VIVAnews.com | Minggu, 9 November 2008 | Menurut catatan Public
Broadcasting Service, hukuman mati di era modern pertama kali dilakukan
pada abad ke-17. Di Inggris, ketika itu terdapat 14 kali hukuman.
Sepanjang sejarahnya, berbagai metode hukuman mati pernah digunakan.
Mulai dari dibakar hidup-hidup, direbus, dikubur, diledakkan, diracun,
dilempari batu, ditarik, diiris, diumpankan ke hewan, digantung,
penggal, dan lain-lain.

Dari sekian banyak metode, saat ini umumnya tinggal empat macam hukuman
mati yang masih digunakan di negara-negara yang masih memberlakukannya.
Adapun hukuman tersebut adalah dengan suntikan, kursi listrik, tembak,
dan tiang gantung. Dari empat jenis hukuman mati tersebut, menurut
penelitian yang dipublikasikan di medicalnewstoday.com, suntik mati
(lethal injection) adalah hukuman yang paling tidak menyakitkan.

Suntik Mati
Hukuman mati dengan suntikan pertama kali dilakukan tahun 1977.
Caranya, terpidana mati yang akan dihukum dengan suntikan mati diikat
disebuah tempat. Beberapa anggota tim eksekusi kemudian menempatkan
sensor di tubhnya. Dua jarum, yang salah satunya berfungsi sebagai
cadangan kemudian dimasukkan ke pembuluh nadi. Umumnya di bagian
lengan. Setelah itu, selang yang menghubungkan jarum dengan cairan
mematikan dipasang.

Carian pertama yang dimasukkan adalah saline atau garam yang langsung
bekerja mempersiapkan tubuh untuk diinjeksikan cairan berikutnya.
Setelah itu sodium thiopental diinjeksikan untuk membuat terpidana
kehilangan kesadaran. Berikutnya adalah pavulon atau pancuronium
bromide. Fungsi cairan ini adalah untuk melumpuhkan seluruh otot dan
menghentikan kemampuan terpidana untuk bernafas. Terakhir, cairan yang
dimasukkan adalah potassium chloride yang berguna untuk menghentikan
detak jantung.

Meski seharusnya terpidana tidak akan merasakan sakit, tetapi suntik
mati bisa menjadi hukuman yang sangat menyakitkan. Berhubung eksekutor
bukanlah seorang dokter (karena kode etik, dokter dilarang melakukan
hukuman suntik mati), ada kemungkinan jarum disuntikkan bukan ke
pembuluh darah, melainkan ke otot. Kemungkinan lainnya apabila terjadi
penyumbatan cairan. Bila ini terjadi, terpidana akan merasakan sakit
yang tak terkira seperti terbakar.

Kursi Listrik
Hukuman mati di kursi listrik pertama kali dilakukan tahun 1890 di New
York untuk menghukum William Kemmeler. Terpidana mati dengan kursi
listrik sebelumnya akan digunduli terlebih dahulu dan didudukkan di
kursi. Setelah itu ia akan diikatkan dengan sabuk di bagian dada, paha,
kaki, dan tangan.

Berikutnya, helm elektrode berbahan logam dipasang di kepala yang
menutupi sampai dahi menggunakan spons yang dilembabkan dengan saline.
Spons tersebut tidak sampai terlalu basah agar tidak menyebabkan
korslet, dan juga tidak terlalu kering karena akan menghambat aliran
listrik. Elektroda tambahan juga ditempelkan di bagian kaki yang telah
dicukur dan dilekatkan menggunakan krim (electro creme).

Sebelum listrik dialirkan, terhukum juga ditutup matanya. Setelah ada
aba-aba, eksekutor akan menarik tuas penghubung ke power supply.
Kejutan listrik antara 500 sampai 2000 volt selama sekitar 30 detik
kemudian diberikan. Setelah beberapa detik, dokter akan memeriksa
apakah jantung terpidana masih berdetak. Bila masih, sengatan
berikutnya akan diberikan. Ini terus dilakukan sampai ia benar-benar
terdeteksi tewas.

Tembak Mati
Hukuman tembak merupakan hukuman mati yang umum digunakan di berbagai
negara. Bila metode ini yang dipilih, terhukum akan diikat baik berdiri
ataupun duduk di kursi. Ia akan diikat dengan tali yang melingkari
pinggul dan kepalanya. Bila dalam posisi duduk, kursi yang digunakan
dikelilingi dengan kantung pasir untuk menyerap darah terpidana.

Sebelum ditembak, kepala terhukum ditutup. Dokter akan mencari posisi
jantungnya dengan stetoskop dan menempatkan secarik kain putih untuk
menandakan target para penembak. Regu tembak yang terdiri dari 5
penembak berdiri sekitar 20 meter dari terhukum dan masing-masing
penembak menembak satu kali.

Terpidana akan mati kehabisan darah akibat pecahnya jantung atau
pembuluh darah. Sebelumnya ia juga akan kehilangan kesadaran karena
aliran darah ke otak yang menurun. Tetapi jika para penembak meleset,
maka terpidana akan mati secara perlahan.

Hukum Gantung
Sampai tahun 1890-an, hukum gantung merupakan hukuman mati yang paling
banyak digunakan, terutama di Amerika Serikat. Sehari sebelum eksekusi,
terpidana akan ditimbang dan latihan menggunakan kantung pasir yang
memiliki bobot sama dengan terdakwa dilakukan. Latihan ini berguna
untuk mengetahui jarak jatuh yang dibutuhkan untuk memastikan kematian
yang cepat. Jika tali gantungan terlalu panjang, terpidana bisa
terpenggal. Sementara jika terlalu pendek, terpidana bisa tercekik
hingga mati sekitar 45 menit kemudian.

Tali gantungan yang akan digunakan harus memiliki diameter 0,75 sampai
1,25 inci direbus terlebih dahulu dan ditarik untuk menghilangkan efek
pegas ataupun menggulung. Simpul tali juga dilumasi dengan lilin atau
sabun untuk mastikan beban meluncur dengan mulus.

Sesaat sebelum eksekusi, tangan dan kaki terpidana diikat dan matanya
ditutup. Jerat diletakkan di sekitar leher dengan simpulnya di belakang
telinga kiri. Eksekusi dilakukan ketika pintu jebakan dikaki terpidana
dibuka dan ia jatuh ke lubang. Berat tubuhnya akan menyebabkan patah
leher dan akan tewas seketika.

Jika terpidana memiliki otot leher yang kuat, atau bobotnya ringan,
jarak jatuhnya terlalu pendek, atau penempatan simpul kurang tepat,
proses patahnya leher menjadi lamban atau ia akan mati secara perlahan
akibat sesak napas.

www.AstroDigi.com (Nino Guevara Ruwano)

--
Posted By NINO to AstroDigi at 7/23/2010 02:00:00 AM

Kirim email ke