MENDO'AKAN ANAK CIRI PENDIDIK IDEAL
Oleh
Al Maghriby bin As Sayyid Mahmud Al Maghriby
http://almanhaj.or.id/content/2986/slash/0

Allah Azza wa Jalla berfirman.

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ 
إِذَا دَعَانِ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka(jawablah) 
bahwasannya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a 
apabila ia memohon kepada-Ku. [Al Baqarah : 186]

Allah Azza wa Jalla berfirman.

أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السَّوءَ

Atau siapakah yang memperkenankan (Do’a) orang yang dalam kesulitan apa bila ia 
berdo’a kepadaNya dan yang menghilangkan kesusahan. [An Naml : 62]

Dari Nu’man bin Basyir Radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa 
sallam bersabda.

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

Berdoa itu adalah Ibadah. [1]

Wahai para pendidik, doa sangat memberi manfaat kepada anak dan menambah 
keteguhan dan kesolehan mereka serta orang akan selalu mendapat hidayah dan 
petunjuk kepada jalan yang lurus.

Oleh sebab Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mendorong kita agar selalu berdoa 
untuk kebaikan anak, sebab doa akan menambah keberkahan dan kebaikan pada anak. 
Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang kepada kita mendoakan 
buruk atas anak sebagaimana Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

لاَ تَدْعُوْا عَلَى أَنْفُسِكُمِ وَلاَ تَدْعُوْا عَلَى أَوْلاَدِكُمْ وَلاَ 
تَدْعُوْا عَلَى أمِوَالِكُمْ, وَلاَ تُوَافِقُوْا مِنَ الله سَاعَةً إلاَّ 
يَسْألُ فِيْهَا عَطاَءً فَيَسْتَجِيْبُ لَكُمْ.

Janganlah kalian berdoa buruk atas dirimu, jangan berdoa buruk atas anakmu, dan 
jangan berdoa buruk atas hartamu sebab bila kalian tepat pada saat yang 
dikabulkan Allah ketika kamu meminta suatu permintaan maka Allah akan 
mengabulkannya.

Seorang laki-laki datang kepada Abdullah Ibnu Mubarak yang mengeluhkan tentang 
kenakalan anaknya, maka Beliau bertanya kepadanya,” Apakah kamu pernah berdoa 
buruk atasnya? ia menjawab,”Ya”. Ibnu Mubarak berkata,” Kamulah yang 
merusaknya”.

Wahai para pendidik, daripada anda merusak anak maka lebih baik anda menjadi 
sebab baiknya anak dan datangnya keberkahan dalam hidup mereka lewat cara 
berdoa baik untuk mereka seperti yang dilakukan oleh pendidik utama, Muhammad 
dan para rasul serta para nabi.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi 
wa sallam pernah merangkulku ke dadanya lalu bersabda.

اللَّهُمَّ عَلِّمْهُ الْحِكْمَةَ وَفِي رِوَايَةٍ عَلِّمْهُ الْكِتَابَ

Ya Allah ajarkanlah kepadanya Al hikmah” dalam riwayat lain “Ajarkanlah 
kepadanya Al Kitab.

Dengan karunia Allah Azza wa Jalla berkat doa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa 
sallam Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhu menjadi pemuka ulama dan ahli tafsir 
Al-Qur’an.

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam selalu berdoa untuk kebaikan anak-anak 
ketika dalam keadaan bepergian, sebab dia pada saat itu sangat dikabulkan. 
Beliau berdoa.

اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبَ فِي السَّفَرِ وَالْخَلِيْفَةَ فِي اْلأَهْلِ, 
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ 
وَسُوْءِ الْمُنْقَلِبِ فِي الْمَالِ وَالأهْلِ وَالْوَلَدِ.

Ya Allah Engkau adalah teman dalam perjalanan, pengganti di keluarga. Ya Allah 
sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari gangguan perjalanan, kegelisahan 
penungguan dan buruknya kembali pada harta, keluarga dan anak.

Kaum Ibu pernah datang kepada Rasulullah agar Beliau Shallallahu 'alaihi wa 
sallam berdoa untuk anak-anak mereka.

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu berkata bahwa Ummu Sulaim berkata,” 
Wahai Rasulullah, Anas menjadi pembantumu maka berdoalah kepada Allah untuk 
kebaikannya”. Maka Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berdoa.

اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَولَدَهُ وَبَارَكَ فِيْمَا أَعْطَيْتَهُ

Ya Allah berikanlah kepada Anas harta dan anak yang banyak dan berkahilah 
apa-apa yang engkau berikan kepadanya.

Dalam riwayat Bukhari bahwa Anas Radhiyallahu 'anhu berkata,” Ummu Sulaim 
membawaku kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan menutupi badanku 
dengan setengah tudungnya dan setengah selendangnya. Maka ia berkata,” Wahai 
Rasulullah, anak ini bernama Unais aku membawanya kepadamu untuk menjadi 
pembantumu, maka berdoalah kepada Allah untuk kebaikannya”. Maka Beliau 
Shallallahu 'alaihi wa sallam berdoa.

اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَولَدَهُ

Ya Allah berikanlah kepada Anas harta dan anak yang banyak.

Anas Radhiyallahu 'anhu berkata,” Demi Allah hartaku banyak dan sungguh anak 
dan cucuku sampai seratus orang sejak hari ini”.

Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Khildah berkata bahwa Abu Aliyah pernah 
mendengar Anas Radhiyallahu 'anhu berkata, “Aku membantu Rasulullah Shallallahu 
'alaihi wa sallam selama sepuluh tahun dan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam 
berdoa kepadaku untuk kebaikan maka aku punya kebun buah-buahan yang bisa panen 
setahun dua kali sementara dalam kebun juga ada pohon raihan untuk bahan minyak 
kasturi”.

Berdoa merupakan perihal yang menjadi ciri utama pendidik yang berhasil yang 
pasti bisa dipetik buah dan hasilnya sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla.

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

Dan Tuhanmu berfirman: Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. 
[Ghafir : 60]

Dalam memenuhi panggilan Allah tersebut, para nabi dan rasul selalu berdoa 
untuk kebaikan anak cucu mereka.

Bukanlah kemiskinan yang menjdikan mereka cemas dan risau. Sebab tidak ada 
kerisauan dan kemalangan yang lebih besar daripada orang yang melepas keimanan 
demi mengejar dunia yang fana. Melepas iman apapun sebabnya merupakan sebab 
kecelakaan dunia dan akhirat. Oleh sebab itu para nabi selalu mewanti-wanti 
kepada keturunan mereka agar senantiasa menjaga benteng iman yang merupakan 
sebab keberhasilan dan kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat.

Allah Azza wa Jalla berfirman ketika menceritakan doa Nabi Ibrahim untuk 
keturunannya.

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَآ أُمَّةً مُّسْلِمَةً 
لَّكَ

Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan 
(jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau. [Al 
Baqarah : 128]

Lalu firmanNya dalam surat lain, mengisahkan doa Nabi Ibrahim yang lain.

رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ ءَامِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ 
اْلأَصْنَامَ

Ya tuhanku,jadikanlah negeri ini (Mekah) negeri yang aman dan jauhkanlahaku 
beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. [Ibrahim : 35]

Juga firman Allah.

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ 
دُعَآءِ

Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan 
shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah do’aku. [Ibrahim : 40]

Begitu juga Zakaria berdoa sebagaimana firman Allah.

قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ 
الدُّعَآءِ

Berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha 
Pendengar do’a. [Ali Imran : 38]

Allah Ta'ala juga berfirman mengisahkan sifat-sifat ‘Ibadurrahman adalah berdoa 
untuk kebaikan istri dan keturunannya.

Firman Allah,

قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَىَّ 
وَعَلَى وَالِدَيذَ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي 
ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Ya tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau 
berikan kepadaku dan kepada ibu bapaku dan supaya aku dapat berbuat amal yang 
shaleh yang engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan(memberi kebaikan) 
kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya 
aku termasuk orang-orang yang berserah diri. [Al Ahqaf : 15]

Firman Allah

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا 
قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Dan orang-orang yang berkata: Ya Tuhan kami , anugerhakanlah kepada kami 
isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati(kami) dan 
jadikanlah kami Imam bagi orang-orang yang bertakwa. [Al Furqan : 74]

Wahai para pendidik, berdoalah kepada Allah untuk anak-anakmu terus menerus dan 
tumbuhkan perasaan bahwa tiada daya dan kekuatan kecuali datang dari Allah 
karena seluruh taufik hanya datang dari Allah sementara manusia hanya sekedar 
usaha dan ikhtiar. Marilah kita berdoa dengan penuh khusyu’ dan perasaan tunduk 
semoga Allah menutup kekurangan, memberi belas kasih kepada yang lemah di 
antara kita, dan memelihara anak cucu kita. Hendaklah kita membiasakan pola 
makan, pola minum dan dalam berpakaian yang bersih dan halal. Begitu juga 
hendaklah berdoa dalam keadaan suci, menghadap kiblat dan mengembalikan 
kedzaliman kepada pemiliknya serta memilih waktu yang mustajab terutama pada 
saat sujud berdasarkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu bahwa 
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

أقْرَبُ مَا يَكُوْنُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأكْثِرُوْا مِنَ 
الدُّعَاءِ

Saat yang paling dekat antara hamba dengan Tuhannya adalah ketika sedang sujud 
maka perbanyaklah berdoa. [2]

Dari Abu Umamah berkata, ” Pernah Rasulullah ditanya: Kapan doa sangat 
dikabulkan? Beliau bersabda, ”Pada waktu pertengahan malam dan setiap selesai 
shalat wajib”.

Wahai saudaraku, jangan lupa perdoa terutama ketika dalam keadaan bepergian 
berdasarkan hadits dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah bersabda:

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٍ لاَ شَكَّ فِيْهِنَّ, دَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ 
وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالَدِ عَلَي وَلَدِهِ.

Ada tiga doa yang mustajab dan tidak diragukan, doa orang yang teraniaya, doa 
orang yang sedang bepergian dan doa orang tua atas anaknya.

Begitu juga berdoa pada siang hari dan malam hari dari bulan ramadhan serta 
berdoa pada saat haji dan umrah. Maka berdoalah kepada Allah pada saat itu 
sementara dalam keadaan sangat yakin bahwa doa anda dikabulkan sehingga Umar 
bin Khaththab Radhiyallahu 'anhu berkata,”Yang menjadi perhatianku bukan 
terkabulnya doa akan tetapi perhatian utamaku adalah ilham untuk bisa berdoa 
sebab orang kalau sudah bisa berdoa maka pengkabulan doa akan bisa diraih”.

Demikian semoga bermanfaat.

(Diangkat dari kitab bertajuk “Kaifa Turabbi Waladan Salihan” karya Al Akh Al 
Maghriby bin As Sayyid Mahmud Al Maghriby semoga Allah menjaganya) Ummu 
Rasyidah)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun VIII/1425H/2004M Diterbitkan 
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton 
Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]
_______
Footnote
[1]. Riwayat Abu Dawud
[2]. HR Muslim no.482                                     

Kirim email ke