RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM DI BULAN RAMADHAN

Oleh
Syaikh Dr Muhammad Musa Alu Nashr
http://almanhaj.or.id/content/3139/slash/0

Tamu agung nan penuh barakah akan kembali mendatangi kita. Kedatangannya yang 
terhitung jarang, hanya sekali dalam setahun menumbuhkan kerinduan mendalam di 
hati kaum Muslimin. Leher memanjang dan mata nanar memandang sementara hati 
berdegup kencang menunggu kapan gerangan hilalnya terbit.

Itulah Ramadhân, bulan yang sangat dikenal dan benar-benar ditunggu 
kehadirannya oleh kaum Muslimin.

Kemuliaanya diabadikan dalam al-Qur'ân dan melalui untaian-untaian sabda 
Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam. Allâh Azza wa Jalla menjadikannya 
sarat dengan kebaikan, mulai dari awal Ramadhan sampai akhir. Allâh Azza wa 
Jalla berfirman

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ 
مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

"(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhân, bulan yang di 
dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur'ân sebagai petunjuk bagi manusia dan 
penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan 
yang bathil)".[al-Baqarah/2:185]

Jiwa yang terpenuhi dengan keimanan tentu akan segera mempersiapkan diri untuk 
meraih keutamaan serta keberkahan yang yang ada didalamnya.

Pada bulan ini Allah Azza wa Jalla menurunkan al-Qur'ân. Seandainya bulan 
Ramadhan tidak memiliki keutamaan lain selain turunnya al-Qur'ân maka itu sudah 
lebih dari cukup. Lalu bagaimana bila ditambah lagi dengan berbagai keutamaan 
lainnya, seperti pengampunan dosa, peninggian derajat kaum Mukminin, pahala 
semua kebaikan dilipatgandakan, dan pada setiap malam Ramadhan, Allah Azza wa 
Jalla membebaskan banyak jiwa dari api neraka.

Pada bulan mulia ini, pintu-pintu Surga dibuka lebar dan pintu-pintu neraka 
ditutup rapat, setan-setan juga dibelenggu. Pada bulan ini juga ada dua 
malaikat yang turun dan berseru, "Wahai para pencari kebaikan, sambutlah ! 
Wahai para pencari kejelekan, berhentilah !"

Pada bulan Ramadhân terdapat satu malam yang lebih utama dari seribu bulan. 
Orang yang tidak mendapatkannya berarti dia terhalang dari kebaikan yang sangat 
banyak.

Mengikuti petunjuk Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang mulia dalam 
melakukan ketaatan adalah hal yang sangat urgen, terlebih pada bulan Ramadhan. 
Karena amal shalih yang dilakukan oleh seorang hamba tidak akan diterima 
kecuali jika dia ikhlash dan mengikuti petunjuk Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi 
wa sallam. Jadi, keduanya merupakan rukun diterimanya amal shalih. Keduanya 
ibarat dua sayap yang saling melengkapi. Seekor burung tidak bisa terbang 
dengan menggunakan satu sayap.

Melalui naskah ringkas ini, marilah kita berusaha untuk mempelajari prilaku 
Rasûlullâh di bulan Ramadhân agar kita bisa meneladaninya. Karena orang yang 
tidak berada diatas petunjuk Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam di dunia 
dia tidak akan bisa bersama beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam di akhirat. 
Kebahagiaan tertinggi akan bisa diraih oleh seseorang ketika ia mengikuti 
petunjuk Rasûlullâh secara lahir dan batin. Dan seseorang tidak akan bisa 
mengikuti Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam kecuali dengan ilmu yang 
bermanfaat. Ilmu itu tidak akan disebut bermanfaat kecuali bila diiringi dengan 
amalan yang shalih. Jadi amalan shalih merupakan buah ilmu yang bermanfaat.

Dibawah ini adalah beberapa kebiasaan dan petunjuk Rasûlullâh Shallallahu 
'alaihi wa sallam pada bulan Ramadhân :

a). Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak akan memulai puasa kecuali 
jika beliau sudah benar-benar melihat hilal atau berdasarkan berita dari orang 
yang bisa dipercaya tentang munculnya hilal atau dengan menyempurnakan bilangan 
Sya'bân menjadi tiga puluh.

b). Berita tentang terbitnya hilal tetap beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam 
terima sekalipun dari satu orang dengan catatan orang tersebut bisa dipercaya. 
Ini menunjukan bahwa khabar ahad bisa diterima.

c). Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang umatnya mengawali 
Ramadhân dengan puasa satu atau dua hari sebelumnya kecuali puasa yang sudah 
terbiasa dilakukan oleh seseorang. Oleh karena itu, beliau n melarang umatnya 
berpuasa pada hari Syak (yaitu hari yang masih diragukan, apakah sudah tanggal 
satu Ramadhan ataukah masih tanggal 30 Sya'bân-red)

d). Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam berniat untuk melakukan puasa saat 
malam sebelum terbit fajar dan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menyuruh 
umatnya untuk melakukan hal yang sama. Hukum ini hanya berlaku untuk 
puasa-puasa wajib, tidak untuk puasa sunat.

e). Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak memulai puasa sampai benar-benar 
terlihat fajar shadiq dengan jelas. Ini dalam rangka merealisasikan firman 
Allâh Azza wa Jalla :

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ#( الْأَبْيَضُ مِنَ 
الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ 

"Dan makan serta minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, 
yaitu fajar". [al-Baqarah/2:187]

Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menjelaskan kepada umatnya bahwa 
fajar itu ada dua macam fajar shâdiq dan kâdzib. Fajar kadzib tidak menghalangi 
seseorang untuk makan, minum, atau menggauli istri. Rasûlullâh Shallallahu 
'alaihi wa sallam tidak pernah ekstrem kepada umatnya, baik pada bulan Ramadhân 
ataupun bulan lainnya. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah 
mensyari'atkan adzan (pemberitahuan) tentang imsak.

f). Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menyegerakan berbuka dan mengakhirkan 
sahur. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

لَا تَزَالُ أُمَّتِي بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

"Umatku senantiasa baik selama mereka menyegerakan berbuka"

g). Jarak antara sahur Rasûlullâh dan iqâmah seukuran bacaan lima puluh ayat

h). Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam memiliki akhlak yang sangat mulia. 
Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang yang paling mulia akhlaknya. 
Bagaimana tidak, akhlak beliau adalah al-Qur'ân, sebagaimana diceritakan oleh 
Aisyah Radhiyallahu 'anha. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam sangat 
menganjurkan umatnya untuk berakhlak mulia, orang-orang yang sedang menunaikan 
ibadah berpuasa. Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي 
أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

"Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkatan dan perbuatan dusta, maka tidak 
membutuhkan puasanya sama sekali".

i). Rasûlullâh sangat memperhatikan muamalah yang baik dengan keluarganya. Pada 
bulan Ramadhân, kebaikan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada keluarga 
semakin meningkat lagi.

j). Puasa tidak menghalangi beliau untuk sekedar memberikan kecupan manis 
kepada para istrinya. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang yang 
paling kuat menahan nafsunya.

k). Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak meninggalkan siwak, baik di 
bulan Ramadhân maupun diluar Ramadhân guna membersihkan mulutnya dan upaya 
meraih keridhaan Allâh Azza wa Jalla.

l). Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berbekam padahal beliau 
Shallallahu 'alaihi wa sallam sedang menunaikan ibadah puasa. Beliau 
Shallallahu 'alaihi wa sallam membolehkan umatnya untuk berbekam sekalipun 
sedang berpuasa. Pendapat yang kontra dengan ini berarti mansukh (telah 
dihapus).

m). Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berjihad pada bulan 
Ramadhân dan menyuruh para shahabatnya untuk membatalkan puasa mereka supaya 
kuat saat berhadapan dengan musuh.

Diantara bukti Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam sayang kepada umatnya 
yaitu beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam membolehkan orang yang sedang dalam 
perjalanan, orang yang sakit dan oranng yang lanjut usia serta wanita hamil dan 
menyusui untuk membatalkan puasanya.

n). Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam lebih bersungguh-sungguh dalam 
menjalankan ibadah pada bulan Ramadhân bila dibandingkan dengan bulan-bulan 
lain, terutama pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhân untuk mencari lailatul 
qadr.

o). Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam beri'tikaf pada sepuluh hari 
terakhir bulan Ramadhân kecuali pada tahun menjelang wafat, beliau Shallallahu 
'alaihi wa sallam beri'tikaf selama dua puluh hari. Ketika beri'tikaf, beliau 
Shallallahu 'alaihi wa sallam selalu dalam keadaan berpuasa

p). Ramadhân adalah syahrul Qur'ân (bulan al-Qur'ân), sehingga tadarus 
al-Qur'ân menjadi rutinitas beliau, bahkan tidak ada seorangpun yang sanggup 
menandingi kesungguh-sungguhan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam 
tadarus al-Qur'ân. Malaikat Jibril Alaihissallam senantiasa datang menemui 
beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk tadarus al-Qur'ân dengan Rasûlullâh 
Shallallahu 'alaihi wa sallam.

q). Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang yang dermawan. 
Kedermawanan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam di bulan Ramadhân tidak bisa 
digambarkan dengan kata-kata. Kedermawanan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam 
ibarat angin yang bertiup membawa kebaikan, tidak takut kekurangan sama sekali.

r). Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah seorang mujahid sejati. 
Ibadah puasa yang sedang beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam jalankan tidak 
menyurutkan semangat beliau untuk andil dalam berbagai peperangan. Dalam 
rentang waktu sembilan tahun, beliau mengikuti enam pertempuran, semuanya 
terjadi pada bulan Ramadhân. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam juga 
melakukan berbagai kegiatan fisik pada bulan Ramadhân, seperti penghancuran 
masjid dhirâr [1], penghancuran berhala-berhala milik orang Arab, penyambutan 
duta-duta, penaklukan kota Makkah, bahkan pernikahan beliau dengan Hafshah

Intinya, pada masa hidup Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam, bulan 
Ramadhân merupakan bulan yang penuh dengan keseriusan, perjuangan dan 
pengorbanan. Ini sangat berbeda dengan realita sebagian kaum Muslimin saat ini 
yang memandang bulan Ramadhân sebagai saat bersantai, malas-malasan atau bahkan 
bulan menganggur atau istirahat.

Semoga Allâh Azza wa Jalla memberikan taufik kepada kita untuk selalu mengikuti 
jejak Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam, hidup kita diatas sunnah dan 
semoga Allah Azza wa Jalla mewafatkan kita juga dalam keadaan mengikuti sunnah 
Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04-05/Tahun XIV/1431H/2010M. Diterbitkan 
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton 
Gondanrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858197]

2011/7/29 Ridwan Uze <[email protected] <mailto:ridwan_uze%40yahoo.co.id> >

> **
>
>
> Assalamu'alaykum..ana mau tanya,do'a berbuka puasa dibaca sebelum atau
> setelah makan/minum? Ana masih bingung,ada yang bilang sebelum,ada juga yang
> bilang sesudah,mana yang rojih?
>
>





------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke