2010/5/30 anto andi <[email protected]> > > Assalamualaikum, > > saat ini sy masih bergabung dengan mertua saya, seringkali sy menganggap > sering terjadi dualisme kepemimpinan dalam rumah tangga saya dengan masuknya > peran mertua dalam rumah tangga saya,terkadang sy lelah dengan kondisi > seperti ini dan ini terlihat seperti melawan kehendak mertua. Apakah benar > istilah suami merupakan pengganti orang tua bagi istri, dan istri yang tidak > menurut suami bisa dikatakan durhaka? > siapakah yang lebih berhak atas istri saya. saya sebagai suami atau orang > tuanya. siapa yang harus lebih diutamakan istri. suami atau orangtuanya?. > Pertanyaan ini saya lontarkan karena berhubungan dengan kondisi ekstrem > yang sewaktu-waktu bisa saja saya lakukan. Mohon kiranya dapat diberi > penjelasan sehingga saya tidak salah berbuat baik buat diri saya pribadi, > maupun terhadap istri saya nantinya > > Wassalamualikum
> Alaikumsalam warahmatullah Alhamdulillah saya juga punya pengalaman yg sama persis dengan antum. Sering kali perintah kita sbagai suami bertentangan dengan perintah mertua krn mertua kita yg awam agama. Namun Alhamdulillah saya dan istri sangat terbuka sehingga sayapun tau korban dari ini semua bukanlah saya sebagai suami, melainkan istri saya yg bimbang harus milih yg mana. Suatu ketika istri saya minta maaf krn telah dipaksa ibunya agar melakukan hal yg bertentangan dg perintah saya, dan krn perintah ibunya tidak melanggar agama maka sayapun memaklumi. Disatu sisi dia ingin menjalankan perintah suami disisi lain ibunya mendesak dan dia takut durhaka kepada orang tua, dua pilihan yg sangat membingungkannya. Jika dilihat dari keutamaan, maka yg lebih utama adalah suami. Krn nabi sendiri berkata yg artinya "jika seandainya dibolehkan manusia bersujud didepan manusia maka aku suruh istri sujud didepan suaminya". Namun permasalahannya bukan siapa yg lebih utama tapi lihatlah dari sisi lain, mertua dan istri yg awam agama, shg kewajiban kita utk mengingatkan dg cara yg terbaik. Jadikan dakwah itu indah, jangan jadikan dakwah itu kaku. Wanita itu apabila diperlakukan dg cara baik maka dia akan luluh hatinya, jgn bosan2 utk melakukan itu jika sekali dua kali gagal. Karena wanita umumnya bengkok spt tulang rusuk atau besi, jika diluruskan terlalu keras patah, jika didiamkan tetap bengkok. Untuk ana sendiri Alhamdulillah istri sudah nurut, namun saya juga menyuruh dia jika orang tuanya tetap memaksa apabila sudah dijelaskan maka patuhilah orang tuamu selama tidak melanggar agama, mengalah akhi jangan memaksakan kepada istri shg menyebabkan hubungan anak dan orang tua menjadi renggang. Kejadian ini hampir dialami setiap orang akhi, seharusnya kita memaklumi sikap mertua kita yg ngatur2, bayangkan dia sudah mendidik anaknya hingga dewasa dan sudah terbiasa mengatur anaknya. Pertimbangkan dari manfaat dan kerugiaanya, apakah pisah dg mertua lebih baik atau tidak. Misal jika mertua antum sudah sepuh dan sakit2an sementara istri antum adalah anak satu2nya yg tinggal dengannya maka akan sangat durhaka jika meninggalkan mertua spt itu. Namun jika memungkinkan maka carilah alasan yg tepat dan tidak menyinggung mertua utk pisah. Ana sendiri telah pisah dengan mertua namun sebulan sekali kita menjenguknya dan tetap menasihatinya sebagai bukti bakti kita kepadanya.
