From: [email protected]
Date: Thu, 1 Jul 2010 12:51:47 +0800
Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh,
Ana mau tanya tentang hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, yang berbunyi:
ada dua kebahagiaan yang didapatkan oleh orang yang berpuasa yaitu kebahagian 
waktu berbuka dan kebahagian bertemu dengan Allah.
Apakah hadis ini sahih, dan apa maksud dari kebahagian bertemu dg Allah, apakah 
di dunia ini atau di akhirat kelak?
Ana tanyakan ini karena ana lagi didkusi dengan seorang pengikut tarekat 
akmaliyah yang mengatakan dia bisa bertemu Allah kapan saja karena dia sudah 
tahu hakikat, makrifat dan asmaul sifat Allah.
Ana bilang bertemu dengan Allah itu nanti kalau sudah di akhirat , tapi dia 
berdalih dengan hadis Abu hurairah ini.  
Mohon penjelasannya  dari anggota milis ini.
Wassalam,
Abu Naufal
==========

Alhamdulillah..,
Penjelasan hadits tersebut saya copy dari almanhaj, semoga bermanfaat.
Wallahu a'lam

[5]. Bau Mulut Orang Yang Puasa Lebih Wangi dari Baunya Misk*
http://www.almanhaj.or.id/content/1062/slash/0

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, (bahwasanya) Rasulullah 
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Semua amalan bani Adam untuknya kecuali puasa [5] , karena 
puasa itu untuk-Ku dan Aku akan membalasnya, puasa adalah perisai, jika 
salah seorang dari kalian sedang berpuasa janganlah berkata keji dan 
berteriak-teriak, jika ada orang yang mencercanya atau memeranginya, 
maka ucapkanlah : 'Aku sedang berpuasa'[6]. Demi dzat yang jiwa Muhammad
di tangan-Nya, sesunguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di
sisi Allah daripada bau misk[7]  orang yang puasa mempunyai dua 
kegembiraan, jika berbuka mereka gembira, jika bertemu Rabbnya mereka 
gembira karena puasa yang dilakukannya" [Bukhari 4/88, Muslim no. 1151, 
Lafadz ini bagi Bukhari]

Di dalam riwayat Bukhari (disebutkan).

"Artinya : Meninggalkan makan, minum dan syahwatnya karena puasa 
untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya, kebaikan dibalas dengan sepuluh
kali lipat yang semisal dengannya"

Di dalam riwayat Muslim.

"Artinya : Semua amalan bani Adam akan dilipatgandakan, kebaikan dibalas
dengan sepuluh kali lipat yang semisal dengannya, sampai tujuh ratus 
kali lipat. Allah Ta'ala berfirman : "Kecuali puasa, karena puasa itu 
untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya, dia (bani Adam) meninggalkan 
syahwatnya dan makanannya karena Aku" Bagi  orang yang puasa ada dua 
kegembiraan ; gembira ketika  berbuka dan gembira ketika bertemu 
Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang puasa di sisi Allah adalah lebih 
wangi daripada bau Misk" 

RU'YATULLAH (MELIHAT ALLAH PADA HARI KIAMAT)
Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
http://www.almanhaj.or.id/content/2403/slash/0

Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengimani bahwasanya kaum Muslimin akan melihat
Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari Kiamat secara jelas dengan mata 
kepala mereka sebagaimana melihat matahari dengan terang, tidak 
terhalang oleh awan sebagaimana mereka melihat bulan di malam bulan 
purnama. Mereka tidak berdesak-desakan dalam melihat-Nya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian, sebagaimana kalian 
melihat bulan pada malam bulan purnama, kalian tidak terhalang (tidak 
berdesak-desakan) ketika melihat-Nya. Dan jika kalian sanggup untuk 
tidak dikalahkan (oleh syaithan) untuk melakukan shalat sebelum Matahari
terbit (shalat Subuh) dan sebelum terbenamnya (shalat ‘Ashar), maka 
lakukanlah.”[1] 

Kaum Mukminin akan melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala di padang Mahsyar, 
kemudian akan melihat-Nya lagi setelah memasuki Surga, sebagaimana yang 
dikehendaki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.[2] 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

"Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada 
Rabb-nya mereka melihat.” [Al-Qiyaamah: 22-23]

Melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan kenikmatan yang paling 
dicintai bagi penghuni Surga.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

"Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (Surga) dan
tambahannya.” [Yunus: 26]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menafsirkan lafazh “jiyadah” 
(tambahan), pada ayat di atas dengan kenikmatan dalam melihat wajah 
Allah, sebagaimana diriwayatkan:

Dari Shuhaib Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa 
sallam bersabda: “Apabila ahli Surga telah masuk ke Surga, Allah 
berkata: ‘Apakah kalian ingin tambahan sesuatu dari-Ku?’ Kata mereka: 
‘Bukankah Engkau telah memutihkan wajah kami? Bukankah Engkau telah 
memasukkan kami ke dalam Surga dan menyelamatkan kami dari api Neraka?’ 
Lalu Allah membuka hijab-Nya, maka tidak ada pemberian yang paling 
mereka cintai melainkan melihat wajah Allah Azza wa Jalla. Kemudian 
Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat ini: ‘Bagi orang-orang 
yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (Surga) dan tambahannya.’” 
[Yunus: 26] [3] 

Adapun di dalam kehidupan dunia, maka tidak ada seorang pun yang dapat 
melihat Allah, sebagaimana firman-Nya

"Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat
segala penglihatan itu, dan Dia-lah Yang Mahahalus lagi Maha 
Mengetahui.” [Al-An’aam: 103]

Allah Subhanahu wa Ta’ala pernah berfirman kepada Nabi Musa Alaihissalam

"Kamu sekali-kali tidak dapat melihat-Ku.” [Al-A’raaf: 143]

Demikian juga sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

"Ketahuilah bahwa tidak ada seorang pun yang akan bisa melihat Rabb-nya 
hingga ia meninggal dunia"[4] 

Juga pernyataan ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata.

"Barangsiapa menyangka bahwasanya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam
melihat Rabb-nya, maka orang itu telah melakukan kebohongan yang besar 
atas Nama Allah.”[5] 

Adapun orang-orang kafir, mereka tidak akan bisa melihat Allah Subhanahu
wa Ta’ala selama-lamanya, begitu juga di akhirat nanti, sebagaimana 
firman-Nya:

“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar 
terhalang dari (melihat) Rabb mereka.” [Al-Mu-thaffifin: 15]

Ayat ini dijadikan dalil oleh Imam asy-Syafi’i rahimahullah dan lainnya 
bahwa ahli Surga akan melihat wajah Allah Jalla Jala Luhu. Imam 
asy-Syafi’i rahimahullah berkata.

"Tatkala Allah menghijab (menghalangi) orang kafir dari melihat Allah 
dalam keadaan murka, maka ayat ini sebagai dalil bahwa wali-wali Allah 
(kaum Mukminin) akan melihat Allah dalam keadaan ridha.”[6] 

Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya tentang ru'-yatullaah (melihat 
Allah pada hari Kiamat), maka beliau rahimahullah menjawab.

“Hadits-haditsnya shahih, kita mengimani dan mengakuinya, dan setiap 
hadits yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan 
sanad yang shahih, kita mengimani dan mengakuinya.”[7] 

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, Penulis 
Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi'i, PO BOX 
7803/JACC 13340A. Cetakan Ketiga Jumadil Awwal 1427H/Juni 2006M]
_________
Foote Note
[1]. HR. Al-Bukhari (no. 554) dan Muslim (no. 633 (211)), dari Sahabat 
Jarir bin ‘Abdillah Radhiyallahu 'anhu. Lafazh "tudhommuuna"  bermakna 
tidak terhalang oleh awan, bisa juga dengan lafazh "tudhommuuna"ó yang 
bermakna tidak berdesak-desakan. Lihat Fat-hul Baari (II/33).
[2]. Lihat Syarah Lum’atul I’tiqaad (hal. 87), oleh Syaikh Muhammad bin 
Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah
[3]. HR. Muslim (no. 181), at-Tirmidzi (no. 2552 dan 3105), Ibnu Majah 
(no. 187), Ahmad (IV/332-333), Ibnu Abi ‘Ashim (no. 472), dari Shuhaib 
Radhiyallahu 'anhu dan ini adalah lafazh Muslim.
[4]. HR. Muslim (no. 2930 (95)), Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 2044), 
dari Sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu 'anhuma
[5]. HR. Muslim (no. 177 (287)). Lihat juga masalah ini dalam Syarhul 
‘Aqiidah ath-Thahaawiyyah (hal 188-198) takhrij Syaikh al-Albani, dan 
Majmuu’ Fataawaa Syaikhil Islaam Ibni Taimiyyah (VI/509-512).
Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa Nabi j melihat Allah dengan 
hati-nya. Pendapat ini berdasarkan riwayat dari Sahabat Ibnu ‘Abbas 
Radhiyallahu 'anhuma.
[6]. Lihat Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (III/560, 
no. 883), Syarhul ‘Aqiidah ath-Thahaawiyyah (hal. 191), takhrij Syaikh 
al-Albani, dan Majmuu’ Fataawaa Syaikhil Islaam Ibni Taimiyyah (VI/499).


------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke