*Dari waktu kapan dihitung hari ketujuh?* Disebutkan dalam Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah,
وذهب جمهور الفقهاء إلى أنّ يوم الولادة يحسب من السّبعة ، ولا تحسب اللّيلة إن ولد ليلاً ، بل يحسب اليوم الّذي يليها “Mayoritas ulama pakar fiqih berpandangan bahwa waktu siang[2]<http://rumaysho.com/belajar-islam/keluarga/3090--hadiah-di-hari-lahir-7-waktu-pelaksanaan-aqiqah.html#_ftn2>pada hari kelahiran adalah awal hitungan tujuh hari. Sedangkan waktu malam [3]<http://rumaysho.com/belajar-islam/keluarga/3090--hadiah-di-hari-lahir-7-waktu-pelaksanaan-aqiqah.html#_ftn3>tidaklah jadi hitungan jika bayi tersebut dilahirkan malam, namun yang jadi hitungan hari berikutnya.”[4]<http://rumaysho.com/belajar-islam/keluarga/3090--hadiah-di-hari-lahir-7-waktu-pelaksanaan-aqiqah.html#_ftn4>Barangkali yang dijadikan dalil adalah hadits berikut ini, تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ “*Disembelih baginya pada hari ketujuh.*” Hari yang dimaksudkan adalah siang hari. Misalnya ada bayi yang lahir pada hari Senin (21/06), pukul enam pagi, maka hitungan hari ketujuh sudah mulai dihitung pada hari Senin. Sehingga aqiqah bayi tersebut dilaksanakan pada hari Ahad (27/06). Jika bayi tersebut lahir pada hari Senin (21/06), pukul enam sore, maka hitungan awalnya tidak dimulai dari hari Senin, namun dari hari Selasa keesokan harinya. Sehingga aqiqah bayi tersebut pada hari Senin (28/06). Semoga bisa memahami contoh yang diberikan ini. Catatan kaki: [2]<http://rumaysho.com/belajar-islam/keluarga/3090--hadiah-di-hari-lahir-7-waktu-pelaksanaan-aqiqah.html#_ftnref2>Waktu siang dihitung dari Shubuh hingga Maghrib. [3]<http://rumaysho.com/belajar-islam/keluarga/3090--hadiah-di-hari-lahir-7-waktu-pelaksanaan-aqiqah.html#_ftnref3>Waktu malam dihitung dari Maghrib hingga Shubuh. [4]<http://rumaysho.com/belajar-islam/keluarga/3090--hadiah-di-hari-lahir-7-waktu-pelaksanaan-aqiqah.html#_ftnref4>Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 2/11011, Mawqi’ Ahlalhdeeth. Sumber: http://rumaysho.com/belajar-islam/keluarga/3090--hadiah-di-hari-lahir-7-waktu-pelaksanaan-aqiqah.html *Wallahu'alam* 2012/5/7 AbdulQodir <[email protected]> > ** > > > ** > "Maka menurut madzhab pertama ini, apabila seorang anak lahir pada hari > Ahad misalnya, baik lahirnya pada pagi hari sesudah fajar (shubuh) atau > siang hari atau sore hari atau malam hari atau tengah malam sampai sebelum > fajar hari Ahad malam Senin sama saja," > > Jika kita amati tulisan ini,berarti perubahan hari nya di waktu > Fajar...jadi waktu Fajar ketemu waktu Fajar lagi... > Bukankah dalam penanggalan Islam (hijriyyah) perubahan hari terjadi pada > waktu magrib....jadi waktu magrib ketemu magrib berikutnya di hitung satu > hari.. > Mohon pencerahannya > > Abu Abdillah > Powered by Telkomsel BlackBerry® > ------------------------------ > *From: * Abu Harits <[email protected]> > *Sender: * [email protected] > *Date: *Sun, 6 May 2012 23:22:09 +0000 > *To: *assunnah assunnah<[email protected]> > *ReplyTo: * [email protected] > *Subject: *RE: [assunnah]>>Menentukan hari ke 7 Kelahiran<< > > > > From: [email protected] > Date: Fri, 4 May 2012 16:03:13 +0000 > Bismillah, > Assalamu'alaikum, > Mohon bantuan kepada yang mengerti bagaimana cara menentukan hari ke 7 > setelah kelahiran berdasarkan dalil? > Apabila bayi lahir pada hari Rabu, 2 Mei pukul 18.05 wib, kapan hari ke 7 > kelahirannya untuk pelaksanaan aqiqahnya? > Terima kasih, > Wassalamu'alaikum > Abu Nur > >>>>>>>>>>> > > BAGAIMANAKAH CARA MENGHITUNG HARI KETUJUH > Oleh > Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat > http://almanhaj.or.id/content/271/slash/0 > > Dalam masalah inipun para ulama telah berselisih menjadi dua madzhab. > > Madzhab yang pertama : Mengatakan bahwa menghitung jumlah tujuh hari itu > ialah dengan memasukkan hari kelahirannya sebagai hari pertama atau > dihitung satu hari. > > Maka menurut madzhab pertama ini, apabila seorang anak lahir pada hari > Ahad misalnya, baik lahirnya pada pagi hari sesudah fajar (shubuh) atau > siang hari atau sore hari atau malam hari atau tengah malam sampai sebelum > fajar hari Ahad malam Senin sama saja, maka cara menghitungnya sebagai > berikut. > > 1. Hari Ahad hari pertama (hari kelahiran) > 2. Senin hari kedua > 3. Selasa hari ketiga > 4. Rabu hari keempat > 5. Kamis hari kelima > 6. Jum’at hari keenam > 7. Sabtu hari ketujuh yaitu hari penyembelihan atau hari aqiqah. > > Sedangkan madzhab kedua : Tidak menghitung hari kelahiran sebagai hari > pertama. Jadi cara menghitungnya sebagai berikut. > > 1. Senin hari pertama > 2. Selasa hari kedua > 3. Rabu hari ketiga > 4. Kamis hari keempat > 5. Jum’at hari kelima > 6. Sabtu hari keenam > 7. Ahad hari ketujuh yaitu hari penyembelihan atau hari aqiqah > > Menurut ImamNawawi madzhab pertamalah yang benar sesuai dengan zhahirnya > hadits yakni hadits Samurah bin Jundub, “Disembelih untuknya pada hari > ketujuh”. Zhahirnya hari kelahiran dihitung satu hari sebagai hari pertama. > Wallahu ‘alam [1] > > [Disalin dari buku Menanti Buah Hati Dan Hadiah Untuk Yang Dinanti, > Penulis Abdul Hakim bin Amir Abdat, Penerbit Darul Qolam, Komplek Depkes > Jl. Rawa Bambu Raya No. A2, Pasar Minggu – Jakarta] > _______ > Footnote > [1]. Majmu Syarah Muhadzdzab Juz 8 hal.431, Tuhfatul Maudud Bab VI Fasal 8 > > > -- *Abu Yazid Abdul Hamid (Victor Johnson)*
