wa'alaikumussalaam warahmatullah,

antum bisa membaca penjelasan ini diantaranya dalam beberapa buku/fatawa syaikh 
Muhammad bin Shalih al-Utsaimin -rahimahullah- tentang Qodho dan Qodar atau 
Tanya Jawab -nya, tampaknya sudah ada versi onlinenya di website2 (lihat 
almanhaj.or.id), atau buku-buku beliau yang lain seperti : Prinsip Keimanan 
pada bagian akhir2 (beriman kepada Taqdir).

intinya beberapa lafadz al-Qur'an seperti "irodah" tersebut, sebagaimana juga 
yang lainnya (masyiah, kitab, qodho, dll) menurut pandangan ahlussunnah ada dua 
macam. Yaitu, Allah menggunakannya dalam dua macam arti, ada yang dipandang 
secara kauniyah ada yang secara syar'iyyah.

irodah kauniyah, (atau disebut irodah kauniyah, qodariyah, kholqiyyah)
adalah kehendak Allah yang berkaitan dengan kejadian/penetapan taqdir 
penciptaan makhluq-makhluq Nya.

istilah ini diambil dari lafadz Qur'an : "innama amruhu idza arada syaian an 
yaqula lahu KUN fa YAKUN". (Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki 
sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia.) [Yaasiin 82]
(istilah kauniyah ini akar katanya dari Kaana-yakunu-kaunan yg artinya 
menjadi/kejadian).

bahwa semua kejadian alam semesta ini tidak pernah dan tidak akan luput dari 
kehendak Allah, seperti perkataan: apa saja yang dikehendaki Allah pasti akan 
terjadi, dan apa-apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi.

irodah kauniyah tidak selalu hal-hal yang baik (terutama menurut sudut pandang 
manusia umumnya), misalnya terjadinya musibah, kekafiran, kedzaliman dll semua 
terjadi juga atas kehendak Allah.

"Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi 
Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya." [Al-Baqarah 253]

sebaliknya, irodah syar'iyyah (disebut juga irodah syar'iyyah, diniyah, amriyah)
adalah kehendak Allah yang berkaitan dengan syariat-Nya, atau Agama-Nya atau 
perintah-perintah Nya,

irodah syar'iyyah ini pasti perkara-perkara yang baik yang Dia ridhoi yang Dia 
perintahkan, yang Dia jadikan Syariat.
Tetapi irodah ini tidak selalu/mesti terjadi.

dalam lafadz Qur'an misalnya di surat al-Baqoroh tentang puasa, dalam ayat 
tersebut juga dipakai istilah irodah, dengan kata-kata yuridhullaahu (Allah 
menghendaki) bikumul yusro ...dst.
"Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu." 
[al-Baqarah 185]

tapi (sebagaimana kita lihat) ternyata tidak semua manusia taat dan mengerjakan 
puasa.

memahami masalah irodah ini sangat erat kaitannya dengan beriman kepada taqdir, 
karena diantara tingkatan beriman kepada taqdir adalah beriman kepada kehendak 
Allah.

sebagaimana kita tidak boleh beralasan perbuatan maksiat karena taqdir, maka 
memahami irodah pun demikian halnya. Ada beberapa hal juga yang perlu 
diperhatikan, yaitu tentang adab-adab yang diajarkan al-Qur'an. Bahwa Allah 
tidaklah dinisbatkan kepada-Nya perkara-perkara keburukan secara mutlak.

seperti pelajaran dari kisah Nabi Khidhir dalam surat al-Kahfi,
ketika beliau melobangi perahu milik orang-orang miskin, beliau berkata:

"Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, 
dan ARODDTU (aku menghendaki) untuk merusakkan bahtera itu, karena di hadapan 
mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera." [al-Kahfi 79]

yakni ketika menyebut perbuatan merusak (melobangi perahu) maka beliau 
nisbatkan pada diri sendiri,

tetapi ketika membetulkan dinding yang hampir roboh milik seorang anak yatim,  
beliau berkata :
"fa AROODA ROBBUKA (maka Tuhanmu menghendaki) agar supaya mereka sampai kepada 
kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; 
dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. " [al-Kahfi 82]

dan beliau menisbatkan perbuatan yang baik itu kepada Allah.

demikian juga dalam surat al-Jin,

"Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah 
keburukan YANG DIKEHENDAKI bagi orang yang di bumi, ataukah TUHAN MEREKA 
MENGHENDAKI kebaikan bagi mereka." [al-Jin 10]

ketika menyebut keburukan maka para jin mukmin yang punya adab ini pun memakai 
kalimat pasif (sehingga tidak tersebut Subyeknya), sedangkan ketika menyebut 
kebaikan dinisbatkan secara tegas kepada Allah.

semoga Allah memberikan kepada kita kefahaman, dan menjauhkan syubhat2 
orang-orang yang menyimpang.
waAllahu a'lam bis shawab.





Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke