Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
 
Ikut urun rembug ya akhi fillah.
 
Berdasarkan nash yang shahih, jumlah Asma'ul Husna yang sesungguhnya tidak ada yang mengetahui kecuali Allah Ta'ala sediri sebagai Dzat yang Maha Mengetahui. 
 
Membatasi asma dan sifat Allah Ta'ala dengan bilangan tertentu adalah bertentangan dengan syariat sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin, seperti membatasi bahwa sifat Allah Ta'ala hanya ada 20 atau asma Allah Ta'ala hanya ada 99 dan lainnya. 
 
Dan kaum yang membatasi asma dan sifat Allah Ta'ala biasanya disebut Muathil sebagaimana kelompok Jahmiyah, Mu'tazilah, Asy'ariyah dan lainnya.
 
Semoga tulisan berikut ini bisa bermanfaat.
 
Jumlah Asma’ul Husna
 
Jumlah sebenarnya dari asma’ul husna adalah tidak diketahui dan tidak dibatasi dengan bilangan.  Sesungguhnya Allah Ta’ala memiliki asma’ dan sifat yang hanya Dia sendiri yang mengetahui dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Nya.  Malaikat yang dekat dan Nabi yang diutus tidak ada yang mengetahuinya sebagaimana dalam hadits shahih,
 
“Aku memohon kepada-Mu dengan seluruh asma’-Mu yang Engkau telah namakan untuk diri-Mu, atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu atau Engkau ajarkan kepada seseorang diantara makhluk-Mu atau masih dalam rahasia ghaib pada-Mu yang hanya Engkau sendiri yang mengetahuinya” (HR. Ahmad I/391, dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam Takhrij al Kalimatuth Thayyib)
 
Adapun sabda Rasulullah ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam,
 
“Inna lillaHi tis’atan wa tis’iinasman mi-atan illa waahidan man ah-shaaHaa dakhalal jannaH” yang artinya “Sesungguhnya Allah memiliki 99 asma’, seratus kurang satu, barangsiapa yang menghitungnya niscaya ia masuk surga” (HR. al Bukhari, Muslim, at Tirmidzi, Ibnu Majah dan lainnya)
 
Hadits ini adalah satu jumlah, dan sabda beliau, “Barangsiapa yang dapat menghitungnya niscaya ia masuk ke dalam Surga”.  Ini adalah sifat, bukan kalimat yang menunjukkan masa yang akan datang, maksudnya Dia memiliki asma’ yang terhitung, barangsiapa yang dapat menghapalnya niscaya dia akan masuk surga.
 
Namun hal ini tidak menafikan kalau dia memiliki asma yang lainnya.  Seperti anda katakan, “Si fulan memiliki seorang budak yang dia persiapkan untuk berjihad, ini tidak menafikan kalau orang itu memiliki budak lainnya yang dia persiapkan untuk keperluan yang lain”.  Dalam hal ini tidak ada perbedaan pendapat diantara para ulama. (Badaa-i’ul Fawaa-id I/166-167 oleh Ibnul Qayyim al Jauziyyah dan Fataawa Ibnu Taimiyyah VI/389-382)
 
Lajnah Daa-imah yang dipimpin oleh Syaikh bin Baz juga telah memberikan fatwa (no. 3862/1401 H)  bahwasannya bukanlah yang dimaksud hadits ini bahwa asma’ Allah hanya 99 saja,  karena susunan kalimatnya tidak menunjukkan makna hasr (pembatasan), namun yang dimaksud adalah pemberitahuan dari Allah Ta’ala tentang beberapa keistimewaan asma’ Allah dan penjelasan besarnya balasan bagi yang menghapalnya.  Dan yang memperkuat pendapat ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallaHu ‘anHu (telah disebutkan haditsnya di atas).
 
Maraji’ :
 
Syarah Asma’ wa Sifat Allah Ta’ala, Syaikh Sa’id bin Ali bin Wahf al Qahthani, Pustaka Imam Syafi’i, Bogor, Cetakan Pertama, Rabi’ul Awwal 1425 H/April 2004 M.
 


indra aa <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Wa'alaikumsalam warahmatullaahi wabarakaatuh.

Prinsip Ahlussunnah dalam memahami Asma dan Sifat Allah adalah
menetapkan Asma dan Sifat Allah yang Allah sendiri menetapkannya
dalam KitabNya (Al Qur'an) maupun melalui penjelasan Rasulullaah
Shalallaahu 'alaihi wa Sallam. Jadi, mengenal Asma dan Sifat Allah
adalah perkara wahyu.

Sedang Imam Al Asy'ari (sebelum bertaubat, ketika masih berfahaman
Mu'tazilah) membuat sifat yang 20 itu adalah berdasarkan akal, bukan
berdasarkan wahyu.

Demikian yang ana ketahui.
Wassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Abu dawud

--- In [EMAIL PROTECTED]s.com, "Rulyanto Eka" <eka.rulyanto@...>
wrote:
>
> Assalaamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuhu,
>
> Saya ada pertanyaan tentang sifat Alloh yang 20. Mudah2an ada yang
bisa
> sharing ilmu tentang hal ini.
>
> Kebetulan semenjak kecil saya disuruh menghafal dan mempelajari
sifat
> Alloh yang 20, seperti wujud = ada, qidam = dahulu, dst. Hanya saja
> semenjak saya belajar, saya mendapat keterangan bahwa Iman Al
Asy'ari,
> yang mengeluarkan sifat Alloh yang 20, beliau kemudian bertaubat
dari
> hal yang demikian.
>
> Saya mendapat kesan hal ini cukup penting, mengapa Imam Al Asy'ari
> bertaubat dari hal yang sedemikian ? Apakah hal tersebut sedemikian
> fatal ?
>
> Wassalaamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuhu,
>
> Eka R.




 


Do you Yahoo!?
Next-gen email? Have it all with the all-new Yahoo! Mail Beta. __._,_.___

Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED]





YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke