Wa'alaiykumussalaam warahmatullaah wabarakaatuh,

Ana coba kasih tanggapan ya akh tentang nasihat yang menurut antum dari 
psikolog.

"Kalau anda marah, maka keluarkan saja"

Antum baca buku psikologi populer atau dengar langsung dari psikolognya? 
Mungkin yang perlu ana sampaikan, hati2 dengan buku psikologi populer yang 
dijual bebas di pasaran karena yang membuatnya justru banyak yang bukan 
psikolog. Dengan kata lain, carilah ilmu/informasi dari sumbernya (ahlinya), 
sehingga kita tidak keliru dalam menyimpulkan segala sesuatu.

Dalam teori psikologi yang menggunakan pendekatan ilmiah (jadi bukan pendapat 
seseorang atau pemikiran filsafat), jika kita mengalami stress, maka kita 
tentunya mencoba mengatasi stress tsb (coping stress) untuk menurunkan 
ketegangan yang kita alami (release tension). Cara mengatasi masalah tsb bisa 
melalui problem focus coping, yaitu dengan cara langsung menyelesaikan sumber 
masalah (terbagi 5 strategi), bisa juga dengan emotion focused coping, yaitu 
berusaha menenangkan kondisi emosi karena sumber stress tersebut berada di luar 
kontrol pribadi seseorang (terbagi 5 strategi). Mana yang lebih baik di antara 
keduanya, hal ini tergantung masalah yang kita alami, dan bisa jadi keduanya 
dapat digunakan secara simultan. Contoh kasus akh Joy, jika seseorang sedang 
marah, maka emotion focused coping lebih baik bagi dirinya karena saat tsb ia 
harus mengontrol dirinya terlebih dahulu untuk menyelesaikan masalah nantinya 
(problem focused coping). Apa yang ia lakukan untuk emotion focused coping? 
Salah satu strateginya adalah pendekatan agama (religion). Nah, seperti yang 
akh joy gambarkan dari hadis yang menyuruh diam jika kita marah, itu adalah 
benar. Langkah konkritnya bisa berwudhu, kemudian melakukan relaksasi untuk 
mengubah saraf kita yang tegang tadi (kerja saraf sympatis) menjadi lebih 
tenang (kerja syaraf parasympatis).  Relaksasi bisa berupa sholat, berdoa, 
dzikir dll untuk menenangkan diri, akhirnya kita menjadi lebih tenang dan diam 
dan bisa mengontrol situasi. Selain itu, cara release tension yang lain bisa 
dengan menyalurkan energi tsb (seperti yang akh joy katakan "keluarkanlah") 
dengan mengalihkan ke kegiatan lain, seperti berolah raga (bola, renang, dll). 
Jika proses emotion focused selesai (kondisi mulai tenang dan pikiran sudah 
mulai terang), baru dilanjutkan ke problem focused coping yaitu menyelesaikan 
konflik dengan cara positif (misalnya, berdiskusi, bicara hati ke hati ke 
sumber konflik, dll). Nah, selain kedua coping tadi, ternyata teridentifikasi 
juga adanya 3 strategi coping yang maladaptif, salah satunya adalah jika orang 
tersebut langsung berhadapan dengan sumber konflik tanpa pikir panjang yang 
membuatnya mengeluarkan emosi kemarahannya tidak pada tempatnya. Nah, ana 
khawatir justru yang antum maksud adalah coping jenis ini, yang diyakini oleh 
teori psikologi yang ilmiah (bukan populer) sebagai coping yang tidak sesuai, 
bahkan akan menimbulkan masalah yang baru bagi si subjek. Wajar saja 
bertentangan dengan agama, bukan?

Ana tidak menutup mata bahwa ilmu psikologi itu dibangun dari dunia barat. Tapi 
kalau asalnya dari Yahudi ana malah nggak tau ya? Setahu ana psikologi itu 
diakui sebagai ilmu tahun 1879 (kalau nggak salah) bersamaan didirikannya 
laboratorium psikologi pertama di Leipzig Jerman oleh Wilhelm Wundt 
berkebangsaan Jerman juga. Tokoh psikologi era 1900an sih memang ada yang 
yahudi. Lah, tokoh2 dari disiplin ilmu lain juga ada yang Yahudi kok. Hanya 
saja yang paling penting kita lakukan adalah jika memang tidak bersesuaian 
dengan ajaran Islam, tentu harus kita tinggalkan.

