MEMBUANG MA'MUL[1] MENYEBABKAN MAKNANYA MENJADI UMUM

http://almanhaj.or.id/content/3652/slash/0/membuang-mamul-menyebabkan-maknanya-menjadi-umum/

Kaidah ini merupakan salah satu dari kaidah yang sangat bermanfaat. Ketika
kaidah ini diterapkan oleh seorang dalam memahami ayat-ayat al-Qur'ân, maka
dia akan memetik banyak manfaat. Karena sebuah kata kerja atau yang semisal
dengannya, jika sudah dikaitkan dengan sesuatu, maka makna kata kerja itu
terikat dengan sesuatu itu. Namun jika sesuatu yang menjadi pengikat itu
dibuang, maka maknanya akan meluas. Sehingga terkadang membuang ma'mûl
lebih baik dan lebih bermanfaat daripada disebutkan. Contoh penerapan
kaidah dalam al-Qur'ân banyak sekali. Misalnya, dalam banyak ayat, Allâh
Azza wa Jalla berfirman :

لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

… agar kamu memahami. [An-Nûr/24:61]

لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

… agar kamu ingat. [al-An'âm/6:152]

لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

… agar kamu bertakwa (menjaga diri-red), [al-Baqarah/2:21]

Dalam potongan ayat-ayat diatas, tidak disebutkan sesuatu yang menjadi
ma'mûl (obyek)nya, sehingga makna potongan yang pertama menjadi agar kalian
memahami semua yang Allâh Azza wa Jalla tunjukkan, ajarkan dan turunkan
kepada kalian. Potongan yang kedua, maknanya menjadi agar kalian mengingat
semua kebaikan dunia dan agama kalian. Potongan yang ketiga, maknanya
menjadi agar kalian menjaga diri dari semua yang wajib dihindari seperti
dosa dan maksiat.

Masuk dalam keumuman ini, semua yang terkait dengan kontek pembicaraan
kalimat tersebut. Misalnya dalam firman Allâh Azza wa Jalla :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ
عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana
diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (menjaga diri),
[al-Baqarah/2:183].

Kalimat, 'agar kalian bertakwa (menjaga diri)' maknanya luas. Maksudnya
mencakup semua yang disebutkan sebagai hikmat puasa. Artinya agar kalian
bisa menjaga diri dari semua yang diharamkan secara umum, juga agar menjaga
diri dari segala yang diharamkan atas orang-orang yang berpuasa, juga agar
kalian bisa memiliki karakter orang-orang yang bertakwa. Dan begitu
selanjutnya, ini berlaku pada semua kontek yang disebutkan padanya kalimat
ini.

Contoh yang lain, dalam firman Allâh Azza wa Jalla :

إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ
تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari
syaitan, mereka ingat kepada Allâh, lalu ketika itu juga mereka melihat
(kesalahan-kesalahannya). [al-A'râf/7:201]

Dalam ayat ini, kaidah di atas bisa diterapkan pada tiga kalimat :
Pertama : Firman Allâh yang artinya, "Sesungguhnya orang-orang yang
bertakwa (yang menjaga diri)" disini sesuatu yang menjadi ma'mûl (obyek)
nya tidak disebutkan, sehingga maknanya menjadi umum. Artinya orang yang
menjaga diri dari murka Allâh Azza wa Jalla ; menjaga diri dari api neraka;
menjaga diri agar tidak terjerumus dalam perbuatan maksiat dan segala hal
yang harus dijauhi. Semua ini masuk dalam keumuman cakupan ayat diatas.

Kedua : Firman Allâh Azza wa Jalla yang artinya, " Sesungguhnya orang-orang
yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat,"
Dalam potongan ayat ini, orang-orang yang bertakwa dan terbiasa
meninggalkan segala yang diharamkan oleh Allâh Azza wa Jalla , ketika ada
syaitan yang menghiasi dosa sehingga tampak indah baginya, dia akan segera
ingat. Apa yang dia ingat ? Karena sesuatu yang menjadi ma'mûl (obyek) nya
tidak disebutkan maka maknanya menjadi lebih umum yaitu dia ingat segala
hal yang menyebabkan dia tergerak untuk segera bertaubat seperti ingat
keagungan Allâh Azza wa Jalla ; ingat kepada apa yang menjadi tuntutan
keimanan dan ketakwaannya; ingat akan adzab dan siksa-Nya; ingat akan
akibat buruk dosa.

Ketiga : Firman Allâh Azza wa Jalla yang artinya, "… lalu ketika itu juga
mereka melihat." Apa yang mereka lihat ? Maknanya luas, mencakup melihat
kebenaran; melihat manfaat meninggalkan maksiat; melihat celah yang bisa
dimanfaat syaitan untuk menggodanya; melihat jalan keluar yang bisa
menyelamatkan dirinya dari perbuatan dosa ini, sehingga dia bisa segera
bertaubat kepada Allâh Azza wa Jalla dengan taubat nasuha. Dengan demikian,
dia akan segera kembali ke derajatnya semula, sementara syaitan kembali
dengan membawa kekecewaan.

Contoh yang lain yaitu dalam firman Allâh Azza wa Jalla berkaitan dengan
kaum Muslimin, yang terkadang menggunakan lafazh al-Mukminûn atau terkadang
INNAL LADZIINA AAMANUU tanpa menyebutkan apa yang harus diimani, maka
maknanya juga menjadi luas, mencakup segala hal yang wajib diimani.

Termasuk juga kebaikan yang diperintahkan agar dikerjakan atau keburukan
tyang harus dijauhi. Kalau tidak disebutkan jenis obyeknya, maka maknanya
menjadi umum, mencakup semua kebaikan atau semua keburukan.

Begitu juga dengan firman Allâh Azza wa Jalla :

وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

… dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allâh menyukai orang-orang yang
berbuat baik. [al-Baqarah/2:195]

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ

Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan
tambahannya [Yûnus/10:26]

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ

Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula) [ar-Rahmân/55:60]

Karena sesuatu yang menjadi ma'mûl (obyek) dari kata ihsân (melakukan
kebaikan) tidak disebutkan, maka maknanya mencakup semua jenis ihsân, baik
ihsân kepada Allâh Azza wa Jalla yang dijelaskan oleh Rasûlullâh n dengan
sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam :

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ
فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Engkau beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla seakan-akan engkau melihat-Nya,
jika engkau tidak bisa melihat-Nya, sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla
melihatmu

Juga mencakup ihsân (berbuat baik) kepada makhluk, baik dengan perkataan,
perbuatan, kedudukan, ilmu, harta dan lain sebagainya.

Keumuman makna karena ma'mûlnya dibuang juga bisa ditemukan dalam firman
Allâh Azza wa Jalla :

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu [at-Takâtsur/102:1]

Dalam ayat ini tidak sebutkan apa yang dipergunakan untuk bermegah-megahan,
sehingga maknanya mencakup segala yang biasa dipergunakan untuk berbangga
diri seperti pepularitas, kekayaan, kedudukan, anak keturunan dan hal-hal
lain yang menjadi incaran banyak orang serta melalaikan dari ketaatan
kepada Allâh Azza wa Jalla .

Inilah beberapa contoh penerapan kaidah ini dalam al-Qur'an dan masih
banyak lagi contoh-contoh lainnya. Semoga dengan contoh-contoh ini,
pemahaman dan penerapan kaidah menjadi lebih jelas. Wallahu a'lam.

(Dikutip dari kitab Al-Qawâidul Hisân, Syaikh Abdurrahmân bin Nâshir
as-Sa`di, halaman. )

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun XIV/1431H/2010. Diterbitkan
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton
Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Secara bahasa, ma'mul fih adalah kalimat atau kata yang cara bacanya
dipengaruhi oleh yang lain. Sesuatu yang mempengaruhi ini disebut âmil.
Diantara contoh ma'mul adalah maf'ûl bih (obyek).

Kirim email ke