ANTARA TA’AWUN SYAR’I DAN HIZBI [1]

Oleh
Markaz al-Imam al-Albani
sumber http://www.almanhaj.or.id

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk saling berta’awun 
(bekerja sama) di dalam kebajikan dan ketakwaan, dan melarang dari saling 
berta’awun di dalam perbuatan dosa dan permusuhan. Allah Jalla wa ‘Ala 
berfirman.

“Artinya : Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan 
takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan 
bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” 
[Al-Ma’idah : 2]

Pertama, Ta’awun yang syar’iy di dalam kebajikan dan ketakwaan merupakan 
kalimat yang mencakup seluruh kebajikan, yang akan membawa kebaikan bagi 
masyarakat muslim dan keselamatan dari keburukan serta sadarnya individu 
akan peran tanggung jawab yang diemban di atas bahunya. Karena ta’awun di 
dalam kehidupan umat merupakan manifestasi dari kepribadiannya dan merupakan 
pondasi di dalam membina perabadan umat.

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata di dalam Tafsir Al-Qur’anil Azhim 
(II/7) menafsirkan ayat diatas [Al-Ma’idah : 2]

“Artinya : Allah Ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya yang mukmin agar 
saling berta’awun di dalam aktivitas kebaikan yang mana hal ini merupakan 
al-Birr (kebajikan) dan agar meninggalkan kemungkaran yang mana hal ini 
merupakan at-Taqwa. Allah melarang mereka dari saling bahu membahu di dalam 
kebatilan dan tolong menolong di dalam perbuatan dosa dan keharaman.”

Termasuk dalam pengertian ini adalah apa yang diriwayatkan oleh Muslim di 
dalam Shahih-nya dari hadits Tamim ad-Dari Radhiyallahu ‘anhu beliau 
berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa salam bersabda : “Agama itu 
nasehat”, beliau ditanya : “Bagi siapa wahai Rasulullah?”, Rasulullah 
menjawab : “Bagi Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, pemimpin kaum muslimin dan 
masyarakat umum.”

An-Nushhu (nasehat) ditinjau menurut bahasa, artinya adalah mengikhlaskan 
diri terhadap sesuatu tanpa disertai tipuan dan khianat. Hal ini merupakan 
kewajiban ulama dan para penuntut ilmu yang pertama kali sebelum lainnya. 
Karena mereka (para ulama) adalah pewaris para nabi, khalifah (pengganti) 
Rasul di dalam menerangkan kebenaran, berdakwah kepada Allah, bersabar atas 
segala rintangan dan mengemban segala kesukaran. Allah Ta’ala berfirman :

“Artinya : Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru 
kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku 
termasuk orang-orang yang menyerah diri?” [Fushshilat : 33]

Kedua, Ta’awun yang syar’iy merupakan konsekuensi dari wala’ (loyalitas) 
kepada kaum muslimin. Allah Ta’ala berfirman :

“Artinya : Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian 
mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh 
(mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar” [At-Taubah : 71]

Barangsiapa yang meninggalkan nasehat kepada saudaranya dan 
menelantarkannya, maka pada hakikatnya ia adalah seorang penipu dan bukan 
pembela mereka. Karena merupakan konsekuensi dari loyalitas adalah 
menasehati dan menolong mereka di dalam kebajikan dan ketakwaan.

Ketiga, Ta’awun diantara kaum muslimin merupakan kekuatan dan pelindung. 
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam telah menyerupakan ta’awun kaum muslimin, 
persatuan dan berpegang teguhnya mereka (pada agama Allah) dengan bangunan 
yang dibangun dengan batu bata yang tersusun rapi kuat sehingga menambah 
kekokohannya. Demikianlah kaum muslimin, semakin bertambah kokoh dengan 
saling tolong menolong di antara mereka. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 
‘alaihi wa salam :

“Artinya : Seorang mukmin dengan mukmin lainnya bagaikan satu bangunan yang 
sebagiannya menguatkan bagian lainnya.”

Tidaklah umat Islam ini menjadi lemah dan musuh-musuhnya menguasai mereka, 
melainkan dikarenakan berpecah belah dan berselisihnya mereka, walaupun 
kuantitas dan jumlah mereka banyak. Allah Ta’ala berfirman :

“Artinya : Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu 
berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang 
kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang 
sabar” [Al-Anfal : 46]

Perkara ini adalah suatu hal yang telah dikenal oleh fitrah yang lurus dan 
diketahui oleh akal yang sehat, sebagaimana dikatakan oleh seorang penyair 
yang bijaksana :

Tombak-tombak enggan menjadi hancur apabila mereka bergabung
Namun apabila berpisah maka akan hancur satu persatu

Semua ini, tidak akan bisa ditegakkan melainkan di atas kalimat tauhid, 
karena kalimat tauhid merupakan pondasinya persatuan umat
.
Keempat, Ta’awun dan ittihad (persatuan).[2]
Sebagaimana firman Allah Ta’ala
“Artinya : Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama 
yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.” [Al-Mu’minun 
: 52]

Dan firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala :

“Artinya : Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama 
yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.” [Al-Anbiya’ : 92]

Ta’awun dan persatuan selayaknya ditegakkan di atas kebajikan dan ketakwaan, 
jika tidak, akan menghantarkan pada kelemahan yang parah, berkuasanya para 
musuh Islam, terampasnya tanah air, terinjak-injaknya kehormatan dan 
terenggutnya tanah muqoddas (Palestina). Sebagai pembenar apa yang 
diberitakan oleh Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Salam :

“Kalian nyaris diperebutkan oleh umat-umat selain kalian sebagaimana makanan 
di sebuah tempayan yang diperebutkan manusia.” Para sahabat bertanya : “apa 
jumlah kita pada saat itu sedikit wahai Rasulullah?” Rasulullah Shallallahu 
‘alaihi wa sallam menjawab : “Bahkan jumlah kalian pada saat itu banyak, 
akan tetapi kalian bagaikan buih, dan Allah akan mengangkat rasa takut 
kepada kalian dari dada musuh-musuh kalian, dan Allah akan menancapkan 
al-Wahn ke dalam hati-hati kalian.” Para sahabat bertanya : “apakah al-Wahn 
itu wahai Rasulullah?”, Rasulullah menjawab : “cinta dunia dan takut 
mati.”[Hadits Riwayat Bukhari Muslim]

Hadits ini mengisyaratkan tentang kesudahan umat ini yang berada di dalam 
kelemahan walaupun banyak jumlahnya, namun mereka berserakan, berjalan tanpa 
arah dan bergerak tanpa tujuan, maka Allah timpakan atas mereka kehinaan 
yang akan menetap di bujur dan lintang (bumi ini). Sebagaimana sabda Nabi 
Shallallahu ‘alahi wa salam :

“Jika kalian telah sibuk dengan jual beli inah (sistem jual beli yang 
terdapat unsur riba, pent.), kalian terbuai dengan peternakan dan bercocok 
tanam, dan kalian tinggalkan jihad, maka akan Allah timpakan di atas kalian 
kehinaan yang tidak akan terangkat sampai kalian kembali ke agama kalian.” 
[Hadits Shahih Riwayat Abu Daud] [3]

Seorang muslim, haruslah memiliki solidaritas dengan saudaranya, turut 
merasakan kesusahannya, tolong menolong di dalam kebajikan dan ketakwaan, 
agar umat Islam dapat menjadi satu tubuh yang hidup, sebagaimana sabda 
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam:

“Perumpamaan kaum mukminin di dalam cinta, kasih sayang dan kelembutan 
bagaikan tubuh yang satu, apabila salah satu anggota tubuh mengeluh maka 
akan memanggil seluruh anggota tubuh lainnya dengan terjaga dan demam.” 
[Muttafaq ‘alaihi]

Kelima, Tawaashi (saling berwasiat) di dalam kebenaran dan kesabaran 
merupakan sebab keselamatan dari kerugian. Saling berwasiat di dalam 
kebenaran dan kesabaran termasuk manifestasi nyata dari ta’awun syar’iy di 
dalam kebajikan dan ketakwaan. Dengan kedua hal ini, akan terpelihara agama 
ini, dan keduanya termasuk amar ma’ruf nahi munkar, merupakan sebab 
diperolehnya kebaikan bagi negeri dan penduduknya. Allah Ta’ala berfirman :

“Artinya : Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, 
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat 
menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi 
kesabaran.” [Al-Ashr]

Kesempurnaan dan totalitas perkara ini adalah dengan saling berwasiat di 
dalam kasih sayang, kecintaan, loyalitas, kelembutan dan perhatian…
Para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Salam tidak pernah berselisih 
kecuali mereka membaca surat Al-Ashr[4]

Keenam, Diantara bentuk manifestasi ta’awun syar’iy di dalam kebajikan dan 
ketakwaan adalah : menghilangkan kesusahan kaum muslimin, menutup aib 
mereka, mempermudah urusan mereka, menolong mereka dari orang yang berbuat 
aniaya, mengajari orang yang bodoh dari mereka, mengingatkan orang yang 
lalai diantara mereka, mengarahkan orang yang tersesat di kalangan mereka, 
menghibur atas duka cita mereka, membantu atas musibah yang yang menimpa 
mereka, menyokong jihad dan dakwah mereka, menyertai mereka di dalam sholat 
jum’at, sholat jama’ah dan ied (perayaan) mereka, mengunjungi orang yang 
sakit, memenuhi undangan, mengantarkan jenazah, mendo’akan orang yang bersin 
dan menolong mereka dalam segala hal yang baik.

Ketujuh, Allah sungguh telah mencela tafarruq (perpecahan), karena 
perpecahan menghilangkan ta’awun (kerja sama), pertautan (hati), kecintaan, 
dan menghantarkan kepada perselisihan, kesedihan dan kebencian. Alloh Ta’ala 
berfirman :

“Artinya : Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan 
Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi 
beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada 
golongan mereka.” [Ar-Rum : 31-32]

Perpecahan merupakan syiar (semboyan) kaum musyrikin, bukan syiarnya kaum 
muwahidin (orang yang bertauhid) lagi mukmin. Oleh karena itu kaum salaf 
membenci tahazzub (berpartai-partai) dan tafarruq (bergolong-golongan). 
Bahkan mereka memerangi dan mengharamkannya.

Kedelapan, Kita telah merasakan dan melihat sendiri apa yang telah dilakukan 
oleh hizbiyah (fanatisme) yang membinasakan, berupa keburukan-keburukan dan 
bencana. Mereka memasukan rasa permusuhan dan kebencian di antara manusia, 
dikarenakan mereka berinteraksi dengan selain mereka dengan asas hizbi 
(kepartaian). Loyalitas mereka hanyalah untuk hizbi dan tanzhim 
(organisasi), tidak untuk Islam dan agama. Mereka lebih mendahulukan ukhuwah 
hizbiyah (persaudaraan kepartaian) ketimbang ukhuwah imaniyah (persaudaraan 
keimanan). Menurut mereka, ta’awun disyaratkan haruslah berafiliasi dulu 
dengan partai mereka [5]. Adapun muslim non partisan, sekalipun ia teman 
lama dan sahabat akrabnya, prinsip mereka terhadapnya adalah “ini termasuk 
kelompoknya dan ini termasuk musuhnya”.

Termasuk keburukan dan penyimpangan mereka lainnya adalah mereka lebih 
mengedepankan orang-orang bodoh, menjadikan gerakannya sebagai ‘gerakan 
bawah tanah’, melemparkan benih-benih keraguan di tengah-tengah kaum 
muslimin, mencampuradukkan antara yang haq dan yang bathil, menjadikan 
luapan semangat dan perasaan sebagai asas, menomorakhirkan ilmu dan membuat 
keragu-raguan terhadap para ulama…

Inilah intisari ringkas keadaan kelompok-kelompok dan partai-partai yang 
mengikat dengan belenggu hizbiyah, yang menyembunyikan ‘desahan nafas’nya 
dengan ikatan rahasia. Apabila seorang muslim dari luar barisan mereka maju, 
maka mereka akan menuduhnya sebagai : mutsabbithun (pengendor semangat), 
musyawwisyun (penyulut kebingungan) dan murjifun (penggoncang barisan) yang 
menghendaki porak-porandanya barisan Islam dan terbukanya rahasia kepada 
musuh-musuh Islam.

Apabila datang seorang pemberi nasehat yang jujur dari barisan mereka, 
niscaya mereka akan menuduhnya sebagai : orang yang menyeleweng dari manhaj, 
orang yang menghendaki perpecahan dan menelantarkan teman seperjuangan.

Imam Robbani, Syaikhul Islam kedua, Ibnu Qoyyim al-Jauziyah Rahimahulahu 
berkata di dalam Madarijus Salikin (III/200) :

“Apabila seorang mukmin yang telah dianugrahi oleh Allah berupa bashiroh 
(ilmu yang mendalam) di dalam agama, pengetahuan akan sunnah Rasul-Nya dan 
pemahaman akan kitab-Nya dan diperlihatkan hawa nafsu, bid’ah, kesesatan dan 
jauh dari shirothol mustaqim, jalannya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa 
salam dan para sahabatnya. Apabila ia menghendaki untuk menempuh jalan ini, 
maka hendaklah ia persiapkan dirinya untuk dicemooh orang bodoh dan ahlul 
bid’ah, dicela dan dihina serta ditahdzir mereka. Sebagaimana pendahulu 
mereka melakukannya kepada panutan dan imam kita Rasul Shallallahu ‘alaihi 
wa salam.

