazihi, wa nafakhihi, wa nafasyihi"
[48]. Dan sewaktu-waktu membaca
tambahan.
"A'udzu billahis samii-il a'liimi,
minasy syaiythaani ......."
[49]. Kemudian membaca basmalah
(bismillah) disemua shalat secara sirr (tidak diperdengarkan).
MEMBACA
AL-FAATIHAH
[50]. Kemudian membaca surat
Al-Fatihah sepenuhnya termasuk bismillah, ini adalah rukun shalat dimana shalat
tak sah jika tidak membaca Al-Fatihah, sehingga wajib bagi orang-orang 'Ajm (non
Arab) untuk menghafalnya.
[51]. Bagi yang tak bisa
menghafalnya boleh membaca.
"Subhaanallah, wal hamdulillah walaa
ilaha illallah, walaa hauwla wala quwwata illaa billah".
[52]. Didalam membaca
Al-Fatihah, disunnahkan berhenti pada setiap ayat, dengan cara
membaca. (Bismillahir-rahmanir-rahiim) lalu berhenti, kemudian
membaca. (Alhamdulillahir-rabbil 'aalamiin) lalu berhenti, kemudian
membaca. (Ar-rahmanir-rahiim) lalu berhenti, kemudian membaca.
(Maaliki yauwmiddiin) lalu berhenti, dan demikian seterusnya.
Demikianlah cara membaca Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam seluruhnya. Beliau
berhenti diakhir setiap ayat dan tidak menyambungnya dengan ayat sesudahnya
meskipun maknanya berkaitan.
[53]. Boleh membaca.
(Maaliki) dengan panjang, dan boleh pula. (Maliki) dengan
pendek.
BACAAN
MA'MUM
[54]. Wajib bagi ma'mum
membaca Al-Fatihah dibelakang imam yang membaca sirr (tidak terdengar) atau saat
imam membaca keras tapi ma'mum tidak mendengar bacaan imam, demikian pula ma'mum
membaca Al-Fatihah bila imam berhenti sebentar untuk memberi kesempatan bagi
ma'mum yang membacanya. Meskipun kami menganggap bahwa berhentinya imam ditempat
ini tidak tsabit dari sunnah. [6]
BACAAN SESUDAH
AL-FATIHAH
[55]. Disunnahkan sesudah
membaca Al-Fatihah, membaca surat yang lain atau beberapa ayat pada dua raka'at
yang pertama. Hal ini berlaku pula pada shalat jenazah.
[56]. Kadang-kadang bacaan
sesudah Al-Fatihah dipanjangkan kadang pula diringkas karena ada faktor-faktor
tertentu seperti safar (bepergian), batuk, sakit, atau karena tangisan anak
kecil.
[57]. Panjang pendeknya bacaan
berbeda-beda sesuai dengan shalat yang dilaksanakan. Bacaan pada shalat subuh
lebih panjang dari pada bacaan shalat fardhu yang lain, setelah itu bacaan pada
shalat dzuhur, pada shalat ashar, lalu bacaan pada shalat isya, sedangkan bacaan
pada shalat maghrib umumnya diperpendek.
[58]. Adapun bacaan pada shalat
lail lebih panjang dari semua itu.
[59]. Sunnah membaca lebih
panjang pada rakaat pertama dari rakaat yang kedua.
[60]. Memendekkan dua
rakaat terakhir kira-kira setengah dari dua rakaat yang pertama. [7]
[61]. Membaca Al-Fatihah pada
semua rakaat.
[62]. Disunnahkan pula
menambahkan bacaan surat Al-Fatihah dengan surat-surat lain pada dua rakaat yang
terkahir.
[63]. Tidak boleh imam
memanjangkan bacaan melebihi dari apa yang disebutkan didalam sunnah karena yang
demikian bisa-bisa memberatkan ma'mum yang tidak mampu seperti orang tua, orang
sakit, wanita yang mempunyai anak kecil dan orang yang mempunyai
keperluan.
MENGERASKAN DAN MENGECILKAN
BACAAN
[64]. Bacaan dikeraskan pada
shalat shubuh, jum'at, dua shalat ied, shalat istisqa, khusuf dan dua rakaat
pertama dari shalat maghrib dan isya. Dan dikecilkan (tidak dikeraskan) pada
shalat dzuhur, ashar, rakaat ketiga dari shalat maghrib, serta dua rakaat
terakhir dari shalat isya.
[65]. Boleh bagi imam
memperdengarkan bacaan ayat pada shalat-shalat sir (yang tidak
dikeraskan).
[66]. Adapun witir dan shalat
lail bacaannya kadang tidak dikeraskan dan kadang dikeraskan.
MEMBACA AL-QUR'AN DENGAN
TARTIL
[67]. Sunnah membaca Al-Qur'an
secara tartil (sesuai dengan hukum tajwid) tidak terlalu dipanjangkan dan tidak
pula terburu-buru, bahkan dibaca secara jelas huruf perhuruf. Sunnah pula
menghiasi Al-Qur'an dengan suara serta melagukannya sesuai batas-batas hukum
oleh ulama ilmu tajwid. Tidak boleh melagukan Al-Qur'an seperti perbuatan Ahli
Bid'ah dan tidak boleh pula seperti nada-nada musik.
[68]. Disyari'atkan bagi ma'mum
untuk membentulkan bacaan imam jika keliru.
Disalin dari buku Ringkasan Sifat Shalat Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam, Penulis Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaani,
diterbitkan oleh Lembaga Ilmiah Masjid At-Taqwa Rawalumbu Bekasi
Timur. Penerjemah : Amiruddin Abd. Djalil dan M.Dahri.
Foote Note
------------------------------------------------------------------------ Website Islam pilihan anda. http://www.assunnah.or.id http://www.almanhaj.or.id Website kajian Islam -----> http://assunnah.mine.nu Berlangganan: [EMAIL PROTECTED] Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED] ------------------------------------------------------------------------
Yahoo! Groups Links
|