Mengenai dasar ilmu filsafat, psikologi adalah ilmu tengah2, sehingga ada yang 
tertarik ke kutub kiri yaitu filsafat (semoga banyak psikolog yang terhindar di 
kutub ini), tapi banyak sekali yang tertarik ke kutub kanan (ilmiah, 
metodologis, yang terkait dengan ilmu eksakta, kedokteran, biologi dan 
informatika). Bahkan dewasa ini ilmu psikologi tidak berdiri sendiri dalam 
menjelaskan perilaku manusia, namun sudah interdisipliner, dimana ilmuwan 
psikologi bekerja sama dengan ilmuwan kedokteran dalam membahas brain, nerves 
and behavior, ilmuwan dari biologi dan kimia dalam membahas biokimiawi tubuh 
(neurotransmitter) yang terkait dengan tingkah laku, ilmuwan dari teknik 
elektro dan informatika dalam hal analisis kemampuan higher mental function 
seperti persepsi visual, auditory, memory, emosi dll, dengan menggunakan 
teknologi komputer, pencitraan otak dll.

Saya setuju, dalam melakukan konseling dan terapi, tentunya pendekatan agama 
yang pertama kali kita tonjolkan, khususnya untuk kasus2 seperti perasaan 
gundah, konflik rumah tangga, masalah hati, jin dan guna2, dll. Namun untuk 
masalah2 berat, yang penyebabnya sudah multiple (misalnya terkait faktor 
genetika, kerusakan otak, trauma psikologis yang berat, dll) yang bisa kita 
lihat dari kasus-kasus pasien schizophrenia alias gangguan jiwa yang sangat 
berat dimana pasien mengalami kehilangan kontak dengan realitas, anak2 autisme, 
hiperaktif, cacat mental, anak2 korban trauma seksual (sodomi), dll), rasanya 
teknik yang sudah teruji secara ilmiah, yang dengan izin ALLAH, mampu untuk 
menyelesaikan masalah pasien2 tsb, dan tentunya tidak bertentangan dengan 
syar'i, perlu dipertimbangkan untuk membantu mengatasi masalah orang2 tsb.

Wallaahu'alam.

Abu Naufal


Joy Rizki PD <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Assalamu'alaykum warahmatuullahi wabarakatuh

Ana bukan psikolog
namun menemukan satu hal
yg ana pikir, ini nasihatnya psikolog

Yaitu:
"Kalau anda marah, maka keluarkan saja"

"Keluarkan" bisa diartikan dgn "Lampiaskan"
yaitu dgn berbagai macam pelampiasan
apakah dgn teriak2 atau macam2

Sedangkan dalam hadits Nabi shallallahu 'alayhi wasallam
beliau bersabda yg intinya
(afwan ana enggak tahu detailnya)

"Jika engkau marah, maka diamlah.
Jika engkau marah, maka diamlah.
Jika engkau marah, maka diamlah."

Beliau shallallahu'alayhi wasallam mengulang nya sampai 3 kali.

Jadi ada satu hal (yg ana temui)
dari sudut pandang psikologi
yg kebetulan bertentangan dengan Sunnah

nb:
Ana tidak sedang membahas hukumnya Ilmu Psikologi (Umum)
ana hanya sharing sesuatu hal (yg ana kira) dari psikologi
yg bertentangan dgn Sunnah

Masalah hukumnya?
Maka tanyakanlah pada Ulama.

Namun
karena Al Qur'an dan Sunnah pun mengatur masalah hati dan jiwa manusia
maka akan lebih baik jika kita mengupas "Psikologi Islam" yg diatur
dalam Qur'an dan Sunnah.
Sedangkan kebanyakan di Universitas2 sekarang
sepertinya (Wallahu'alam) adalah psikologi dari Barat

Wallahu'alam

Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh



---------------------------------
Yahoo! Messenger with Voice. Make PC-to-Phone Calls to the US (and 30+ 
countries) for 2ยข/min or less.





Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke