>From: budi sidik <[EMAIL PROTECTED]> 
>Date: Mon Dec 18, 2006 1:20 pm
>Assalamu 'alaikum warohmatullaahi wabarokaatuh
>Adakah rekan-rekan yang dapat memberikan banyak dalil tentang 
>keutamaan para shohabat sehingga mereka menjadi rujukan dalam 
>manhaj ahlussunnah ?
>Jazakauloh khoiron katsiron
>Wassalamu 'alaikum warohmatullaahi wabarokaatuh

Alhamdulillahir Rabbil 'alamin
Para shahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang-orang 
yang telah mendapatkan keridhaan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Mereka 
telah berjuang bersama Rasulullah untuk menegakkan Islam dan mendakwahkannya 
keberbagai pelosok negeri, sehingga kita dapat merasakan ni'matnya iman dan 
Islam.

Perjuangan mereka dalam li'ila-i kalimatillah telah banyak menelan harta dan 
jiwa. Mereka adalah manusia yang sepenuhnya tunduk kepada Islam, benar-benar 
membela kepentingan umat Islam, setia kepada Allah dan Rasul-Nya tanpa 
kompromi, mereka tunduk kepada hukum-hukum agama Allah, tujuan mereka adalah 
untuk mendapatkan keridhaan Allah dan Sorga-Nya.

Model dan corak kehidupan masyarakat Islam terwujud dalam kehidupan mereka 
sehari-hari, model masyarakat Islam seperti yang tercermin dalam Al-Qur'an 
dan As-Sunnah benar-benar dipraktekkan oleh mereka dan hal yang seperti ini 
belum pernah kita jumpai dalam sejarah umat sejak dulu sampai hari ini. 
Hidup mereka dilandasi Iman, cinta kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka 
selalu berjalan dalam prinsip-prinsip yang telah digariskan Allah.

Persoalan 'Adalatus Shahabah (Keadilan Shahabat) sudah diyakini oleh umat 
Islam dari masa Shahabat sampai hari ini, bahwa merekalah orang-orang yang 
adil dan benar. Tetapi dalam rangkaian sejarah yang panjang ada saja 
kelompok yang selalu merongrong eksitensi perjuangan mereka bersama 
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Membicarakan sikap dan kedudukan shahabat dan mengkritiknya berarti 
mengkritik Al-Qur'an dan Sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. 
Meragukan keadilan mereka berarti meragukan kesaksian Allah dan pujian Allah 
serta pujian Rasulnya terhadap mereka.

Orang-orang Syi'ah mengkritik para shahabat dengan menggunakan 
portongan-potongan ayat Qur'an dan hadits Nabi untuk kepentingan hawa nafsu 
mereka, dan meninggalkan puluhan ayat dan ratusan hadits Nabi yang shahih 
yang memuji keadilan shahabat.

Standar nilai dan tolok ukur prilaku mereka yang tepat adalah Al-Qur'an dan 
Sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan sebagai penguat adalah 
pendapat Jumhur Ulama kaum Muslimin.

Oleh karena itu penulis akan paparkan nash-nash tentang 'adalah shahabat.

Lengkapnya silakan baca di situs http://www.almanhaj.or.id

SEMUA SAHABAT RASULULLAH ADALAH ADIL DAN HARAM HUKUMNYA MENCACI MAKI MEREKA

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

http://www.almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1195&bagian=0
http://www.almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1196&bagian=0
http://www.almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1197&bagian=0

KEWAJIBAN MENGIKUTI CARA BERAGAMANYA SAHABAT

Oleh
Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat


Dan barangsiapa yang menentang/memusuhi Rasul sesudah nyata baginya 
al-hidayah (kebenaran) dan dia mengikuti selain jalannya orang-orang mu’min, 
niscaya akan Kami palingkan (sesatkan) dia ke mana dia berpaling (tersesat) 
dan akan Kami masukkan dia ke dalam jahannam dan (jahannam) itu adalah 
seburuk-buruknya tempat kembali. [An-Nisa’ : 115]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah di muqaddimah kitabnya “Naqdlul 
Mantiq” telah menafsirkan ayat “jalannya orang-orang mu’min” (bahwa) mereka 
adalah para sahabat. Maksudnya bahwa Allah telah menegaskan barangsiapa yang 
memusuhi atau menentang rasul dan mengikuti selain jalannya para sahabat 
sesudah nyata baginya kebenaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah dan 
didakwahkan dan diamalkan oleh Rasulullah bersama para sahabatnya, maka 
Allah akan menyesatkannya kemana dia tersesat (yakni dia terombang-ambing 
dalam kesesatan).

Ayat yang mulia ini merupakan sebesar-besar ayat dan dalil yang paling tegas 
dan terang tentang kewajiban yang besar bagi kita untuk mengikuti “jalannya 
orang-orang mu’min” yaitu para sahabat. Yakni cara beragamanya para sahabat 
atau manhaj mereka berdasarkan nash Al-Kitab dan As-Sunnah diantaranya ayat 
di atas.

Jika dikatakan : Kenapa “sabilil mukminin atau jalannya orang-orang mukmin” 
di ayat yang mulia ini ditafsirkan dengan para sahabat (?!) bukan umumnya 
orang-orang mu’min??

Saya jawab berdasarkan istinbath (pengambilan; penggalian) dari ayat di 
atas:

Pertama
Ketika turunnya ayat yang mulia ini, tidak ada orang mu’min di permukaan 
bumi ini selain para sahabat. Maka, khithab (pembicaraan) ini pertama kali 
Allah tujukan kepada mereka.

Kedua
Mahfumnya, bahwa orang-orang mu’min yang sesudah mereka (para sahabat) dapat 
masuk ke dalam ayat yang mulia ini dengan syarat mereka mengikuti jalannya 
orang-orang mu’min yang pertama yaitu para sahabat. Jika tidak, berarti 
mereka telah menyelisihi jalannya orang-orang mu’min sebagaimana ketegasan 
firman Allah di atas.

Ketiga
Kalau orang-orang mu’min di ayat yang mulia ini ditafsirkan secara umum, 
maka jalannya orang mu’min manakah? Apakah mu’minnya Khawarij atau 
Syiah/Rafhidhah atau Mu’tazilah atau Murji’ah atau Jahmiyyah atau Falasifah 
atau Sufiyyah atau….atau…?

Keempat
Perjalanan orang-orang mu’min yang paling jelas arahnya, aqidah dan 
manhajnya hanyalah perjalanan para sahabat. Adapun yang lain mengikuti 
perjalanan mereka, baik aqidah dan manhaj.

Kelima
Perjalanan orang-orang mu’min yang paling alim terhadap agama Allah yaitu 
Al-Islam hanyalah para sahabat. Allah telah menegaskan di dalam Kitab-Nya 
yang mulia bahwa mereka adalah orang-orang yang telah diberi ilmu. [Muhammad 
: 16]

Keenam
Perjalanan orang-orang mu’min yang mulia yang paling taqwa kepada Allah 
secara umum hanyalah para sahabat.

Ketujuh
Perjalanan orang-orang mu’min yang paling taslim (menyerahkan diri) kepada 
Allah dan Rasul-Nya secara umum hanyalah para sahabat.

Kedelapan
Perjalanan orang-orang mu’min yang ijma’ (kesepakatan) mereka menjadi hujjah 
dan menjadi dasar hukum Islam yang ketiga setelah Al-Qur’an dan As-Sunnah 
hanyalah ijma’ para sahabat. Oleh karena itu tidak ada ijma’ kecuali para 
sahabat atau setelah terjadi ijma’ diantara mereka. Demikian itu juga 
sebaliknya, mustahil terjadi perselisihan apabila para sahabat telah ijma’. 
Dan tidak ada yang menyalahi ijma’ mereka kecuali orang-orang sesat dan 
menyesatkan yang telah mengikuti “selain jalannya orang-orang mu’min”.

Kesembilan
Perjalanan orang-orang mu’min yang tidak pernah berselisih didalam aqidah 
dan manhaj hanyalah perjalanan para sahabat bersama orang-orang yang 
mengikuti mereka tabi’in dan tabi’ut tabi’in dan seterusnya.

Kesepuluh
Para sahabat adalah sebaik-baik umat ini dan pemimpin mereka.[Bacalah 
I’laamul Muwaqqi’iin juz 1 hal 14 oleh Imam Ibnul Qayyim]

Kesebelas
Para sahabat adalah ulama dan muftinya umat ini. [Bacalah I’laamul 
Muwaqqi’iin juz 1 hal 14 oleh Imam Ibnul Qayyim]

Keduabelas
Para sahabat adalah orang-orang yang pertama-tama beriman kepada Allah dan 
Rasul-Nya. Oleh karena itu Allah memerintahkan manusia untuk mengikuti 
mereka [Al-Baqarah :13]

Ketigabelas
Para sahabat telah dipuji dan dimuliakan oleh Allah dibanyak tempat di dalam 
Kitab-Nya yang mulia.

Keempat belas
Bahwa perjalanan para sahabat telah mendapat keridhaan Allah dan merekapun 
ridha kepada Allah [At-Taubah :100]

Kelima belas
Perjalanan para sahabat telah menjadi dasar, bahwa Allah akan meridhai 
perjalannnya orang-orang mu’min dengan syarat mereka mengikuti "jalannya 
orang-orang mu’min yang pertama yaitu para sahabat". Mahfumnya, bahwa Allah 
tidak akan meridhai mereka yang tidak mengikuti perjalanannya Al-Muhajirin 
dan Al-Anshar [At-Taubah :100]

Keenam belas
Sebaik-baiknya sahabat para nabi dan rasul ialah sahabat-sahabat Rasulullah.

Ketujuh belas
Tidak ada yang marah dan membenci para sahabat kecuali orang-orang kafir. 
[Tafsir Ibnu Katsir surat Al-Fath :29]

Kedelapan belas
Dan tidak ada yang menyatakan bodoh terhadap para sahabat kecuali 
orang-orang munafik. [Al-Baqarah : 13].

Kesembilan belas.
Rasulullah telah bersabda: "Sebaik-baik manusia adalah yang hidup di 
zamanku, kemudian yang sesudah mereka" [Hadist Shahih mutawatir dikeluarkan 
oleh Bukhari dan Muslim dan lain-lain]

Generasi pertama adalah sahabat, yang kedua tabi’in dan yang ketiga adalah 
tabiut tabi’in. mereka inilah dinamakan dengan nama Salafush Shalih 
(generasi pendahulu yang shalih) yakni tiga generasi terbaik dari umat ini. 
Kepada mereka inilah kita meruju’ cara beragama kita dalam mengamalkan nash 
Al-Qur’an dan As-Sunnah di atas. Sedangkan orang-orang yang mengikuti mereka 
dinamakan Salafiyyun dari zaman ke zaman sampai hari ini.

Kedua puluh.
Rasulullah telah bersabda pada waktu hajjatul wada’ (haji perpisahan): 
"Hendaklah orang yang hadir diantara kamu menyampaikan kepada yang tidak 
hadir". [Hadist shahih riwayat Bukhari dan Muslim dari jalan beberapa orang 
sahabat]

Hadist yang mulia ini meskipun bersifat umum tentang perintah tabligh dan 
dakwah akan tetapi para sahabatlah yang pertama kali diperintahkan oleh 
Rasulullah untuk bertabligh dan berdakwah, sebagai contoh bagi umat ini dan 
agar diikuti oleh mereka bagaimana cara bertabligh dan berdakwah yang benar 
di dalam menyampaikan yang hak. Oleh karena itu hadist yang mulia ini 
memberikan pelajaran yang tinggi kepada kita diantaranya:

[a]. Bahwa dakwah mereka adalah haq dan lurus di bawah bimbingan Nabi yang 
mulia.

[b]. Bahwa mereka adalah orang-orang kepercayaan Rasulullah. Kalau tidak, 
tentu Rasulullah tidak akan memerintahkan mereka untuk menyampaikan dari 
beliau.

[c]. Bahwa mereka kaum yang benar, lawan dari dusta, yang amanat, lawan dari 
khianat. Bahwa mereka telah di ta’dil (dinyatakan bersifat adalah : tsiqah/ 
terpercaya dan dhabt/teliti) oleh Rabb mereka, Allah, dan oleh nabi mereka. 
Oleh karena itu Ahlussunnah Wal Jama’ah telah ijma’ bahwa mereka tidak perlu 
diperiksa lagi dengan sebab di atas. Keadilan dan ketsiqahan mereka tidak 
diragukan lagi. Allahumma! Kecuali oleh kaum Syi’ah dan Rafhidhah dari cucu 
Abdullah bin Saba’ si Yahudi hitam dan orang-orang mereka yang dahulu dan 
sekarang.

[d]. Bahwa wajib bagi kita kaum muslimin mengikuti cara dakwahnya para 
sahabat, bagaimana dan apa yang mereka dakwahkan dan seterusnya. Adapun 
dalam masalah keduniaan seperti alat dan sarana mengikuti perkembangan zaman 
dan tingkat pengetahuan manusia, seperti menggunakan kendaraan yang ada pada 
zaman ini atau alat perekam dan pengeras suara dan lain-lain.

Keduapuluh satu.
Rasulullah telah bersabda : "Janganlah kamu mencaci-maki sahabat-sahabatku! 
Kalau sekiranya salah seorang dari kamu menginfaqkan emas sebesar gunung 
Uhud, niscaya Tidak akan mencapai derajat mereka satu mud-pun atau setegah 
mud". [Hadist Shahih riwayat Bukhari dan Muslim]

Keduapuluh dua.
Para sahabat secara umum telah dijanjikan jannah (sorga). [At-Taubah : 100]

Keduapuluh tiga.
Secara khusus sebagian sahabat telah diberi khabar gembira oleh Nabi sebagai 
penghuni sorga, seperti Abu Bakar, Umar, Ustman, Ali dan lain-lain.

Keduapuluh empat.
Para sahabat telah berhasil menguasai dunia membenarkan janji Allah di dalam 
Kitab-Nya yang mulia [Tafsir Ibnu Katsir surat An-Nuur ayat 55]

Keduapuluh lima.
Perjalanan orang-orang mu’min yang paling kuat “Ukhuwwah Islamiyyahnya” 
ialah para sahabat berdasarkan nash Al-Qur’an dan As-Sunnah serta Tarikh.

Keduapuluh enam.
Di dalam ayat yang mulia ini Allah tidaklah mencukupkan firman-Nya dengan 
perkataan: ”Barangsiapa yang memusuhi Rasul sesudah nyata baginya 
kebenaran…., niscaya akan palingkan dia….”. dan kalau Allah mencukupinya 
sampai disitu pasti hak/benar. Akan tetapi terdapat hikmah yang dalam ketika 
Allah mengkaitkan dengan “dan dia mengikuti selain jalannya orang-orang 
mu’min -yaitu para sahabat. Dari sini kita mengetahui, bahwa di dalam 
berpegang dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, harus ada jalan atau cara di dalam 
memahami keduanya. Jalan atau cara itu adalah “jalannya orang-orang mu’min 
yaitu para sahabat”. Jadi urutan dalilnya sebagai berikut : Al-Qur’an 
As-Sunnah. Keduanya menurut pemahaman para sahabat atau cara beragama 
mereka, aqidah dan manhaj.

[Dikutip dari Kitab besar saya yaitu “Menanti Buah Hati Dan Hadiah Untuk 
Yang Dinanti]
http://www.almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=907&bagian=0

[Disalin dari Majalah As-Sunnah edisi : 02/V/1421-2001M, hal 51-53, Penerbit 
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl Solo Purwodadi Km 8 Selokaton 
Gondangrejo Solo 57183]

_________________________________________________________________
Express yourself instantly with MSN Messenger! Download today it's FREE! 
http://messenger.msn.click-url.com/go/onm00200471ave/direct/01/



Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : http://www.assunnah.or.id/ragam/aturanmilis.php
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke