Assalamualaikum Warohmatullohi wa barokatuh. Segala puji bagi Alloh yang telah memberikan begitu banyak ni'mat. Sholawat dan Salam semoga terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad Shollallohu 'alaihi wa sallam.
Salah satu fenomena yang menggembirakan kita -salafiyyin- adalah semakin banyaknya sekolah-sekolah Islam yang memberikan pendidikan Islam menurut pemahaman Salafusholih. Diantara kita ada yang mendidik anaknya di sekolah tersebut. Bahkan rela berpisah dari anaknya sedari usia 7 tahun dengan menitipkan ke pondok pesantren untuk mendapatkan pendidikan yang dapat meraih kesuksesan dunia dan akhirat. Alhamdulillah ini adalah bukti betapa cemburunya para orangtua kepada anak-anaknya. Mudah-mudahan kita juga memiliki kecemburuan seperti itu sebagai pengamalan ayat al Qur-an "jagalah diri dan keluargamu dari api neraka." Walaupun demikian hal ini bukanlah sesuatu yang disepakati bersama, dalam arti ada yang pro dan kontra. Yang pro mengatakan inilah solusi tepat untuk mendidik anak kita secara Islami. Yang kontra merasa tidak tega menitipkan anaknya yang sedemikian masih kecilnya dan jauh dari orangtuannya, walaupun yang kontra ini memahami alasan yang dibawakan oleh yang pro. Yang pro juga mengatakan di kota kita belum ada Lembaga pendidikan Islam bermanhaj ahlussunnah wal jama'ah. Sehingga, mereka beralasan, kami lebih tidak tega lagi jika anak kami belajar di sekolah umum. Di lain pihak, pihak yang kontra bukanlah semata-mata tidak setuju terhadap konsep pesantren bagi anak-anak tapi juga melihat kenyataan bahwa biaya pendidikan pondok pesantren juga tidak sedikit. Dari obrolan beberapa ustadz salafy pun ada diantara mereka yang tidak setuju memondokkan anak-anak usia 6 atau tujuh tahun di pesantren Maka hal ini menjadi sesuatu yang dilematis bagi saya pribadi. Bayangkan saja jika kita mulai menitipkan anak sedari usia 6 atau 7 tahun dan mulai usia tersebut sang anak jauh dari orang tuanya. Itu artinya kita hanya "mengecap" kebersamaan dengan anak kita selama enam atau tujuh tahun. Wallohu a'lam. Dari fenomena itu maka di Cilegon -sebuah kota yang belum memiliki lembaga pendidikan ahlussunnah wal jama'ah-sedang beredar wacana homeschooling untuk anak-anak salafiyyin. Wacana ini timbul untuk menganbil jalan tengah antara yang pro dan kontra. Ada baiknya saya jelaskan wacana homeschool ini kepada antum semua dan ana dengan memohon pertolongan Alloh meminta saran & masukan dari antum. Kami memiliki rencana untuk tidak menitipkan anak-anak kami ke pesantren-pesantren yang jaraknya ratusan bahkan ribuan kilometer dari Cilegon dan tidak juga menyekolahkan anak kami ke sekolah sekolah umum. Sebagai gantinya kami akan mendidik sendiri anak-anak kami di rumah kami, minimal sampai usia 12 tahun. Ibunyalah yang akan memberikan pendidikan dasar tersebut. Dalam rentang waktu tersebut kami akan memberikan pendidikan dasar sebagaimana layaknya anak-anak Siswa SD kepada anak anak kami. Kami akan membekali mereka dengan pelajaran-pelajaran dasar Dinul Islam selain juga pelajaran umum sesuai kurikulum DIKNAS. Jika ada mata pelajaran yang tidak dikuasai oleh kami, misalnya matematika, maka kami akan memanggil guru privat untuk mereka. Wacana ini sebetulnya bukan merupakan suatu hal yang baru karena di beberapa negara ada, bahkan tidak sedikit yang mendidik anaknya seperti itu. Demikian sekilas wacana tersebut. Namun tentu saja kami juga tahu diri tentang keterbatasan kami baik dari segi ilmu ataupun wawasan yang berkenaan dengan sistem pendidikan di Indonesia. Dengan memohon pertolongan Alloh ada hal - hal yang ingin ana tanyakan: 1. Jika anak kami ingin mendapatkan ijazah SD formal apakah kita bisa mengikuti program ujian persamaan, yang kalau tidak salah namanya Paket A, B dan C? (Walhamdulillah, kami tidak butuh ijazah dalam mendidik anak-anak kami namun ijazah ini kami anggap sebagai satu sarana untuk melanjutkan pendidikan di pesantren yang membutuhkan ijazah sebagai persyaratan masuknya. Kami berencana setelah memasuki usia remaja barulah kami menitipkan anak kami ke pondok pesantren) 2. Adakah sanksi dari pemerintah jika kita tidak menyekolahkan anak kita ke SD mengingat adanya program wajib belajar 9 tahun? 3. Bagaimana pendapat antum tentang wacana Homeschooling ini? Demikian curahan hati saya yang panjang lebar ini. Atas perhatiannya saya ucapkan Jazakumullohu Khoiron. Seorang bapak dari Maryam, Fathimah, Khodijah, dan Abdurrohman. Abu Maryam Lulu Aliudin ------------------------ Blab-away for as little as 1ยข/min. Make PC-to-Phone Calls using Yahoo! Messenger with Voice. -------------------------------------------- Website Anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id Website audio: http://assunnah.mine.nu Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED] Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED] -------------------------------------------- Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/assunnah/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
