Assalamualaikum.....
Moga artikel ini bisa bermanfaat tentang masalah bermadzhab....

Perkataan 4 Imam Madzhab di Dalam Mengikuti Sunnah

Penulis : Al-Imam Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani -rahimahullah-

Kiranya sangat bermanfaat untuk disajikan di sini sedikit atau sebagian 
perkataan mereka, dengan harapan, semoga di dalamnya terdapat pelajaran dan 
peringatan bagi orang yang mengikuti mereka, bahkan bagi orang yang mengikuti 
selain mereka yang lebih rendah derajatnya dari taqlid buta, dan bagi orang 
yang berpegang teguh kepada madzab-madzab dan perkataan-perkataan mereka, 
sebagaimana kalau madzab-madzab dan perkataan-perkataan itu turun dari langit. 
Allah Subhanahu Wa Taala, berfirman: "Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu 
dari Tuhan-mu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selainnya. Amat 
sedikitlah kamu mengambil pelajaran (dari padanya)". (QS. Al-Araf :3)

I. ABU HANIFAH

Yang pertama-tama diantara mereka adalah Imam Abu Hanifah An-Numan bin Tsabit. 
Para sahabatnya telah meriwayatkan banyak perkataan dan ungkapan darinya, yang 
semuanya melahirkan satu kesimpulan, yaitu kewajiban untuk berpegang teguh 
kepada hadits dan meninggalkan pendapat para imam yang bertentangan dengannya.

1. "Apabila hadits itu shahih, maka hidits itu adalah madzhabku." (Ibnu Abidin 
di dalam Al-Hasyiyah 1/63)

2. "Tidak dihalalkan bagi seseorang untuk berpegang pada perkataan kami, selagi 
ia tidak mengetahui dari mana kami mengambilnya". (Ibnu Abdil Barr di dalam 
Al-Intiqau fi Fadha ilits Tsalatsatil Aimmatil FuqahaI, hal. 145)

3. Dalam sebuah riwayat dikatakan: "Adalah haram bagi orang yang tidak 
mengetahui alasanku untuk memberikan fatwa dengan perkataanku".

4. Di dalam sebuah riwayat ditambahkan: "sesungguhnya kami adalah manusia yang 
mengatakan perkataan pada hari ini dan meralatnya di esok hari".
5. "Jika aku mengatakan suatu perkataan yang bertentangan dengan kitab Allah 
dan kabar Rasulullah salallahu alaihi Wa Sallam, maka tinggalkanlah 
perkataanku". (Al-Fulani di dalam Al-Iqazh, hal. 50)

II. MALIK BIN ANAS

Imam Malik berkata:
1. "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia yang salah dan benar. Maka 
perhatikanlah pendapatku. Setiap pendapat yang sesuai dengan kitab dan sunnah, 
ambillah dan setiap yang tidak sesuai dengan Al Kitab dan sunnah, 
tinggalkanlah". (Ibnu Abdil Barr di dalam Al-Jami, 2/32)

2. "Tidak ada seorang pun setelah Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam, kecuali 
dari perkataannya itu ada yang diambil dan yang ditinggalkan, kecuali Nabi 
Salallhu Alaihi Wasallam". (Ibnu Abdil Hadi di dalam Irsyadus Salik, 1/227)

3. Ibnu Wahab berkata, "Aku mendengar bahwa Malik ditanya tentang 
menyelang-nyelangi jari di dalam berwudhu, lalu dia berkata, "tidak ada hal itu 
pada manusia. Dia berkata. Maka aku meninggalkannya hingga manusia berkurang, 
kemudian aku berkata kepadanya. Kami mempunyai sebuah sunnah di dalam hal itu, 
maka dia berkata: Apakah itu? Aku berkata: Al-Laits bin Saad dan Ibnu Lahiah 
dan Amr bin Al-Harits dari Yazid bin Amr Al-Maafiri dari Abi Abdirrahman 
Al-Habli dari Al Mustaurid bin Syidad Al-Qirasyi telah memberikan hadist kepada 
kami, ia berkata, "Aku melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam 
menunjukkan kepadaku dengan kelingkingnya apa yang ada diantara jari-jari kedua 
kakinya. Maka dia berkata, "sesungguhnya hadist ini adalah Hasan, Aku 
mendengarnya hanya satu jam. Kemudian aku mendengarnya, setelah itu ditanya, 
lalu ia memerintahkan untuk menyelang-nyelangi jari-jari. (Mukaddimah Al-Jarhu 
wat Tadil, karya Ibnu Abi Hatim, hal. 32-33)

III. ASY-SYAFII

Adapun perkataan-perkataan yang diambil dari Imam Syafii di dalam hal ini lebih 
banyak dan lebih baik, dan para pengikutnya pun lebih banyak mengamalkannya. Di 
antaranya:

1. "Tidak ada seorangpun, kecuali dia harus bermadzab dengan Sunnah Rasulullah 
dan menyendiri dengannya. Walaupun aku mengucapkan satu ucapan dan mengasalkan 
kepada suatu asal di dalamnya dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam yang 
bertentangan dengan ucapanku. Maka peganglah sabda Rasulullah Shallallahu 
Alaihi wa Sallam. Inilah ucapanku." (Tarikhu Damsyiq karya Ibnu Asakir, 15/1/3)

2. "Kaum muslimin telah sepakat bahwa barang siapa yang telah terang baginya 
Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam, maka tidak halal baginya untuk 
meninggalkannya karena untuk mengikuti perkataan seseorang." (Ibnul Qayyim, 
2/361, dan Al-Fulani, hal. 68)

3. "Apabila kamu mendapatkan di dalam kitabku apa yang bertentangan dengan 
Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka berkatalah dengan sunnah 
rasulullah Salallahu alaihi Wa sallam, dan tinggalkanlah apa yang aku katakan." 
Al-Harawi di dalam Dzammul Kalam, 3/47/1)

4. "Apabila Hadist itu Shahih, maka dia adalah madzhabku." (An-Nawawi di dalam 
Al-Majmu, Asy-Syarani, 10/57)

5. "kamu (Imam Ahmad) lebih tahu dari padaku tentang hadist dan orang-orangnya 
(Rijalu l-Hadits). Apabila hadist itu shahih, maka ajarkanlah ia kepadaku 
apapun ia adanya, baik ia dari kufah, Bashrah maupun dari Syam, sehingga 
apabila ia shahih, akan bermadzhab dengannya." ( Al-Khathib di dalam Al-Ihtijaj 
bisy-SyafiI, 8/1)

6. "Setiap masalah yang didalamnya kabar dari Rasulullah Salallahu Alaihi 
Wasallam adalah shahih bagi ahli naqli dan bertentangan dengan apa yang aku 
katakan, maka aku meralatnya di dalam hidupku dan setelah aku mati." 
(Al-Harawi, 47/1)

7. "Apabila kamu melihat aku mengatakan suatu perkataan, sedangkan hadist Nabi 
yang bertentangan dengannya shahih, maka ketahuilah, sesungguhnya akalku telah 
bermadzhab dengannya." (Al-Mutaqa, 234/1 karya Abu Hafash Al-Muaddab)

8. Setiap apa yang aku katakan, sedangkan dari nabi salallahu alaihi wa sallam 
terdapat hadist shahih yang bertentangan dengan perkataanku, maka hadits nabi 
adalah lebih utama. Olah karena itu, janganlah kamu mengikutiku." (Aibnu 
Asakir, 15/9/2)

IV. AHMAD BIN HAMBAL

Imam Ahmad adalah salah seorang imam yang paling banyak mengumpulkan sunnah dan 
paling berpegang teguh kepadanya. Sehingga ia membenci penulisan buku-buku yang 
memuat cabang-cabang (furu) dan pendapat Oleh karena itu ia berkata:

1. "Janganlah engkau mengikuti aku dan jangan pula engkau mengikuti Malik, 
Syafii, Auzai dan Tsauri, Tapi ambillah dari mana mereka mengambil." 
(Al-Fulani, 113 dan Ibnul Qayyim di dalam Al-Ilam, 2/302)

2. "Pendapat AuzaI, pendapat Malik, dan pendapat Abu Hanifah semuanya adalah 
pendapat, dan ia bagiku adalah sama, sedangkan alasan hanyalah terdapat di 
dalam atsar-atsar." (Ibnul Abdl Barr di dalam Al-Jami, 2/149)

3. "Barang siapa yang menolak hadits Rasulullah Salallahu alaihi wa sallam, 
maka sesungguhnya ia telah berada di tepi kehancuran." (Ibnul Jauzi, 182).

