PENTINGNYA KEIKHLASAN DALAM SELURUH AMAL IBADAH
http://almanhaj.or.id/content/2940/slash/0

ومَا أُمِرُوْا إِلاَّلِيَعْبُدُاللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan 
keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…[Al-Bayyinah: 5]

Segala Puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala Rabb semesta alam Shalawat dam salam 
kita sampaikan kepada Nabi Muhammad Shalalllahu 'alaihi wa sallam Pembawa 
risalah yang haq ini sebagai rahmat bagi semesta alam kepada keluarganya para 
shahabatnya dan orang-orang yang setia mengikuti jejaknya hingga akhir zaman.

Berikut ini adalah pembahasan secara singkat hal-hal yang berkaitan dengan 
pentingnya “keikhlasan” dalam seluruh `amal `ibadah. Sesungguhnya perkara 
paling mendasar dan terpenting dalam dien ini adalah mengikhlaskan diri kepada 
Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam setiap amal ibadah yang kita lakukan, hal itu 
sebagai syarat utama diterimanya amal ibadah. Ikhlas adalah termasuk amalan 
hati yang perlu mendapatkan perhatian “istimewa” (secara mendalam) dan 
dilakukan dengan cara “istimrar” (terus menerus) di setiap kita hendak 
melakukan `amal `ibadah, agar amalan kita menjadi bernilai di hadapan Allah 
Subhanahu wa Ta'ala. 

PENTINGNYA AMALAN HATI.
Telah kita ketahui bahwa pengertian iman menurut Ahlus Sunah adalah : Keyakinan 
dengan hati, ikrar dengan lisan, dan amalan dengan seluruh anggota badan, 
bertambah dengan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan berkurang dengan 
perbuatan maksiat.

Perlu diketahui bahwa ikhlas adalah perkara terpenting dalam amalan hati, yang 
hal tersebut sangat erat hubungannya dengan pengertian iman tersebut di atas. 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: Amalan-amalan hati adalah termasuk 
pokok-pokok dari keimanan dan tonggak-tonggak agama Islam ini, seperti: 
mencintai Allah dan Rasul-Nya, bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, 
mengikhlaskan seluruh macam `ibadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala 
semata, bersyukur kepada-Nya atas nikmat-nikmat-Nya dan berlaku sabar di atas 
hukum-hukum-Nya, khauf (perasaan takut kepada-Nya akan siksa atau adzab-Nya), 
raja` (berharap) kepada-Nya…Semua amalan ini wajib atas seluruh makhluk 
berdasarkan kesepakatan para imam agama. [Majmu’ Al-Fatawa 10/5 dan 20/70]

Ibnul Qayim juga menjelaskan keagungan amalan-amalan hati : Amalan–amalan hati 
ialah pokok adapun amalan–amalan anggota badan adalah pengikut dan penyempurna. 
Sesungguhnya niat sekedudukan dengan ruh, adapun amalan sekedudukan dengan 
jasad, sehingga apabila ruh telah terpisah dengan jasad maka binasalah. Oleh 
sebab itu mengetahui hukum – hukum hati lebih penting dari pada mengetahui 
hukum-hukum jasad. [Badai`ul Fawaaid 3/224].

Hal inilah di antaranya yang mendorong kami untuk mengulas hal ini agar seluruh 
aktifitas kita sehari-hari tidak menemui kesia-siaan, yakni hampa, jauh dari 
berkah Allah atau Ramat-Nya, seolah-olah tiada nilainya aktifitas yang kita 
laksanakan setiap hari. 

Niat berasal dari bahasa Arab, yang berarati tujuan. Sedangkan menurut istilah 
syara' memiliki dua arti:

1. Ikhlash dalam beramal, yaitu semata-mata karena Allah, dan inilah yang 
sering dibicarakan oleh para Ulama ahli tauhid, suluk (perilaku) dan akhlak.
2. Membedakan antara ibadah yang satu dengan ibadah yang lain, atau ibadah 
dengan kebiasaan. Istilah ini sering dipakai oleh ulama-ulama Fiqh.

Niat dipakai untuk membedakan antara ibadah dan adat (kebiasaan yang dilakukan 
oleh manusia), misalnya : Mandi, apabila dimaksudkan (niatkan) karena Allah 
semata untuk menghilangkan hadats besar (mandi junub misalnya) maka hal yang 
semacam itu akan menjadi ibadah, lain halnya apabila mandi semata-mata 
dimaksudkan untuk membersihkan badan atau mendapatkan kesegaran, maka hal itu 
menjadi adat (kebiasaan) saja. 

Kemudian bahwa niat itu tempatnya di hati dan apabila di lafadzkan menjadi 
bid`ah.

KEDUDUKAN IKHLAS. 
Sesungguhnya ikhlas adalah hakekat dien dan kunci dakwah para rasul, yakni 
menyembah Allah Subhanahu wa Ta'ala semata dan menjauhi thagut :

ومَا أُمِرُوْا إِلاَّ لِيَعْبُدُوْا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan 
ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…[Al-Bayyinah: 5]

Yang dimaksud dengan " (حُنَفَاءَ ) agama yang lurus” pada ayat di atas adalah 
terjauhkan dari perkara-perkara syirik dan menuju kepada tauhid. Di sinilah 
pentingnya ikhlash dalam selurus amal ibadah, agar amalan tersebut tidak 
sia-sia, dan tidak mendapat adzab dari Allah, baik di dunia maupun di akhirat 
kelak.

Kemudian bahwa pengaruh ikhlas terhadap amalan itu sangatlah besar, amal yang 
kecil dan sedikit jika dilakukan dengan ikhlas dapat memperoleh pahala yang 
besar. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam perkara ini mengatakan: “Suatu jenis 
amalan yang dikerjakan oleh manusia dengan menyempurnakan keikhlasannya dan 
ketundukkannya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, terkadang Allah Subahnahu wa 
Ta'ala akan mengampuni dosa-dosa besar dengan sebab amalan itu, sebagaimana 
hadits al-bithaqah (seorang yang memiliki satu kartu Laa ilaaha illa Allah, 
lalu diampuni dosa-dosanya sebanyak 99 lembaran catatan amal keburukan-red)…ini 
karena dia mengucapkan Laa ilaaha illa Allah dengan ikhlas dan jujur/benar, 
karena kalau tidak, maka para pelaku dosa besar yang masuk ke dalam neraka 
semuanya juga mengucapkan tauhid, tetapi perkataan mereka tidaklah lebih berat 
terhadap dosa-dosa mereka sebagaimana pemilik kartu (Laa ilaaha illa Allah) 
itu.” 

Hadits pemilik kartu Laa ilaaha illa Allah itu, adalah sebagai berikut:

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْمَعَافِرِيِّ ثُمَّ الْحُبُلِيِّ قَال سَمِعْتُ 
عَبْدَ الهِb بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ الهَِ n إِنَّ 
اللَّهَ سَيُخَلِّصُ رَجُلاً مِنْ أُمَّتِي عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ 
الْقِيَامَةِ فَيَنْشُرُ عَلَيْهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ سِجِلاَّ كُلُّ سِجِلٍّ 
مِثْلُ مَدِّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَقُولُ أَتُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا أَظَلَمَكَ 
كَتَبَتِي الْحَافِظُونَ فَيَقُولُ لاَ يَا رَبِّ فَيَقُولُ أَفَلَكَ عُذْرٌ 
فَيَقُولُ لاَ يَا رَبِّ فَيَقُولُ بَلَى إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَةً فَإِنَّهُ 
لَا ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ فَتَخْرُجُ بِطَاقَةٌ فِيهَا أَشْهَدُ أَنْ لاَ 
إِلَهَ إِلاَّ الهُب وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ فَيَقُولُ 
احْضُرْ وَزْنَكَ فَيَقُولُ يَا رَبِّ مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ 
السِّجِلَّاتِ فَقَالَ إِنَّكَ لاَ تُظْلَمُ قَالَ فَتُوضَعُ السِّجِلاَّتُ فِي 
كَفَّةٍ وَالْبِطَاقَةُ فِي كَفَّةٍ فَطَاشَتِ السِّجِلاَّتُ وَثَقُلَتِ 
الْبِطَاقَةُ فَلاَ يَثْقُلُ مَعَ اسْمِ الهِق شَيْءٌ 

Dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash Radhiyallahu 'anhu , dia berkata: “Saya telah 
mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya 
Allah akan mengadili salah seorang laki-laki dari ummatku di hadapan seluruh 
makhluk pada hari kiamat. Lalu ditunjukan kepada laki-laki tersebut 99 catatan 
(amal keburukan), setiap satu catatan panjangnya sejauh mata memandang. 
Kemudian dikatakan kepada laki-laki tersebut: ”Apakah kau ingkari dari semua 
ini (kedzaliman yang telah kau perbuat)? Apakah para malaikat-Ku pencatat dan 
penjaga amalan menzhalimimu? Laki-laki tersebut menjawab: “Tidak Ya Tuhanku!”. 
Lalu Allah berkata kepada laki-laki tersebut: “Apakah engkau punya alasan 
(berbuat kezhaliman itu)? Laki-laki tersebut menjawab: “Tidak Ya Tuhanku!”. 
Kemudian Allah berkata kepada laki-laki tersebut: “Ya benar, tetapi 
sesungguhnya engkau memiliki satu kebaikan di sisi Kami, dan sesungguhnya tidak 
ada kedzaliman atasmu pada hari ini. Maka Allah Subhanahu wa Ta'ala 
mengeluarkan sebuah kartu kecil yang di dalamnya terdapat : Asyhadu an laa 
ilaaha illa Allah wa asyhadu anna Muhamadan ‘abduhu warasuluhu (Aku bersaksi 
bahwa tiada sesembahan yang haq kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad 
adalah hamba dan utusan-Nya). Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala berkata kepada 
orang tersebut: “Datangkan timbanganmu”, maka orang tersebut berkata: “Ya Tuhan 
untuk apa kartu kecil ini dibandingkan dengan catatan (amal keburukan) ini ?”, 
maka Allah Subhanahu wa Ta'ala berkata kepada orang tersebut: “Sesungguhnya 
pada hari ini tiada kedzaliman”. Maka diletakkanlah catatan itu pada salah satu 
daun timbangan, dan kartu kecil itu diletakan pada satu daun timbangan yang 
lain. Maka jadi ringanlah catatan-catatan `amal keburukan itu dan beratlah 
kartu kecil tersebut, maka tiadalah sesuatupun yang menjadi berat dibandingkan 
dengan nama Allah Subhanahu wa Ta'ala. [HR. At-Tirmidzi dan An-Nasa'i].

PENGERTIAN IKHLAS DAN BATASNNYA
Ada beberapa pengertian tentang ikhlas yang disebutkan oleh ulama, antara lain :
1. Diantaranya ada yang mengatakan : Ikhlas ialah “Menjadikan Allah Subhanahu 
wa Ta'ala satu-satunya tujuan di dalam menjalankan ketaatan”. 
2. Ada juga yang mengatakan : “Ikhlas ialah membersihkan perbuatan dari mencari 
pandangan manusia”.
3. Al-Harawi berkata: “Ikhlas ialah membersihkan amalan dari setiap noda”.
4. Dan sebagian yang lain ada yang mengatakan: “Orang yang mukhlis ialah orang 
yang tidak perduli, seandainya hilang seluruh penghormatan kepadanya di dalam 
hati manusia, untuk kebaikan hatinya bersama Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan dia 
tidak suka manusia mengetahui amalannya walaupun seberat debu. Allah. 

Tidak diragukan lagi bahwa keikhlasan membutuhkan kesungguhan yang tinggi 
hingga seorang hamba meraihnya dengan sempurna. 

PENGERTIAN RIYA', SUM'AH, UJUB
Telah kita ketahui bahwa keikhlasan dapat dihilangkan oleh beberapa perkara, 
seperti: mencintai dunia, kemasyhuran, kemuliaan, riya', sum'ah dan ujub. 
1. Riya ialah melakukan `ibadah dengan tujuan dilihat oleh manusia, sehingga 
orang yang riya’ itu mencari pengagungan, pujian, harapan atau rasa takut 
terhadap orang yang dia berbuat riya’ karenanya.
2. Sum'ah adalah amalan yang dilakukan dalam rangka agar didengar orang lain, 
misalnya memperdengarkan bacaan Al-Qur'an atau yang lainnya.
3. Ujub adalah teman riya, yaitu perasaan bangga terhadap diri sendiri atas 
kemampuan yang dimiliki secara berlebihan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah membedakan antara keduanya (antara riya dan ujub 
). 
a. Riya adalah salah satu bentuk dari syirik kepada makhluk.
b. Adapun ujub adalah bentuk dari pada syirik kepada diri sendiri. 
[Al-Fatawa:10/277]

DIANTARA BENTUK-BENTUK RIYA, UJUB DAN SUM'AH
1. Riya dalam ibadah sholat, misalnya: Memperbaiki posisi atau gerakan shalat 
karena mengetahui bahwa dia sedang diperhatikan oleh orang yang dianggap lebih 
‘alim atau lainya.

2. Riya atau sum'ah dalam kepribadian misalnya : Karena di karuniai oleh Allah 
Subhanahu wa Ta'ala suara yang merdu misalnya, maka timbulah penyakit riya` 
atau ujub ini pada ni`mat tersebut; Mengeraskan/menbaguskan bacaan dalam 
membaca Al-Qur`an atau ketika mengumandangkan adzan dengan harapan ingin 
mendapatkan pujian atau agar diakui bahwa dia memiliki suara yang bagus atau 
merdu. Pada hakekatnya membaguskan suara dalam membaca Al-Qur'an, dengan tidak 
dibuat-buat atau berlebih-lebihan merupakan sunnah Rasulullah Shallallahu 
'alaihi wa sallam sebagaimana sabadanya:

زَيِّنُوْا اْلقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ. 

Baguskanlah (bacaan) Al-Qur`an dengan suara kalian [HR. Abu Dawud dan Ahmad]

3. Ujub atau Riya dalam berdakwah misalnya : Berceramah, menasehati orang, atau 
mentahdzir (memberi peringatan terhadap seseorang) dengan niat agar dikenal 
sebagai seorang penasehat, ahli pidato dengan harapan agar semua orang 
memujinya atau menyanjungnya. Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala 
dari semua perkara ini. Hendaklah kita ikhlash dalam berda`wah agar orang yang 
mendengarnya pun menerima dengan ikhlash (yakni : mendapatkan hidayah dari 
Allah Subhanahu wa Ta'ala)

4. Riya atau Ujub dalam menuntut ilmu : Yaitu berbangga dengan ilmu yang 
dikaruniakan Allah Subhanahu wa Ta'ala kepadanya atau menuntut ilmu hanya dalam 
rangka ingin menjadi seorang yang ahli dalam berdebat, bukan mengharapkan wajah 
Allah atau mencari berkah dari Allah atas ilmu yang dimilikinya. Sehingga ilmu 
yang Allah Subhanahu wa Ta'ala karuniakan tidak mampu membawa dia ke dalam 
kebahagian di dunia ataupun diakhirat. Padahal rasulullah telah memperingatkan 
dengan keras bagi para penuntut ilmu dengan ancaman tidak akan mendapatkan bau 
surga, apabila mempelajari suatu ilmu dalam rangka untuk mencari dunia semata; 
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabada:

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ 
يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ 
الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي رِيحَهَا 

Barang siapa menuntut ilmu yang seharusnya untuk mencari wajah Allah Subhanahu 
wa Ta'ala ; tetapi dia tidak mempelajari ilmu itu kecuali untuk mendapatkan 
harta benda dunia, maka dia tidak akan mendapatkan bau surga pada hari kiamat 
kelak. [HR. Abu Dawud]

5. Riya atau Ujub ketika bershadaqah, misalnya : Memperlihatkan harta yang 
telah dishadaqahkan, atau mengungkit-ungkit kembali pemberian yang telah lalu 
dengan harapan agar disebut sebagai seorang dermawan.

PENAWAR RIYA
Adapun di antara cara-cara mengobati riya adalah sebagi berikut:
1. Mengetahui seluk beluk riya itu sendiri dan takut terhadapnya. Sebagaimana 
hal tersebut adalah perkara yang paling ditakutkan oleh Rasulullah Shallallahu 
'alaihi wa sallam. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 

" إِنَّ أَخْوَفُ مَا أَخَا فُ عَلَيكْمُ الشِّرْكُ اْلأَ صْغَر. قَا لوُا وَمَا 
الشِّرْكُ اْلأَ صْغَرُ يَا رَسُوْلُ الله ؟ قال : " الرِّيَاءُ ".يقول الله 
تعالىيوم القيامة, إذا جازى الناس بأعمالهم : اذهبوا إلى الذين كنتم تراؤون في 
الدنيا فانظروا هل تجدون جزاء؟"

Sesungguhnya yang paling kutakutkan dari perkara yang aku takutkan atas kalian 
ialah syirik kecil. Para shahabat bertanya: “Apakah syirik kecil itu wahai 
rasulullah? Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Riya', Pada 
hari kiamat , ketika membalas amalan-amalan manusia, Allah Subhanahu wa Ta'ala 
akan berfirman: “Pergilah kepada orang yang kamu dahulu sewaktu di dunia 
berbuat riya’ kepadanya, dan lihatlah apakah kamu dapakan balasan (pahala) 
darinya? [HR. Ahmad, At-Thabrani dan Al-Baihaqi]

2. Memberikan sanjungan atau pujian hanya ditujukan kepada Allah Subhanahu wa 
Ta'ala semata, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala sumber dari segala kebaikan; 
maka hanya Allahlah yang berhaq mendapatkan pujian:

الحمد لله رب العالمين 

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. [Al-Fatihah:2]

3. Mengingat mati dan sekaratnya, hari akhir dan kedahsyatan adzabnya, kubur 
dan kerasnya siksa yang diberikan karena dosa-dosa yang diperbuat selama di 
dunia. Keadaan di kubur yang sunyi, gelap gulita dan sempit, tidak ada ibu dan 
bapak atau orang-orang yang dicinta di dekatnya.

4. Melihat akibat riya', baik di dunia maupun diakhirat.
Maka perlu diketahui oleh setiap orang bahwa seandainya seluruh manusia 
berkumpul dalam rangka memberikan manfaat kepada siapapun, maka tiadalah mereka 
mampu memberikannya kecuali sesuatu itu telah ditentukan oleh Allah Subhanhau 
wa Ta'ala baginya; Oleh sebab itu sebagian orang-orang salaf mengatakan: 
“Bersungguh-sungguhlah dalam mencegah timbulnya riya` darimu, anggaplah orang 
lain bagimu seperti binatang dan anak-anak, janganlah kau bedakan adanya mereka 
atau tidak adanya, mereka tahu atau tidak tahu, cukuplah Allah Subhanahu wa 
Ta'ala saja yang mengetahuinya.

Kemudian singkirkan perasaan ingin dipuji ketika (syetan menggoda), dengan 
do'a-do'a yang diajarkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam seperti:

أعوذ الله من الشيطان الرجيم

Aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk.

Adapun akibat riya di akhirat antara lain ; sebagaimana sabda Rasulullah 
Shallallahu 'alaihi wa sallam.

مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ الهُh بِهِ وَمَنْ رَاءَى رَاءَى الهُu بِهِ 

Barang siapa (yang beramal) ingin didengar maka Allah akan memperdengarkannya 
dan barang siapa (beramal) ingin dilihat maka Allah pun akan memperlihatkannya. 
[HR. Bukhari & Muslim]

Artinya : Bila seseorang beramal hanya ingin didengar atau dilihat orang lain 
maka itulah yang akan dia dapatkan, Allah Subhanahu wa Ta'ala Maha Sempurna 
tidak butuh sekutu-sekutu tersebut, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam 
bersabda: bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ 
مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ 

Aku adalah Yang paling tidak butuh sekutu, barangsiapa yang mengamalkan suatu 
perbuatan, yang di dalamnya dia menyekutukanKu dengan selain Aku, maka Aku 
tinggalkan dia dan sekutunya. [HR. Muslim dari Abu Hurairah]

5. Memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar senantiasa berlaku 
ikhlas dalam segala amal ibadah dan berlindung dari-Nya dari riya`. Seorang 
mu`min atau mu`minah hendaklah tunduk, berserah diri kepada-Nya, berusaha 
semaksimal mungkin menghindarkan diri dari riya, sum'ah dan ujub; dan 
memperbanyak dzikir (mengingat Allah kapan saja di manapun berada) dan berdo`a 
kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, sebagaimana do'a-do'a yang diajarkan 
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam antara lain :

الشرك فيكم أخفى من دبيب النمل. وسأدلك على شيءٍ إذا فعلته أذهب عنك صغار الشرك 
وكبيره . تقول: اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْ ذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَناَ 
أَعْلَمُ, وَاسْتَغْفِرُكَ لمِاَ لاَ أَعْلَمُ (صحيح الجامع الصغير :3/332)

Kesyirikan yang ada pada kalian lebih tersembunyi merayapnya seekor semut, dan 
aku akan memberitahukan sesuatu kepadamu apabila hal itu kau kerjakan, maka 
akan menghilangkan kesyirikan kecil dan besar darimu. Yaitu engkau mengatakan 
(berdo'a): “Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari mensekutukan-Mu sedangkan 
saya mengetahuinya dan aku berlindung kepada-Mu dari apa-apa yang aku tidak aku 
tahu."
Wallahu A’lam.

(Disadur oleh Abdul Wahid dari kitab Al-Ikhlash Wasy Syirkul Ashghar, karya 
Syeikh Abdul Aziz Ali Abdul Lathif dan tambahan dari sumber lain)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun V/1422H/2001M Diterbitkan 
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton 
Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]                          
                 

Kirim email ke