From: [email protected]
Date: Wed, 16 May 2012 16:52:25 +0800
Assalamu'alaykum..Ikhwah Fillah...Mohon penjelasan Definisi Ulama menurut 
dalil/Nash dari Al-quran maupun hadits..soalnya ana baru mendengar dari seorang 
ustadz, yang mendefiniskan ulama berdasarkan akar kata/bentuk jama dari  'ilmu 
(orang yang berilmu), lalu ustadz tersebut menyamakan (tidak memisahkan)  
antara ilmu dunia (umum) dengan ilmu agama berdasarkan pengetahuan yang beliau 
miliki..sehingga orang yang pakar dalam disiplin ilmu tertentu baik agama 
maupun ilmu dunia maka ia bisa disebut ulama. Definisi ini menurut ana terasa 
janggal, namun ana tidak bisa menanggapinya..
Jazakallahu khair atas jawabannya..
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
 
SIKAP TERHADAP ULAMA DAN “SIAPAKAH ULAMA?”
Garis pemisah berikutnya adalah sikap terhadap ulama, dan "Siapakah ulama?"

Sebagian orang mengatakan : "Duduklah bersama para ulama, bermajelislah dengan 
para ulama!" Sedangkan yang lain mencela para ulama dengan mengatakan : "Mereka 
(ulama) tidak paham realita!" Ada lagi yang mengatakan : "Peristiwa-peristiwa 
yang telah terjadi menunjukkan bahwa umat ini tidak memiliki ulama rujukan yang 
layak!" Yang lain mengatakan : "Para ulama tidak berdiri sendiri dalam 
fatwa-fatwa mereka, bahkan mereka penjilat terhadap penguasa!" Setelah keluar 
celaan-celaan ini kemudian dari kelompok para pencela ini mengatakan : 
"Dengarkanlah perkataan para ulama!"

Siapakah ulama yang harus didengar perkataannya? Apakah mereka orang-orang yang 
memakai baju-baju tertentu atau yang memiliki bentuk-bentuk tertentu? Tidak, 
para ulama adalah mereka yang mendalami Kitab dan Sunnah dengan pemahaman 
salafush-sholih, menyeru kepada tauhid dan melarang dari kesyirikan, mengajak 
kepada Sunnah dan menjauhkan dari bid'ah. Telah datang kesaksian dari para 
ulama bahwa mereka adalah ahli ilmu, mereka mengikuti dalil, bukan hawa nafsu, 
mengajak kepada persatuan di atas al-haq bukan perpecahan di atas 
kesesatan-kesesatan, berusaha untuk menjelaskan al-haq kepada umat bukan 
membodohkan umat dan menyesatkan mereka. Dan zaman sekarang ini adalah seperti 
yang dikatakan oleh Abdulloh bin Mas'ud Radhiyallohu anhu : 

"Sesungguhnya kalian sekarang ini berada di zaman yang banyak ulamanya dan 
sedikit tukang khotbahnya, dan sesungguhnya akan datang sesudah kalian suatu 
zaman yang banyak tukang khotbahnya dan sedikit ulamanya." [Diriwayatkan oleh 
Abu Khaitsamah dalam Kitab al-Ilm hal. 109 dan dishohihkan oleh Syaikh 
al-Albani dalam takhrijnya]

Hal yang sangat disesalkan, banyak orang-orang awam dan anak-anak muda yang 
mengangkat derajat para tukang khotbah ini sehingga mereka sebut sebagai ulama. 
Ketika para tukang khotbah ini menampakkan bid'ah dan fitnah, lantas para ulama 
yang tulen memperingatkan umat dari kesesatan mereka, maka orang-orang 
menyangka bahwa khilaf (perselisihan) antara para ulama dan para tukang khotbah 
ini adalah khilaf yang terjadi antara ulama dengan ulama, kemudian 
dipraktekkanlah fiqih salaf –dengan serampangan- di dalam menyikapi khilaf yang 
terjadi di antara para ulama. Seandainya saja mereka benar dalam memahami fiqih 
khilaf, tetapi kenyataannya mereka membawakan perkataan Ibnu Mas'ud 
rodhiyallohu anhu : "Khilaf adalah jelek", kata mereka ucapan ini maksudnya : 
"Diamlah, jangan mengingkari kebid'ahan dan kesesatannya!" (?!!)
Selengkapnya baca di http://almanhaj.or.id/content/2189/slash/0
 
Ilmu (yang kami maksudkan) ialah apa yang dikatakan oleh Allah dan RasulNya. 

Benarlah apa yang dikatakan oleh sebagian ulama’ salaf: Ilmu ini adalah agama. 
Maka perhatikanlah, darimana anda mengambil agama kalian?

Pertanyaan penting yang harus diajukan kepada diri kita. Dimanakah posisi kita 
dengan ilmu yang hakiki itu? Siapakah ulama’ yang menjadi rujukan kita? Apakah 
rujukan-rujukan kita itu bersumber dari ceramah-ceramah, kaset-kaset ataukah 
buku-buku kecil? Ataukah bersumber dari kegiatan-kegiatan lain serta 
perlombaan-perlombaan? 

Ya, semua ini memang bermanfaat dan mempunyai nilai positif. Akan tetapi, ilmu 
yang hakiki itu harus diambil dari pintunya yang benar. Yaitu para ulama’ yang 
tumbuh menjadi dewasa dalam Islam. Dikenal dengan aqidah dan manhajnya yang 
lurus. Istiqamah di atas Sunnah. Diakui umat. Memiliki ilmu yang mendalam dan 
menjadi pembimbing manusia menuju Rabb-nya. Mereka ahli dalam agama dan luas 
ilmunya. 

Ilmu itu memang penting untuk menjaga agama dan keistiqamahan. Juga untuk 
mewujudkan persatuan serta untuk membantah ahlu bid’ah dan para pengikut hawa 
nafsu.
Selengkapnya baca di http://almanhaj.or.id/content/2913/slash/0
 
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menyebutkan sifat ulama yang akan 
selalu ada sepanjang zaman, sampai waktu yang dikehendaki oleh Allah, yaitu di 
dalam sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam :

يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُوْلُهُ : يَنْفُوْنَ عَنْهُ 
تَحْرِيْفَ الْغَالِيْنَ وَتَأْوِيْلَ الْجَاهِلِيْنَ وَ إِنْتِحِالَ 
الْمُبْطِلِيْنَ

"Ilmu agama ini akan dibawa oleh orang-orang yang lurus pada setiap generasi; 
mereka akan menolak tahrif (perubahan) yang dilakukan oleh orang-orang yang 
melewati batas; ta’wil (penyimpangan arti) yang dilakukan oleh orang-orang yang 
bodoh; dan kedustaan yang dilakukan oleh orang-orang yang berbuat kepalsuan" 
[6] 

Hadits ini jelas dan tegas menunjukkan sifat-sifat pengemban ilmu agama, yaitu 
‘adalah (lurus, istiqamah), maka sepantasnya ilmu itu hanyalah diambil dari 
mereka. Oleh karena itu, banyak peringatan ulama tentang memilih guru agama 
yang tepat di dalam mengambil ilmu. Berikut ini di antara perkataan ulama 
berkaitan dengan hal tersebut.
Selengkapnya baca di http://almanhaj.or.id/content/2602/slash/0
 
3. Orang Yang Berilmu Adalah Orang-Orang Yang Takut Kepada Allah
Allah mengabarkan bahwa mereka adalah orang-orang yang takut kepada Allah 
Ta’ala, bahkan Allah mengkhususkan mereka di antara manusia dengan rasa takut 
tersebut. Allah berfirman: 

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ 

“... Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para ulama.” 
[Faathir: 28]

Ibnu Mas’ud Radhiyallaahu ‘anhu berkata, “Cukuplah rasa takut kepada Allah itu 
disebut sebagai ilmu. Dan cukuplah tertipu dengan tidak mengingat Allah disebut 
sebagai suatu kebodohan.” [8]

Imam Ahmad rahimahullaah berkata, “Pokok ilmu adalah rasa takut kepada Allah.” 
[9] Apabila seseorang bertambah ilmunya, maka akan bertambah rasa takutnya 
kepada Allah.
Selengkapnya baca di http://almanhaj.or.id/content/2311/slash/0
 
Wallahu a'lam






                                          

Kirim email ke