From: [email protected]
Date: Fri, 9 Apr 2010 09:17:49 +0000
assalamu 'alaikum
suami ana sudah hampir 8 th aktif di liqo pks.bahkan termasuk kader yg 
potensial.ana sendiri sudah 5 th masih aktif.tp belakangan ini setelah beberapa 
kali ikut kajian salaf,entahlah sepertiny pikirin ini semakin terbuka.dr awal 
keterlibatan di liqo pun bnyk hal2 yg bertentangan dengan hati nurani karena 
kebetulan ana di lahirkan dan di didik dari keluarga yg tegas dlm menjalankan 
syariat.Akhrny keraguan ini ana kemukakan pada suami.tp suami sepertinya tidak 
berkenan dan menganggap pikiran ana sudah di cuci oleh paham2 salafy.semakin 
kemari ana merasa semakin 'berbeda'dengan suami.dia memang tidak melarang ana 
ikut kajian salaf,akan tetapi ada dlm hati kecil ini menginginkan agar suamipun 
ikut bertholabul ilmi di kajian tersebut,karena ana sebagai istri merasa bahwa 
suami sudah semakin jauh keterlibtannya dalam aktifitas hizbiyah,di tambah lagi 
sikap terhadap murrobinya yg terkadang sangat taat sehingga terkesan taqlid 
terlebih lg sikap murrobinya sendiri yg tidak suka jika muridnya ikut kajian 
salaf.
ana mohon pencerahannya,karena sungguh tidak nyaman dalam keadaan seperti ini.
wassalam..
ummu akmal                              
________________________________________________________________

Permasalahan yang sama dirasakan juga oleh seorang istri, seperti tertulis 
dalam artikel dibawah ini.

BERDAKWAH KEPADA SUAMI
http://www.almanhaj.or.id/content/1549/slash/0
http://www.almanhaj.or.id/category/view/93/page/1

Redaksi Yth
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Pengasuh Konsultasi Keluarga yang dirahmati Allah,
Saya seorang ibu rumah tangga yang sudah empat tahun menikah dan belum
mempunyai seorang anak. Suami saya seorang pekerja swasta. 

Pada awal menikah, kami berdua merupakan kader sebuah partai. Dengan
berjalannya waktu, Alhamdulillah, saya bisa meninggalkan keaktifan di
partai tersebut. Alhamdulillah, Allah memberikan jalan terbaik bagi
saya, sehingga saya mulai mempelajari, melakukan dan mengamalkan Sunnah
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang mulia ini.

Dua tahun belakangan ini, semenjak saya aktif mengaji dengan
teman-teman salafiyyin, saya sering berdebat dengan suami, yang pada
akhirnya saya selalu menangis. Saya merasa, apakah saya mempunyai
kewajiban untuk mengajak atau mengingatkan suami sehingga dapat
menempuh satu jalan dengan saya?

Setiap ada kegiatan partai yang katanya untuk “dakwah”, suami selalu
ingin ikut, tetapi saya larang. Suami saya memegang kuat prinsipnya,
bahwa partai itu sarana, jalan untuk menuju pemerintahan yang Islami.

Dalil dan hujjah sudah saya jelaskan. Buku-buku tentang politik dan
demokrasi sudah saya berikan, tetapi nyatanya, suami hanya bilang “apa
yang dapat diperbuat salafiyyun kalau tak ada partai dakwah ini?”.

Ya, Allah. Saya takut mendapat murkaMu. Tetapi saya juga takut dengan
ketidak ridhaan suami dengan cara saya ini, yang pada akhirnya selalu
bertengkar.

Kalau sudah seperti itu jawabannya, maka saya lebih baik diam dan tidak
usah ikut kegiatan ini dan itu, lebih baik di rumah tak kemana-mana.
Saya hanya bisa istighfar. 

Yang ingin saya tanyakan :
1. Apa yang perlu saya lakukan untuk mengajak suami agar satu jalan dengan 
saya? Apa solusi bagi saya agar bisa menahan emosi?
2. Apakah Allah murka dengan cara saya berdakwah seperti itu? Saya
hanya ingin mendapat ridha suami, bukan ingin membuatnya marah.

Demikian surat saya ini. Saya benar-benar merasakan masalah ini begitu
berat. Banyak pula teman-teman saya di kajian yang mengalami hal
seperti ini.

Jazakumullahu khairan. Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang 
mendapat jannahNya.
Indah, Jakarta.

 
Jawab :
Perlu diketahui, bahwa hidayah taufiq berada di tangan Allah. Manusia
hanya dapat berusaha dan menjalankan kewajiban yang dibebankan kepada
kita. Memang, fenomena seperti ini kerap terjadi pada pasangan suami
istri yang memiliki perbedaan prinsip, apalagi permasalahan yang
berhubungan dengan agama.

Disinilah perlu adanya komunikasi yang lancar dan saling menasihati di
antara keduanya, bukan debat kusir tanpa ada standar kebenaran sebagai
rujukannya.

Melihat permasalahan yang ukhti sampaikan ini, tampaknya ada hal-hal
yang perlu diperhatikan dan dicermati, khususnya dalam berdakwah
mengajak suami menjadi lebih baik dan mengikuti kebenaran. Di antaranya:

1. Berdakwah dan amar ma`ruf nahi mungkar merupakan kewajiban setiap
muslim, apalagi terhadap keluarga dan orang terdekat, sehingga
membutuhkan kesungguhan dalam menasihati dan mendoakannya. Allah
berfirman:

وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ   

"Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat". [Asy Syu’ara` 
: 214].

2. Perlu ditanamkan keikhlasan ke dalam hati kita masing-masing, dan
usaha yang keras dalam berdakwah mengajak seseorang kepada kebenaran,
sehingga kita dapat melepas beban tanggung jawab di hadapan Allah.
Demikianlah salah satu prinsip dakwah salafiyah, sebagaimana
disampaikan Allah dalam firmanNya:

وَإِذْ قَالَتْ أُمَّةٌ مِنْهُمْ لِمَ تَعِظُونَ قَوْماً اللَّهُ
مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَاباً شَدِيداً قَالُوا مَعْذِرَةً
إِلَى رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ 

"Dan (ingatlah) ketika suatu umat diantara mereka berkata: "Mengapa
kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab
dengan azab yang amat keras". Agar kami mempunyai alasan (pelepas
tanggung jawab) kepada Rabb-mu, dan supaya mereka bertakwa". [Al A’raf
: 164].

Imam As Sa’di, ketika menafsirkan ayat ini menyatakan, inilah target
agung dari mengingkari kemungkaran, agar menjadi pelepas beban tanggung
jawab dan penegak hujjah atas yang diajak dan diingkari.[1]

Demikian juga bila melihat dakwah dan sejarah Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam, kita dapat melihat semangat Beliau Shallallahu
'alaihi wa sallam menjelaskan agama ini kepada orang lain, agar mereka
mendapat petunjuk.

3. Gunakanlah cara-cara terbaik sesuai dengan keadaan suami ukhti
dengan hikmah, nasihat dan debat yang baik, seperti perintah Allah
dalam firmanNya:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ
وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ
بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ 

"Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran
yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.
Sesungguhnya Rabb-mu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang
tersesat dari jalanNya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang
yang mendapat petunjuk". [An Nahl : 125].

4. Cara debat disini tampaknya bukanlah cara terbaik. Saran kami,
hendaklah Anda menggunakan cara lain yang memungkinkan untuk dapat
memberikan sedikit demi sedikit pengertian kepada sang suami, dan
tunjukkan bahwa Anda tidak mengaharapkan, kecuali kebaikan bersama.

5. Langkah Anda memberikan buku-buku dan hujjah-hujjah, insya Allah
berguna. Minimal telah memberikan wacana baru baginya, walaupun saat
ini hatinya masih tertutup menerima hal tersebut, namun suatu saat
mungkin akan menerimanya. Sebab tidak mungkin dipungkiri, ajaran atau
doktrin yang ditanamkan para murobbinya ikut berperan mempengaruhi
keputusannya. Sehingga untuk merubahnya, bukan perkerjaan yang mudah,
dibutuhkan proses yang tidak singkat, ketekunan dan kesabaran. 

6. Sebagai seorang istri, tentunya Anda harus tetap menjaga dan
menunaikan kewajiban sebagai istri dan menampakkan akhlak luhur, sebab
pelanggaran yang dilakukan belum dikategorikan keluar dari agama.

7. Jangan lupa mendoakan suami dalam setiap saat. Berapa banyak orang
yang sadar dan bertaubat dengan sebab doa yang terkabulkan. Pilihlah,
dan carilah waktu-waktu yang mustajab. 

8. Jangan lupa juga berkonsultasi kepada para ustadz di daerah Anda.
Mereka, insya Allah bersedia membantu dan memberikan bimbingan dalam
masalah ini.

Demikian sedikit yang dapat kami berikan, Mudah-mudahan bermanfaat.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun IX/1426H/2005M. Penerbit
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton
Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
________
Footnote
[1]. Lihat Usus Manhaj Salaf Fi Dakwah Ila Allah, Fawaaz bin Halil Al Suhaimi, 
Dar Ibnu Al Qayyim hal. 183                      


------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke