Assalamualaikum warahmatullah,
Sebenarnya, ana tidak ingin ikutan memberikan komentar mengenai masalah
liqa' ini. Karena beberapa waktu yang lalu sudah pernah panjang lebar
dibahas disini. Namun, ana melihat ada tanggapan yang harus diluruskan, yang
mudah-mudahan tidak membingungkan untuk jamaah kaum muslimin.
Milis assunnah ini adalah milis agama yang diikuti tidak hanya mereka yang
ingin menimba ilmu sesuai dengan pemahaman salafuna shalih, tetapi juga
mereka yang ingin mengetahui dari dalam apa dan bagaimana salaf sendiri.
Bahkan seseorang yang pernah membahas masalah ini memberikan label *ORGANISASI
*kepada pemahaman salafi ini. Sungguh aneh, namun demikianlah kenyataannya
Ana tertarik untuk memberikan beberapa catatan dari al akh Hanif mengenai
difa' beliau kepada manhaj Ikhwani yang beliau ikuti, berikut catatannya
(jika ada yang salah mohon koreksinya):
1. Al akh Hanif mendudukkan diri sebagai seorang Ikhwani yang salafi.
Dibagian awal beliau mencantumkan bahwa beliau adalah kader PKS
("*Alhamdulillah,
meski saya kader PKS, saya selalu mencoba meluruskan berita yang gak benar
tentang semua jamaah (baik ikhwan, ht, salafy, jt, atau yang lain"*)akhir
email beliau mencantumkan suatu kalimat yang intinya adalah salafi ("seorang
muslim yang ingin meniti jejak salafus salih"). Dari sini saja orang akan
bingung bagaimana mungkin bisa Ikhwani jika salafi atau salafi yang ikhwani
(yang dikenal dengan fitnah sururi)
1. Ana pernah beberapa kali pergi keluar negeri, dan memang, di negeri
kafir tidak ada teman yang terbaik kecuali dengan sesama saudara muslim.
Siapa lagi yang berhak kita berwala' kepadanya kecuali saudara kita sesama
kaum muslimin. Jika ini masalahnya, maka jika ada saudara kita kaum muslimin
yang ingin menegakkan sunnah yang shahihah, bukankah kita wajib
berwala' kepada mereka?
1. Yang dilakukan oleh al akh Hanif sifatnya adalah individual ataukah
cerminan dari PKS sendiri. Begini, dalam masalah liqa' yang telah lalu
dimilis ini, ana pernah ceritakan bagaimana pengajian rutin yang ana
selenggarakan di masjid ana akhirnya gulung tikar karena digusur oleh
aktivis PKS. Bahkan, tidak cukup kajiannya yang digusur, perpustakaan masjid
yang buku-bukunya bermanhaj salaf juga harus dikeluarkan dari sana dan
diganti dengan buku-buku pemahaman ikhwani. Kalau ini dianggap sebagai kasus
sebagian kecil sikap ikhwani yang seharusnya tidak demikian, maka
pertanyaannya kemudian sikap mana yang menjadi garis partai kepada
kaum salafiyyin ini, sikap yang ditunjukkan oleh al akh Hanif ataukah sikap
sebagian ikhwani yang menggusur kajian salafi tersebut?
1. Ukuran kebenaran bukanlah personal takarannya. Kita sudah sama-sama
mafhum, bahwa hanya Rasulullah-lah yang kita ittiba' kepadanya. Dan ketika
Rasulullah wafat maka kedudukan para ulama menjadi sangat strategis, karena
merekalah yang sesuai dengan sabda Nabi: pewaris para Nabi. Jika al akh
Hanif mempunyai pendapat tersendiri mengenai manhaj Ikhwani ini, sementara
para ulama' rabbani telah memperingatkan mengenai manhaj ini, maka
pertanyaannya adalah: mana pendapat yang akan diikuti, pendapat para
ulama yang telah mentahdir jamaah ini atas kesesatan manhajnya ataukah
pendapat dari al akh Hanif?
1. Alhamdulillah, jika al akh Hanif mengklaim bahwa ibadah yang
dijalankannya merujuk kepada sumber yang shahihah dalam rangka ittiba'
kepada sunnah ("*Cara solat saya, insya Allah sama persis dengan yang
di buku syaikh Al albani. Untuk dzikir, saya pakai hisnul muslim semenjak
saya tahu bahwa al ma'tsurat ada hadist lemahnya"*). Jika masalah
ibadah, antum sudah merujuk kepada sunnah, maka pertanyaannya
kemudian: mengapakah
antum tidak rujuk kepada yang lebih utama dari itu yakni kepada manhaj yang
shahihah? Walhasil manhaj ini adalah seutama-utama manhaj karena
inilah manhaj para salafuna shalih?
1. Sesungguhnya apa yang coba antum utarakan dengan memberikan
permisalan atas kejadian yang ada di luar negeri sana, tidaklah beranjak
dari kaidah yang telah dikeluarkan oleh Imam Al Hasan Al Banna yang
menyebutkan bahwa: "*marilah kita beramal dalam hal-hal yang kita
sepakati dan kita bertoleransi satu sama lain dalam hal-hal yang kita
perselisihkan*". Ucapan ini tentu tidak benar, antum bisa membaca
kitab: *Ath Thaariq ila Jama'atil 'umm* karya Syaikh Abdussalam Nuh,
yang membahas panjang lebar mengenai dakwah Ikhwan ini.
Mudah-mudah Allah Azza Wa Jalla melemahkan hati yang keras untuk tunduk
kepada kebenaran yang ditunjukiNya dengan masuk ke dalam manhaj yang mulia
ini . Insya Allah.
Wallahu a'lam
Syamsul
On 2/27/07, hanif hanif <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Assalaamu 'alaykum warahmatullahi wabarakaatuh,
bismillah wash shalatu was salaamu 'ala rasuulillah,
Perkenalkan, nama lengkap saya adalah Hanif (nama di KTP/pasport) alias
Hanif HANIF (nama di prancis) alias Hanif s/o Muhammad Ihsan (nama di UAE).
Inilah akibatnya kalau cuma punya satu kata dalam nama. Akhirnya nama saya
jadi bermetamorfosis ketika ke negri lain. Mulai kenal
tarbiyah/ikhwan/PK/PKS sejak 1997.
Meski saya seorang engineer, Saya suka sekali buku sejarah Nabi sampai
khilafah terakhir, politik internasional dan akhlak para sahabat dan salafus
salih. Ketika di ITS, saya rajin baca assunnah, sabili, sahid, etc sebagai
refreshing kuliah. Cara solat saya, insya Allah sama persis dengan yang di
buku syaikh Al albani. Untuk dzikir, saya pakai hisnul muslim semenjak saya
tahu bahwa al ma'tsurat ada hadist lemahnya. Kan lebih baik pakai yang lebih
kuat riwayatnya. Moroever buku hisnul muslim ini sangat terkenal lho di
london.
Akrab dengan para salafiyyin, ikhwan dan tabligh di paris (baik indo
maupun non indo), pernah tinggal sekamar dengan mantan ketua HT dari negara
X waktu di london, dan sekarang tinggal dengan tabligh dari suku pattan
(perbatasan pakistan-afghan) di UAE. FYI, sebagian tabligh di paris itu
memakai riyadhus salihin rather than fadhailul a'mal sebagai bayan ba'da
solat. Dan tabligh pattan teman saya yang sekarang itu ternyata pendukung
berat taliban. Pokoknya beda dengan tabligh yang di indo dan malaysia. Saya
sendiri sangat terbuka dengan semua jamaah. Semua buku dari semua jamaah
saya baca karena memang saya suka baca. Saya selalu mencoba berusaha agar
friksi antar jamaah itu kian mengecil.
Alhamdulillah, meski saya kader PKS, saya selalu mencoba meluruskan berita
yang gak benar tentang semua jamaah (baik ikhwan, ht, salafy, jt, atau yang
lain). Ini dikarenakan banyaknya muslim yang misunderstand tentang jamaah
yang lain, misinformation, dan terlalu ta'ashshub terhadap golongannya.
Pernah ada British muslim dari HT yang mengatakan bahwa syaikh di saudi itu
gak pernah mendoakan umat islam dan paling2 cuman mendoakan secara global
dan tanpa menyebut nama negaranya dan si british itu juga bencinya setengah
mati sama syekh di saudi. Saya faham dia lagi mengolok2 salafy. Langsung
saya tanya, "do u understand arabic". Dia jawab, "no". Langsung saya bilang
kalau saya ini faham bahasa arab dan melihat dan mendengar ke mata dan
telinga saya bahwa syaikh di saudi itu mendoakan mujahidin di palestina,
chechnya, kashmir, dan di mana2. Tahu nggak, setelah kejadian itu, si
british ssekarang belajar private bahasa arab lho sama seorang lulusan
madinah.
Kalau ada personal PKS atau siapapun muslim yang berbuat salah, maka
hadapilah dia sebagai muslim yang perlu dinasehati bukan sebagai jamaah
tertentu. Itulah yang insya Allah selalu saya lakukan sehingga saya bisa
akrab dengan semuanya walau beda warna kulit dan warna rambut, beda bahasa,
beda negara, etc. Ketika ada jamaah X dari negara Y yang salah, maka saya
nasehati dengan dalil yang sahih. Ikut ya syukur, kalau nggak ya gak apa2.
Saya pribadi masih sangat hormat kepada guru ngaji saya yang orang NU meski
dia suka tahlilan. Dari dia lah saya tahu tajwid yang benar dan baca quran.
Semua orang muda di kampung kalau ketemu dia, selalu cium tangan kecuali
saya. Dia juga tahu saya nggak tahlilan, tapi dia juga sayang pada saya
sebagai seorang yang pernah jadi muridnya waktu saya berumur 6 tahun. Teman2
NU saya juga gak masalah dengan saya meski saya nggak qunut dan nggak
tahlilan. Bahkan makin akrab. Bahkan saya pernah ditunjuk sebagai imam solat
mereka di masjid mereka. Rahasianya cuman satu. Ketika ketemu, saya suka
mendahului mengucapkan salam dan suka solat berjamaah. Alhamdulillah,
rasanya saya pusing kalau nggak solat berjamaah karena sudah mejadi
sindariom ketagihan. Ketika telah menjadi sindariom ketagian ini,
Alhamdulillah Allah selalu menganugerahkan kepada saya tempat yang hampir
selalu dekat masjid ketika saya hidup di prancis dan UK. Memang benar
pepatah yang mengatakan, bisa itu karena terbiasa.
Saran saya kepada milister assunnah. Hendaknya apabila ada kesalahan pada
seorang muslim, perlakukanlah dia sebagai muslim pribadi dan bukan
jamaahnya. Lupakanlah barrier/penghalang jamaah. Kalau ada yang salah,
marilah saling mengingatkan dengan cara yang santun sebagaimana salafus
salih. Mungkin si pelaku itu memang gak faham, atau gak tahu atau lupa atau
yang lain. Nggak usahlah berantem karena perbedaan status jamaah. Kalau ada
yang solatnya gak bener, ya diingatkan yang baik. Kalau ada yang suka
bid'ah, ya diberitahu.
Salam,
Hanif
seorang muslim yang ingin meniti jejak salafus salih