Adapun apabila ia menyeru kepada hal ini dan mencemooh apa-apa yang ada pada 
mereka, maka mereka akan murka dan membuat makar padanya, Maka dirinya 
menjadi orang yang :

Asing didalam agamanya dikarenakan rusaknya agama mereka
Asing didalam berpegangteguhnya ia kepada sunnah, dikarenakan berpegangnya 
mereka dengan kebid’ahan
Asing didalam aqidahnya dikarenakan rusaknya aqidah mereka
Asing didalam sholatnya dikarenakan rusaknya sholat mereka
Asing didalam manhajnya dikarenakan sesat dan rusaknya manhaj mereka
Asing didalam penisbatannya dikarenakan berbedanya penisbatan mereka 
dengannya
Asing didalam pergaulannya terhadap mereka dikarenakan ia mempergauli mereka 
di atas apa yang tidak disenangi hawa nafsu mereka

Kesimpulannya: ia adalah orang yang asing di dalam urusan dunia dan 
akhiratnya, yang masyarakat tidak ada yang mau menolong dan membantunya.

Karena dirinya adalah :
Seorang yang berilmu di tengah-tengah orang yang bodoh
Penganut sunnah di tengah-tengah pelaku bid’ah
Penyeru kepada Allah dan Rasul-Nya di tengah-tengah penyeru hawa nafsu dan 
bid’ah

Penyeru kepada yang ma’ruf dan pencegah dari yang mungkar di tengah-tengah 
kaum yang menganggap suatu hal yang ma’ruf sebagai kemungkaran dan suatu hal 
yang mungkar sebagai ma’ruf.”[6]

http://www.almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=2038&bagian=0

[Disalin dari Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi 24 Th.V Dzulqo’dah 
1427H, Penerbit Ma’had Ali Al-Irsyad As-Salafy Surabaya. Jl. Sidotopo Kidul 
No. 51 Surabaya]
_________
Foote Note
[1]. Dialihbahasakan oleh Abu Salma Al-Atsari dari Mansyuraat (selebaran) 
Markaz al-Imam al-Albani no 3, Robi’ul Awwal, 1422 H, yang berjudul Nubdzatu 
‘Ilmiyyah fit Ta’aawun asy-Syar’iy wat Tahdzir minal Hizbiyyah,
[2]. Yang dimaksud persatuan dalam Islam adalah bersatu dalam menegakkan 
aqidah yang benar dan menghidupkan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam 
dengan cara amar ma’ruf dan nahi mungkar bukan mendiamkan kesyirikan, bid’ah 
ataupun kebaikan. (ed).
[3]. Ini bukan dalil bagi orang-orang yang memulai dan mengutamakan dakwah 
dengan berjihad ala mereka atau dengan melakukan kudeta, karena Rasulullah 
Shallallahu ‘alaihi wa sallam menutup sabdanya dengan ungkapan : “Sampai 
kalian kembali ke agama kalian”. Jadi, obatnya adalah menghidupkan sunnah 
dan ajaran agama Islam (,-pent)
[4]. “Dua orang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika bertemu 
tidaklah akan berpisah hingga salah seorang dari keduanya membaca surat 
Al-Ashr …” [Hadits Riwayat Thabrani dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani 
dalam Ash-Shahihah no. 2648
[5]. Sehingga kita saksikan partai-partai yang mengaku berjuang untuk Islam 
mereka saling berebut anggota partai lain yang berhaluan Islam. Demikian 
juga orang-orang yang terlalu fanatic kepada organisasi dakwah tertentu, 
sehingga terkadang mereka tidak memperdulikan suatu kegiatan dakwah kecuali 
harus atas nama organisasinya atau bahkan mereka jadikan partai/organisasi 
tersebut sebagai standard untuk menentukan siapa lawan dan siapa kawan 
(,-ed)
[6]. Alangkah indahnya ucapan beliau rahimahullah ini ! Sungguh ini adalah 
kenyataan dakwah salafiyah di tengah-tengah ahlu bid’ah semisal harakiyin 
(aktivis harakah), (,-ed)

_________________________________________________________________
Express yourself instantly with MSN Messenger! Download today it's FREE! 
http://messenger.msn.click-url.com/go/onm00200471ave/direct/01/



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
See what's inside the new Yahoo! Groups email.
http://us.click.yahoo.com/0It09A/bOaOAA/yQLSAA/TXWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : http://www.assunnah.or.id/ragam/aturanmilis.php 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke