Pada 29 Juni 2010 19:38, Mardiana . <[email protected]> menulis:
> assalammu'alaykum.
> di kampus ana ada teman dari manhaj lain yang senang mengajak ana debat
> tentang masalah agama (manhaj). ana pernah membaca hadits yang melarang
> debat dan ana memberitahukan kepadanya kl debat itu dilarang. tetapi ia
> bilang debat itu di perbolekan dengan mengangkat surat an-nahl :125. yang
> intinya diperbolehkan debat dengan cara yang baik dan niat yang baik.
> setelah ana baca ayat tersebut debat smacam itu hanya untuk non muslim (ana
> baca pula ayat sebelumnya an nahl : 124), ia langsung menyangkal "kalau
> begitu saya berijtihad atas ayat tersebut, bahwa debat di perbolehkan dengan
> cara yang baik dan niat yang baik". apakah benar berijtihad seperti itu?
> bagaimana ana menyikapinya? tolong berikan ana dalil yang kuat bahwa debat
> itu dilarang atau tidak ?
>  __ walaikum salam.

Perdebatan atau jidal
http://www.almanhaj.or.id/content/411/slash/0
Adapun jidal maka ulama menafsirkan dengan perdebatan dalam hal-hal yang tidak 
berguna, atau dalam hal-hal yang telah dijelaskan Allah kepada hamba-hamba-Nya. 
Dan termasuk dalam perdebatan yang dilarang adalah semua perdebatan yang 
menyebabkan kegaduhan, mudharat kepada orang lain atau mengurangi ketentraman. 
Atau bahwa yang dimaksudkan perdebatan yang dilarang adalah perdebatan yang 
menyerukan kebatilan dan mengaburkan kebenaran. Sedangkan perdebatan dengan 
cara yang baik untuk menjelaskan kebenaran sebagai kebenaran, dan kebatilan 
sebagai kebatilan adalah perdebatan yang dibenarkan dalam syari'at Islam 


NASEHAT UNTUK PARA PEMUDA MULTAZIM
Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
http://www.almanhaj.or.id/content/2122/slash/0

Fenomena yang dialami oleh para pemuda multazim, yaitu perpecahan dan saling
menganggap sesat serta menimpakan rasa permusuhan terhadap orang yang tidak
sejalan dengan manhaj mereka, tidak diragukan lagi, bahwa ini sangat
disesalkan dan disayangkan. Bisa jadi hal ini menyebabkan hantaman yang
besar. Perpecahan semacam ini merupakan dambaan para setan dari golongan jin
dan manusia, karena setan-setan manusia dan jin tidak menyukai para ahli
kebaikan bersatu padu, mereka menginginkan perpecahan, karena mereka tahu
persis bahwa perpecahan itu akan menghilangkan kekuatan yang hanya bisa
dicapai dengan iltizam dan ittijah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini
ditunjukkan oleh ayat-ayat berikut:

"Artinya : Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu
menjadi gentar dan hilang kekuatanmu"[Al-Anfal : 46].

"Artinya : Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan
berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka." [Ali Imran:
105]

"Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka
(terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu
terhadap mereka." [Al-An'am : 159]

"Artinya : Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah
diwasiatkanNya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim,
Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah
tentangnya" [Asy-Syura : 13]

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melarang kita bercerai berai dan menjelaskan
akibatnya yang mengerikan. Dan yang wajib bagi kita adalah menjadi satu umat
dan satu kalimat. Sebab, perpecahan berarti merusak dan memecah kekuatan
serta melahirkan kelemahan umat. Adalah para sahabat radhiyallahu a’nhum,
walaupun terjadi perselisihan antar mereka, tapi tidak sampai terjadi
perpecahan dan permusuhan. Perselisihan antar para sahabat memang pernah
terjadi, bahkan ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup.
Tatkala Nabi kembali dari peperangan, Jibril mendatanginya dan menyuruhnya
ke Bani Quraizhah karena mereka melanggar kesepakatan, lalu Nabi Shalalllahu
‘alaihi wa sallam berpesan kepada para sahabat yang diutusnya,

"Tidak seorang pun yang shalat Ashar kecuali di tempat Bani Quraizhah."

Para sahabat utusan pun segera bertolak dari Madinah menuju Bani Quraizah,
ketika tiba waktu shalat Ashar, sebagian mereka mengatakan, "Kita tidak
boleh shalat (Ashar) kecuali di tempat Bani Quraizhah walaupun matahari
telah terbenam, karena tadi Nabi Saw berpesan, "Tidak seorang pun yang
shalat Ashar kecuali di tempat Bani Quraizah."[1] Lalu kita katakan, "Kami
mendengar dan kami patuhi."

Sementara itu, ada pula di antara mereka yang mengatakan, bahwa Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam menginginkan agar kita bersegera dan
cepat-cepat berangkat, beliau tidak menginginkan kita menunda shalat."
Berita ini sampai kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun beliau
tidak memarahi dan tidak mencela seorang pun di antara mereka karena
pemahamannya, dan mereka sendiri tidak berpecah belah karena perbedaan dalam
memahami pesan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut. Dari itu,
hendaknya kita tidak berpecah belah tapi tetap menjadi satu umat. Jika
dikatakan, "Ini dari golongan salaf, ini dari golongan ikhwan, ini dari
golongan tabligh, ini dari golongan sunni, ini dari golongan pengekor, ini
dari anu, ini dari anu, ini dari anu." Kita akan berpecah belah dan ini
bahayanya sangat besar. Yang kita harapkan, bahwa pergerakan Islam ini
adalah saling mendukung jika memang pergerakan ini telah melahirkan berbagai
kelompok yang terpecah-pecah, saling menganggap sesat dan saling menganggap
bodoh.

Untuk memecahkan problema ini hendaknya kita menempuh cara yang ditempuh
oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum dan memahami bahwa perbedaan ini
terlahir dari ijtihad dalam masalah yang menuntut ijtihad, dan mengetahui
bahwa perbedaan ini tidak menimbulkan pengaruh karena pada hakikatnya tetap
sepakat. Bagaimana itu? Saya berbeda dengan anda dalam suatu masalah karena
konsekuensi dalil saya berbeda dengan yang anda utarakan. Anda berbeda
pendapat dengan saya dalam masalah anu, karena konsekuensi dalil anda
berbeda dengan yang saya utarakan. Saya tetap menghormati dan memuji anda
karena anda berani berbeda dengan saya, namun saya tetap saudara dan teman
anda, karena perbedaan ini merupakan konsekuensi dalil anda, maka kewajiban
saya adalah tidak merasa bermasalah dengan anda, bahkan saya memuji anda
karena pendapat itu, dan anda pun demikian. Jika kita mengharuskan salah
seorang kita untuk menerima pendapat yang lain, maka pemaksaan saya
terhadapnya untuk menerima pendapat saua tidak lebih baik daripada
pemaksaannya terhadap saya untuk menerima pendapatnya. Karena itu saya
katakan, kita harus menjadikan perbedaan yang bertolak dari ijtihad ini
sebagai kesepakatan, bukan perselisihan sehingga menjadi satu kalimat dan
mencapai kebaikan.


------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke