Saya jg mau gabung Om, mbal kt 2001. Boleh tahu syaratnya ke japri. Thanks

Wbrs/Jordan

On 25 Jul 2010, at 10:17, "Ahmad Gunawan" <[email protected]> wrote:

> Siap om vikki....
> 
> Sent from my BlackBerry®
> powered by Sinyal Kuat INDOSAT
> 
> From: "Vikki Vindirama" <[email protected]>
> Sender: [email protected]
> Date: Sun, 25 Jul 2010 02:07:37 +0000
> To: <[email protected]>
> ReplyTo: [email protected]
> Subject: Re: [baleno] Mau jadi member BCI
> 
>  
> Om ahmad,
> 
> Sudah saya japri persyaratan dan form member BCI nya ya,
> Slamat bergabung om
> Thx
> 
> Salam
> 
> Vikki
> BCI 425
> 
> From: "Ahmad Gunawan" <[email protected]>
> Sender: [email protected]
> Date: Sun, 25 Jul 2010 00:57:17 +0000
> To: <[email protected]>
> ReplyTo: [email protected]
> Subject: [baleno] Mau jadi member BCI
> 
>  
> Mau jadi member BCI gmn caranya ???
> 
> Sent from my BlackBerry®
> powered by Sinyal Kuat INDOSAT
> 
> From: Tras No Wan <[email protected]>
> Sender: [email protected]
> Date: Sun, 25 Jul 2010 07:06:12 +0700
> To: <[email protected]>
> ReplyTo: [email protected]
> Subject: Re: [baleno] Re: Suzuki Buka Pengaduan Fuel Pump
> 
>  
> Itulah... nasionalisme selalu dianggap "selalu berada/berpijak di negeri 
> sendiri dan makan produk negeri sendiri". padahal negeri ini mengeluarkan 
> surat pernyataan merdeka nya sendiri, pelaksana nya harus usaha ke luar 
> negeri juga.
> akhirnya si produsen terlena, menganggap sudah menguasai seluruh pasar, 
> karena dia adalah si pemilik wilayah, dengan atau tanpa usaha.
> ibarat anak raja yang dari lahir sudah disiapkan tempat untuk berkuasa.
> jadi menurut saya, kotak pengaduan kerusakan FP sudah tidak ada artinya, 
> kecuali hanya untuk pengumpulan saja. ini wilayah kekuasaan, bukan 
> perdagangan bebas yang terkendali (dan bukan terkendala).
> dan pada dasarnya, saya hanya peduli dengan negeri ini, dengan 
> orang-orangnya. bukan dengan pertamina nya. pertamina adalah institusi 
> kekuasaan. baik atau bobrok, dia tidak akan hancur. seandainya kejadian ini 
> ada di produk shell, petronas atau total, dengan mudah pertamina kembali 
> menjadi "one man show". produk-2 asing itulah yang mudah hancur. makanya, 
> mereka berusaha sebagus mungkin menjaga kualitas. SPBU mereka, berusaha 
> dijaga kerapihannya. SPBU Pertamina, sebelum ada "Pas", hanya beberapa saja 
> yang rapih. Sisanya ga jauh beda dengan SPBU plat hitam yang menggunakan 
> botol.
> so, sekali lagi saya tulis, sia-sia saja akhirnya berpikir keras hubungan 
> antara FP dan Pertamina. dan berita ini juga akan cuma menjadi debu saja di 
> bulan mendatang. pil pahit sudah ditelan dengan seksama oleh pemilik 
> kendaraan.
> 
> rgds,
> Yose.
> 
> 2010/7/24 Didin Syafrudin <[email protected]>
>  
> Haha simple saja, sy ingin mengomentari paragraf terakhir
> Kesimpulan saya dari panjangnya pembahasan ini, kita sama2 berkepentingan 
> dengan masa depan Pertamina. Hanya saja arah kita berlawanan, betul?
> 
> Oknum memang harus diberantas, saya yakin di kantor anda pun ada oknum
> 
> Thnks
> Didin
> 
> On 24 Jul 2010 21:21, "Tras No Wan" <[email protected]> wrote:
> 
>  
> Maaf, OOT sejenak.
> 
> Sebenarnya yang nasionalis dengan Indonesia itu banyak, sayangnya kebanyakan 
> "lupa" ketika bertemu dengan dunia yang (kelihatannya) lebih luas, enak dan 
> berkuasa dibandingkan apa yang dipikirkan sebelumnya. Saya pun tidak terima 
> jika bangsa ini disepelekan karena disamping saya lahir dan besar di negeri 
> ini dan masih cari makan di negeri ini pula, Indonesia adalah produsen 
> ahli-ahli IpTek. Tetapi ternyata bukti berbicara lain. Kebanyakan para ahli 
> yang seharusnya bisa menjelaskan teori-2 ini sudah "disewa" lebih dulu oleh 
> bangsa lain. 
> 
> Dan sebenarnya, "pihak asing" yang dimaksud juga melaksanakan UUD pasal 33. 
> Mereka tidak memiliki "tanah ladang" minyak dan gas di Indonesia ini (saya 
> tidak tau dengan kandungan mineral lain dalam dunia pertambangan). Jika om 
> dan tante pernah ke lapangan minyak (atau sederhananya, lihat iklan-2 
> lowongan kerja dan tender dari perusahaan minyak asing di suratkabar) maka 
> akan terpampang lebar-lebar tiga logo : pertamina, bp migas dan si "pihak 
> asing" itu. Jadi tidak ada teori dan praktek bahwa ladang minyak adalah milik 
> si "pihak asing". Pihak asing hanya menyediakan peralatan pengeboran hingga 
> produksi dan "dijemput" oleh pertamina atau konsumen nya pertamina (bukan si 
> pihak asing tersebut). Nah , masalahnya ternyata praktek akhirnya ga sesimpel 
> itu. Si pihak asing itu memanfaatkan celah kelemahan yang sebenarnya juga 
> dibuka oleh oknum (istilah umum penghalusan karakter supaya tidak dituduh 
> memfitnah atau character assasination) dari tubuh pertamina atau bp migas 
> sendiri. (akhir-2 ini beberapa "oknum" tadi sudah "sadar" dan ada satu ladang 
> sangat besar di daerah jawa tengah yang ditahan oleh pertamina karena sudah 
> mencium kelicikan si pihak asing tersebut).
> 
> Analisa saya baik atau buruk, tetap tidak membawa dampak apapun. Saya dan 
> beberapa konsumen premium yang pindah ke "toko" lain pun juga tidak akan 
> mematikan nafkah nya pekerja di pertamina (bahkan sampai detik ini isu PHK 
> besar di pertamina cuma buat ngisi kolom surat kabar elektronik saja. saya 
> tanya ke orang yang istrinya di manajemen pertamina pusat, ternyata tidak 
> ada.) Cuma buih di lautan luas, ga ada artinya. Terlalu jauh rantai logika 
> nya.
> 
> 
> 

Kirim email ke