waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatu.
Afwan, kalau yang akh roni maksud adalah membaca surat Yasin dirumah
simayit sesudah meninggal maka harus ada dalil yang jelas, karena ini
menyangkut ibadah ubudiyah dan tidak boleh ada qias dalam masalah ini.
Dan bahkan secara dhahir ini bisa dianggap sebagai niyaha (Meratap)
yang dilarang Nabi salalallahu alaihiwasallam.
Dan setau ana tidak ada contoh dari shahabat yang mereka melakukan hal
ini, padahal andaikata ini bagian dari agama tentu para shahabat
adalah orang yang paling pertama melakukannya karena merekalah yang
paling bersemangat untuk melakukan amal kebaikan.
Dan ana dengar dari seorang ustadz bahwa imam syafi'i berpendapat
bahwa berkumpul-kumpul dirumah simayit termasuk meratap(niyaha),
padahal kita tahu bahwa masyarakat kita sebagian besar bermazhab
syafi'i, tapi dalam banyak masalah, mereka sangat berbeda dengan
pendapat imam syafi'i.
Untuk masalah apakah bacaan qur'an sampai kepada si mayit terjadi
khilaf dikalangan ulama, sebagian mengatakan sampai sebagian
mengatakan tidak. Tetapi yang menjadi masalah bukan membaca qur'an nya
tetapi menetapkan sebuah acara 3 hari, 7 hari, dan berkumpul dirumah
si mayit, dan selalu membaca surat yasin inilah yang menjadi masalah,
sehingga harus didatangkan dalil yang shahih karena dasar diterimanya
ibadah adalah ikhlas karena Allah semata, dan ittiba' kepada nabi
salallahu alaihiwasallam.

Wallahu a'lam.


Quoting roni andriani <[EMAIL PROTECTED]>:

> Assalammu'alaikum warrohmatullohiwabarokaatuh.
>
> tapi bukankah orang yang sudah meninggal itu terputus
> hubungannya dengan dunia, kecuali 3, dan salah satunya
> adalah anak yang sholeh. dan salah satu cara sang anak
> adalah kiriman doa dan bacaan al Quran yang ditujukan
> untuk yang meninggal itu (Tolong koreksi). seperti
> juga ada juga orang yang melaksanakan ibadah haji
> dengan niat pahalanya untuk orang yang sudah
> meninggal, bukankah pahalanya itu boleh untuk yang
> bersangkutan? Bagaimana dengan amal jariyah sang
> almarhum, jika dapat bermanfaat bagi orang, bukankah
> pahalanya akan tetap mengalir ke dia? jadi kenapa
> tidak boleh membaca Al Quran (Surah Yasin) untuk orang
> yang sudah meninggal? Banyak buku yang dibaca, semua
> mengatakan bahwa mereka(almarhum) disana menunggu2
> kiriman doa dari kita yang masih hidup. bukankah kita
> dalam berdoa selalu berdoa untuk muslimin dan muslimat
> yang tidak bisa kita sebutkan satu per satu? mohon
> penjelasannya. mohon maaf bila kurang berkenan.
>
> Wassalam
>
>
>
> --- wae_lagi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> > Wa'alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakaatuh
> > Sedikit yang ana ketahui, dan tolong di koreksi
> > seandainya salah.
> > Sepanjang yang ana ketahui bahwa hadits yang antum
> > bawakan adalah
> > hadits yang dho'if sebagaimana yang dikatakan oleh
> > Syaikh Imam
> > Muhaddits Al Albani Rahimahullah Ta'ala dalam kitab
> > beliau Ahkamul
> > Janaiz (Kalau tidak salah terjemahannya sudah
> > diterbitkan Pustaka
> > Imam Asy Syafi'i).
> >
> > Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani Rahimahullah
> > menyatakan bahwa
> > membacakan surat yasin ketiak ada orang yang sedang
> > naza' dan membaca
> > al Qur'an (membaca surat Yasin atau surat-surat
> > lainnya) ketika
> > berziarah ke kubur adalah bid'ah dan tidak ada
> > asalnya sama sekali
> > dari sunnah nabi Shallallahu 'Alahi wa Sallam yang
> > shahih.
> >
> > Silahkan merujuk ke buku tersebut...
> > Wallahu A'lam
> >
> >
> > --- In [email protected], "Yandi" <[EMAIL PROTECTED]>
> > wrote:
> > >
> > > Assalammu'alaikum arrohmatullohiwabarokaatuh.
> > > Saya dpt mail dari teman spt di bawah ini, mohon
> > pencerahan dari
> > teman2x yg telah memahami hal ini.
> > >
> > > Menurut Imam Syaukani dalil sahnya hadiah pahala
> > bacaan al-Qur`an
> > untuk orang yang sudah mati adalah sabda Nabi SAW,
> > "Bacakanlah kepada
> > orang-orang yang sudah meninggal di antara kamu
> > surat Yasin" (Arab :
> > iqra`uu 'ala mautaakum yaasiin) (HR Ahmad, Abu
> > Dawud, Ibnu Majah,
> > Ibnu Hibban, al-Hakim; hadits hasan, Imam
> > As-Suyuthi, al-Jami' al-
> > Shaghir, I/52).
> > >
> > > Maksud mautaakum dalam hadits itu ialah
> > "orang-orang yang sudah
> > meninggal di antara kamu", bukan "orang-orang yang
> > hendak meninggal
> > di antara kamu." Demikian penegasan Imam Syaukani
> > yang mengartikan
> > mautaakum dalam makna hakikinya (makna sebenarnya),
> > untuk membantah
> > ulama seperti al-Khaththabi yang mengartikannya
> > secara majazi
> > (kiasan), yaitu "orang-orang yang hendak meninggal."
> > (Nailul Authar,
> > hal. 776-778; Subulus Salam, II/91).
> > >
> > > Wassalam


_____________________________________________
Email gratis 4 MB dengan fasilitas POP3 dan SMTP.
Kunjungi Indonesia Interactive http://www.i2.co.id.




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Join modern day disciples reach the disfigured and poor with hope and healing
http://us.click.yahoo.com/lMct6A/Vp3LAA/i1hLAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

--------------------------------------------
Website Anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED]
--------------------------------------------
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke