PENTINGNYA KEIKHLASAN DALAM SELURUH AMAL IBADAH
http://almanhaj.or.id/content/2940/slash/0
ومَا أُمِرُوْا إِلاَّلِيَعْبُدُاللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan
keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…[Al-Bayyinah: 5]
Segala Puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala Rabb semesta alam Shalawat dam salam
kita sampaikan kepada Nabi Muhammad Shalalllahu 'alaihi wa sallam Pembawa
risalah yang haq ini sebagai rahmat bagi semesta alam kepada keluarganya para
shahabatnya dan orang-orang yang setia mengikuti jejaknya hingga akhir zaman.
Berikut ini adalah pembahasan secara singkat hal-hal yang berkaitan dengan
pentingnya “keikhlasan” dalam seluruh `amal `ibadah. Sesungguhnya perkara
paling mendasar dan terpenting dalam dien ini adalah mengikhlaskan diri kepada
Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam setiap amal ibadah yang kita lakukan, hal itu
sebagai syarat utama diterimanya amal ibadah. Ikhlas adalah termasuk amalan
hati yang perlu mendapatkan perhatian “istimewa” (secara mendalam) dan
dilakukan dengan cara “istimrar” (terus menerus) di setiap kita hendak
melakukan `amal `ibadah, agar amalan kita menjadi bernilai di hadapan Allah
Subhanahu wa Ta'ala.
PENTINGNYA AMALAN HATI.
Telah kita ketahui bahwa pengertian iman menurut Ahlus Sunah adalah : Keyakinan
dengan hati, ikrar dengan lisan, dan amalan dengan seluruh anggota badan,
bertambah dengan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan berkurang dengan
perbuatan maksiat.
Perlu diketahui bahwa ikhlas adalah perkara terpenting dalam amalan hati, yang
hal tersebut sangat erat hubungannya dengan pengertian iman tersebut di atas.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: Amalan-amalan hati adalah termasuk
pokok-pokok dari keimanan dan tonggak-tonggak agama Islam ini, seperti:
mencintai Allah dan Rasul-Nya, bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala,
mengikhlaskan seluruh macam `ibadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala
semata, bersyukur kepada-Nya atas nikmat-nikmat-Nya dan berlaku sabar di atas
hukum-hukum-Nya, khauf (perasaan takut kepada-Nya akan siksa atau adzab-Nya),
raja` (berharap) kepada-Nya…Semua amalan ini wajib atas seluruh makhluk
berdasarkan kesepakatan para imam agama. [Majmu’ Al-Fatawa 10/5 dan 20/70]
Ibnul Qayim juga menjelaskan keagungan amalan-amalan hati : Amalan–amalan hati
ialah pokok adapun amalan–amalan anggota badan adalah pengikut dan penyempurna.
Sesungguhnya niat sekedudukan dengan ruh, adapun amalan sekedudukan dengan
jasad, sehingga apabila ruh telah terpisah dengan jasad maka binasalah. Oleh
sebab itu mengetahui hukum – hukum hati lebih penting dari pada mengetahui
hukum-hukum jasad. [Badai`ul Fawaaid 3/224].
Hal inilah di antaranya yang mendorong kami untuk mengulas hal ini agar seluruh
aktifitas kita sehari-hari tidak menemui kesia-siaan, yakni hampa, jauh dari
berkah Allah atau Ramat-Nya, seolah-olah tiada nilainya aktifitas yang kita
laksanakan setiap hari.
Niat berasal dari bahasa Arab, yang berarati tujuan. Sedangkan menurut istilah
syara' memiliki dua arti:
1. Ikhlash dalam beramal, yaitu semata-mata karena Allah, dan inilah yang
sering dibicarakan oleh para Ulama ahli tauhid, suluk (perilaku) dan akhlak.
2. Membedakan antara ibadah yang satu dengan ibadah yang lain, atau ibadah
dengan kebiasaan. Istilah ini sering dipakai oleh ulama-ulama Fiqh.
Niat dipakai untuk membedakan antara ibadah dan adat (kebiasaan yang dilakukan
oleh manusia), misalnya : Mandi, apabila dimaksudkan (niatkan) karena Allah
semata untuk menghilangkan hadats besar (mandi junub misalnya) maka hal yang
semacam itu akan menjadi ibadah, lain halnya apabila mandi semata-mata
dimaksudkan untuk membersihkan badan atau mendapatkan kesegaran, maka hal itu
menjadi adat (kebiasaan) saja.
Kemudian bahwa niat itu tempatnya di hati dan apabila di lafadzkan menjadi
bid`ah.
KEDUDUKAN IKHLAS.
Sesungguhnya ikhlas adalah hakekat dien dan kunci dakwah para rasul, yakni
menyembah Allah Subhanahu wa Ta'ala semata dan menjauhi thagut :
ومَا أُمِرُوْا إِلاَّ لِيَعْبُدُوْا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan
ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…[Al-Bayyinah: 5]
Yang dimaksud dengan " (حُنَفَاءَ ) agama yang lurus” pada ayat di atas adalah
terjauhkan dari perkara-perkara syirik dan menuju kepada tauhid. Di sinilah
pentingnya ikhlash dalam selurus amal ibadah, agar amalan tersebut tidak
sia-sia, dan tidak mendapat adzab dari Allah, baik di dunia maupun di akhirat
kelak.
Kemudian bahwa pengaruh ikhlas terhadap amalan itu sangatlah besar, amal yang
kecil dan sedikit jika dilakukan dengan ikhlas dapat memperoleh pahala yang
besar. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam perkara ini mengatakan: “Suatu jenis
amalan yang dikerjakan oleh manusia dengan menyempurnakan keikhlasannya dan
ketundukkannya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, terkadang Allah Subahnahu wa
Ta'ala akan mengampuni dosa-dosa besar dengan sebab amalan itu, sebagaimana
hadits al-bithaqah (seorang yang memiliki satu kartu Laa ilaaha illa Allah,
lalu diampuni dosa-dosanya sebanyak 99 lembaran catatan amal keburukan-red)…ini
karena dia mengucapkan Laa ilaaha illa Allah dengan ikhlas dan jujur/benar,
karena kalau tidak, maka para pelaku dosa besar yang masuk ke dalam neraka
semuanya juga mengucapkan tauhid, tetapi perkataan mereka tidaklah lebih berat
terhadap dosa-dosa mereka sebagaimana pemilik kartu (Laa ilaaha illa Allah)
itu.”
Hadits pemilik kartu Laa ilaaha illa Allah itu, adalah sebagai berikut:
عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْمَعَافِرِيِّ ثُمَّ الْحُبُلِيِّ قَال سَمِعْتُ
عَبْدَ الهِb بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ الهَِ n إِنَّ
اللَّهَ سَيُخَلِّصُ رَجُلاً مِنْ أُمَّتِي عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ فَيَنْشُرُ عَلَيْهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ سِجِلاَّ كُلُّ سِجِلٍّ
مِثْلُ مَدِّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَقُولُ أَتُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا أَظَلَمَكَ
كَتَبَتِي الْحَافِظُونَ فَيَقُولُ لاَ يَا رَبِّ فَيَقُولُ أَفَلَكَ عُذْرٌ
فَيَقُولُ لاَ يَا رَبِّ فَيَقُولُ بَلَى إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً فَإِنَّهُ
لَا ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ فَتَخْرُجُ بِطَاقَةٌ فِيهَا أَشْهَدُ أَنْ لاَ
إِلَهَ إِلاَّ الهُب وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ فَيَقُولُ
احْضُرْ وَزْنَكَ فَيَقُولُ يَا رَبِّ مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ
السِّجِلَّاتِ فَقَالَ إِنَّكَ لاَ تُظْلَمُ قَالَ فَتُوضَعُ السِّجِلاَّتُ فِي
كَفَّةٍ وَالْبِطَاقَةُ فِي كَفَّةٍ فَطَاشَتِ السِّجِلاَّتُ وَثَقُلَتِ
الْبِطَاقَةُ فَلاَ يَثْقُلُ مَعَ اسْمِ الهِق شَيْءٌ
Dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash Radhiyallahu 'anhu , dia berkata: “Saya telah
mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya
Allah akan mengadili salah seorang laki-laki dari ummatku di hadapan seluruh
makhluk pada hari kiamat. Lalu ditunjukan kepada laki-laki tersebut 99 catatan
(amal keburukan), setiap satu catatan panjangnya sejauh mata memandang.
Kemudian dikatakan kepada laki-laki tersebut: ”Apakah kau ingkari dari semua
ini (kedzaliman yang telah kau perbuat)? Apakah para malaikat-Ku pencatat dan
penjaga amalan menzhalimimu? Laki-laki tersebut menjawab: “Tidak Ya Tuhanku!”.
Lalu Allah berkata kepada laki-laki tersebut: “Apakah engkau punya alasan
(berbuat kezhaliman itu)? Laki-laki tersebut menjawab: “Tidak Ya Tuhanku!”.
Kemudian Allah berkata kepada laki-laki tersebut: “Ya benar, tetapi
sesungguhnya engkau memiliki satu kebaikan di sisi Kami, dan sesungguhnya tidak
ada kedzaliman atasmu pada hari ini. Maka Allah Subhanahu wa Ta'ala
mengeluarkan sebuah kartu kecil yang di dalamnya terdapat : Asyhadu an laa
ilaaha illa Allah wa asyhadu anna Muhamadan ‘abduhu warasuluhu (Aku bersaksi
bahwa tiada sesembahan yang haq kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad
adalah hamba dan utusan-Nya). Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala berkata kepada
orang tersebut: “Datangkan timbanganmu”, maka orang tersebut berkata: “Ya Tuhan
untuk apa kartu kecil ini dibandingkan dengan catatan (amal keburukan) ini ?”,
maka Allah Subhanahu wa Ta'ala berkata kepada orang tersebut: “Sesungguhnya
pada hari ini tiada kedzaliman”. Maka diletakkanlah catatan itu pada salah satu
daun timbangan, dan kartu kecil itu diletakan pada satu daun timbangan yang
lain. Maka jadi ringanlah catatan-catatan `amal keburukan itu dan beratlah
kartu kecil tersebut, maka tiadalah sesuatupun yang menjadi berat dibandingkan
dengan nama Allah Subhanahu wa Ta'ala. [HR. At-Tirmidzi dan An-Nasa'i].
PENGERTIAN IKHLAS DAN BATASNNYA
Ada beberapa pengertian tentang ikhlas yang disebutkan oleh ulama, antara lain :
1. Diantaranya ada yang mengatakan : Ikhlas ialah “Menjadikan Allah Subhanahu
wa Ta'ala satu-satunya tujuan di dalam menjalankan ketaatan”.
2. Ada juga yang mengatakan : “Ikhlas ialah membersihkan perbuatan dari mencari
pandangan manusia”.
3. Al-Harawi berkata: “Ikhlas ialah membersihkan amalan dari setiap noda”.
4. Dan sebagian yang lain ada yang mengatakan: “Orang yang mukhlis ialah orang
yang tidak perduli, seandainya hilang seluruh penghormatan kepadanya di dalam
hati manusia, untuk kebaikan hatinya bersama Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan dia
tidak suka manusia mengetahui amalannya walaupun seberat debu. Allah.
Tidak diragukan lagi bahwa keikhlasan membutuhkan kesungguhan yang tinggi
hingga seorang hamba meraihnya dengan sempurna.
PENGERTIAN RIYA', SUM'AH, UJUB
Telah kita ketahui bahwa keikhlasan dapat dihilangkan oleh beberapa perkara,
seperti: mencintai dunia, kemasyhuran, kemuliaan, riya', sum'ah dan ujub.
1. Riya ialah melakukan `ibadah dengan tujuan dilihat oleh manusia, sehingga
orang yang riya’ itu mencari pengagungan, pujian, harapan atau rasa takut
terhadap orang yang dia berbuat riya’ karenanya.
2. Sum'ah adalah amalan yang dilakukan dalam rangka agar didengar orang lain,
misalnya memperdengarkan bacaan Al-Qur'an atau yang lainnya.
3. Ujub adalah teman riya, yaitu perasaan bangga terhadap diri sendiri atas
kemampuan yang dimiliki secara berlebihan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah membedakan antara keduanya (antara riya dan ujub
).
a. Riya adalah salah satu bentuk dari syirik kepada makhluk.
b. Adapun ujub adalah bentuk dari pada syirik kepada diri sendiri.
[Al-Fatawa:10/277]
DIANTARA BENTUK-BENTUK RIYA, UJUB DAN SUM'AH
1. Riya dalam ibadah sholat, misalnya: Memperbaiki posisi atau gerakan shalat
karena mengetahui bahwa dia sedang diperhatikan oleh orang yang dianggap lebih
‘alim atau lainya.
2. Riya atau sum'ah dalam kepribadian misalnya : Karena di karuniai oleh Allah
Subhanahu wa Ta'ala suara yang merdu misalnya, maka timbulah penyakit riya`
atau ujub ini pada ni`mat tersebut; Mengeraskan/menbaguskan bacaan dalam
membaca Al-Qur`an atau ketika mengumandangkan adzan dengan harapan ingin
mendapatkan pujian atau agar diakui bahwa dia memiliki suara yang bagus atau
merdu. Pada hakekatnya membaguskan suara dalam membaca Al-Qur'an, dengan tidak
dibuat-buat atau berlebih-lebihan merupakan sunnah Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam sebagaimana sabadanya:
زَيِّنُوْا اْلقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ.
Baguskanlah (bacaan) Al-Qur`an dengan suara kalian [HR. Abu Dawud dan Ahmad]
3. Ujub atau Riya dalam berdakwah misalnya : Berceramah, menasehati orang, atau
mentahdzir (memberi peringatan terhadap seseorang) dengan niat agar dikenal
sebagai seorang penasehat, ahli pidato dengan harapan agar semua orang
memujinya atau menyanjungnya. Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala
dari semua perkara ini. Hendaklah kita ikhlash dalam berda`wah agar orang yang
mendengarnya pun menerima dengan ikhlash (yakni : mendapatkan hidayah dari
Allah Subhanahu wa Ta'ala)
4. Riya atau Ujub dalam menuntut ilmu : Yaitu berbangga dengan ilmu yang
dikaruniakan Allah Subhanahu wa Ta'ala kepadanya atau menuntut ilmu hanya dalam
rangka ingin menjadi seorang yang ahli dalam berdebat, bukan mengharapkan wajah
Allah atau mencari berkah dari Allah atas ilmu yang dimilikinya. Sehingga ilmu
yang Allah Subhanahu wa Ta'ala karuniakan tidak mampu membawa dia ke dalam
kebahagian di dunia ataupun diakhirat. Padahal rasulullah telah memperingatkan
dengan keras bagi para penuntut ilmu dengan ancaman tidak akan mendapatkan bau
surga, apabila mempelajari suatu ilmu dalam rangka untuk mencari dunia semata;
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabada:
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ
يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ
الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي رِيحَهَا
Barang siapa menuntut ilmu yang seharusnya untuk mencari wajah Allah Subhanahu
wa Ta'ala ; tetapi dia tidak mempelajari ilmu itu kecuali untuk mendapatkan
harta benda dunia, maka dia tidak akan mendapatkan bau surga pada hari kiamat
kelak. [HR. Abu Dawud]
5. Riya atau Ujub ketika bershadaqah, misalnya : Memperlihatkan harta yang
telah dishadaqahkan, atau mengungkit-ungkit kembali pemberian yang telah lalu
dengan harapan agar disebut sebagai seorang dermawan.
PENAWAR RIYA
Adapun di antara cara-cara mengobati riya adalah sebagi berikut:
1. Mengetahui seluk beluk riya itu sendiri dan takut terhadapnya. Sebagaimana
hal tersebut adalah perkara yang paling ditakutkan oleh Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
" إِنَّ أَخْوَفُ مَا أَخَا فُ عَلَيكْمُ الشِّرْكُ اْلأَ صْغَر. قَا لوُا وَمَا
الشِّرْكُ اْلأَ صْغَرُ يَا رَسُوْلُ الله ؟ قال : " الرِّيَاءُ ".يقول الله
تعالىيوم القيامة, إذا جازى الناس بأعمالهم : اذهبوا إلى الذين كنتم تراؤون في
الدنيا فانظروا هل تجدون جزاء؟"
Sesungguhnya yang paling kutakutkan dari perkara yang aku takutkan atas kalian
ialah syirik kecil. Para shahabat bertanya: “Apakah syirik kecil itu wahai
rasulullah? Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Riya', Pada
hari kiamat , ketika membalas amalan-amalan manusia, Allah Subhanahu wa Ta'ala
akan berfirman: “Pergilah kepada orang yang kamu dahulu sewaktu di dunia
berbuat riya’ kepadanya, dan lihatlah apakah kamu dapakan balasan (pahala)
darinya? [HR. Ahmad, At-Thabrani dan Al-Baihaqi]
2. Memberikan sanjungan atau pujian hanya ditujukan kepada Allah Subhanahu wa
Ta'ala semata, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala sumber dari segala kebaikan;
maka hanya Allahlah yang berhaq mendapatkan pujian:
الحمد لله رب العالمين
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. [Al-Fatihah:2]
3. Mengingat mati dan sekaratnya, hari akhir dan kedahsyatan adzabnya, kubur
dan kerasnya siksa yang diberikan karena dosa-dosa yang diperbuat selama di
dunia. Keadaan di kubur yang sunyi, gelap gulita dan sempit, tidak ada ibu dan
bapak atau orang-orang yang dicinta di dekatnya.
4. Melihat akibat riya', baik di dunia maupun diakhirat.
Maka perlu diketahui oleh setiap orang bahwa seandainya seluruh manusia
berkumpul dalam rangka memberikan manfaat kepada siapapun, maka tiadalah mereka
mampu memberikannya kecuali sesuatu itu telah ditentukan oleh Allah Subhanhau
wa Ta'ala baginya; Oleh sebab itu sebagian orang-orang salaf mengatakan:
“Bersungguh-sungguhlah dalam mencegah timbulnya riya` darimu, anggaplah orang
lain bagimu seperti binatang dan anak-anak, janganlah kau bedakan adanya mereka
atau tidak adanya, mereka tahu atau tidak tahu, cukuplah Allah Subhanahu wa
Ta'ala saja yang mengetahuinya.
Kemudian singkirkan perasaan ingin dipuji ketika (syetan menggoda), dengan
do'a-do'a yang diajarkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam seperti:
أعوذ الله من الشيطان الرجيم
Aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk.
Adapun akibat riya di akhirat antara lain ; sebagaimana sabda Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam.
مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ الهُh بِهِ وَمَنْ رَاءَى رَاءَى الهُu بِهِ
Barang siapa (yang beramal) ingin didengar maka Allah akan memperdengarkannya
dan barang siapa (beramal) ingin dilihat maka Allah pun akan memperlihatkannya.
[HR. Bukhari & Muslim]
Artinya : Bila seseorang beramal hanya ingin didengar atau dilihat orang lain
maka itulah yang akan dia dapatkan, Allah Subhanahu wa Ta'ala Maha Sempurna
tidak butuh sekutu-sekutu tersebut, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda: bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ
مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
Aku adalah Yang paling tidak butuh sekutu, barangsiapa yang mengamalkan suatu
perbuatan, yang di dalamnya dia menyekutukanKu dengan selain Aku, maka Aku
tinggalkan dia dan sekutunya. [HR. Muslim dari Abu Hurairah]
5. Memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar senantiasa berlaku
ikhlas dalam segala amal ibadah dan berlindung dari-Nya dari riya`. Seorang
mu`min atau mu`minah hendaklah tunduk, berserah diri kepada-Nya, berusaha
semaksimal mungkin menghindarkan diri dari riya, sum'ah dan ujub; dan
memperbanyak dzikir (mengingat Allah kapan saja di manapun berada) dan berdo`a
kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, sebagaimana do'a-do'a yang diajarkan
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam antara lain :
الشرك فيكم أخفى من دبيب النمل. وسأدلك على شيءٍ إذا فعلته أذهب عنك صغار الشرك
وكبيره . تقول: اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْ ذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَناَ
أَعْلَمُ, وَاسْتَغْفِرُكَ لمِاَ لاَ أَعْلَمُ (صحيح الجامع الصغير :3/332)
Kesyirikan yang ada pada kalian lebih tersembunyi merayapnya seekor semut, dan
aku akan memberitahukan sesuatu kepadamu apabila hal itu kau kerjakan, maka
akan menghilangkan kesyirikan kecil dan besar darimu. Yaitu engkau mengatakan
(berdo'a): “Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari mensekutukan-Mu sedangkan
saya mengetahuinya dan aku berlindung kepada-Mu dari apa-apa yang aku tidak aku
tahu."
Wallahu A’lam.
(Disadur oleh Abdul Wahid dari kitab Al-Ikhlash Wasy Syirkul Ashghar, karya
Syeikh Abdul Aziz Ali Abdul Lathif dan tambahan dari sumber lain)
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun V/1422H/2001M Diterbitkan
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton
Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]