*Musim Hujan Telah Tiba
(1)<http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/musim-hujan-telah-tiba-1.html>
*

Kategori: Fiqh dan Muamalah <http://muslim.or.id/category/fiqh-dan-muamalah>

Segala puji bagi Allah *ta'ala* atas segala macam nikmat yang telah
diberikan-Nya. Dan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad *shallallahu
'alaihi wa sallam* beserta keluarga, para sahabatnya dan pengikutnya hingga
akhir zaman.

Segala puji bagi Allah, pada saat ini Allah telah menganugerahkan kita suatu
karunia dengan menurunkan hujan melalui kumpulan awan. Allah *ta'ala*berfirman:

* "Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang
menurunkannya atau Kamikah yang menurunkannya?"* (QS. Al Waqi'ah [56]:
68-69)

Begitu juga firman Allah *ta'ala*:

* "Dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah."* (QS. An Naba'
[78]: 14)

Allah *ta'ala* juga berfirman:

* "Maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya."* (QS. An Nur
[24]: 43) yaitu dari celah-celah awan. (Lihat *Majmu' Fatawa* Ibnu
Taimiyyah, 24/262, Maktabah Syamilah)

Merupakan tanda kekuasaan Allah *ta'ala*, kesendirian-Nya dalam menguasai
dan mengatur alam semesta, Allah menurunkan hujan pada tanah yang tandus
yang tidak tumbuh tanaman sehingga pada tanah tersebut tumbuhlah tanaman
yang indah untuk dipandang. Allah *ta'ala* telah mengatakan yang demikian
dalam firman-Nya:

* "Dan di antara tanda-tanda-Nya (ialah) bahwa kau lihat bumi kering dan
gersang, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan
subur. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya, Pastilah dapat menghidupkan
yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu."* (QS.
Fushshilat [41]: 39)

Itulah hujan, yang Allah turunkan untuk menghidupkan tanah yang mati.
Sebagaimana pembaca dapat melihat pada daerah yang kering dan jarang sekali
dijumpai air seperti Gunung Kidul, tatkala hujan itu turun, datanglah
keberkahan dengan mekarnya kembali berbagai tanaman dan pohon jati kembali
hidup setelah sebelumnya kering tanpa daun. Sungguh ini adalah suatu
kenikmatan yang amat besar.

Sebagai tanda syukur kepada Allah atas nikmat hujan yang telah diberikan
ini, sebaiknya kita mengilmui beberapa hal seputar musim hujan. Semoga dari
tulisan yang singkat ini, pembaca dapat menggali ilmu yang bermanfaat di
dalamnya. Silakan menyimak!

*ADAB KETIKA HUJAN*

*Turunnya Hujan, Salah Satu Waktu Terkabulnya Do'a*

Ibnu Qudamah dalam *Al Mughni*, 4/342 mengatakan, "Dianjurkan untuk berdo'a
ketika turunnya hujan, sebagaimana diriwayatkan bahwa Nabi *shallallahu
'alaihi wa sallam* bersabda,

* "Carilah do'a yang mustajab pada tiga keadaan: [1] Bertemunya dua pasukan,
[2] Menjelang shalat dilaksanakan, dan [3] Saat hujan turun."* (Dikeluarkan
oleh Imam Syafi'i dalam Al Umm dan Al Baihaqi dalam Al Ma'rifah dari Makhul
secara mursal. Dishohihkan oleh Syaikh Al Albani, lihat hadits no. 1026 pada
Shohihul Jami')

Begitu juga terdapat hadits dari Sahl bin Sa'd, beliau berkata bahwa
Rasulullah *shallallahu 'alaihi wa sallam* bersabda,

* "Dua orang yang tidak ditolak do'anya adalah: [1] ketika adzan dan [2]
ketika rapatnya barisan pada saat perang."* Dalam riwayat lain
disebutkan, *"Dan
ketika hujan turun."* (HR. Abu Daud dan Ad Darimi, namun Ad Darimi tidak
menyebut, *"Dan ketika hujan turun."* Dikatakan shohih oleh Syaikh Al
Albani. Lihat *Misykatul Mashobih*)

*Mensyukuri Nikmat Turunnya Hujan*

Apabila Allah memberi nikmat dengan diturunkannya hujan, dianjurkan bagi
seorang muslim untuk membaca do'a,

*"Ya Allah, turunkanlah hujan yang bermanfaat."*

Itulah yang Nabi *shallallahu 'alaihi wa sallam* ucapkan ketika melihat
hujan turun. Hal ini berdasarkan hadits dari Ummul Mukminin, Aisyah
*radhiyallahu
'anha*, Rasulullah *shallallahu 'alaihi wa sallam* tatkala melihat hujan
turun, beliau *shallallahu 'alaihi wa sallam* mengucapkan 'Allahumma
shoyyiban nafi'an'. (HR. Bukhari, Ahmad, dan An Nasai). Yang dimaksud
shoyyiban adalah hujan. (Lihat *Al Jami' Liahkamish Sholah*, 3/113, Maktabah
Syamilah dan *Zaadul Ma'ad*, I/439, Maktabah Syamilah)

*Tatkala Terjadi Hujan Lebat*

Nabi *shallallahu 'alaihi wa sallam* suatu saat pernah meminta diturunkan
hujan. Kemudian tatkala hujan turun begitu lebatnya, Nabi *shallallahu
'alaihi wa sallam* berdo'a,

* "Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya
Allah, turukanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut
lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan."* (HR. Bukhari no. 1013 dan 1014).
Oleh karena itu, saat turun hujan lebat sehingga ditakutkan membahayakan
manusia, dianjurkan untuk membaca do'a di atas. (Lihat *Al Jami' Liahkamish
Sholah*, 3/114, Maktabah Syamilah)

*Mengambil Berkah dari Air Hujan*

Anas *radhiyallahu 'anhu* berkata, "Kami bersama Rasulullah *shallallahu
'alaihi wa sallam* pernah kehujanan. Lalu Rasulullah *shallallahu 'alaihi wa
sallam* menyingkap bajunya hingga terguyur hujan. Kemudian kami mengatakan,
'Ya Rasulullah, mengapa engkau melakukan demikian?' Kemudian
Rasulullah *shallallahu
'alaihi wa sallam* bersabda,

* "Karena dia baru saja Allah ciptakan."* (HR. Muslim no. 2120)

An Nawawi dalam *Syarh Muslim*, 6/195, makna hadits ini adalah bahwasanya
hujan itu rahmat yaitu rahmat yang baru saja diciptakan oleh Allah *ta'ala*,
maka Nabi *shallallahu 'alaihi wa sallam* bertabaruk (mengambil berkah) dari
hujan tersebut. Kemudian An Nawawi mengatakan, "Dalam hadits ini terdapat
dalil bagi ulama syafi'iyyah tentang dianjurkannya menyingkap sebagian badan
(selain aurat) pada awal turunnya hujan, agar terguyur air hujan tersebut.
Dan mereka juga berdalil bahwa seseorang yang tidak memiliki keutamaan,
apabila melihat orang yang lebih mulia melakukan sesuatu yang dia tidak
ketahui, hendaknya dia menanyakan untuk diajari lalu dia mengamalkannya dan
mengajarkannya pada yang lain." (Lihat *Syarh Nawawi 'ala Muslim*, 6/195,
Maktabah Syamilah)

*Dianjurkan Berwudhu dari Air Hujan*

Dianjurkan untuk berwudhu dari air hujan apabila airnya mengalir deras
(Lihat *Al Mughni*, 4/343, Maktabah Syamilah). Dari Yazid bin Al Hadi,
apabila air yang deras mengalir, Nabi *shallallahu 'alaihi wa sallam*mengatakan,

* "Keluarlah kalian bersama kami menuju air ini yang telah dijadikan oleh
Allah sebagai alat untuk bersuci." Kemudian kami bersuci dengan air tersebut
dan memuji Allah atas nikmat ini."* (Lihat *Zaadul Ma'ad*, I/439, Maktabah
Syamilah)

Namun, hadits di atas munqothi' (terputus sanadnya) sebagaimana dikatakan
oleh Al Baihaqi (Lihat *Irwa'ul Gholil*). Hadits yang serupa adalah,

* "Apabila air mengalir di lembah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
mengatakan,'Keluarlah kalian bersama kami menuju air ini yang telah
dijadikan oleh Allah sebagai alat untuk bersuci', kemudian kami bersuci
dengannya."* (HR. Muslim, Abu Daud, Al Baihaqi, dan Ahmad. Lihat *Irwa'ul
Gholil*)

*Do'a Setelah Turunnya Hujan*

Dari Zaid bin Kholid Al Juhani, Nabi *shallallahu 'alaihi wa
sallam*melakukan shalat shubuh bersama kami di Hudaibiyah setelah
hujan turun pada
malam harinya. Tatkala hendak pergi, beliau menghadap jama'ah shalat, lalu
mengatakan, "Apakah kalian mengetahui apa yang dikatakan Rabb kalian?"
Kemudian mereka mengatakan, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui".
Kemudian Rasulullah *shallallahu 'alaihi wa sallam* bersabda,

* "Pada pagi hari, di antara hambaKu ada yang beriman kepadaKu dan ada yang
kafir. Siapa yang mengatakan 'Muthirna bi fadhlillahi wa rohmatih' (Kita
diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah), maka dialah yang beriman
kepadaku dan kufur terhadap bintang-bintang. Sedangkan yang mengatakan
'Muthirna binnau kadza wa kadza' (Kami diberi hujan karena sebab bintang ini
dan ini), maka dialah yang kufur kepadaku dan beriman pada bintang-bintang."
* (HR. Muslim no. 240)

Dari hadits ini terdapat dalil untuk mengucapkan *'Muthirna bi fadhlillahi
wa rohmatih'* setelah turun hujan sebagai tanda syukur atas nikmat hujan
yang diberikan.

Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin *rahimahullah* mengatakan, "Tidak
boleh bagi seseorang menyandarkan turunnya hujan karena sebab
bintang-bintang. Hal ini bisa termasuk kufur akbar yang menyebabkan
seseorang keluar dari Islam, jika meyakini bahwa bintang tersebut adalah
yang menciptakan hujan. Namun kalau menganggap bintang tersebut hanya
sebagai sebab, maka seperti ini termasuk kufur ashgor (kufur yang tidak
menyebabkan seseorang keluar dari Islam). Ingatlah bahwa bintang tidak
memberikan pengaruh terjadinya hujan. Bintang hanya sekedar waktu semata." (
*Kutub wa Rosa'il Lil 'Utsaimin*, 170/20, Maktabah Syamilah)

*Janganlah Mencela Hujan*

Sungguh sangat disayangkan sekali, setiap orang sudah mengetahui bahwa hujan
merupakan kenikmatan dari Allah *ta'ala*. Namun, ketika hujan dirasa
mengganggu aktivitasnya, timbullah kata-kata celaan dari seorang muslim
seperti *'Aduh!! hujan lagi, hujan lagi'*. Sungguh, kata-kata seperti ini
tidak ada manfaatnya sama sekali, dan tentu saja akan masuk dalam catatan
amal yang jelek karena Allah berfirman:

* "Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya
malaikat pengawas yang selalu hadir."* (QS. Qaaf [50]: 18)

Bahkan kata-kata seperti ini bisa termasuk kesyirikan sebagaimana seseorang
mencela makhluk yang tidak dapat berbuat apa-apa seperti masa (waktu). Hal
ini dapat dilihat pada sabda Nabi *shallallahu 'alaihi wa sallam*, "Allah
Ta'ala berfirman, *'Manusia menyakiti Aku; dia mencaci maki masa (waktu),
padahal Aku adalah pemilik dan pengatur masa, Aku-lah yang mengatur malam
dan siang menjadi silih berganti.' "* (HR. Bukhari dan Muslim).
Rasulullah *shallallahu
'alaihi wa sallam* juga bersabda, *"Janganlah kamu mencaci maki
angin."*(HR. Tirmidzi, beliau mengatakan hasan shohih)

Dari dalil di atas terlihat bahwa mencaci maki masa (waktu), angin dan
makhluk lain yang tidak dapat berbuat apa-apa, termasuk juga hujan adalah
terlarang. Larangan ini bisa termasuk syirik akbar (syirik yang mengeluarkan
seseorang dari Islam) jika diyakini makhluk tersebut sebagai pelaku dari
sesuatu yang jelek yang terjadi. Meyakini demikian berarti meyakini bahwa
makhluk tersebut yang menjadikan baik dan buruk dan ini sama saja dengan
menyatakan ada pencipta selain Allah. Namun, jika diyakini yang menakdirkan
adalah Allah sedangkan makhluk-makhluk tersebut bukan pelaku dan hanya
sebagai sebab saja, maka seperti ini hukumnya haram, tidak sampai derajat
syirik. Dan apabila yang dimaksudkan cuma sekedar pemberitaan, -seperti
mengatakan, *'Hari ini hujan deras, sehingga kita tidak bisa berangkat ke
masjid untuk shalat'*-, tanpa ada tujuan mencela sama sekali maka seperti
ini tidaklah mengapa. (Lihat *Mutiara Faedah Kitab Tauhid*, 227-231)

Perhatikanlah hal ini! Semoga Allah selalu menjaga kita, agar lisan ini
banyak bersyukur kepada-Nya atas karunia hujan ini, dan semoga Allah
melindungi kita dari banyak mencela.

*MENGENAI GUNTUR/PETIR DAN KILAT*

Ar Ra'du (petir) adalah suara yang didengar dari awan. Sedangkan Ash
Showa'iq (kilat) adalah api (cahaya) yang muncul dari langit bersamaan
dengan suara petir yang keras. (*Rosysyul Barod*, 381, Darud Da'i Linnashri
wat Tawzii')

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, "Dalam hadits marfu' (sampai
kepada Nabi *shallallahu 'alaihi wa sallam*, pen) pada riwayat At Tirmidzi
dan selainnya, Nabi *shallallahu 'alaihi wa sallam* ditanya tentang petir,
lalu beliau *shallallahu 'alaihi wa sallam* menjawab,

* "Petir adalah malaikat yang diberi tugas mengurus awan dan bersamanya
pengoyak dari api yang memindahkan awan sesuai dengan kehendak Allah."*

Begitu juga ketika Ali ditanya, sebagaimana dikatakan Al Khoroithi
dalam *Makarimil
Akhlaq*. Beliau *radhiyallahu 'anhu* mengatakan, *"Petir adalah malaikat,
dan suaranya itu adalah pengoyak di tangannya."* Dan dalam riwayat lain dari
Ali juga, *"Suaranya itu adalah pengoyak dari besi di tangannya."*

Kemudian Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan lagi, *"Ar ro'du adalah
mashdar (kata kerja yang dibendakan) berasal dari kata ro'ada, yar'udu,
ro'dan (yang berarti gemuruh, pen). … Namanya gerakan pasti menimbulkan
suara. Malaikat adalah yang menggerakkan (menggetarkan) awan, lalu
memindahkan dari satu tempat ke tempat lainnya. Dan setiap gerakan di alam
ini baik yang di atas (langit, pen) maupun di bawah (bumi, pen) adalah dari
malaikat. Suara manusia dihasilkan dari gerakan bibir, lisan, gigi, lidah,
dan dan tenggorokan. Dari situ, manusia bisa bertasbih kepada Rabbnya, bisa
mengajak kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran. Oleh karena itu,
guntur adalah suara yang membentak awan. Dan kilat adalah kilauan air atau
kilauan cahaya… "* (Lihat *Majmu' Fatawa *Ibnu Taimiyyah, 24/263-264)

Ketika menafsirkan surat al Baqarah ayat 19, As Suyuthi mengatakan bahwa
petir (Ar Ra'du) adalah malaikat yang ditugasi mengatur awan. Ada juga yang
berpendapat bahwa petir adalah suara malaikat. Sedangkan kilat (barq) adalah
kilatan cahaya dari cambuk malaikat tersebut untuk menggiring mendung (*Tafsir
Jalalain* dengan Hasyiyah ash Showi 1/31, ed).

*Do'a Ketika Mendengar Petir*

Dari 'Ikrimah mengatakan bahwasanya Ibnu 'Abbas *radhiyallahu
'anhuma*tatkala mendengar suara petir, beliau mengucapkan,

* 'Subhanalladzi sabbahat lahu'* (Maha suci Allah yang petir bertasbih
kepada-Nya). Lalu beliau mengatakan, *"Sesungguhnya petir adalah malaikat
yang meneriaki (membentak) untuk mengatur hujan sebagaimana pengembala
ternak membentak hewannya."* (Lihat *Adabul Mufrod* no. 722, dihasankan oleh
Syaikh Al Albani)

Apabila Abdullah bin Az Zubair mendengar
petir<http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/musim-hujan-telah-tiba-1.html>,
dia menghentikan pembicaraan, kemudian mengucapkan,

* 'Subhanalladzi yusabbihur ro'du bihamdihi wal malaikatu min khiifatih'
(Mahasuci Allah yang petir dan para malaikat bertasbih dengan memuji-Nya
karena rasa takut kepada-Nya).*

Kemudian beliau mengatakan,

* "Inilah ancaman yang sangat keras untuk penduduk suatu negeri."*
(Lihat *Adabul
Mufrod* no. 723, dishohihkan oleh Syaikh Al Albani)

-bersambung insya Allah-

***

Penyusun: Abu Isma'il Muhammad Abduh Tuasikal
Muroja'ah: Ustadz Aris Munandar
Artikel 
www.muslim.or.id<http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/musim-hujan-telah-tiba-1.html>

Kirim email ke