Allah berfirman: "Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman 
hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, 
kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap 
putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya" (An-Nisa:65), 
dan firman-Nya: "Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut 
akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih." (An-Nur:63).

Al-Hafizh Ibnu Rajab berkata: "Adalah menjadi kewajiban bagi setiap orang yang 
telah sampai kepadanya perintah Rasulullah Salallahu Alaihi Wa Sallam dan 
mengetahuinya untuk menerangkannya kepada umat, menasehati mereka dan 
memerintahkan kepada mereka untuk mengikuti perintahnya. Dan apabila hal itu 
bertentangan dengan pendapat orang besar diantara umat, maka sesungguhnya 
perintah Rasulullah salallahu alaihi wa Sallam itu lebih berhak untuk 
disebarkan dan diikuti dibanding pendapat orang besar manapun yang telah 
bertentangan dengan perintahnya di dalam sebagian perkara secara salah. Dan 
dari sini, para sahabat dan orang-orang setelah mereka telah menolak setiap 
orang yang menentang sunnah yang sahih, dan barangkali mereka telah berlaku 
keras dalam penolakan ini. Namun demikian, mereka tidak membencinya, bahkan dia 
dicintai dan diagungkan di dalam hati mereka. Akan tetapi, Rasulullah Salallahu 
alaihi wa Sallam adalah lebih dicintai oleh mereka dan perintahnya melebihi 
setiap makhluk lainnya.

Oleh karena itu, apabila perintah rasul itu bertentangan dengan perintah 
selainnya, maka perintah rasul adalah lebih utama untuk didahulukan dan 
diikuti. Hal ini tidak dihalang-halangi oleh pengagungan terhadap orang yang 
bertentangan dengan perintahnya, walaupun orang itu mendapat ampunan. Orang 
yang bertentangan itu tidak membenci apabila perintahnya itu diingkari apabila 
memang ternyata perintah Rasulullah itu bertentangan dengannya. Bagaimana 
mungkin mereka akan membenci hal itu, sedangkan mereka telah memerintahkan 
kepada para pengikutnya, dan mereka telah mewajibkan mereka untuk meninggalkan 
perkataan-perkataan yang bertentangan dengan sunnah."

(Di sadur dari Mukaddimah Kitab Shifatu Shalatiin Nabii SAW, karya Al-Imam 
Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani -rahimahullah).


-----Original Message-----
From: [email protected] on behalf of Warsito
Sent: Mon 3/27/2006 16:04
To: [email protected]
Subject: [assunnah] tanya :posisi 4 mahzab _qunut

Assalaamu alaikum wr wb

Sebelumnya mohon maaf kalo mungkin masalah ini sudah sering dibahas,
saya selama ini belajar islam dari teman dan buku2 islam. Saya nggak
tahu saya itu masuk golongan/mahzab apa, saya baca buku dari berbagai
sumber, dan akhir akhir ini saya tertarik mengikuti diskusi di milis
assunnah ini. Yang mau saya tanyakan:
1. Bagaimana hukumnya islam seseorang yang tidak mengikatkan diri pada
golongan/mahzab tertentu (salah satu dari 4 mahzab), mengambil hukum
syariat dari keempat-empat mahzab apakah dibolehkan?.
2. Bagaimana posisi kaum salaf terhadap masing2 mahzab. (Pandangan kaum
salaf terhadap perbedaan mahzab?)
3. Apa yang harus dilakukan oleh makmum sholat shubuh di belakang imam
yang pakai doa qunut, sedangkan makmum tersebut tidak membaca qunut
sedangkan kewajiban makmum adalah mengikuti imam? Bagaimana solusinya..

mohon maaf saya tidak terbiasa dengan terminology, ana, antum dll..
Sebelumnya terimakasih kepada rekan-rekan yang bersedia membantu,
jazakallah Khoiran..

Regards.




--------------------------------------------
Website Anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED]
--------------------------------------------
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke