komentar, moga manfaat:
  1. benar, jangan menggeneralisir penyimpangan satu kader PKS kepada semua 
kader atau angggota. Ini nggak baek. Tapi, jika kesalahan kader, terus 
partainya nggak komentar alias diem-diem saja, maka kondisinya bisa dimaknai 
s-7. Sama seperti keadaan satu ormas besar di Indonesia yang mendiemkan praktik 
kemusyrikan yg dilakukan anggotanya, dan tabarruk dgn kuburan sana dan kuburan 
sini. Maka pendiaman ormas itu adalah bisa dimaknai dan bukti jelas ormas itu 
setuju. Makanya, bedanya ahlus sunnah dgn yg lainnya adalah ahlus sunnah 
menjalankan nasihat, membudayakan kritik dan saling mengingatkan dalam berbagai 
tingkatannya, dari yg paling lembut hingga yg paling tegas.
   
  2. ungkapan "jangan karena beda, maka bla bla bla." ini perlu didetailkan. 
Jika beda antara golkar, PDI, PKS, PPP, dll maka itu betul, sama-sama parpol 
pejuang demokrasi. (Kita mungkin masih inget, kunjungan sejumlah petinggi 
negara ini ke USA, dan eropa, diantaranya melaporkan kemajuan demokrasi. Inget 
ini)
  3. Namun jika beda antara partai dengan da'wah ahlus sunnah, ya memang beda 
jauh. Parpol itu kerjannya tidak bisa keluar dari undang-undang 45 dan 
pancasila, sedangkan ahlus sunnah tidak mesti begitu. sebab Islam itu lintas 
negara. Kita saja hajinya ke saudi. Moso. mau haji ke kuburan sunan bonang, 
misalnya?? atau haji ke istiqlal JKT, hanya karena kita lahir di Indonesia? 
tidak bukan. 
  4. Perbedaan itu semua, inget, tidak keluar dari ke Islaman, jadi hak sesama 
muslim harus di jaga. Apa itu? hak dinasihati jika salah, hak salam, hak 
dijenguk jika sakit, hak disantuni jika butuh santunan.
  wallahu a'lam
  dhea
  ===

hanif hanif <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          assalamu alaikum

maaf,
sebenarnya kalau mau keluar insya Allah mudah. Tinggal keluar saja langsung. 
Mau ijin atau nggak, terserah mana yg ahsan. Tergantung sikon. FYI, itu bukan 
kajian. Tetapi hanya pre-kajian. Kalau ingin kajian, ya datanglah langsung ke 
ahlinya yg faqih dalam agama. Saya sendiri adalah anggota PKS dan telah lama 
aktif. Mau ikut terserah, mau nggak juga terserah. Kalau pingin tahu, ya ikut 
sambil dibanding2kan dg yg lain. Dan tidak bisa perbuatan salah satu kader 
dijadikan alasan semua kader menyetujui. Ada banyak background. Dan pemahaman 
kader satu dg yg lain juga gak sama.

Mengenai buku acuan. Liqo' saya terakhir di ITS justru menggunakan buku2 
salafus salih (ibnu taimiyah, ibnul qoyyim, etc). Ini semua tergantung dari 
tingkat pemahaman murobbi. Saya sebut liqo' terakhir karena saya sekarang 
"sendirian" di prancis. Liqo' saya sekarang dg antum semua di milis assunnah, 
milis PKS jerman, dan sesama muslim (terutama dari afrika utara-arab) di prancis

Pesan saya, ikut atau nggak ikut harap tetap dijaga silaturrahim. Jangan hanya 
karena beda, gak nyapa. Gak saling kasih salam. Gak senyum. Padahal sama2 masih 
berstatus penuntut ilmu. Allahu a'lam

salam,

Hanif

On 24/08/06, capi capi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> assalamualaikum
> saya, ikut kajian dengan sistem liqo, dan memang kebanyakan sistem liqo
> itu digunakan oleh IM. kebanyakan mereka memakai buku yusuf qardawi, hasan
> albana. saya sarankan, sebaiknya jangan ikut. soalnya kebanyakan
> ujung-ujungnya ke (partai) PKS dan sulit untuk keluar dari kelompok itu,
> contoh seperti saya yang sekarang mau keluar dari kelompok itu sangat sulit.
> lagi pula, dalam kajian itu kalau mereka menggunakan dalil, terkadang tidak
> jelas menerangkannya. kalo saya bilang, lebih baik ikut ta'lim yang jelas
> ilmu ustadnya.




Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : [EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke