--- Jimmy Auw <[email protected]> wrote:
> Ingin sharing juga. Market entry level ini memang
> besar sekali. Karena cukup
> banyak orang (entry level) yang ingin main audio.
=== Setuju sih...
> Awalnya saya percaya
> karena pengen tau. Biasanya orang macam ini sangat
> mudah terbawa
> (terpancing) dan punya duit "extra". Dibilang ini
> barang bagus, langsung
> beli. Padahal music yang bagus dan benar seperti apa
> aja belum ngerti.
=== He he he... learning process...
> Sekarang kita liat ampli2 macam darkvoice dan
> teman2nya yang dari china. Apa
> idealisme pembuat barang2 tersebut:
> 1. production cost yang rendah
> 2. negara yang memproduksi tabung sendiri sehingga
> murah/mudah didapat
> 3. menarik minat para newbie di dunia audio (dengan
> penampilan ciamik)
=== Kompetensi Cina memang di sisi itu, meski ada
beberapa merk yang menonjolkan unsur kualitas..
Consonance misalnya..
> Sekarang kita liat background pembuat ampli tabung
> dari negara2 lain
> (sebagai contoh Indonesia):
> 1. diy-er sejati, membuat produk bersuara bagus,
> belum jadi mata pencaharian
> 2. masih mengandalkan tabung dari negara lain (entah
> nos atau tidak)
> 3. kualitas benar-benar jadi prioritas, fisik nomor
> dua
=== Ehm.. untuk kasus saya.. memang membuat ampli
tabung belum menjadi mata pencaharian, lebih merupakan
sumber side-income untuk bisa "membiayai hobi audio
tabung". Karena lebih mengutamakan kepuasan sebagai
hobi, maka unsur kualitas menjadi lebih utama. Gak
puas rasanya kalau bikin amp tabung dengan kualitas
sekadarnya agar harga bisa sangat murah.
> Kita lihat sekali ada perbedaan antara dua
> background ini. Jikalau orang
> macam Pak Arif TL, Pak Alex LJ, Pak Arif Suara, rela
> pake tabung 6N1 dan
> varian China lainnya, caps Surong/Audiophiler,
> resistor metal film Taiwan
> yang seribu rupiah sebijinya, diode standar, saya
> yakin membuat produk
> "high-end tabung" berharga 1-2 jutaan bukanlah mimpi
> (apalagi jika didukung
> oleh pabrikan chassis)... Tapi apa iya kupingnya
> bisa nerima dengerin
> hasilnya? Kembali lagi ke idealism awalnya...
=== Sekadar sharing.. sebetulnya filosofi bung Arief
Hidayat (Suara Audio) adalah bagaimana membuat ampli
tabung dengan kualitas bagus namun dengan harga
terjangkau. Bung Yustinus dan pak Ado dan beberapa
DIYer lain saya lihat juga mencoba masuk di segmen
itu. Sedangkan bung Alex dengan LJ (dan sempat juga
merk Rich Audio) mencoba masuk di segmen low-price
maupun premium quality sekaligus. Saya pikir sih..
untuk mencapai harga murah perlu ada skala ekonomis
dalam berproduksi, selain soal penggunaan komponen
murmer...
Saya sudah pernah beli amp headphone bikinan little
dot, dan juga coba dengerin beberapa amp cina murmer
yg saat ini dengan mudah dijumpai di sini. Cukup bagus
dari sisi performance to price ratio, tapi bukan "my
cup of tea" memang... Mungkin karena faktor kualitas
komponen yang digunakan. Memang bedalah rasa
tenderloin steak dengan daging sapi lokal dibandingkan
dengan daging impor dari NZ atau US, meski koki dan
resepnya sama persis!
> Orang Indo (maaf) cenderung gengsi...
=== Soal ini siihh... nenek saya juga bilang gitu, kek
kek kek kek...
> Orang indo akan mikir 2 hal:
> 1. Kalo rusak gimana?
> 2. Harga jual kembali gimana?
=== Mikirin cerai pada saat mau kawin? kek kek kek...
> Saya juga sempat liat Pak Arif TL turun kelas jualan
> power2 murah... dan Pak
> Alex LJ sepertinya sudah lebih dulu main di pasar
> entry level ini...
> hasilnya? Dari yang saya liat sih tidak keliatan
> permintaan yang signifikan
> dari pasar tuh...
=== Untuk kasus Tubelover.... benar.. tak ada
significant demand saat coba masuk di segmen
low-price. Yang terjadi malah beberapa pengguna yang
kelas premium protes atau mengkritik tajam saat tahu
Tubelover juga bikin versi yang lebih terjangkau.
Bagaimanapun, kalau cuman andalkan "market demand"...
dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat kita, saya
masih melihat bahwa pengguna amplifier tabung adalah
niche market yang kecil. Kalau mau ya mesti "create
market" dan itu butuh effort sangat besar, termasuk
proses edukasi masyarakat, he he he.... Jadi mesti
digarap sangat serius dan total, gak bisa lah sekadar
idealisme seperti Tubelover misalnya. Saya melihat
proyek SAS sedang mengarah ke sana. Mudah-mudahan
mereka benar-benar committed untuk mewujudkan hal itu.
Regards,
Arif W.-Tubelover