KESETIAAN ISTERI KEPADA SUAMINYA

Oleh
Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin Abdir Razzaq
http://www.almanhaj.or.id/content/2125/slash/0

Teguh dengan kesetiaan yang jujur merupakan sifat wanita yang paling utama.

Sebuah kisah menyebutkan, bahwasanya Asma’ binti 'Umais adalah isteri Ja’far 
bin Abi Thalib, lalu menjadi isteri Abu Bakar sepeninggalnya, kemudian 
setelah itu dinikahi oleh ‘Ali Radhiyallahu ‘anhu. Suatu kali kedua 
puteranya, Muhammad bin Ja’far dan Muhammad bin Abi Bakar saling 
membanggakan. Masing-masing mengatakan, “Aku lebih baik dibandingkan dirimu, 
ayahku lebih baik dibandingkan ayahmu.” Mendengar hal itu, ‘Ali berkata, 
“Putuskan perkara di antara keduanya, wahai Asma’.” Ia mengatakan, “Aku 
tidak melihat pemuda Arab yang lebih baik dibandingkan Ja’far dan aku tidak 
melihat pria tua yang lebih baik dibandingkan Abu Bakar.” ‘Ali mengatakan, 
“Engkau tidak menyisakan untuk kami sedikit pun. Seandainya engkau 
mengatakan selain yang engkau katakan, niscaya aku murka kepadamu.” Asma’ 
berkata, “Dari ketiganya, engkaulah yang paling sedikit dari mereka untuk 
dipilih” [1]

Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu berwasiat agar Asma’ binti ‘Umais Radhiyallahu 
‘anhuma memandikannya (saat kematiannya). Ia pun melakukannya, sedangkan ia 
dalam keadaan berpuasa. Lalu ia bertanya kepada kaum Muhajirin yang datang, 
“Aku berpuasa dan sekarang adalah hari yang sangat dingin, apakah aku wajib 
(harus) mandi?” Mereka menjawab, “Tidak.” Sebelumnya Abu Bakar Radhiyallahu 
‘anhu menekankan kepadanya agar (ketika memandikannya) dia tidak dalam 
keadaan berpuasa, seraya mengatakan, “Itu membuatmu lebih kuat.”

Kemudian ia teringat sumpah Abu Bakar pada akhir siang, maka ia meminta air 
lalu meminumnya seraya mengatakan, “Demi Allah, aku tidak ingin mengiringi 
sumpahnya pada hari ini dengan melanggarnya” [2]

Ketika kaum pendosa lagi fasik mengepung pemimpin yang berbakti dan “sang 
korban pembunuhan” kaum berdosa, ‘Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu ‘anhu dan 
mereka menyerangnya dengan pedang, maka isterinya (Na'ilah binti 
al-Furafishah) maju ke hadapan beliau sehingga menjadi pelindung baginya 
dari kematian. Para pembunuh yang bengis ini tidak menghiraukan kehormatan 
wanita ini dan mereka terus menebas ‘Utsman dengan pedang, (namun sang 
isteri menangkisnya) dengan mengepalkan jari-jari tangannya, hingga 
jari-jarinya terlepas dari tangannya. Isterinya menggandengnya lalu terjatuh 
bersamanya, kemudian mereka membunuh ‘Utsman [3].

Ketika Amirul Mukminin Mu’awiyah Radhiyallahu ‘anhu melamarnya, ia menolak 
seraya mengatakan, “Demi Allah, tidak ada seorang pun yang dapat 
menggantikan kedudukan 'Utsman (sebagai suamiku) selamanya."[4]

Di antara tanda-tanda kesetiaan banyak wanita shalihah kepada suami mereka 
setelah kematiannya bahwa mereka tidak menikah lagi. Tidak ada yang dituju 
melainkan agar tetap menjadi isteri mereka di dalam Surga"[5]

Dari Maimun bin Mihran, ia mengatakan: “Mu’awiyah bin Abi Sufyan 
Radhiyallahu ‘anhu meminang Ummud Darda’, tetapi ia menolak menikah 
dengannya seraya mengatakan, ‘Aku mendengar Abud Darda’ mengatakan: ‘Aku 
mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda.

ÇáúãóÑúÃóÉõ Ýöíú ÂÎöÑö ÃóÒúæóÇÌöåóÇ¡ Ãóæú ÞóÇáó: áÂÎöÑö ÃóÒúæóÇÌöåóÇ.

“Artinya :Wanita itu bersama suaminya yang terakhir,’ atau beliau 
mengatakan, ‘untuk suaminya yang terakhir"[6]

Dari ‘Ikrimah bahwa Asma’ binti Abi Bakar menjadi isteri az-Zubair bin 
al-‘Awwam, dan dia keras terhadapnya. Lalu Asma’ datang kepada ayahnya untuk 
mengadukan hal itu kepadanya, maka dia mengatakan, “Wahai puteriku, 
bersabarlah! Sebab, jika wanita memiliki suami yang shalih, kemudian dia 
mati meninggalkannya, lalu ia tidak menikah sepeninggalnya, maka keduanya 
dikumpulkan di dalam Surga” [7]

Dari Jubair bin Nufair, dari Ummud Darda’ bahwa dia berkata kepada Abud 
Darda’, “Sesungguhnya engkau telah meminangku kepada kedua orang tuaku di 
dunia, lalu mereka menikahkanmu denganku. Dan sekarang, aku meminangmu 
kepada dirimu di akhirat.” Abud Darda’ mengatakan, “Kalau begitu, janganlah 
menikah sepeninggalku.” Ketika Mu’awiyah meminangnya, lalu ia menceritakan 
tentang apa yang telah terjadi, maka Mu’awiyah mengatakan, “Berpuasalah! [8]

Ketika Sulaiman bin ‘Abdil Malik keluar dan dia disertai Sulaiman bin 
al-Muhlib bin Abi Shafrah dari Damaskus untuk melancong, keduanya melewati 
sebuah pekuburan. Tiba-tiba terdapat seorang wanita sedang duduk di atas 
pemakaman dengan keadaan menangis. Lalu angin berhembus sehingga menyingkap 
cadar dari wajahnya, maka ia seolah-olah mendung yang tersingkap matahari. 
Maka kami berdiri dalam keadaan tercengang. Kami memandangnya, lalu Ibnul 
Muhlib berkata kepadanya, “Wahai wanita hamba Allah, apakah engkau mau 
menjadi isteri Amirul Mukminin?” Ia memandang keduanya, kemudian memandang 
kuburan, dan mengatakan:

"Jangan engkau bertanya tentang keinginanku
Sebab keinginan itu pada orang yang dikuburkan ini, wahai pemuda
Sesungguhnya aku malu kepadanya sedangkan tanah ada di antara kita
Sebagaimana halnya aku malu kepadanya ketika dia melihatku”

Maka, kami pergi dalam keadaan tercengang.[9]

Di antara teladan yang pantas disebutkan sebagai teladan utama dari para 
wanita tersebut adalah Fathimah binti ‘Abdil Malik bin Marwan. Fathimah 
binti Amirul Mukminin ‘Abdil Malik bin Marwan ini pada saat menikah, ayahnya 
memiliki kekuasaan yang sangat besar atas Syam, Irak, Hijaz, Yaman, Iran, 
Qafqasiya, Qarim dan wilayah di balik sungai hingga Bukhara dan Janwah 
bagian timur, juga Mesir, Sudan, Libya, Tunisia, Aljazair, Barat jauh, dan 
Spanyol bagian Barat. Fathimah ini bukan hanya puteri Khalifah Agung, bahkan 
dia juga saudara empat khalifah Islam terkemuka: al-Walid bin ‘Abdil Malik, 
Sulaiman bin ‘Abdil Malik, Yazid bin ‘Abdil Malik dan Hisyam bin ‘Abdil 
Malik. Lebih dari itu dia adalah isteri Khalifah terkemuka yang dikenal 
Islam setelah empat khalifah di awal Islam, yaitu Amirul Mukminin ‘Umar bin 
‘Abdil ‘Aziz.

Puteri khalifah, dan khalifah adalah kakeknya
Saudara khalifah, dan khalifah adalah suaminya

Wanita mulia yang merupakan puteri khalifah dan saudara empat khalifah ini 
keluar dari rumah ayahnya menuju rumah suami-nya pada hari dia diboyong 
kepadanya dengan membawa harta termahal yang dimiliki seorang wanita di muka 
bumi ini berupa perhiasan. Konon, di antara perhiasan ini adalah dua liontin 
Maria yang termasyhur dalam sejarah dan sering disenandungkan para penya’ir. 
Sepasang liontin ini saja setara dengan harta karun.

Ketika suaminya, Amirul Mukminin, memerintahkannya agar membawa semua 
perhiasannya ke Baitul Mal, dia tidak menolak dan tidak membantahnya sedikit 
pun.

Wanita agung ini -lebih dari itu- ketika suaminya, Amirul Mukminin ‘Umar bin 
‘Abdul ‘Aziz wafat meninggalkannya tanpa meninggalkan sesuatu pun untuk diri 
dan anak-anaknya, kemudian pengurus Baitul Mal datang kepadanya dan 
mengatakan, “Perhiasanmu, wahai sayyidati, masih tetap seperti sedia kala, 
dan aku menilainya sebagai amanat (titipan) untukmu serta aku memeliharanya 
untuk hari tersebut. Dan sekarang, aku datang meminta izin kepadamu untuk 
membawa (kembali) perhiasan tersebut (kepadamu).”

Fathimah memberi jawaban bahwa perhiasan tersebut telah dihibahkannya untuk 
Baitul Mal bagi kepentingan kaum muslimin, karena mentaati Amirul Mukminin. 
Kemudian dia mengatakan, “Apakah aku akan mentaatinya semasa hidupnya, dan 
aku mendurhakainya setelah kematiannya? [10]

[Disalin dari kitab Isyratun Nisaa Minal Alif Ilal Yaa, Edisi Indonesia 
Panduan Lengkap Nikah Dari A Sampai Z, Penulis Abu Hafsh Usamah bin Kamal 
bin Abdir Razzaq, Penterjemah Ahmad Saikhu, Penerbit Pustaka Ibnu Katsair]
__________
Foote Note
[1]. Thabaqaat Ibni Sa’ad (II/2080), Abu Nu’aim dalam al-Hilyah (II/36), 
Siyar A’laamin Nubalaa’ (II/286); al-Ishaabah (VII/491).
[2]. Thabaqaat Ibni Sa’ad (VIII/208).
[3]. Audatul Hijaab (II/533), dan dinisbatkan kepada ad-Durrul Mantsuur fii 
Thabaqaat Rabaatil Khuduur (hal. 517).
[4]. Siyar A’laamin Nubalaa’ (VII/343).
[5]. ‘Audatul Hijaab (II/534).
[6]. As-Silsilah ash-Shahiihah, Syaikh al-Albani (no. 1281), shahih.
[7]. As-Silsilah ash-Shahiihah, Syaikh al-Albani (III/276), shahih.
[8]. Siyar A’laamin Nubalaa’ (IV/278).
[9]. Akhbarun Nisaa' (hal. 138), dan kitab ini dinisbatkan secara keliru 
kepada Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. Yang benar bahwa beliau tidak pernah 
menulis kitab ini.
[10]. ‘Audatul Hijaab (II/538)

_________________________________________________________________
Try it now! Live Search: Better results, fast. 
http://get.live.com/search/overview



Website anda: http://www.assunnah.or.id & http://www.almanhaj.or.id
Website audio: http://assunnah.mine.nu
Berhenti berlangganan: [EMAIL PROTECTED]
Ketentuan posting : http://www.assunnah.or.id/ragam/aturanmilis.php 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke